BAB III METODE PENELITIAN
F. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat-alat yyang digunakan untuk mendapatkan atau mengumpulkan data.Caranya bisa dengan menggunakan kuesioner,formulir observasi,formulir lain yang berkaitan dengan pencatatan data,dan lain-lain.(Notoadmodjo,2012)
G. Teknik Analisis Data
Analisis data menurut Sugiyono (2018:482) adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
Miles dan Huberman dalam buku Sugiyono (2018:246) analisis data dalam penelitian kualitatif meliputi :
1. Pengumpulan Data
Mengolah dan mempersiapkan data untuk dianalisis. Langkah ini melibatkan transkip wawancara, men-scanning materi, mengetik data lapangan
atau memilahmilah dan menyusun data tersebut kedalam jenis-jenis yang berbeda tergantung pada sumber informasi.
2. Reduksi Data (Data Reduction)
Reduksi data adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting yang sesuai dengan topik penelitian, mencari tema dan polanya, pada akhirnya memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.
Dalam mereduksi data akan dipandu oleh tujuan yang akan dicapai dan telah ditentukan sebelumnya. Reduksi data juga merupakan suatu proses berfikir kritis yang memerlukan kecerdasan dan kedalaman wawasan yang tinggi.
3. Penyajian Data (Data Display)
Penyajian data merupakan analisis dalam bnetuk matril, network, cart atau grafis. Pada penelitian kualitatif, penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, table, bagan dan hubungan antar kategori. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, dan tersusun sehingga akan semakin mudah dipahami.
4. Penarikan Kesimpulan (Verivikasion).
Kesimpulan merupakan penarikan kesimpulan dan vertifikasi.
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah apabila tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung tahap pengumpulan berikutnya.
38 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Pulau Barrang Lompo 1. Sejarah Pulau Barrang Lompo
Lokasi penelitian berada di Pulau Barrang Lompo Kelurahan Barrang Lompo Kecamatan Kepulauan Sangkarrang Kota Makassar. Pulau Barrang Lompo termasukwilayah Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, dan berjarak 13 km dari Makassar. Pulaunya berbentuk bulat, dengan luas 19 ha. Vegetasi yang umum tumbuh di pulauini adalah pohon asam, pohon pisang, dan pohon sukun, sedangkan pohon kelapa hanya dijumpai disisi timur dan barat pulau ini.
Konsentrasi pemukiman penduduk berada pada sisi timur, selatan, dan barat, dengan jumlah penduduk mencapai 3.563 jiwa dari 800 kk. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan, dilengkapi kurang lebih 50 buah kapal kayu motor dan sekoci. Kondisi ekonomi masyarakat relatif sejahtera.
Di sebelah utara pulau ini berbatasan dengan Pulau Badik dan Pulau Balang Lompo yang termasuk dalam Wilayah Kecamatan Liukang Topabiring, Kabupaten Kepulauan Pangkajene. Pulau Barrang Caddi dan Pulau Kodingareng menjadi batas selatan dari pulau ini. Adapun batas baratnya adalah Pulau Lumu-Lumu. Batas timurnya dua pulau tempat rekreasi yang ramai dikunjungi orang, yakni Pulau LaeLae dan Pulau Kahyangan. Pulau ini terletak kurang dari 0,5 meter dari permukaan laut dan luas pulau sekitar 2,3 km². Lapisan tanahnya memang pasir, tetapi terdapat pula lapisan tanah yang
subur di bawahnya, sehingga menjadi lahan yang baik untuk tumbuhnya berbagai
macam tanaman, seperti pohon bakara (sukun), pohon kelor, pohon kelapa, pohon pisang, dan lain-lain.
Fasilitas umum di pulau ini cukup maju dibandingkan pulau lainnya antara lain, tersedia transportasi reguler dari Makassar dengan kapal, biayanya Rp.10.000,- per orang sekali jalan, sanitasi yang cukup baik, fasilitas pendidikan: satu Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), satu Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan satu Sekolah Menengah Atas (SMA). Pulau ini dilengkapi dengan fasilitas kesehatan berupa, satu puskesmas dan satu puskesmas pembantu dengan tenaga medis.Instalasi listrik dengan 2 generator yang berkapasitas 360 KVA yang beroprasi pada pukul 18.00 – 06.00 WITA. Jalan-jalan utama dibuat dari paving blok. Fasilitas air yang baik dan memiliki 2 buah dermaga (tradisional dan semi permanen), dan di pulau ini terdapat “marine field stasiun Universitas Hasanuddin”.
Tradisi masyarakat yang masih dijumpai di pulau ini adalah upacara lahir bathin yakni mensucikan diri sebelum masuk bulan ramadhan, upacara songkabala yakni upacara untuk menolak bala yang akan datang, upacara pa‟rappo yakni upacara ritual yang dilaksanakan oleh para nelayan sebelum turun ke laut, dan upacara karangan yakni upacara ritual yang dilakukan oleh para nelayan ketika pulang melaut dengan memperoleh hasil yang berlimpah.
Selain makam-makam tua dari abad ke 19 yang terdapat di pulau ini sebagai objek wisata budaya yang menarik dikunjungi, juga kos tempat pembuatan
cindera mata dari karang laut, berada tepat didepan dermaga utama. Pada beberapa spot di perairan pulau ini, kehidupan karang dan ikan karang umunya masih baik, walaupun ada sebagian karangnya sudah ikut hancur akibat eksploitasi yang tidak ramah lingkungan.
B. Gambaran umum tentang Teripang 1. Pengertian Teripang
Teripang atau ketimun laut (gamat: Bahasa Malaysia) adalah sebutan untuk hewan Ekhinodermata ini. Teripang adalah kelompok hewan invertebrata laut dari kelas Holothuroidea (Filium Ekhinodermata), dibedakan dalam enam bangsa (ordo) yaitu Dendrochirotida, Aspidochirotida, Dactylochirotida, Apodida, Molpadida, dan Elasipoda.
Jenis teripang diperkirakan tidak kurang dari 1.200 jenis (Bakus 1973) terutama tersebar di perairan pada kedalaman 5 meter sampai 50 meter di daerah tropik. Jenis-jenis teripang komersial, khususnya dari daerah tropika, termasuk dalam bangsa Aspidochirotida dari suku Holothuroiidea dan Stichopodidae. 29 jenis teripang saat ini menjadi komoditas perdagangan secara Internasional dan lokasi pengumpulannya secara menyeluruh dari Daerah-daerah kepulauan Indonesia, yang termasuk dalam famili Holothuriidae dan Stichopodidae (Darsono 2007; Bruckener et al. 2003). Di antara jenis-jenis tersebut banyak yang terdapat di perairan Indonesia seperti yang diidentifikasikan oleh Darsono (1995). Teripang adalah hewan bentik yang lambat gerakannya, hidup pada dasar dengan substrat pasir, lumpur maupun dalam lingkungan terumbu karang.
Dalam asas trofik (trophic level), teripang berperan sebagai pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspensi (suspense feeder) dalam lingkaran pangan (food web). Beberapa jenis teripang merupakan bahan makanan tradisional di beberapa negara Asia, khususnya Cina. Teripang olahan kering dalam perdagangan dikenal sebagai Beche-de-mer atau trepang hai-sum (Conand & Sloan, 1989).
Teripang disukai karena mengandung obat, berkhasiat dapat menyembuhkan beberapa penyakit (curative), dan mempunyai daya aphrodisiac (Preston 1993 & Akamine 2000). Dari analisis proksimat daging teripang diperoleh komposisi protein 82%, lemak 2%, kadar air 17%, mineral 21%, dan kadar abu 8,6%. Karena kandungan lemaknya yang rendah Teripang direkomendasikan untuk orang-orang yang bermasalah dengan kolesterol.
2. Morfologi dan Klasifikasi Teripang
Teripang termasuk ke dalam Filum Echinodermatadari kelas Holothuroidea. Tubuh hewan ini lunak, panjang selindris, memiliki warna dan corak yang beragam, memiliki tentakel pada bagian mulut atau oral, kaki tabung, dan beberapa jenis dapat mengeluarkan cairan yang lengket seperti getah karet untuk melindungi diri dari predator (Widigdo et al. 2005).
Secara umum klasifikasi teripang menurut beberapa peneliti sebagai berikut: Barnes (1963), Sutaman (1993), dan Rowe (1969) adalah sebagai berikut:
Filum: Echinodermata Kelas: Holothuroidea
Ordo: Aspidochirotida Famili: Holothuroiidea Genus: Holothuria
Spesies: Holothuria scabra, Holothuria vacabunda Famili: Stichopodidae
Genus: Stichopus
Spesies: Stichopus horrens, Stichopus variegatus
Morfologi teripang pasir (Holothuria scabra) adalah tubuh panjang, selinderis, dan lunak bagian dorsal berwarna abu-abu sampai kehitaman dan terdapat garis hitam disekitar tubuh sedangkan bagian ventral berwarna kuning keputihan (Martoyo et al. 2006).Panjang tubuh maksimum teripang dapat mencapai 37,00 cm dengan bobot 600,00g (Uehara 1991 in Choo 2008).
Holothuria scabra memiliki pertumbuhan alometrik negatif yaitu pertumbuhan panjang lebih dominan dibandingkan dengan pertumbuhan bobot (Gultom 2004).
Teripang duri (Stichopu horrens) ini kaku, berbentuk hamper persegi panjang , diameter atau ketebalan tubuh 0,20 cm. Warna tubuh putih sampai keabu-abuan dengan bintil berwarna coklat seperti kutil yang tidak beraturan diseluruh tubuh kecuali pada bagian ventral dan tidak memiliki tabung cuvierian (palomares & Pauly 2011). Panjang tubuh umumnya adalah 20,00 cm dan panjang infinitasnya diperkirakan 37,70 cm. Penelitian hubungan panjang bobot yang pernah dilakukan sebelumnya menunjukan korelasi positif dengan nilai b sebesar 16,783 yang berarti pertumbuhan bobot lebih dominan
dibandingkan pertumbuhan panjang. Pengukuran panjang dilakukan di bawah air dan bobot basa. Stichopus horrens menunjukan tingkat elastisitas yang tinggi dalam pengukuran panjang (Hearn & Pinillos 2006).
Teripang gamat atau curyfish memiliki tubuh agak persegi, kaku datar bagian sentral dan tidak memiliki tabung cuvierian. Warna tubuh kuning kecoklatan sampai hijau dengan bintik hitam di sekitar tubuh, dinding tubuh mudah memanjang atau relaksasi apabila dikeluarkan dari air. Maksimum panjang tubuh berkisar 50,00 cm tetapi pada umumnya 35,00 cm dengan bobot sekitar 1000 g, dan ketebalan tubuh sekitar 8,00 mm (Palomares &
Pauly 2011).
Teripang mempunyai tubuh yang lunak, berotot melingkar dan terdiri atas lima lapisan otot daging memanjang dari bagian oral ke bagian oboral yang terletak di bawah dinding tubuhnya, yang membentuk rongga berisi organ-organ dalam. Organ-organ dalam Teripang dibagi menjadi 11 bagian yaitu Tentakel,Kulit luar,Kerongkongan,Perut atau Lambung,Usus kecil,Usus halus,Gonad,Sistem sirkulasi air,Cabang-cabang saluran pernapasan,Rumbai-rumbai pada pangkal pengeluaran, dan Kloaka.
3. Habitat dan Penyebaran Teripang
Teripang pada umumnya bergantung pada habitat yang kaya akan nutrian dan berasosiasi pada ekosisitem terumbu karang, dan beberapa jenis teripang yang hidup di laguna, padang lamun, dan paparan pasir dan lumpur.
Sedangkan jenis lainnya lebih menyukai daerah ombak dan cela dalam dan perairan yang kaya akan detritus. Di Indonesia, hewan tersebut banyak
tersebaran di daerah Riau, Lampung, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Timur, Maluku, dan Papua (Azis 1997).
Habitat teripang pasir pada ekosistem terumbu karang dengan substrat pasir halus dan lamun jenis Cymodecea pada zona intertidal pada kedalaman 0-10 m. Pada siang hari membenamkan tubuhnya kedalam pasir. Teripang duri hidup berasosiasi dengan substrat bebatuan dengan kedalaman 5-20 m. Pada siang hari bersembunyai di bawah atau di sela karang mati (Hikman 1998 in Hearn & Pinillos 2006).
Teripang getah hidup pada substrat berpasir dengan pecahan karang dengan ditumbuhi padang lamun yang didominasi oleh jenis Thalassia sp.
Teripang duri hidup pada perairan dangkal sampai. kedalaman 15 m dengan substrat berpasir dan pecahan karang (Palomares & Pauly 2011).
Teripang bergerak perlahan ketika mencari makanannya yaitu tumbuhan mati dan sisa-sisa tubuh hewan yang telah mati (detritus) di pasir. Pasir tersebut dimakan, detritus dicernah sisa pasir dilepaskan lewat saluran pembuangan Teripang ditemukan hampir di seluruh perairan pantai mulai dari daerah pasang surut yang dangkal sampai perairan yang dalam. Jenis Peroriza gravelterdapat di Laut Banda pada kedalaman 7000 m dan jenis Elopida sudensis terdapat di Pulau Jawa yaitu di pantai timur Surabaya (Nontji 2002; Winarni et al. 2010).
Habitat spesies teripang adalah paparan rataan terumbu karang, tempat pasir, tempat berbatu, padang lamun, dan pasir lumpur (Aziz 1995; Brikeland 1989). Menurut Nontji (2002), teripang dapat dijumpai pada dasar perairan
yang berpasir, sedikit berlumpur atau pada pecahan karang bercampur lumpur laut. Banyaknya teripang di mikrohabitat tersebut oleh karena kebutuhan perlindungan dari sinar matahari.
Menurut Hyman (1995) dalam Yusron 2004) Teripang peka terhadap matahari, sehingga teripang lebih banyak yang bersifat fototaksis negatif.
Sehingga banyak sepsis yang di temukan hidup di padang lamun, karang, dan pasir berlumpur.
Teripang pada umumnya bersifat nokturnal, mereka aktif mencari makan pada malam hari dan menyembunyikan diri pada siang hari. Namun ada perkecualian terhadap hukum ini, khususnya pada spesies tropis. Reaksi terhadap perubahan intensitas cahaya akan bervariasi. Terhadap penerangan yang tiba-tiba, beberapa spesies bereaksi dengan bergerak menjauhi dan berpindah. Jika cahaya disorotkan pada daerah tubuh secara lokal terjadi kontraksi setempat (Hymen 1995).
Perairan yang dasarnya terdiri atas pasir bercampur lamun dan pasir bercampur karang merupakan dasar perairan yang disukai oleh teripang.
Beberapa teripang hidup di perairan yang dasarnya berkarang dan dasar yang ditumbuhi lamun. Hal ini diduga karena kebutuhan perlindungan dari sinar matahari. Teripang lebih banyak bersifat fototoksin negatif, yaitu tubuhnya peka terhadap sinar matahari. Karena itu teripang lebih suka berada di antara lamun, karang, dan ada yang bersembunyi di dalam pasir sebagai tempat perlindungan. Juga teripang memiliki adaptasi khusus terhadap sengatan matahari yaitu dengan membenamkan diri dalam pasir (Hymen 1955).
Kedalaman Teripang pada umumnya hidup pada perairan yang memiliki kedalaman 1-50 meter dengan berbagai macam jenis dan tergantung pada habitatnya. Sebagai contoh Holothuria scabradapat hidup pada kedalaman 1-50 meter (Darsono 2005), Teripang mudah tersebar di daerah pasang surut, Setelah bertambah besar, teripang akan berpindah ke perairan yang lebih dalam.
a. Manfaat dan kandungan teripang
Teripang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan tradisional, yang dikonsumsi oleh masyarakat di negara-negara tropis dan subtropis.
Kebanyakan negara-negara yang mengkonsumsinya adalah Cina, HongKong, Korea Selatan, Singapura dan Jepang.
Di beberapa negara ekstrak dari timun laut jenis tertentu digunakan sebagai bahan obat tradisional (Ozer et al., 2004). Hal tersebut tidak lepas dari manfaat kandungan teripang. Salah satu senyawa yang terkandung dalam teripang adalah glikosida triterpen (echinosid, holothurin A, holothurin B, holotoxin A, holotoxin B, holotoxin A1, holotoxin B1, stikoposid, telenotosid, cucumariosid; philinopgenin A, philinopgenin B, philinopgenin C, philinopside E, synallactosid, hemoiedemosid, liouvillosid, calcigerosid, kerosid atau DS-penaustrosid) (Tian et al., 2007, Chi et al., 2005, Zhang, 2004 dalam Nurhidayati, 2009; Dang, 2007;).
Berdasarkan Kalinin (2005), senyawa glikosida triterpen umumnya ditemukan pada tumbuhan sedangkan pada hewan sangat jarang ditemukan, namun menurut Dong et al. (2008), glikosida triterpen ternyata merupakan
metabolit sekunder yang paling penting pada mentimun laut dari aktivitas biologisnya, yang bermanfaat sebagai antijamur, sitotoksik, efek hemolitik, sitostatik dan imunomodulator.
b. Pembagian kerja dalam mencari Teripang
1. Juragan sebagai pemilik kapal yang bertanggung jawab atas kelancaran dan memantau perkembangan selama masa pencarian Teripang.
2. Penyelam sekitar 6 sampai 10 orang yang bertugas sebagai pencari Teripang.
3. Pekerja diatas atau yang tidak bekerja sebagai penyelam sekitar 4 sampai 6 orang ada yang bertugas sebagai penjaga selang pada saat penyelam turun mencari teripang dan sisanya bertugas sebagai tukang masak Teripang dan ada juga yang ditugaskan sebagai koki(chef).
C. Hasil Penelitian
1. Bagaimana praktik jual beli teripang dalam perspektif bisnis islam
Dalam kehidupan sehari-hari ekonomi merupakan sumbu yang dikelilingi kehidupan sosial individu dan masyarakat. Sedangkan tata nilai yang menonjol di zaman sekarang adalah ajaran falsafah yang berbeda dalam mencapai kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi. Islam adalah agama yang multi komplit, multi faktual dan multi dimensi dalam memenuhi kehidupan makhuk-Nya. Ketinggian tata nilai Islam jauh berbeda dengan semua agama. Islam memiliki kekuatan hukum, peraturan, perundang-undangan, tatakrama dan tingkah laku. Oleh karena itu sangat tidak adil bila petunjuk kehidupan yang lengkap dipisah-pisahkan antara satu bagian dengan bagian lainnya.
Jual beli dikatakan sah apabila memenuhi syarat, dimana rukun jual beli menurut islam adalah adanya penjual, pembeli,barang yang dijual dan ucapan ijab qabul. Dalam islam berbisnis diperbolehkan selagi tidak terdapar kedzaliman, serta unsur-unsur riba, dan juga penipuan.
Dalam penjualan yang dilakukan sesuai dengan akad (perjanjian), sebagaimana yang dijelaskan oleh pemilik kapal, menurut beliau:
Menurut pemilik kapal dari hasil wawancara dimana H.Baharuddin mengatakan bahwa “Iya betul, jual beli dipulau kami diterapkan secara islami karena menggunakan akad jual beli dimana ada barang, uang, penjual dan pembeli. Dari hasil wawancara tersebut menjelaskan bahwa penjualan yang dilakukan dipulau barrang lompo sudah melakukan jual beli secara islam.
2. Faktor Pendukung dan Penghambat Dalam Penerapan Jual Beli Teripang Dalam setiap prakteknya di lapangan, penerapan praktik jual beli Teripang di pulau barrang lompo dapat terjadi sesuai ketentuan Islam dan juga non Islam. Hal ini tergantung pada faktor-faktor yang menunjang agar diterapkannya jual beli secara Islam. Pada konsep-konsep yang ada, faktor-faktor ini dibagi menjadi dua, yakni faktor-faktor pendukung dan faktor-faktor penghambat.
Faktor-faktor ini lah yang menentukan bagaimana laju penerapan praktik jual beli teripang menurut syariah dala m masyarakat Pulau.
Menurut pemilik kapal dan pembeli yang ada dipulau barrang lompo dari hasil wawancara mengatakan bahwa “Sangat berdampak karena jika sudah dating musim ombak maka tidak akan ada kapal yang akan keluar
mencari dan sebaliknya jika dating musim teripang maka semua warga yang memiliki kapal maka akan cepat mengeluarkan kapalnya.”
Hasil wawancara tersebut menjelaskan bahwa salah satu faktor penghambat jual beli teripang adalah disaat datangnya musim ombak karena tidak ada kapal yang keluar mencari teripang otomatis warga dipulau barrang lompo ada lagi mata pencahariannya karena mayoritas warga disini adalah nelayan. Begitupun sebaliknya salah satu faktor pendukung jual beli teripang adalah harganya yang lumayan mahal dimana warga pulau barrang lompo segera ingin mencari teripang.
3. Menurut Para Nelayan
Menurut Bapak Bahtiar umur 30 tahun (sebagai juragan) sudah bekerja selama 10 tahun mengatakan bahwa dia mempunyai kapal sejak pertama kali dia menjadi nelayan dan juga melakukan kerjasama dengan para nelayan.
Menurut Bapak Sultan umur 25 tahun Bapak Sultan sudah bekerja selama 5 tahun, mengatakan bahwa banyak resika yang akan ditanggung selama menjadi nelayan tapi apa boleh buat karena sudah tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dilakukan selain menjadi nelayan.
Menurut Basri umur 20 tahun mengatakan bahwa Basri baru bekerja selama 2 tahun. Basri mengatakan bahwa dia bekerja dikapal hanya sebagai penjaga selang yang dipakai penyelam selama dilaut, jadi resika tidak terlalu berat disbanding dengan penyelam.
Berdasarkan hasil wawancara diatas mengatakan bahwa faktor pendukung dan penghambat menjadi seorang nelayan memang cukup berat
tapi mereka sudah tidak memiliki pilihan lain karena minimnya pengetahuan dan pendidikannya.
D. Pembahasan
1. Tentang Subjek Dalam Jual Beli
Praktik jual beli Teripang di Pulau Barrang Lompo bahwa penjual dan pembeli adalah orang yang berakal dan yang sudah terbiasa dalam praktik jual beli. Penjual Teripang dan pembeli, kedua belak pihak tersebut sama-sama sepakat dan rela teripang itu dibeli oleh pembeli, begitupun sebaliknya. Tidak ada unsur keterpaksaan sama sekali dalam menjual maupun membeli karena setiap manusia tidak bisa menyelesaikan semua urusan tanpa membutuhkan orang lain sebagai timbal balik.
Praktik jual beli Teripang di pulau barrang lompo pihak penjual maupun pembeli sudah sama-sama dewasa atau baligh sehingga dalam akad jual belinya mereka sudah mampu mengerti dalam jual beli Teripang tersebut.
Praktik jual beli Teripang di pulau barrang lompo telah sesuai dengan ketentuan Islam, walaupun masih ada yang mempraktikan bisnis konvensional. Dalam hal ini penjual maupun pembeli harus dapat mengembangkan penerapan bisnis Islam untuk tujuan kemaslahatan dan tidak mendapat kemudharatan dunia akhirat.
2. Tentang Objek Dalam Jual Beli
Banyak orang-orang mengharapkan diberlakukannya aturan atau hukum Islam dalam aktifitas ekonomi. Sebaliknya adapula orang-orang yang bangga bekerja dengan menggunakan sistem ekonomi barat. Seperti sistem kapitalisme, sosialisme, dengan tujuan mau menandingi aturan atau perudang-udangan Islam. Seperti praktik jual beli Teripang di pulau barrang lompo ditunjukkan oleh transaksi yang dilakukan antara pedagang dan pembeli didasari atas adanya saling berinteraksi antara keduanya yaitu melakukan permintaan dan penawaran. Kondisi seperti ini menciptakan suatu kegiatan ekonomi untuk memenuhi suatu kebutuhan hidup, yang sesuai dengan hasil wawancara: “Komunikasi merupakan cara untuk mewujudkan suatu kegiatan jual beli”. Kegiatan jual beli harus terdapat penjual dan pembeli, apabila salah satunya tidak ada maka tidak dapat mempraktikan. Keduanya harus berperilaku yang sesuai dengan syariat Islam. Pembeli Dalam melakukan praktik jual beli teripang terdapat lima fase yaitu sebagai berikut:
Dalam Islam, etika bisnis ini sudah banyak dibahas dalam berbagai literatur dan sumber utamanya adalah AlQuran dan As Sunnah. Pelaku-pelaku bisnis diharapkan bertindak secara etis dalam berbagai aktivitasnya.
Kepercayaan, keadilan dan kejujuran adalah elemen pokok dalam mencapai suksesnya suatu bisnis di kemudian hari. Dapat dilihat pada hasil wawancara sebagai berikut: “Diwajibkan untuk mempraktikan bisnis syariah untuk dapat membedakan halal dan haramnya dan juga bisnis syariah adalah cara
berdagang rasulullah yang berlandaskan pada Al-Qur‟an dan hadist.”
Terindikasi bahwa jual beli ikan Teripang di pulau barrang lompo telah menerapkan praktik jual beli yang Islam, terlihat antara pedagang dan konsumen telah menerapkan sikap kejujuran (siddiq), sikap ramah dan komunikatif (tabligh), sikap dapat dipercaya (amanah),dan sikap cakap atau cerdas (fatanah). Demikian juga masih banyak orang yang melakukan aktivitas tetapi terkadang tidak memahami bahwa sesungguhnya yang mereka jalani adalah sesuatu pekerjaan yang tata nilainya berasal dari barat, atau mungkin perbuatan yang mereka jalani berpedoman pada ajaran Islam.
Alasannya karena sudah menjadi budaya bagi masyarakat Pulau
Hasil penelitian ini mengindikasikan adanya peluang untuk terimplementasinya jual beli dalam perspektif bisnis islam dalam kegiatan tukar menukar atau jual beli di Pulau Barrang Lompo, sebab mayoritas responden beranggapan bahwa penting untuk menerapkan jual beli secara Islam atau dalam perspektif bisnis islam. Hal ini seperti terungkap dari hasil
Hasil penelitian ini mengindikasikan adanya peluang untuk terimplementasinya jual beli dalam perspektif bisnis islam dalam kegiatan tukar menukar atau jual beli di Pulau Barrang Lompo, sebab mayoritas responden beranggapan bahwa penting untuk menerapkan jual beli secara Islam atau dalam perspektif bisnis islam. Hal ini seperti terungkap dari hasil