• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Pembahasan

B.2.2.2 Jenis dan Struktur Pakan

Struktur pakan menunjukkan posisi burung dalam rantai makanannya. Srukutur pakan suatu jenis burung dapat dilihat dari jenis makanannya yang dimanfaatkan oleh burung. Ketersediaan pakan dalam habitat yang ditempati merupakan salah satu faktor utama bagi kehadiran populasi burung (Darmawan,

2005). Burung memiliki preferensi terhadap suatu makanan, jika disuatu tempat tidak dapat memenuhi kebutuhannya maka burung akan memilih tempat lain yang memiliki sumber pakan yang melimpah.

Sumber makanan burung terdiri dari tumbuhan dan hewan. Jenis burung herbivora (pemakan tumbuhan) mendapatkan makanannya dari biji-bijian, kacang-kacangan yang keras, buah-buahan yang lunak, rumput-rumputan, dan nektar. Sedangkan jenis karnivora (pemakan daging) dengan memakan hewan- hewan kecil yang ada didalam tanah atau diatas tanah atau air (Ensiklopedi Indonesia, 1992).

Jenis burung yang ditemukan dilokasi penelitian didominasi burung pemakan serangga. Burung-burung pemakan serangga terdiri dari burung yang hanya pemakan serangga tanpa memakan jenis makanan lain dan burung yang utamanya makan serangga. Sebanyak 34 jenis (44.43%) merupakan jenis burung yang menyukai serangga dan 29 jenis (38.15%) merupakan pemakan serangga sejati. Keberadaan berbagai jenis serangga juga didukung oleh kondisi vegetasi habitatnya. Utari (2000) mengatakan pada hutan yang memiliki penutupan tajuk dan tumbuhan bawah yang rapat memungkinkan hidupnya beragam jenis serangga dan tersedianya sumber pakan burung sehingga menyebabkan beragamnya jenis burung insekivora.

Jenis serangga khususnya kupu-kupu sangat berpengaruh terhadap kehadiran burung disuatu tipe habitat tertentu. Menurut Winarni (2007) dalam Indrawan et al (2007), bahwa jika di suatu tempat memiliki keragaman kupu-kupu yang tinggi maka keanekaragaman jenis burung pun akan tinggi. Pada daerah peralihan ditemukan beberapa jenis kupu-kupu pada vegetasi una-una (Piper aduncum), hal ini mengidentifikasikan banyaknya jenis burung yang ditemukan di daerah peralihan. Selain pemakan serangga sejati, jenis-jenis burung tersebut memiliki sumber pakan lain seperti buah, biji-bijian, nektar, dan lain-lain. Jika serangga tidak tersedia dalam jumlah yang cukup, maka burung tersebut masih bisa memenuhi kebutuhan pakannya dari sumber lain.

Menurut gaol (1998) tingginya keanekaragaman jenis vegetasi di hutan menyediakan lebih banyak sumber pakan. Banyaknya pohon penghasil buah seperti Ficus sp dan Erythrina subumbrans dilokasi penelitian, banyak pula

ditemukan jenis burung pemakan buah. Jenis burung pemakan buah merupakan jenis terbanyak kedua setelah jenis burung pemakan serangga yaitu 20 jenis (26.31% ). Burung pemakan buah dapat dibedakan menjadi spesialis buah dan non spesialis buah yang memakan buah bila ada (oportunis). Menurut MacKinnon (2000), Burung pemakan buah spesialis memakan buah yang bermutu tinggi, kaya akan lemak dan protein, sedangkan burung pemakan buah nonspesialis memakan buah yang kecil, berbiji banyak, kurang bergizi, daging berair banyak dan terutama menyediakan karbohidrat. Buah Ficus sp dimanfaatkan oleh jenis burung dari famili bucerotidae dan columbidae. R. cassidix merupakan spesialis buah yang memanfaatkan buah Ficus sp sebagai makanan utamanya. Suryadi (1994) dalam Indrawan et al (2007) menyebutkan bahwa R. cassidix ketika berbiak 63% sumber makanannya berasal dari Ficus sp dan 83% di luar masa berbiak. Sedangkan vegetasi Erythrina subumbrans dimanfaatkan oleh jenis burung dari famili psittacidae.

Jenis burung pemakan daging sebanyak 8 jenis (10.52%). Terdapat 6 jenis (75%) pemakan daging murni yaitu dari famili accipitridae. Jenis pakan burung karnivora ini berupa katak, tikus, burung kecil, anak ayam, bajing, tupai, dan ular. Dari informasi masyarakat, jenis burung I. malayensis juga terlihat menyerang sarang lebah hutan. I. malayensis ini mengambil anakan lebah untuk dimakan. MacKinnon (2000) menyebutkan bahwa jenis-jenis burung pemangsa memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menangkap mangsanya, ada yang berburu dari udara, dari cabang pohon, terbang melayang, dan beberapa diantaranya melayang diam sambil mengepak-ngepakkan sayap diatas calon mangsanya. Jenis burung H. indus pada habitat kebun berburu dengan terbang melayang, menyerang sekelompok burung punai yang bertengger pada sebuah pohon. Sedangkan S. rufipectus yang terlihat di habitat kebun, berburu dengan diam pada batang pohon sambil menunggu waktu yang tepat untuk menyerang mangsanya.

Jenis burung pemakan biji sebanyak 6 jenis (7.89%). Jenis burung A. isabellinus selain memakan biji-bijian juga terlihat sedang memakan buah pisang dihabitat kebun. Jenis burung pemakan biji memenuhi kebutuhan pakannya dari biji rerumputan, bulir padi dan biji vegetasi lainnya. Jenis burung pemakan ikan

yaitu C. fallax dan H. chloris. H. chloris yang ditemukan di habitat daerah peralihan dan habitat kebun. Sedangkan C. fallax ditemukan di habitat kebun. Kedua jenis tersebut umumnya di jumpai didaerah terbuka pada lapisan tengah dan bawah tajuk.

Jumlah jenis burung nektarivora yang ditemukan dilokasi penelitian sebanyak 6 jenis (7.89%). Jenis burung nektarivora murni yaitu jenis-jenis dari famili nektariniidae. Sedangkan jenis nektarivora yang juga termasuk insektivora dan frugivora adalah famili dicaeidae. Jenis burung nektarivora banyak ditemukan di habitat kebun yang memiliki pohon Syzygium aqueum, antara lain N. jugularis, N. aspasia, dan A. malacensis.

B.2.2.3 Status

Jenis burung yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia dan CITES appendix II sebanyak 23 jenis (30.26%) dari 76 jenis burung yang ditemukan dilokasi penelitian. Soehartono dan Mardiastuti (2003) menyebutkan bahwa appendik II CITES merupakan populasi hidupan liar dialam pada saat ini belum termasuk kategori terancam punah, namun ada kekhawatiran bahwa jenis tersebut akan terancam punah bila tidak diatur perdagangannya. Empat jenis famili yang masuk dalam CITES appendiks II yaitu accipitridae, psittacidae, bucerotidae, dan strigidae.

Terdapat 13 jenis burung endemik sekaligus dilindungi yang ditemukan dilokasi penelitian, jenis-jenis tersebut antara lain S. rufipectus, S. lanceolatus, A. griseiceps, T. ornatus, T. flavoviridis, P. flavicans, P. platurus, L. stigmatus, O. manadensis, A. princeps, C. fallax, P. exarhatus, dan R. cassidix.

Jenis-jenis burung yang dilindungi baik oleh pemerintah Indonesia maupun CITES mempunyai peranan penting di alam. Famili accipitridae yang merupakan top predator mempunyai fungsi sebagai penyeimbang ekosistem dari populasi hama tikus maupun ular. Famili bucerotidae mempunyai fungsi sebagai penyebar biji. Famili alcedinidae yang mempunyai kepekaan tertentu bermanfaat sebagai indikator keseimbangan lingkungan. Famila nektariniidae yang mencari makan pada vegetasi berbunga bermanfaat membantu penyerbukan bunga.

Famili psittacidae dilindungi pada tingkat famili oleh pemerintah Indonesia dan CITES. Hal ini dikarenakan famili psittacidae banyak

diperdagangkan baik nasional maupun internasional sebagai burung peliharaan. Menurut Soehartono dan Mardiastuti (2003) ada lima kelompok burung paruh bengkok yang diminati masyarkat yaitu kelompok burung kakatua, nuri, perkici, betet dan serindit.

B.2.3 Dominansi dan Kelimpahan Jenis Burung

Tiap-tiap habitat dilokasi penelitian memiliki kelimpahan jenis dan jumlah individu burung yang berbeda. Kelimpahan jenis burung berbanding lurus dengan dominasi jenis burung. Semakin melimpah suatu jenis burung (memiliki nilai kelimpahan tinggi) maka burung tersebut akan semakin mendominasi pada suatu habitat. Sebaliknya, jika suatu jenis burung dengan kelimpahannya rendah maka akan termasuk yang tidak dominan. Jenis burung yang mendominasi pada habitat hutan primer, habitat daerah peralihan, maupun habitat kebun merupakan jenis burung pemakan serangga dan pemakan buah. Hal ini berhubungan dengan ketersediaan sumberdaya pakan pada habitat yang ditempati burung tersebut. Dominasi suatu jenis burung didukung oleh kecocokan burung tersebut terhadap ekosistemnya sebagai bagian dari habitatnya dan kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungannya. Faktor penting yang juga membuat suatu jenis dapat mendominasi suatu lingkungan adalah kemampuan burung untuk beradaptasi terhadap kondisi lingkungannya dan kemampuan untuk memilih serta menciptakan relung khusus bagi dirinya (Utari, 2000).

Pada habitat hutan primer, terdapat 5 jenis burung yang dominan yaitu R. cassidix, D. hottentottus, O. chinensis, E. erythrophris, dan Z. atrifrons. R. cassidix merupakan jenis burung yang memiliki kelimpahan tinggi. Pada umumnya R. cassidix membutuhkan habitat yang tidak terganggu, sehingga burung ini mudah dijumpai pada habitat hutan primer yang memiliki vegetasi pakan bagi burung tersebut. E. erythrophris dan Z. atrifrons merupakan burung yang hidup berkelompok dalam mencari makan, beristirahat, maupun bermain. Sedangkan Oriolus chinensis dan D. hottentottus merupakan burung yang umum di lokasi penelitian, kedua jenis burung ini hampir dijumpai pada semua titik pengamatan.

Jenis burung yang dominan dan memiliki kelimpahan tertinggi pada habitat daerah peralihan adalah D. hottentottus, sedangkan M. amboinensis, O.

chinensis, Z.atrifrons merupakan jenis yang dominan. Jenis-jenis burung tersebut umum ditemukan dilokasi penelitian sehingga sangat mudah dijumpai. Pada habitat kebun, terdapat 5 jenis burung yang dominan. Dominansi jenis burung yang tinggi ini dikarenakan sifat burung tersebut yang mudah diamati. T. griseicauda, M. amboinensis, Z. atrifrons dan Z. chloris sangat mudah diamati karena sering berkelompok dalam mencari makan. Sedangkan D. celebicum dengan sifatnya yang cukup jinak dan mudah didekati, umumnya bertengger rendah sehingga lebih mudah diamati.

B.2.4 Indeks Kesamaan Jenis Burung

Keanekaragaman jenis burung pada setiap habitat memiliki kesamaan antara habitat satu dengan habitat yang lain. Habitat daerah peralihan dan habitat kebun berasosiasi dengan habitat hutan primer, yang artinya bahwa habitat daerah peralihan dan habitat kebun memiliki banyak kesamaan jenis burungnya. Selanjutnya, jenis-jenis burung yang terdapat pada kedua habitat tersebut memiliki kesamaan dengan jenis burung pada habitat hutan primer.

Berdasarkan matriks kesamaan jenis burung di lokasi penelitian diketahui antara habitat daerah peralihan dengan habitat hutan primer memiliki jenis burung yang sama atau memiliki nilai indeks kesamaan jenis sebesar 44%. Jenis burung yang sama pada kedua habitat tersebut antara lain P. subgularis, P. flavicans, R. teysmanni, C. helianthea. Kebanyakan jenis burung yang ditemukan pada habitat hutan primer dan habitat daerah peralihan merupakan jenis burung pemakan serangga dan buah. Hal ini disebabkan karena vegetasi pada kedua habitat tersebut hampir sama, sehingga jenis-jenis burung pemakan serangga dan buah dapat menempati kedua habitat tersebut. Jenis vegetasi yang sama pada kedua habitat tersebut antara lain Ficus sp, Erythrina subumbrans dan Lithocarpus sp.

Habitat daerah peralihan dengan habitat kebun memiliki indeks kesamaan jenis sebesar 35% atau lebih kecil dari asosiasi antara habitat hutan primer dengan habitat daerah peralihan. Jenis burung yang sama pada kedua habitat tersebut merupakan jenis-jenis burung yang menyukai habitat terbuka. Penutupan tajuk pada daerah peralihan tidak terlalu rapat, sedangkan pada habitat kebun penutupan tajuknya terbuka dan lokasi antara kedua habitat tersebut berdekatan.

Nilai indeks kesamaan terendah terdapat pada habitat hutan primer dan habitat kebun dengan nilai 34%. Umumnya, jenis burung yang ditemukan pada kedua habitat tersebut merupakan jenis burung pemakan serangga. Sedangkan yang menyebabkan kedua habitat tersebut mempunyai nilai kesamaan rendah karena adanya perbedaan struktur vegetasi. Selain itu, habitat kebun terletak didekat pemukiman masyarakat dan memiliki jarak yang jauh dari habitat hutan primer.

Dokumen terkait