• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jihad Pendidikan

Dalam dokumen Jihad menurut Yusuf Qaradhawati (Halaman 90-97)

KONSEPSI JIHAD MENURUT YUSUF QARADHAWI

B. Dimensi-Dimensi Jihad

2. Jihad Pendidikan

Umat Islam hari ini semestinya berada pada posisi tertinggi dari bangsa maupun umat lain. Karena, Islam memiliki ajaran yang luhur, dan komprehensif. Islam juga sangat menjunjung ilmu pengetahuan, banyak ayat al-Qur’an maupun Hadits Nabi yang senantiasa mengajarkan umat Islam untuk melakukan tindakan mulia, melakukan kebaikan, menyerukan untuk bekerja keras, melakukan pembaharuan, bersabar, tidak mudah putus asa, dan tidak melakukan pemaksaan saja. Kenyataan kondisi umat Islam saat ini, jauh tertinggal dengan bangsa maupun umat lain, terutama dalam lapangan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan beberapa bidang lainnya.

Saat ini manusia hidup di zaman globalisasi, entitas semakin mengecil tetapi kerja semakin profesional. Masyarakat berkembang menuju knowledge society, yakni masyarakat akademik atau post-capital society. Ciri masyarakat ini adalah persaingan bebas.117 Masyarakat Muslim tidak bisa menghindarkan diri dari proses globalisasi tersebut, jika ingin survive dan berjaya di tengah perkembangan dunia yang kian kompetitif di masa kini dan abad 21.118 Dalam knowledge society puncak kesuksesan atau untuk menjadi sukses (berprestasi) adalah mereka yang educated person. Orang terus menerus mencari ilmu untuk merebut dan menguasai sains dan teknologi.

116

Yusuf Qaradhawi, Retorika Islam. Penerjemah M. Abdillah Noor Ridlo: (Jakarta: Khalifa: 2004), Cet 1, h. 210

117

Mastuhu, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana llmu, 1999),cet. 2, h. 44.

118

azyumardi Azra, Pendidikan Islam: tradisi dan modernisasi menuju milenium baru, (Jakarta: Logos Wacana llmu, 1999), cet. 1, h. 43.

Dengan demikian penghargaan tertinggi bukan pada ijazah atau status, tetapi pada kemampuan belajar yang maksimal.119 Globalisasi juga mempengaruhi pendidikan Islam.120 Selain itu saat ini banyak ditemui merosotnya nilai-nilai, etika, akhlak dan moral umat. Pendidikan merupakan bidang kerja yang secara langsung menyiapkan manusia-manusia untuk menghadapi tantangan masa depannya.121

Jihad sebagai spirit, penyemangat, penuh dengan nilai-nilai revolusioner, dan sebagai perjuangan merupakan cara ampuh untuk membangkitkan umat Islam. Dalam hal ini jihad dalam medan pendidikan merupakan kebutuhan umat Islam saat ini. Jihad Pendidikan dapat dilakukan dengan melakukan perbaikan, maupun meningkatkan mutu pendidikan Islam.

Menurut Yusuf Qaradhawi pada beberapa kritik terhadap pengajaran di negara-negara Arab dan Islam berkenaan dengan tujuan, metode dan sarana pendidikan, serta filsafat yang melandasinya. Di kebanyakan negara Islam, pengajaran masih terbagi menjadi dua, pengajaran agama dan sekuler. Agama yang melestarikan identitas umat, nilai-nilai dan peradabannya, meskipun dikritik karena lebih berorientasi hidup di masa lampau dan tidak hidup di masa kini. Ia lebih banyak berinteraksi dengan peninggalan klasik dibanding interaksinya dengan produk kontemporer. Sedangkan pengajaran sekuler adalah pengajaran modern yang rnengajarkan ilmu-ilmu modern, baik fisika maupun humaniora, menggunakan sarana pendidikan modern dengan gedung-gedung yang dilengkapi alat-alat modern berupa

119

Mastuhu, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam, h. 44.

120

Azra, Pendidikan Islam, h. 43.

121

laboratorium, alat-alat bantu pendengaran, penglihatan, dan lain-Iain.122 Terbaginya pendidikan kepada dua jenis pendidikan ini, menurutnya karena umat Islam masih menderita schizophrenia (kepribadian yang terpecah) dan dualisme kehidupan.123

Pendidikan dan pengajaran secara umum masih membutuhkan filsafatnya yang jelas sebagai orientasi bagi sistem dan program-programnya, juga sebagai landasan bagi para guru, pengarah, dan pengelolanya. Hal ini akan membantu memperjelas pembentukan manusia yang diinginkan. Manusia yang logis dibentuk dari pendidikan dan pengajaran ini adalah manusia yang saleh, bermanfaat bagi dirinya sendiri, berbakti pada keluarganya, berguna bagi masyarakatnya, komitmen dengan umatnya, dan bangga dengan risalahnya, yaitu risalah petunjuk dan pembahruan bagi umat manusia seluruhnya. la adalah manusia yang selamat dari kerugian dan disebutkan dalam surat al-Ashr: 1-3.

Z5G ( % GH; eV [i1I7†‡ˆ :6à OZgª [ G`; }_ (J % ‡1 J1EF * I€ , % ;D“ * I€ , % Z* EF G’;

”Demi masa--Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,-- Kecuali orangkerugian,--orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” ( al-Ashr: 1-3)

Manusia semacam ini, mengambil dari ilmu-ilmu masa kini secara optimal dan dengan segala kemampuannya berupaya untuk dapat unggul di bidangnya. Dan menggunakannya untuk tujuan mulia, yaitu melayani kebenaran, kebaikan, dan segala

122Ibid.,

h. 75.

123Ibid.,

yang bermanfaat bagi manusia. Ia pelajari hukum-hukumnya atas dasar dan prinsip bahwa hal itu merupakan Sunatullah pada makhluk-Nya, yang tidak akan didapati pergantian dan perubahan di dalamnya.

Dan tentunya menjadikan manusia berkualitas, karena al-Qur’an mencela kelompok mayoritas jika para anggotanya terdiri dari orang-orang yang tidak berakal, tidak berilmu, tidak beriman, atau tidak bersyukur.124 Dalam hal ini al-Qur’an banyak membicarakannya. L % ) 0 P %4 # ie Oež n 77 Ä {gt%4 k t ¾*$P¨ Li / ( 0 ,* ªi 8 = ^ ? ;<( /g º ? *< 5)(DZ Å|%" \_ V (JQ ( . G ’;

”Dan Sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Katakanlah: "Segala puji bagi Allah", tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).” (al-ankabut : 63).

Namun menurut Yusuf Qaradhawi banyak kendala yang dihadapi usaha tersebut menjadi tidak terlaksana dengan baik. Salah satunya dari internal Islam sendiri. Menurut Yusuf Qaradhawi, umat Islam tidak percaya terhadap Islam sendiri, masih memiliki sikap dualisme juga masih trauma terhadap Barat. Selain itu pula banyaknya kalangan intelektual Islam yang mengenyam pendidikan Barat yang telah terbaratkan dan menjadi boneka mereka. Kendala lain banyak di kalangan intelektual Islam yang tidak sepaham dengan gagasan tersebut. Dan kendala lainnya yang perlu diperhatikan adalah kurangnya sumber daya manusia Islam yang mampu melaksanakan ide-ide tersebut.

124Ibid

Selain itu ia juga mengkritik sistem dan metode pengajaran lembaga-lembaga pendidikan Islam tersebut. Menurutnya, Di lembaga-lembaga pendidikan agama, universitas, dan fakultas-fakultas Islam, diajarkan pelajaran-pelajaran yang sebenarnya menyita waktu dan tenaga mahasiswa. Semestinya waktu dan tenaga mereka digunakan sebagian saja untuk pelajaran yang lebih esensial bagi mereka dalam urusan agama dan keduniaan mereka. Yaitu, antara ilmu yang klasik dan kontemporer secara seimbang.125

Apa yang dipelajari di lembaga-Iembaga pendidikan itu masih terdapat kekurangan-kekurangan. Ilmu-ilmu yang dipelajari masih menggunakan metode klasik, guru-guru masih menggunakan metode hafalan. IImu membutuhkan pembaruan agar berbicara dengan bahasa al-Qur’an yang menyentuh fitrah, akal dan hati sekaligus, bukan dengan ungkapan-ungkapan filsafat Yunani. Begitu pula ilmu-ilmu tersebut perlu dilengkapi dengan ilmu-ilmu-ilmu-ilmu kontemporer, kebudayaan kontemporer, dengan metode baru, dan memperhatikan kebutuhan manusia masa kini.126

Kebutuhan umat Islam pada saat ini salah satunya adalah teknologi maju. Menurut Yusuf Qaradhawi, umat Islam harus memasuki era teknologi, umat Islam tidak boleh terus tertinggal dari negara-negara lain. Umat Islam harus bangkit membawakan misi Islam ke seluruh penjuru Dunia dari tidak terus bergantung dengan peralatan modern yang diciptakan negara-negara maju.

Menurutnya umat Islam dapat bangkit bila umat Islam dapat

125

Qaradhawi, Fikih prioritas, h. 108. 126Ibid., h. 109.

mengembangkan metode dan sistem pengajaran umat Islam sejalan dengan tujuan tersebut. Islam harus kembali kepada posisi terhormat di Dunia. Sesungguhnya menguasai keunggulan teknologi maju dan ilmu pengetahuan yang mengantarkan ke arah itu menjadi keharusan dan mendesak. Keharusan yang diperintahkan agama dan tuntutan realitas. Penguasaan teknologi maju merupakan prioritas umat Islam dewasa ini.127

Secara umum Yusuf Qaradhawi sendiri telah melakukan banyak hal dalam kaitan dengan pendidikan sebagai implementasi dari jihad pendidikannya. Dalam pendidikan Islam menurutnya perlu melakukan perbaikan-perbaikan terutama pada semua sistem pendidikan yang ada. Pertama, yaitu berkaitan dengan lembaga pendidikan, menurutnya lembaga pendidikan yang pada saat ini perlu melakukan perbaikan-perbaikan untuk melengkapi lembaga pendidikan Islam dengan kebutuhan yang paling mendasar saat ini. Pemerintah juga perlu memberikan anggaran yang cukup untuk lembaga pendidikan Islam, bukan hanya pada bidang-bidang lainnya saja. Yusuf Qaradhawi menilai, seharusnya tidak perlu ada pengiriman mahasiswa untuk belajar di luar negeri. Dan seharusnya anggaran dana tersebut dikonsentrasikan untuk perbaikan dan perlengkapan fasilitas dari sarana pendidikan di dalam negeri sendiri.128

Kedua, terhadap metode pendidikan dan pengajaran, menurutnya metode pengajaran yang masih digunakan pada saat ini terutama di negara-negara Islam masih menggunakan metode yang bersifat klasik, yaitu pengetahuan masih bersifat

127Ibid.,

h. 136.

128

hafalan bukan pendalaman. Padahal metode seperti ini hanya akan memperlambat perkembangangan Islam, namun bukan berarti metode hafalan tidak perlu menurutnya akan tetapi pengetahuan itu perlu adanya pendalaman dan pemahaman yang lebih dari sekedar hafalan. Dengan metode pemahaman seseorang jauh lebih mengerti dari sekedar menghafal.129 Pada metode yang lain adalah metode dialog, dengan metode seperti ini menurutnya seorang murid bisa lebih memahami apa yang dipelajarinya, karena antara murid dan guru merasa lebih dekat dan kemampuan yang dimiliki anak didik akan berkembang.130

Berkaitan dengan metode pendidikan, menurut Yusuf Qaradhawi sebenarnya dengan menggunakan metode yang seperti apapun tidak menjadi masalah namun harus disesuaikan dengan situasi dan keadaan pada saat itu. Masih banyak lagi metode pendidikan yang dilontarkan oleh beliau, terutarna perlu alat bantu atau media tertentu dalam melaksanakan proses pendidikan dan pengajaran.131

Ketiga, berkaitan dengan kurikulum, dalam pandangannya kurikulum pendidikan yang pada saat ini perlu dilakukan perbaikan dan perombakan, karena rnasih terdapat kekurangan dan banyak materi pelajaran yang telah menyimpang terutama pada pelajaran sejarah.132 Dan menurutnya materi pelajaran hendaknya disesuaikan dengan keadaan yang berkembang saat ini, berkaitan dengan hal-hal yang baru, kontemporer dan materi pelajaran tidak perlu banyak dalarn menghafal namun

129

Qaradhawi, Fikih Prioritas, h. 108.

130

Qaradhawi, Keutamaan Ilmu dalam Islam (Jakarta: Pustaka Panjimas,1993), cet. 1, h. 166.

131Ibid.,

h. 158.

132

lebih kepada aspek pengamalan atau praktek.133

Dan yang terakhir adalah tujuan pendidikan Islam menurutnya adalah membentuk manusia yang beriman kepada Allah.134 Dalam arti lebih luasnya adalah iman tidak hanya sebagai semboyan atau sekedar kata-kata yang dipertahankan, tetapi ia adalah suatu hakikat yang meresap kedalam akal, menggugah perasaan dan kemauan, apa yang diyakini dalam hati dibuktikan kebenarannya dengan amal perbuatan.

Dalam dokumen Jihad menurut Yusuf Qaradhawati (Halaman 90-97)