• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jima’ (Bersetubuh) di Siang Hari.

Dalam dokumen TUTORIAL RAMADHAN PANDUAN LENGKAP IBADAH (Halaman 78-81)

Catatan Penting:

6. Jima’ (Bersetubuh) di Siang Hari.

Berjima’ dengan pasangan di siang hari bulan Ramadhan membatalkan puasa, wajib mengqadha’ dan menunaikan kaffarah. Namun hal ini berlaku jika memenuhi dua syarat:

(1) yang melakukan adalah orang yang dikenai kewajiban untuk berpuasa, dan (2) bukan termasuk orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa.

Jika seseorang termasuk orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa seperti orang yang sakit dan sebenarnya ia berat untuk berpuasa namun tetap berpuasa, lalu ia menyetubuhi istrinya di siang hari, maka ia hanya punya kewajiban qadha’ dan tidak ada kaffarah.153

Kaffarah

Apakah kaffarah atau tebusan yang harus dibayarkan oleh orang seperti ini? Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah , ia berkata: “Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi 

kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau . Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.” Nabi  berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasulullah  bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak.” Lantas Nabi  bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak.” Lantas

150 HR Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari Umar bin Al-Khattab 151 Al-Muhalla, 6/174

152 Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/106 153 Lihat Syarhul Mumthi’, 3/68.

beliau bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak.” Abu Hurairah berkata, Nabi  lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi . Kemudian beliau 

berkata, “Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau  mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku.” Nabi lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau  berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.”154

Berdasarkan hadits di atas, maka kaffarah dalam hal ini adalah sebagai berikut:

a. Membebaskan seorang budak mukmin yang bebas dari cacat. b. Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut

c. Jika tidak mampu, memberi makan kepada 60 orang miskin. Setiap orang miskin mendapatkan satu mud makanan.155

Menurut mayoritas ulama, jima’ (hubungan badan dengan bertemunya dua kemaluan dan tenggelamnya ujung kemaluan di kemaluan atau dubur) bagi orang yang berpuasa di siang hari bulan Ramadhan (di waktu berpuasa) dengan sengaja156 dan atas kehendak sendiri (bukan paksaan), mengakibatkan puasanya batal, wajib menunaikan qadha’, ditambah dengan menunaikan kaffarah. Apakah ketika itu keluar mani ataukah tidak. Wanita yang diajak hubungan jima’ oleh pasangannya (tanpa dipaksa), puasanya pun batal, tanpa ada perselisihan di antara para ulama mengenai hal ini.

Namun yang jadi perbedaan di antara para ulama, apakah kaffarah ini dibebankan kepada laki-laki dan perempuan secara bersama-sama, atau hanya dibebankan kepada laki-laki saja.

154 HR Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111

155 Lihat Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, 4/97, Asy-Syamilah.

156 Tidak termasuk di dalamnya jika dalam keadaan lupa. Khusus untuk hal ini yakni hukum orang yang berjima’ namun terlupa bahwa ia sedang berpuasa, Syaikul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Dalam hal ini terdapat tiga pendapat: pertama, tidak ada

kewajiban qadha’ ataupun kaffarah. Ini adalah pendapat Asy-Syafi’i, Abu Hanifah

dan jumhur ulama. Kedua, wajib atasnya qadha’ tanpa ada kewajiban membayar kaffarah. Ini pendapat Malik. Ketiga, wajib mengqadha’ dan membayar kaffarah. Ini pendapat yang paling popular dari Imam Ahmad. Maka pendapat yang paling tepat adalah pendapat yang pertama.” (Lihat Kitab Haqiqatu Ash-Shiyam, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah). Wallahu a’lam.

64 | Tutorial Ramadhan

Pendapat yang tepat adalah pendapat yang dipilih oleh ulama Syafi’iyah dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, bahwa wanita yang diajak bersetubuh di bulan Ramadhan tidak punya kewajiban kaffarah dan yang menanggung kaffarah adalah si pria. Alasannya, dalam hadits di atas, Nabi  tidak memerintahkan wanita yang bersetubuh di siang hari untuk membayar kaffarah sebagaimana suaminya. Hal ini menunjukkan bahwa seandainya wanita memiliki kewajiban kaffarah, maka Nabi  tentu akan mewajibkannya dan tidak mendiamkannya. Selain itu, kaffarah adalah hak harta. Oleh karena itu, kaffarah dibebankan pada laki-laki sebagaimana mahar.157

Jika orang yang melakukan jima’ di siang hari bulan Ramadhan tidak mampu melaksanakan kaffarah di atas, kaffarah tersebut tidaklah gugur, namun tetap wajib baginya sampai dia mampu. Hal ini diqiyaskan (dianalogikan) dengan bentuk utang-piutang dan hak-hak yang lain. Demikian keterangan dari An- Nawawi .158

Adapun hadits di atas tidaklah menafikan adanya kaffarah. Bahkan dalam hadits tersebut menunjukkan masih tetap ada kewajiban kaffarah bagi laki-laki tersebut. Dalam hadits tersebut, Nabi  hanya memberitakan bahwa orang tersebut tidak dapat memenuhi ketiga bentuk kaffarah di atas. Lalu beliau  mendapat hadiah kurma dan memerintahkan kepada orang tadi untuk menggunakannya sebagai kaffarah. Seandainya kaffarah tersebut gugur karena tidak mampu, maka tentu saja orang tadi tidak memiliki kewajiban apa-apa dan tentu Nabi  tidak memerintahkan untuk bersedekah dengan kurma tersebut. Hal ini menunjukkan tentang masih adanya kewajiban kaffarah bagi orang tersebut.159

157 Lihat Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyah 2/9957 dan Shahih Fiqih Sunnah, 2/108 158 Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7/224

159 Inilah yang dikatakan oleh An-Nawawi dalam Syarh Muslim, 4/97- Pendapat inilah yang dipilih oleh An-Nawawi sebagaimana judul bab yang beliau bawakan dalam Shahih Muslim

Hal-hal yang

Dalam dokumen TUTORIAL RAMADHAN PANDUAN LENGKAP IBADAH (Halaman 78-81)

Dokumen terkait