• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DISKURSUS FENOMENA JILBAB DI RUANG

D. Jilbab dalam Tinjauan Teoritis

Setiap seseorang (individu) memutuskan untuk mengenakan jilbab bisa dipastikan memiliki alasan yang melatar belakanginya. Alasan pemakaian jilbab bisa bermacam-macam yang bersifat internal dan eksternal, serta tergantung dengan konteks pengetahuan, kesadaran dan lingkungannya. Dalam konteks pengaruh internal dan eksternal inilah yang sejatihnya akan ditelusuri dalam buku ini. Adapun teori-teori yang digunakan diantaranya teori tindakan sosial (social action) dalam perspektif sosiologi, serta teori simbolik (simbolic) dan identitas budaya (culture

identity) dalam perspektif antropologi.

1. Teori Tindakan Sosial (Theory of Social Action)

Teori tindakan sosial (social action) adalah bagian dari ilmu sosiologi yang pertama kali dicetuskan Max Weber (1864-1920).96 Weber melihat sosiologi

94Lily Munir, Fenomena gender dalam Bingkai Budaya dan Agama (Jakarta; Seruni Press, Jakarta 2003).

95Karen Washburn, ―Jilbab, Kesadaran,‘Identitas‘ Post-Kolonial, dan Aksi Tiga Perempuan Jawa.‖ Perempuan Postkolonial Dan Identitas Komodoti Global (Yogyakarta: Kanisius, 2001).

96Max Weber adalah salah satu ahli sosiologi dan sejarah bangsa Jerman, lahir di Erfurt, 21 April 1864 dan meninggal dunia di Munchen, 14 Juni 1920. Weber adalah guru besar di Freiburg (1894-1897), Heidelberg (sejak 1897), dan Munchen (1919-1920). Lihat Hotman M. Siahan. Sejarah dan Teori Sosiologi (Jakarta, Erlangga,1989), 90.

35 sebagai sebuah studi tentang tindakan sosial antar hubungan sosial dan itulah yang dimaksudkan dengan pengertian paradigma definisi sosial dan itulah yang di maksudkan dengan pengertian paradigma definisi atau ilmu sosial itu. Tindakan manusia dianggap sebagai sebuah bentuk tindakan sosial manakala tindakan itu ditujukan pada orang lain.97

Max Weber mengatakan, tindakan manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh norma, kebiasaan, nilai, dan sebagainya yang tercakup di dalam konsep fakta sosial. Bagaimanapun seorang individu dalam masyarakat merupakan aktor yang kreatif dan realitas sosial bukan merupakan alat yang statis dari pada paksaan fakta sosial. Walaupun pada akhirnya Weber mengakui bahwa dalam masyarakat terdapat struktur sosial dan pranata sosial. Dikatakan bahwa struktur sosial dan pranata sosial merupakan dua konsep yang saling berkaitan dalam membentuk tindakan sosial.98

Tindakan sosial merupakan proses aktor terlibat dalam pengambilan-pengambilan keputusan subjektif tentang sarana dan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dipilih, tindakan tersebut mengenai semua jenis perilaku manusia, yang di tujukan kepada perilaku orang lain, yang telah lewat, yang sekarang dan yang diharapkan diwaktu yang akan datang. Tindakan sosial (social

action) adalah tindakan yang memiliki makna subjektif (a subjective meaning) bagi

dan dari aktor pelakunya. Tindakan sosial seluruh perilaku manusia yang memiliki arti subjektif dari yang melakukannya. Baik yang terbuka maupun yang tertutup, yang diutarakan secara lahir maupun diam-diam, yang oleh pelakunya diarahkan pada tujuannya. Sehingga tindakan sosial itu bukanlah perilaku yang kebetulan tetapi yang memiliki pola dan struktur tertentu dan makna tertentu.99

Max Weber memperkenalkan konsep pendekatan verstehen untuk memahami makna tindakan seseorang, berasumsi bahwa seseorang dalam bertindak tidak haya sekedar melaksanakannya tetapi juga menempatkan diri dalam lingkungan berfikir dan perilaku orang lain. Konsep pendekatan ini lebih mengarah pada suatu tindakan bermotif pada tujuan yang hendak dicapai atau in order to

motive.100 Secara umum terdapat empat tipe tindakan sosial yang dikemukakan Weber, yaitu tipe tindakan rasional instrumental (zwerk rational), kemudian yang ke dua tindakan rasional nilai (werktrational action), yang ketiga tindakan afektif

(affectual action), dan yang terakhir tindakan tradisional (traditional action).101 Terkait dengan fenomena jilbab yang ada, maka tindakan tersebut jika dibaca berdasarkan teori social action termasuk kedalam tipe tindakan sosial yang mana. Apakah termasuk dalam tipe tindakan sosial yang pertama, yaitu tindakan rasional instrumental, tindakan ini merupakan tindakan yang tidak hanya sekedar menilai cara baik untuk mencapai tujuannya tapi juga menentukan nilai dari tujuan itu sendiri. Bisa jadi masuk juga kedalam tipe tindakan rasional nilai, tindakan tipe

97

George Ritzer, Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda (Jakarta: PT Rajawali Press, 2001).

98I.B Wirawan, Teori-Teori Sosial dalam Tiga Paradigma (Jakarta: Kencana Prenadamedia Grup),79.

99George Ritzer, Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda, 135.

100

George Ritzer, Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda, 126.

36 ini aktor tidak dapat menilai apakah cara-cara yang dipilihnya itu merupakan yang paling tepat ataukah lebih cepat untuk mencapai tujuan yang lainnya, atau juga bisa masuk dalam tipe tindakan yang ke tiga yakni tindakan afektif, tindakan afektif merupaka tindakan yang dibuat-buat, dan kemungkinan juga masuk pada tindakan sosial yang ke empat ini tindakan yang didasarkan atas kebiasaan-kebiasaan yaitu tindakan tradisional. Dan beberapa tindakan sosial yang dilakukan oleh pengguna jilbab untuk lingkungannya tidak hanya bisa masuk dalam satu tipe saja namun tindakan sosial tersebut juga bisa masuk dalam keempat-empatnya tipe tindakan sosial yang dikemukakan oleh Weber.

2. Teori Simbolik (Simbolic Theory)

Clifford Geertz (1926-2006)102 salah satu antropolog yang menyatakan bahwa agama—termasuk di dalamnya simbol agama—sebagai sistem kebudayaan, tidak terpisah dengan masyarakat. Agama tidak hanya seperangkat nilai yang tempatnya diluar manusia tetapi agama juga merupakan sistem pengetahuan dan sistem simbol yang mungkin terjadinya pemaknaan.103

Geertz mendefinisikan bahwa kebudayaan adalah suatu sistem makna dan simbol yang disusun dalam pengertian; 1) dimana individu-individu mendefinisikan dunianya, menyatakan perasaannya dan memberikan penilaian-penilaiannya; 2) suatu pola makna yang ditransmisikan secara historik diwujudkan di dalam bentuk-bentuk simbolik melalui sarana dimana orang-orang mengkomunikasikan, mengabadikannya, dan mengembangkan pengetahuan dan sikap-sikapnya ke arah kehidupan; 3) suatu kumpulan peralatan simbolik untuk mengatur perilaku, sumber informasi yang ekstrasomatik.104

Pertama-tama ia menekankan pada penggunaan kata simbol dalam bagian definisi nomor 1. Simbol bisa berarti banyak hal. Bisa berarti representasi dari asosiasi antar dua hal terkait, bisa juga berarti sesuatu yang mengekspresikan hal-hal yang tidak dapat dijelaskan lewat verbal atau dijelaskan secara langsung. Geertz melihat simbol sebagai dasar yang digunakan dalam apa yang disebut konsepsi. Konsepsi itu yang menjadi arti dari simbol. Konsepsi itu merupakan ide, sikap, penilaian, formulasi dan abstraksi dari pikiran dan pengalaman dituangkan dalam representasi konkrit (simbol). Pola budaya (sistem-sistem simbol) memiliki sifat yaitu bahwa ia merupakan sumber informasi yang eksternal. Ia berada di luar organisme dan dapat memberikan konsepsi yang bisa didefinisikan secara internal.

102Clifford James Geertz (San Francisco, 23 Agustus 1926–Philadelphia, 30 Oktober 2006) adalah seorang ahli antropologi asal Amerika Serikat. Ia paling dikenal melalui penelitian-penelitiannya mengenai Indonesia dan Maroko dalam bidang seperti agama (khususnya Islam), perkembangan ekonomi, struktur politik tradisional, serta kehidupan desa dan keluarga. Terkait kebudayaan Jawa, ia mempulerkan istilah priyayi saat melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa pada tahun 1960-an, dan mengelompokkan pada masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi, santri dan abangan. Sejak tahun 1970 hingga meninggal dunia Geertz menjabat sebagai profesor emeritus di Fakultas Ilmu Sosial di Institute for Advanced Study. Ia juga pernah menjabat sebagai profesor tamu di Departemen Sejarah Universitas Princeton dari 1975 hingga 2000.

103

Nur Syam, Madzhab-Madzhab Antropologi (Yogyakarta: LkiS, 2007), 13.

37 Manusia membutuhkan konsepsi-konsepsi yang masuk internal ini melalui simbol eksternal. Tanpanya, manusia bagaikan berang-berang yang tidak mampu membuat dam.

Kadang, bentuk pola budaya dianggap sebagai sebuah model. Model sendiri memiliki dua arti yaitu ―dari‖ dan ―untuk‖. Dalam arti ―dari‖, berarti memanipulasi struktur simbol sesuai dengan konsepsi internal mengenai simbol. Misalnya pengembangan ide mengenai ideologi politik tertentu dimanifestasikan dalam bentuk bendera. Sementara dalam arti ―untuk‖, konsepsi internal dimanipulasi dalam hubungannya dengan simbol. Sebagai contoh bentuk bendera yang terletak di seragam prajurit membangun konsepsi kita bahwa ideologi politik tertentu berkuasa atas militer.

Dalam bagian definisi nomor 2, dikatakan bahwa agama membentuk perasaan dan motivasi yang kuat dan bertahan dalam manusia. Simbol-simbol agama mampu mengekspresikan iklim dunia dan membentuknya. Simbol-simbol itu membentuknya dengan menginternalisasi disposisi-disposisi kepada penyembah yang memberikan karakter terhadap aktivitas-aktivitasnya dan kualitas dari pengalamannya. Disposisi ini sendiri sebenarnya merupakan pola dari aktivitas atau kejadian, bukan hanya sekedar satu kejadian atau aktivitas tertentu. Disposisi-disposisi tersebut terbagi menjadi dua, yaitu perasaan dan motivasi.

Pada bagian definisi nomor 3, ditekankan bahwa konsepsi mengenai tatanan eksistensi yang diformulasikan ini diberikan oleh sistem simbol agama. Kekacauan akan terjadi apabila manusia tidak mampu memformulasikan konsepsi mengenai struktur atau tatanan eksistensi itu. Simbol-simbol selalu memberikan orientasi atau petunjuk bagi manusia atas segala fenomena yang terjadi pada diri mereka maupun pada alam.

3. Teori Identitas Budaya (Theory of Culture Identity)

Kata identitas berasal dari kata identity, yang berarti (1) kondisi atau kenyataan tentang suatu yang sama, suatu keadaan yang mirip satu sama lain; (2) kondisi atau fakta tentang sesuatu yang sama diantara dua orang atau dua benda; (3) kondisi atau fakta yang menggambarkan sesuatu yang sama diantara dua orang (individualitas) atau dua kelompok atau benda; (4) pada tatanan teknis, pengertian epistemologi diatas hanya sekedar menunjukan tentang suatu kebiasaan untuk memahami identitas dengan kata ―identik‖, misalnya menyatakan bahwa ―sesuatu‖ itu mirip atas ―sesuatu‖ itu mirip satu dengan yang lain. Sedangkan identitas sosial (social identity) adalah persamaan dan perbedaan, soal persoalan dan sosial, soal apa yang kamu miliki secara bersama-sama dengan beberapa orang dan apa yang membedakanmu dengan orang lain.(5). Setiap orang berusaha membangun sebuah identitas sosialnya, sebuah respresentasi diri yang akan membantu kita mengkonseptualisasikan dan mengevaluasikan siapa diri kita. Dengan mengetahui siapa diri kita, kita akan dapat mengetahui siapa diri (Self) dan siapa yang lain (Others).105

Fakta ini nampaknya sejalan dengan teori identitas dan diasporanya Stuart Hall yang termuat dalam tulisannya yang berjudul Cultural Identity and

105

Rabert A. Baron dan Don Byrne, Psikologi Social Jilid I (Jakarta: Erlangga, 2003), 162.

38

Diasporadalam Jonathan Rutherford (ed.), Identity, Community, Culture, Difference.106 Dalam konteks ini, Stuart menjelaskan bahwa ada dua cara untuk

melihat suatu identitas budaya. Pertama, dengan memposisikan identitas budaya dalam satu budaya yang sama, kolektif dan menafikan hal-hal lain yang tidak substantif yang dimiliki oleh kelompok lain yang berbeda. Identitas budaya dalam perspektif ini, menempatkan orang atau kelompok dalam satu kesatuan, one people yang stabil dan tidak berubah.

Pandangan yang kedua dalam konteks identitas budaya ini adalah dengan memposisikan identitas budaya dengan mengakui adanya persamaan dan perbedaan. Identitas dalam konteks ini, dipahami sebagai sebuah jati diri yang bersifat non substantif yang fokus kepada perbedaan, sekaligus juga persamaan karakteristik. Dalam perspektif ini, Stuart ingin mengatakan bahwa identitas budaya adalah persoalan tentang bagaimana seorang atau kelompok membentuk dirinya seperti sesuatu yang becoming dan being.Lebih lanjut Stuart menegaskan bahwa sesuatu yang becoming dan being dalam konteks identitas budaya non substantif tersebut dapat dijelaskan bahwa identitas budaya sebagai sesuatu yang ada (being), dimaknai bahwa identitas budaya tersebut terbentuk atas dasar adanya satu kesatuan yang sama yang dimiliki oleh sesorang dan berada dalam diri banyak orang yang memiliki kesamaan sejarah dan leluhur. Sedangkan perspektif kedua (becoming) menyiratkan, bahwa lahirnya identitas budaya merupakan dampak dari adanya kesamaan dan persetujuan terhadap suatu praktik budaya kelompok lain yang kemudian diterapkan sebagai identitas personal dan kelompok. 107

Identitas itu sendiri secara harfiah dimaknai dengan ciri, tanda atau jati diri yang melekat pada seseorang, kelompok atau sesuatu, sehingga membedakan dengan yang lain. Identitas juga merupakan keseluruhan atau totalitas yang menunjukkan ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang atau jati diri dari faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari tingkah laku individu. Sedangkan budaya dapat bermakna cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga identitas sosial memiliki pengertian suatu karakter khusus yang melekat dalam suatu kebudayaan sehingga bisa dibedakan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain.

Dengan demikian, bagi Stuart, identitas budaya adalah sesuatu terus berkembang, dan tidak kaku dengan karakteristik tetap yang tidak berubah dari zaman ke zaman. Identitas adalah sesuatu yang terus menerus dibentuk dalam kerangka sejarah dan budaya, atau identititas sosial merupakan sesuatu yang diposisikan pada suatu tempat dan waktu, sesuai dengan konteks.108

Jadi dapat disimpulkan bahwa untuk menunjukkan identitas sosial sangat bergantung pada semua tindakan yang dilakukan dalam kehidupan kelompok sosial tempat dimana individu tersebut tergabung. Identitas sosial suatu kelompok memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan kelompok yang lain. Identitas

106Stuart Hall, Cultural Identity and Diaspora, dalam Jonathan Rutherford (ed.), Identity, Community, Culture, Difference(London: Lawrence & Wishart, 1990), 393-394

107

Stuart Hall, Cultural Identity and Diaspora, 393-394

39 sosial juga merupakan bagian dari konsep diri individu dalam setiap interaksi sosial sebagai anggota dari kelompok, dimana di dalamnya mencakup nilai-nilai dan emosi-emosi penting yang melekat dalam diri individu sebagai anggotanya.

Dalam konteks penggunaan jilbab di Indonesia, pendekatan Stuart memiliki kebenarannya bahwa meski jilbab dianggap sesuatu yang kontroversial dan menjadi perbincangan dari masa ke masa, namun disadari atau tidak, pemakaian jilbab telah menjadi identitas budaya tersendiri bagi perempuan muslimah Indonesia. Perbedaan-perbedaan pemahaman dan cara pandang terhadap penggunaan jilbab, sejatinya merupakan proses being dan becoming, sebagaimana yang Stuart tegaskan dalam mengidentifikasi dan memaknai adanya identitas budaya pada suatu kelompok.

Dokumen terkait