• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

F. Jenis dan Sumber Data Penelitian

Sumber data yang dilakukan dalam penelitian ini dipilih secara purposive sampling, yaitu memilih orang yang dianggap mempunyai pengetahuan terhadap

objek yang diteliti, sehingga mampu membuka jalan untuk meneliti lebih dalam dan lebih jauh tentang dominasi kekuasaan politik dalam mempengaruhi eksploitasi hak dan kewajiban masyarakat sinjai dalam pelaksanaan pemilu kada.

Dalam penelitian ini sumber penelitian yang akan digunakan adalah data primer dan data sekunder. Sumber data primer yaitu data yang dihimpun langsung oleh peneliti umumnya dari hasil observasi terhadap situasi sosial dan atau diperoleh dari subjek Penguasa elit politik,Tokoh Adat, Masyarakat (informan) melalui proses wawancara.

Data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung oleh peneliti, tapi telah berjenjang melalui sumber kedua atau ketiga.Data sekunder dikenal juga sebagai data-data pendukung atau pelengkap data utama yang dapat digunakan oleh peneliti.Jenis data sekunder dapat berupa gambar-gambar, dokumentasi, grafik, tulisan-tulisan tangan, dan berbagai dokumentasi lainnya.

G. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting serta data yang digunakan harus valid. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengambil data primer, dimana data primer adalah data yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung dari tempat penelitian, dan untuk melengkapi data yang dilakukan, yaitu menggunakan wawancara mendalam kepada informan dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang erat kaitannya dengan permasalahan yang akan diteliti.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu:

1. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan langsung secara sistematis terhadap gejala atau fenomena yang diselidiki (Mukhtar, 2013:100).Melalui metode ini peneliti mengadakan pengamatan secara langsung mengamati gejala-gejala atau fenomena yang terjadi dan timbul dari objek penelitian.Metode ini digunakan untuk mengambil data-data yang mudah dipahami dan diamati secara langsung.

Berdasarkan pelaksanaan, observasi dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu observasi partisipasi dan observasi non partisipasi.

a. Observasi partisipasi

Observasi partisipasi adalah observasi yang melibatkan peneliti secara langsung dalam kegiatan pengamatan di lapangan.Jadi, peneliti bertindak sebagai observer, artinya peneliti merupakan bagian dari kelompok yang ditelitinya.

Keuntungan cara ini adalah peneliti merupakan bagian yang integral dari situasi yang dipelajarinya sehingga kehadirannya tidak mempengaruhi situasi penelitian.

Kelemahannya, yaitu ada kecenderungan peneliti terlampau terlibat dalam situasi itu sehingga prosedur yang berikutnya tidak mudah dicek kebenarannya oleh peneliti lain.

b. Observasi non partisipasi

Observasi non partisipasi adalah observasi yang dalam pelaksanaannya tidak melibatkan peneliti sebagai partisipasi atau kelompok yang diteliti.Cara ini

banyak dilakukan pada saat ini. Kelemahan cara ini antara lain kehadiran pengamat dapat memengaruhi sikap dan perilaku orang yang diamatinya.

2. Wawancara (interview)

Wawancara yaitu teknik memperoleh informasi secara langsung melalui permintaan keterangan-keterangan kepadapihak pertama yang dipandang dapat memberikan keterangan atau jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan.Untuk memperoleh informasi itu biasanya diajukan seperangkat pertanyaanatau pernyataan yang tersusun dalam suatu daftar.

Ditinjau dari segi pelaksanaannya, wawancara dibagi menjadi 3 jenis yaitu:

a. Wawancara bebas

Dalam wawancara bebas, pewawancara bebas menanyakan apa saja kepada responden, namun harus diperhatikan bahwa pertanyaan itu berhubungan dengan data-data yang diinginkan. Jika tidak hati-hati, kadang-kadang arah pertanyaan tidak terkendali.

b. Wawancara terpimpin

Dalam wawancara terpimpin, pewawancara sudah dibekali dengan daftar pertanyaan yang lengkap dan terinci.

c. Wawancara bebas terpimpin

Dalam wawancara bebas terpimpin, pewawancara mengombinasikan wawancara bebas dengan wawancara terpimpin, yang dalam pelaksanaannya pewawancara sudah membawa pedoman tentang apa-apa yang ditanyakan secara garis besar.

3. Dokumentasi

Pengumpulan data melalui dokumentasi, diperlukan seperangkat alat atau instrumen yang memandu untuk pengambilan data-data dokumen.Ini dilakukan agar dapat menyeleksi dokumen mana yang dipandang dibutuhkan secara langsung dan mana yang tidak diperlukan.Data dokumen dapat berupa foto, gambar, peta, grafik, struktur organisasi, catatan-catatan bersejarah dan sebagainya.

H. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan suatu cara yang digunakan untuk menganalisis, mempelajari serta mengolah data tertentu. Sehingga dapat diambil kesimpulan yang konkret tentang persoalan yang diteliti. Penelitian yang akan dilakukan adalah tergolong tipe penelitian deskriptif kualitatif analisis. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif.Analisis dilakukan terhadap data yang dijabarkan dengan metode deskriptif-analitis.

Teknik ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara obyektif dan sistematis data yang ada dapatdivalidasikeabsahannya. Aktivitas dalam analisis data yaitu:

1. Reduksi data (Data Reduction)

Dengan mereduksi data peneliti mencoba menggabungkan, menggolongkan, mengklasifikasikan, memilah-milih atau mengelompokkan data dari penelitian di lapangan. Maka reduksi data dilakukan dengan merangkum hal-hal apa saja yang berhubungan dengan data tentang dominasi kekuasaan politik dalam mempengaruhi sosiologi politik eksploitasi hak dan kewajiban masyarakat sinjai dalam pelaksanaan pemilu kada.

2. Penyajian data (data display)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data.

Melalui penyajian data tersebut maka data akan tersusun dalam pola hubungan yang disajikan dalam bentuk bagan, uraian singkat, laporan tulisan yang dijelaskan (yang bersifat naratif).

3. Verification (conclusion drawing)

Selanjutnya langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan (verification), yaitu menarik kesimpulan berdasarkan hasil penelitian yang telah disajikan dalam uraian singkat tersebut. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.

Dikaitkan dengan penelitian ini tentu saja proses verifikasi atau kesimpulan awal dapat dilakukan misalnya kesimpulan mengenai data-data tentang meningkatnya ketergantungan masyarakat terhadap pemberian bantuan sosial.

I. Tehnik Keabsahan Data

Michael Quinn Patton Untuk memperoleh keabsahan data, maka peneliti melakukan usaha-usaha yaitu diteliti kredibilitasnya dengan melakukan teknik-teknik sebagai berikut:

1. Perpanjangan pengamatan

Dengan perpanjangan pengamatan berarti peneliti melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data atau menambah (memperpanjang) waktu untuk observasi.Wawancara yang awalnya hanya satu minggu, maka akan ditambah waktu satu minggu lagi. Dan jika dalam penelitian ini, data yang

diperoleh tidak sesuai dan belum cocok maka dari itu dilakukan perpanjangan pengamatan untuk mengecek keabsahan data.Bila setelah diteliti kembali kelapangan data sudah benar berarti kredibel, maka waktu perpanjangan pengamatan dapat diakhiri.

2. Trianggulasi

Trianggulasi sumber data menguji kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data (cek and ricek) dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.

a. Trianggulasi sumber, adalah untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber, maksudnya bahwa apabila data yang diterima dari satu sumber adalah meragukan, maka harus mengecek kembali ke sumber lain, tetapi sumber data tersebut harus setara sederajatnya.

Kemudian peneliti menganalisis data tersebut sehingga menghasilkan suatu kesimpulan dandimintakan kesempatan dengan sumber-sumber data tersebut.

b. Triangulasi teknik, adalah untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, yaitu yang awalnya menggunakan teknik observasi, maka dilakukan lagi teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara kepada sumber data yang sama dan juga melakukan teknik dokumentasi.

c. Trianggulasi waktu, adalah untuk melakukan pengecekan data dengan wawancara dalam waktu dan situasi yang berbeda. Seperti, yang awalnya melakukan pengumpulan data pada waktu pagi hari dan data didapat, tetapi mungkin saja pada waktu pagi hari tersebut kurang tepat karena mungkin informan dalam keadaan sibuk. Kemudian dilakukan lagi pengumpulan data pada waktu malam hari data pun di dapat dan mungkin saja informan sedang istirahat sehingga dapat melengkapi dan mengecek atas kebenaran data.

3. Menggunakan Bahan Referensi

Yang dimaksud bahan referensi disini adalah adanya pendukung untuk membuktikan data yang ditemukan oleh peneliti.Sebagai contoh, data hasil wawancara perlu didukung dengan adanya rekaman wawancara dengan keluar perempuan yang mengikuti maupun yang tidak mengikuti trend hijab di kelurahan gunung sari kota makassar. Gambaran suatu keadaan perlu didukung oleh foto-foto, alat-alat bantu perekam data dalam penelitian kualitatif, seperti kamera, handycam, alat perekam suara sangat diperlukan untuk mendukung kredilitas data yang ditemukan oleh peneliti.

4. Mengadakan member check

Proses member check adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneliti, Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai atau tidak dengan apa yang diberikan oleh pemberi data. Data yang telah didapat tersebut akan dipertanyakan kembali kepada pemberi data dengan menanyakan kembali apakah data yang diperoleh benara dan yang aka

akan memberikan keyakinan bahwa data tersebut bukan hasil rekayasa peneliti.

Apabila data yang ditemukan disepakati oleh pemberi data tersebut valid, sehingga kredibel atau dipercaya.

BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Arti Dan Lambang Daerah Sinjai dan Keadaan Wilayah Geografis Sinjai

Artidan lambing daerah kabupaten sinjai adalah sebagai berikut:

1. Perisai berbentuk pulat panjang adalah melambangkan kabupaten teakd dan kebulatan persatuan masyarakat kabupaten sinjai dalam menghadapi masadepan menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila.

2. Kuda dan perahu adalah dua jenis alat pengangkuta nuntuk masyarakat kabupatens injai, selain mempunyai ekonomi dan arti yang luas penting, juga mengandung nilai budaya dan sejarah dan budaya yang juga merupakan latar belakang keadaan geografis kabupaten sinjai.

3. Sampul pita dengan 5 (lima) jenis warna berarti awal terbentuknnya sinjai terdiri dari 5 kecamatan.

4. 38 (tiga puluh delapan) pusat berarti bahwa kekuatan kabupaten sinjai terletak pada perkembangan dan kemampuan ketiga puluh delapan desa (awal terbentuknya kabupaten sinjai).

Sinjai adalah salah satu Kabupaten dari 23 Kabupaten/ kota di provinsi Sulawesi selatan yang berbatasan dengan tiga kabupaten yaitu bone di sebela hutara, Bulukumba di sebelah selatan,danGowa di sebelah barat.

Letak astronomisnya antara 5˚2’ 56’ dan 5˚ 21’ 16’’ lintang selatan dan antara 119˚ 56’ 30’’ dan 120˚ 25’ 33’’ bujurtimur. Adapun luas wilayahnya

51

mencapai 819,96 km². Suhu udara rata-rata di sinjai berkisar antara21,1˚ C sampai dengan32,4˚ C. Tempat-tempat yang letaknya berdekatan dengan pantai mempunyai suhu udara rata-rata relatife tinggi. Sebentara kelembapan udara rata-rata bervariasi antara 64 persen sampai dengan 87 persen. Sinjai mempunyai curah hujan berkisa rantara 2.000-4.000 mm per tahun, dengan hari hujan yang bervariasi antara 100-160 hari hujan per tahun. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, cura hujan tertinggi mencapai 3.048 mm dan jumlah hari hujan terbanyak mencapai 134 hari.

B. Visi Dan Misi Kabupaten Sinjai 1. Visi kabupaten sinjai

Terwujudnya sinjai lebih maju dan dan terkemuka dengan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan ekonomi kerakyatan berbasis kemandirian lokal.

2. Misi kabupaten sinjai

Untuk mencapai misi tersebut, maka dirumuskan sebagai berikut:

a. Menerapkan prinsip-prinsip good govonance dalam penyelenggaraan pemerintahan

b. Membentuk kualitas SDM yang unggul dan memiliki daya saing.

c. Menguatkan kelembagaan pemerintah dan kelembagaan masyarakat yang mendukung dan menopang pelaksanaan pembangunan.

d. Mengembangkan peran sinjai sebagai salah satu pusat pelayanan dan pertumbuhan ekonomi, sosial budaya di kawasan timur.

e. Mengembangakan peranan dunia usaha dan investasi dalam pembangunan berdasarkan potensi lokal.

f. Mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya alam yang berwawasan lingkungan.

C. Sejarah Singkat Kabupaten Sinjai

Kabupaten sinjai seperti yang kita kenal sekarang, dahulu terdiri dari beberapa kerajaan-kerajaan, seperti kerajaan-kerajaan yang tergabung dalam fedorasi (Tellulimpoe) dan kerajaan-kerajaan yang tergabung dalam (Pitulimpoe).

(Tellulimpoe) terdiri dari kerajaan-kerajaan yang berada didekat pesisir pantai yaitu kerajaan tondong, bulo-bulo dan lamatti, sedangkan (Pitulimpoe) adalah kerajaan-kerajaan yang berada didataran tinggi yaitu kerajaan turungeng, manimpahoi, terasa, pao, manipi, suka dan bala suka.

Dalam lontra susunan raja-raja yang ada disinjai pada masalampau, bahwa yang pertama menjadi raja dan arung ialah manurung tanra lili, yang kemudian dikenal dengan gelar (Timpaetena) atau (To Pasaja).

Keturunan puatta timpaetena atau (To Pasaja) merupakan cikal bakal dan pendiri kerajaan tondong, bulo-bulo dan lamatti.

Adapun kerajaan-kerajaan yang pertama berkembang diwilayah (Pitulimpoe) adalah kerajaan turungeng, rajanya adalah seorang wanita yang diperistrikan oleh putra raja tallo.Salah seorang wanita kawin dengan seorang putra raja bone, dari perkawinan itu lahirnya tujuh orang anak, yaitu seorang anak wanita dan enam orang laki-laki. Anak yang wanita kemudian

menggatikan ibunya memerintah diturungeng, sementara yang lain ada di manimpahoi, terasapao, manipi, sukadanbala suka.

Bila ditelusuri hubungan antara kerajaan-kerajaan yang ada dikabupaten sinjai masa lalu, maka nampaklah dengan jelas bahwa ia terjalin dengan erat oleh tali kekelurgaan yang dalam bahasa bugis disebut (Sinjai) artinya jahitannya. Hal ini lebih diperjelas dengan adanya gagasan dari (Lamassiajeng) raja lamatti X untuk memperkokoh bersatunya antara kerajaan bulo-bulo dengan lamatti dengan ungkapannya (Pasijai Singkurenna Lamatti Bulo-Bulo) artinya satukan keyakinan lamatti dengan bulo-bulo, sehingga setelah meninggal dunia beliau diberi gelar (Puatta Matinroe Risijaina).

Eksistensi dan identitas kerajaan-kerajaan yang ada dikabupaten sinjai dimasalalu semakin jelas dengan didirikannya benteng pada tahun1557.

Benteng ini dikenal dengan nama (Bengteng Balangnipa) sebab di dirikan di balangnipa, yang sekarang menjadi ibu kota sinjai.

Disamping itu, benteng ini pun dikenal dengan nama (Benteng Tellulimpoe), karena didirikan secara bersama-sama oleh 3 (tiga) kerajaan, yakni lamatti, bulo-bulo dan tondong, lalu dipugar oleh belanda.

Tahun 1564 adalah tahun yang amat bersejarah bagi daerah sinjai yang diwakil ioleh kerajaan bulo-bulo yang mendapat banyak kunjungan dari dua kerajaan besar yang sedang berperang dan berebut pengaruh. Hal ini disebabkan karena letak daerah sinjai yang berada pada daerah lintas batas dan sangat trategis bagi kedua kerajaanya kni kerajaan bone dan kerajaan gowa.

Mengingat bahwa kedua kerajaan yang sedang berperang tersebut mempunyai hubungan kekerabatan dengan kerajaan-kerajaan sinjai, maka Tellulimpoe dan Pitulimpoe berupaya untuk tidak memihak atau terlibat dalam perang tersebut, bahkan dengan penuh kecerdikan dan kearifan, raja-raja disinjai berusaha mempertemukan pimpinan kerajaan tersebut agar berunding dan berdamai.

Akhirnya pada bulan februari 1564, Raja Bulo-Bulo Vi La Mappasoko Lao Manoe Tanrunna berhasil mempertemukan antara kerajaan gowa yang diwakili oleh I Mangerai Daeng Mammeta Dengan La Tenri Rawe Bongkangnge dari kerajaan bone, disaksikan oleh raja-raja lain, sehingga lahir lah perjanjian perdamaian yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Topekkong atau Lamung Patue Ritopekkong.

Disebut Lamung Patue Ritopekkong karena perundingan ini dilaksanakan dengan upacara penanaman batu besar, bagain batu yang dikuburkan dalam-dalam dimasukkan sebagai symbol dikuburkannya sikap-sikap keras yang merugikan semua pihak, sedang bagian batu yang timbul sebagai simbol persatuan yang tidak mudah bergeser.

Tanggal 20 oktober 1959 sinjai resmi menjadi kabupaten berdasarkan undang-undang republic Indonesia nomor 29 tahun 1959, dan tanggal 27 februari 1960 Abdul Latif dilantik menjadi kepala daerah tingkat II sinjai yang pertama.

Nama-Nama Bupati Sinjai Dan Masa Jabatannya :

1. Abdul Latif Tahun 1960-1963

2. AndiAsikin Tahun 1963-1967 3. Drs. H. M. NurThahir Tahun 1967-1971 4. Drs. H. Andi Bintang Tahun 1971-1983 5. H. A. ArifuddinMattorang, SH Tahun 1983-1993 6. H. Moh. Roem, SH,M.Si Tahun 1993-2003 7. AndiRudiantoAsapa Tahun 2003-2013 8. H. SabirinYahya S, Sos Tahun 2013-Sekarang

D. Penduduk Kabupaten Sinjai Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin Tahun 2013-2017

Gambar 4.1 grafik jumlah penduduk

Kependudukan kabupaten sinjai tahun2013 adalah sektor 234.886 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk 0,92 persen selama sepuluh tahun terakhir, terdiri dari 113.593 jiwa penduduk perempuan, seperti pada gambar berikut:

Tabel 4.2

Perempuan Laki-laki

52% 48%

Kedapatan penduduk kabupaten sinjaia dalah 286 jiwa per km.

Kecamatan sinjai utara merupakan daerah yang memiliki kepadatan terbesar yaitu 1.484 jira per km.

Dari perbandingan antara golongan umur dan jenis kelamin terlihat bahwa, penduduk untuk golongan umur 05-09 tahun adalah yang paling banyak jumlahnya, bikuntuk jenis kelamin perempuan maupun laki-laki.

PERKEMBANGAN DAN PERSENTASE LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK MENURUT KECAMATAN DIKABUPATEN SINJAI

TAHUN 2003-2013

KECAMATAN PENDUDUK

2003 2013

1 2 3

010. sinjaiborong 15 698 17 220

020. sinjaiselatan 35 524 37 340

030. tellulimpoe 30912 31 355

040. sinjaitimur 27 026 30 747

050. sinjaiutara 23 817 27 553

Tabel 4.3

Banyaknya Penduduk Kabupaten Sinjai Menurut Kecamatan Dan Jenis Kelamin Serta Sex Ratio Tahun 2017

Kecamatan Laki-laki perempuan Jumlah Sex

1 2 3 4 5

E. Gambaran Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sinjai 1. Profil Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sinjai

a. Struktur organisasi komisi pemilihan umum kabupaten sinjai

Dalam menyelenggarakan kewenangan yang telah dilimpahkan, komisi pemilihan umum kabupaten sinjai didukung oleh para pejabat dan staf diantaranya, ketua, anggota,sekretaris, kasubbag program dan data, kasubbag teknis pemilu dan hupmas,kasubbag hukum,sebagai kasubbag umum, keuangan, dan logistik.

b. Visi dan Misi Komisi Pemilihan Umum Kabupaten sinjai a. Visi

Menjadi penyelenggar pemilihan umum yang mandiri, profesional dan berintegritas untuk terwujudnya pemilu yang LUBER dan JURDIL.

b. Misi

Misi dalam upaya mencapai visi tersebut, Komisi pemilihan umum telah menetapkan 7(tujuh) misi yang akan dilaksanakan oleh seluruh satuan kerja selama kurun waktu 2015-2019 sebagai berikut :

1. Membangun SDM yang kompeten sebagai upaya menciptakan penyelenggara Pemilu yang profesional.

2. Menyusun regulasi di bidang Pemiluyang memberikan kepastian hukum progesif, dan partisipatik.

3. Meningkatkan kualitas pelayanan Pemilu, khususnya untuk para pemangku kepentingan dan umumnya untuk seluruh masyarakat .

4. Meningkatkan partisipasi dan kualitas pemilih melalui sosialisasi dan pendidikan pemilih yang berkelanjutan.

5. Memperkuat kedudukan Organisasi dalam ketata negaraan.

6. Meningkatnya integritas penyelenggara Pemilu dengan memberikan pemahaman secara intensif dan komprehensif khususnya mengenai kode etik penyelenggara pemilu.

7. Mewujudkan penyelenggara emilu yang efektif dan efisien, transparan, akuntabel, serta aksesable.

2. Berdasarkan Visi dan Misi di atas telah ditetapkan tujuan dan sasaran yaitu :

a. Tujuan

Dalam mewujutkan visi dan melaksanakan misi tersebut, maka tujuan yang hendak dicapai oleh komisi pemilihan umum adalah:

a). Terwujudnya lembaga KPU yang memiliki integritas, kompetensi kredibilitas dan kapabilitas dalam menyelenggarakan pemilu.

b). Terselenggaranya pemilu sesuai dengan peraturan perundanun undang dangan yang berlaku.

c). Meningkatknya partisipasi politik masyarakat dalam pelaksanaan demokrasi di Indonesia.

d). Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pemilu.

e). Terselenggaranya pemilu yang efektif dan efisien, teransparan,akuntabel, dan aksesabel.

b. sasaran

Sasaran-sasaran strategis komisi pemilihan umum yang hendak dicapai selama lima tahun kedepan (2015-2019) adalah sebagai berikut:

1). Meningatnya kualitas penyelenggaraan pemilu, dengan indikator kinerja sasaran strategis sebagai berikut:

a). Persentase partisipasi pemilih dalam pemilu.

b). Persentase partisipasi pemilih perempuan dalam pemilu.

c). Persentase pemilih yang berhak memilih tetapi tidak masuk dalam daftar pemilih.

d). Persentase pemilih yang berhak memilih tidak masuk dalam daftar pemilih.

e). Persentase KPPS yang telah menerima perlengkapan pemunguntan dan penghitungan suara paling lambat 1 (satu) hari sebelum hari pemungutan suara tepat jumlah dan kualitas.

f). Persentase KPPS yang telah menerima perlengkapan pamungutan dan penghitungan suara paling lambat 1( satu) hari sebelum hari pemungutan suara tepat jumlah dan kualitas.

2). Meningkatnya Kapasitas penyelenggara Pemilu, dengan indikator kinerja sasaran strategis sebagai berikut:

a). Persentase terpenuhinya jumlah pegawai organik kesekretariatan KPU.

b). Persentase ketepatan waktu penyelesaian administrasi kepegawaian.

c). Persenatase pelanggaran kode etik terhadap penyelenggara pemilu.

d). Opini BPK atas LHP.

e). PersentaseketepatanWaktudalamverifikasaipartaipolitik pasca pemilu.

f). persentase ketepatan waktu dalam verifikasi pencalonan presiden danWakil persiden, Gubernur, Bupati dan Walikota.

3). Meningkatnya kualitas regulasi kepemiluan, dengan indicator kinerja sasaran strategis sebagai berikut:

a). Persentase partisipasi pemangku kepentingan dalam penyusunan regulasi.

b). Persentase sengketa hukum yang dimenangkan oleh KPU.

3. Keadaan Jumlah TPS di KabupatenSinjai

Keadaan Kabupaten Sinjai merupakan Kabupaten yang jumlah Tps .Untuk lebih jelasnya dapat di liha tpada table berikut:

Tabel 4. 5 Jumlah TPS di Kabupaten Sinjai 2017

No Kecamatan Jumlah Tps

1 Sinjai Barat 55

2 Sinjai Selatan 72

3 Sinjai Timur 64

4 Sinjai Tengah 56

5 Sinjai Utara 78

6 Bulupoddo 36

7 Sinjai Borong 39

8 Tellulimpoe 59

9 Pulau Sembilan 16

Jumlah 475

Sumber : Kantor Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sinjai, 2017 Dari tabel di atas menunjukkan bahwa, Jumlah TPS di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sinjai adalah 475 TPS.

a. Sarana Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sinjai

Sarana Komisi PemilihanUmum Kabupaten Sinjai yang di pergunakan sehari-hari oleh pegawai di Komisih Pemilihan Umum Kabupaten Sinjai berupa kantor dan tempat parkiran Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel berikut:

Tabel 4. 6

Sarana Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sinjai yang digunakan oleh pegawai Tahun 2017.

Sarana peribadatan Jumlah

1. Kantor 1

2. Tempatparkiran 1

Sumber : Kantor Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sinjai, 2017 Tabel di atas menunjukkan bahwa, sarana Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sinjai yang tersedia adalah 2 buah, yang terdiri 1 Kantor, 1 Tempat parkiran.

BAB V

RELASI KEKUASAAN YANG TERBENTUK DIDALAM PELAKSANAAN PEMILUKADA

Pada rumusan masalah ini untuk mengetahui relasi kekuasaan yang terbentuk didalam pelaksanaan pemilukada

1. Relasi kekuasaan yang terbentuk didalam pelaksanaan pemilukada

Hubungan relasi kekuasaan merupakan suatu bentuk hubungan sosial yang menunjukan hubungan yang tidak setara (asymetric relationship),hal ini disebabkan dalam kekuasaan terkandung unsure

pemimpin (direction) atau apa yang oleh Weber disebut pengawas yang mengandung perintah. Max Weber mengatakan kekuasaan (power) adalah kesempatan seseorang atau sekelompok orang untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan-kemauannya sendiri, dengan sekaligus menerapkanya terhadap tindakan-tindakan perlawanan dari orang-orang atau golongan-golongan ter tentu.

Dari hasil observasi menunjukan bahwa relasi kekuasa’an di Kabupaten Sinjai adalah dominasi dan parti sipasi politik yang di lakukan oleh kelompok dan partai politik lewat aparatur pemerintahan sebagai penyelenggara otonomi Kabupaten di Kabupaten Sinjai, relasi kekuasaan di mulai sejak tahun 2004 oleh partai PAN dan GOLKAR dan

Dari hasil observasi menunjukan bahwa relasi kekuasa’an di Kabupaten Sinjai adalah dominasi dan parti sipasi politik yang di lakukan oleh kelompok dan partai politik lewat aparatur pemerintahan sebagai penyelenggara otonomi Kabupaten di Kabupaten Sinjai, relasi kekuasaan di mulai sejak tahun 2004 oleh partai PAN dan GOLKAR dan