a. Definisi Jual Beli Pesanan (Istishna)
Dalam Islam, istilah jual beli pesan bangun termasuk pada akad jual beli Istishna. Istishna adalah akad yang mengandung tuntutan atau permintaan agar Shini’ (pelaku usaha) membuatkan suatu barang (pesanan) dari Mustashni (konsumen) dengan ciri-ciri dan harga tertentu. Dalam Istishna bahan baku/modal pembuatannya dari pihak produsen. Sedangkan konsumen adalah pihak pemesan barang dengan ciri, bentuk, jumlah, jenis dan lain-lain yang sesuai dengan apa yang dikehendakinya.87
Istishna secara etimologi artinya minta dibuatkan. Sedangkan menurut terminologi merupakan suatu kontrak jual beli diantara penjual dan pembeli dimana pembeli memesan barang dengan kriteria yang jelas dan harganya yang dapat diserahkan secara bertahap atau dapat juga dilunasi. Sistem Istishna adalah sistem pembiayaan atas dasar pemesanan, untuk kasus ini dimana objek atau barang yang diperjual belikan belum ada. Menurut ulama fiqh Istishna sama dengan Salam dari segi objek pesanannya yaitu sama-sama dipesan terlebih dahulu dengan ciri-ciri dan kriteria khusus, sedangkan perbedaaannya adalah jika Salam pembayarannya dilakukan diawal sekaligus sedangkan Istishna bisa dibayar di awal, angsuran dan bisa juga di akhir.88 Dalam buku Bank Islam yang ditulis oleh Adiwarman A. Karim, menjelaskan tentang fatwa DSN-MUI, terlihat bahwa jual beli Istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan
86Pasal 47 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.
87Yazid Afandi, Fiqh Muamalah Dan Implementasinya Dalam Lembaga Keuangan Syar’iah, (Yogjakarta: Logung Pustaka, 2009), 169.
88Nurul Huda, Lembaga Keuangan Islam, (Jakarta: Kencana, 2010), 52.
tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (mustashni) dan penjual (shani).89
Istishna secara etimologi adalah masdar dari sshna a’asy-sya’i, artinya meminta dibuatkan sesuatu, yakni meminta kepada seorang pembuat untuk mengerjakan sesuatu. Sedangkan secara terminologgi Istishna’ adalah transaksi terhadap barang dagangan dalam tanggungan yang disyaratkan untuk mengerjakan. Objek transaksinya adalah barang yang harus dikerjakan dan pekerja pembuat barang itu.90
Jadi, yang dimaksud dengan jual beli pesanan Istishna adalah suatu transaksi jual beli, dimana konsumen (pembeli) meminta kepada produsen (pedagang) untuk membuatkan suatu barang sesuai spesifikasi yang diinginkannya dengan penyerahan barang dilakukan kemudian hari setelah barang tersebut selesai diproduksi dan sistem pembayarannya dapat dilakukan diawal, diangsur atau diakhir.
b. Dasar Hukum Jual Beli Pesanan Istishna
Dasar hukum jual beli terdapat dalam beberapa ayat Al-Quran antara lain sebagai berikut:
1.) Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 275
2.) Al-Quran Surat An-Nisa ayat 29
89Adiwarman, Bank Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), 126.
90Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, 124.
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman janglah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku suka sama suka diantara kamu.”
3.) Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 282
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk watu yang ditentukan, hendaklah kamu meuniliskannya.”
c. Rukun dan Syarat Jual Beli Istishna 1.) Rukun Jual Beli Istishna
Rukun dari Istishna yang harus terpenuhi dalam transaksi ada beberapa hal, yaitu:
a.) Pelaku akad, yaitu mustashni’ (pembeli) adalah pihak yang membutuhkan dan memesan barang, dan shani’ (penjual) adalah pihak yang memproduksi barang pesanan.
b.) Objek akad, yaitu barang (mashnu’) dengan spesifikasi dan harganya.
c.) Shigat yaitu ijab dan qabul. 91
Lebih lanjut lagi mengenai rukun jual beli Istishna dijelaskan sebagai berikut:
a.) Transaktor
Transaktor dalam hal ini terdiri dari pembeli (mustashni) dan pejual (shani), keduanya disyaratkan telah akil baligh, dan memiliki kemampuan yang optimal seperti
91Rizal Yahya, Akuntansi Perbankan Syariah: Teori Dan Praktek Kontemporer, (Jakarta:
Salemba, 2009), 254.
tidak gila, tidak sedang dipaksa, dan lain-lain yang sejenisnya. Adapun untuk transasksi dengan anak kecil dapat dilakukan dengan izin dan pantauan dari walinya.
Terkait dengan penjual, DSN MUI mengharuskan agar penjual menyerahkan barang tepat pada waktunya dengan kualitas dan jumlah yang telah disepakti. Penjual diperbolehkan menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang telah disepakati dengan syarat kualitas dan jumlah barang sesuai dengan kesepakatan dan ia tidak boleh menuntut tambahan harga.
b.) Objek Akad
Yaitu meliputi barang dan harga barang Istishna.
Hukum objek akad transaksi jual beli Istishna meliputi barang yang dijual belikan dan harga barang tersebut.
Terkait dengan barang Istishna DSN dalam fatwanya menyatakan bahwa ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi, yaitu sebagai berikut:
(1.) Harus jelas spesifikasinya.
(2.) Penyerahan dilakukan kemudian.
(3.) Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditentukan berdasarkan kesepakatan.
(4.) Pembeli (mustashni) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya.
(5.) Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang yang sejenis sesuai kesepakatan.
(6.) Barang yang diserahkan harus sesuai dengan spesifikasi pemesan.
c.) Ijab dan Qabul
Ijab dan Qabul Istishna merupakan pernyataan dari kedua belah pihak yang berkontrak, dengan cara penawaran dari penjual dan penerima yang dinyatakan oleh pembeli.
Pelepasan perjanjian dapat dilakukan dengan lisan, isyarat
(bagi yang tidak bisa bicara), tindakan maupun tulisan.
Tergantung pada praktek yang lazim di masyarakat dan menunjkan keridhaan satu pihak untuk penjual barang Istishna dan pihak pembeli barang Istishna. Dan dasarnya Istishna tidak dapat dibatalkan, kecuali memenuhi kondisi sebagai berikut:
(1.) Kedua belah pihak setuju untuk menghentikannya.
(2.) Akad batal demi hukum karen timul kondisi hukum yang dapat menghalangi pelaksanaan atau penyelesaian akad.92
2.) Syarat Jual Beli Istishna
Syarat jual beli Istishna menurut Pasal 104 sampai dengan Pasal 108 kompilasi hukum ekonomi syariah adalah sebagai berikut:93
a.) Jual beli Istishna mengikat setelah masing-masing pihak sepakat atas barang yang dipesan.
b.) Jual beli Istishna dapat dilakukan pada barang yang bisa dipesan.
c.) Dalam jual beli Istishna identifikasi dan deskripsi barang yang dijual harus sesuai permintaan pemesan.
d.) Pembayaran dalam jual beli Istishna dilakukan pada waktu dan tempat yang disepakti.
e.) Setelah akad jual beli pesanan mengikat, tidak boleh satupun tawar menawar kembali terhadap isi akad yang sudah disepakati.
f.) Jika objek dari barang pesanan tidak sesuai dengan spesifikasi, maka pesanan dapat menggunakan hak pilihan (khiyar) untuk melanjutkan atau membatalkan pesanan.
Adapun syarat yang diajukan ulama untuk memperbolehkannya transaksi jual beli sistem pesanan adalah:
92Rizal Yahya, Akuntansi Perbankan Syariah: Teori Dan Praktek Kontemporer, 254.
93Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah, 125-126.
(1.) Adanya kejelasan jenis, ukuran, macam, dan sifat barang karena ia merupakan objek transaksi yang harus diketahui spesifikasinya.
(2.) Merupakan barang yang biasa ditransaksikan atau berlaku dalam hubungan antar manusia.94
d. Penetapan Waktu Penyerahan dan Pembayaran Barang Pada Jual Beli Istishna
Dalam akad jual beli Istishna waktu penyerahan barang tidak merupakan keharusan. Meskipun waktu penyerahan tidak harus ditentukan dalam akad Istishna pembeli dapat menetapkan waktu penyerahan maksimal yang berarti bahwa jika perusahaan terlambat memenuhi, pembeli tidak terikat untuk menerima barang dan membayar harganya.95
Meskipun jual beli Istishna dibolehkan dalam Islam, akan tetapi dalam pelaksanaannya harus memenuhi aturan-aturan hukum Islam. Seperti penipuan terhadap banyaknya barang pesanan yang tidak sesuai dengan pembayaran yang tidak tepat wkatu, merupakan sesuatu yang tidak diperbolehkan dalam Islam, karena ini merupakan perzaliman karena tidak sesaui dengan akad.
Adapun ketentuan pembayaran menurut fatwa DSN-MUI tentang jual beli Istishna adalah sebagai berikut:
1. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang ataupun manfaat.
2. Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan.
3. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembayaran utang.
Ketentuan lain dalam jual beli Istishna adalah sebagai berikut:
1. Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai kesepakatan, hukumnya mengikat.
2. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajban atau terjadi perselisihan diantara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya
94Rachadi Usman, Produk Dan Akad Perbankan Syariah Di Indonesia: Implementasi Dan Aspek Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2009), 201.
95Rizal Yahya, Akuntansi Perbankan Syariah: Teori Dan Praktek Kontemporer, 254.
dilakukan melalui Badan Abritase Syariah setelah tidak melalui musyawarah.96
e. Perbedaan Istishna dan Salam
Secara terminologis, Salam adalah menjual suatu barang yang penyerahannya ditunda atau menjual suatu barang yang cirri-cirinya disebutkan dengan jelas dengan pembayaran modal terlebih dahulu, sedangkan barangnya diserahkan kemudian hari.97
Bai As-Salam sendiri menurut Sayyid Sabiq dinamakan juga sebagai jual beli Salaf (pendahuluan) yaitu penjualan sesuatu dengan kriteria tertentu (yang masih berada) dalam tanggungan dengan pembayaran diawal atau disegerakan. Sedangkan menurut fuqaha’ menyebutnya dengan al-Mahawij (barang-barang mendesak) karena ia sejenis barang yang tidak ada di tempat akad, dalam kondisi yang mendesak bagi dua pihak yang melakukan akad.98
Sementara itu, menurut fuqaha Syafi’iyah dan Hanbali mendefinisikan jual beli salam adalah:99
ُبقم همثب ٍمَّج َؤَم ٍتَّم ِزب ٍف ُُْص ُْم ّهػ ذقػٌُ
ِذقؼن ا سهخمٔ ِض ُ
Artinya: “Akad yang disepakati dengan menentukan ciri-ciri tertentu dengan membayar harganya lebih dahulu, sedangkan barangnya diserahkan kemudian dalam satu majlis akad.”
Perbedaan antara keduanya yaitu sebagai berikut:
1. Objek Istishna adalah barang yang harus diproduksi, sedangkan objek Salam bisa untuk barang apa saja, baik harus diproduksi lebih dahulu maupun tidak diproduksi terlebih dahulu.
96Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah, 131.
97M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), 143.
98Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah, Juz III (Beirut: Dar Al Kitab Al Arabi, 1977) , 20.
99Wahbah AL-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu, Juz IV, (Damaskus: Darul Fikr, 2008), 389.
2. Harga dalam akad Salam harus dibayar penuh, dimuka, sedangkan harga dalam akad Istishna tidak harus dibayar penuh dimuka, melainkan dapat diangsur atau diakhir.
3. Akad Salam efektif tidak dapat diputuskan secara sepihak,sementara dalam Istishna akad dapat diputuskan sebelum perusahaan mulai produksi.
4. Waktu penyerahan tertentu merupakan bagian penting dari akad Salam, namun dalam Istishna tidak merupakan keharusan.100