HASIL DAN PEMBAHASAN
6. Jumlah Anak Daun 1
Anak daun merupakan salah satu peubah pertumbuhan vegetatif bibit sagu. Daun dikatakan mekar sempurna apabila sudah muncul anak daun. Jumlah anak daun yang terbentuk bervariasi, tergantung pada keadaan bibit itu sendiri.
Tabel 6. Pengaruh Bobot Bibit dan Penggunaan POC terhadap Jumlah Anak Daun 1
Perlakuan MSA
Ke-4 5 6 7 8
Bobot Bibit (g) ...Helai...
50≤x<200 8.08 7.98 7.83 7.83 7.97 200≤x<500 9.42 10.48 10.98 10.98 10.94 500≤x≤800 8.05 8.05 8.05 8.85 8.85 Uji F tn tn tn tn tn Konsentrasi POC (ml/l) ...Helai... 0 8.47 9.47 9.55 10.55 10.93 2 7.44 7.66 8.61 8.61 8.56 5 9.35 9.38 9.48 9.47 9.17 8 9.33 10.00 9.56 9.56 9.71 Uji F tn tn tn tn tn
Keterangan: Nilai pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji Duncan pada taraf 5 %
tn: tidak berbeda nyata pada taraf 5 %
Berdasarkan Tabel 6, perlakuan bobot bibit dan penggunaan POC tidak memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah anak daun 1. Meskipun secara statistik tidak berbeda nyata, bobot bibit 200≤x<500 g mempunyai rata-rata
49
jumlah anak daun 1 lebih banyak (10.93 helai), sedangkan bobot bibit 50≤x<200 gram mempunyai rata-rata jumlah anak daun 1 lebih sedikit (7.97 helai). Bibit yang tidak diberi POC (konsentrasi POC 0 ml/l) mempunyai jumlah anak daun 1 paling banyak yaitu 10.93 helai pada 8 MSA. Perlakuan bobot bibit dan penggunaan POC tidak memberikan interaksi nyata terhadap jumlah anak daun 1.
Secara umum, perlakuan bobot bibit memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase hidup bibit, pertumbuhan panjang daun pangkas, pertum-buhan panjang petiol daun 1, jumlah daun total, dan persentase pemekaran daun. Perlakuan aplikasi POC tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap peubah yang diamati. Perlakuan bobot bibit dan pemberian POC memberikan interaksi yang tidak nyata terhadap persentase hidup bibit, pertumbuhan panjang daun pangkas, pertumbuhan panjang petiol daun 1, jumlah daun total, persentase pemekaran daun, dan jumlah anak daun.
Faktor yang mempengaruhi persentase hidup bibit adalah keadaan bibit itu sendiri. Menurut Irawan (2010), bobot bibit berkorelasi positif dengan rizome yang ada pada banir bibit. Banir tersebut mempunyai banyak cadangan makanan untuk kebutuhan nutrisi bibit selama di pembibitan. Namun pada percobaan ini, bibit dengan bobot 500≤x≤800 g mempunyai persentase hidup yang lebih rendah daripada bibit dengan bobot 200≤x<500 g. Bibit dengan bobot 200≤x<500 g mempunyai persentase hidup paling tinggi diduga karena bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Bibit dengan bobot tersebut mempunyai karbohidrat dan air yang cukup. Bibit dengan bobot 50≤x<200 g diduga mempunyai cadangan makanan dalam banir yang sedikit sehingga persentase mati bibit cukup tinggi. Bibit dengan bobot 500≤x≤800 g juga mempunyai persentase mati bibit yang tinggi. Hal tersebut diduga karena kandungan air yang ada dalam bibit tergolong tinggi sehingga bibit mengalami defisit air akibat transpirasi yang berlebihan.
Lingkungan mempengaruhi persentase hidup bibit. Irawan (2010) menya-takan bahwa suhu 23-31oC merupakan lingkungan yang optimal untuk fase pem-bibitan sagu. Lingkungan tersebut mampu memberikan tajuk yang lebih sehat, dilihat dari luas daun yang lebih besar, jumlah anak daun yang lebih banyak, dan
uptake unsur hara yang lebih baik. Suhu dalam paranet yang teramati selama
siang-50
sore hari sekitar 23-35oC. Lingkungan yang terlalu panas menyebabkan transpi-rasi bibit terlalu besar sehingga bibit mengalami kekeringan. Diduga bibit dengan bobot 500≤x≤800 g melakukan transpirasi yang tinggi sehingga bibit banyak mengalami kematian di pembibitan.
Air gambut yang digunakan untuk penyiraman mempengaruhi persentase hidup bibit. Air gambut diduga menjadi tempat hidupnya patogen yang nantinya akan hidup pada media tanam dan menyerang bibit sagu (Gambar 24).
Gambar 24. Serangan Penyakit pada Bibit Sagu
Tanaman sagu termasuk tanaman tipe C3. Tanaman tersebut sulit tumbuh diatas suhu optimum. Jika suhu udara naik, maka akan mengurangi produksi enzim rubisco. Selain itu, akibat dari suhu yang tinggi, respirasi tanaman mening-kat yang akan menyebabkan pengurangan sejumlah ATP yang dihasilkan oleh daun, sehingga menyebabkan asimilat yang dihasilkan berkurang (Salisbury and Ross 1995).
Tanaman yang baru dipindahkan mengalami penundaan pertumbuhan, organ-organ tanaman tidak langsung berfungsi dengan baik. Sebelum akar tanam-an berfungsi dengtanam-an baik, maka ttanam-anamtanam-an belum menghasilktanam-an senyawa orgtanam-anik yang dibutuhkan oleh tanaman dalam pertumbuhannya (Wahid, 1987). Hal ini dapat dilihat dari rata-rata pertumbuhan panjang daun pangkas dan petiol daun 1 yang tergolong rendah.
Berdasarkan pengamatan pada pembibitan sagu terlihat bahwa pertum-buhan tanaman lebih mengarah kepada pembentukan tajuk daun, pertumpertum-buhan akar agak sedikit terhambat. Bibit sagu memanfaatkan karbohidrat yang ada pada banir tanaman untuk membentuk tajuk dan akar yang baru. Setelah tajuk
ter-51
bentuk, bibit sagu dapat melakukan fotosintesis sendiri sehingga bibit men-dapatkan energi dari hasil fotosintesis. Hal ini sesuai dengan pendapat Rostiwati (1995) yang menyatakan bahwa pertumbuhan vegetatif awal bibit tergantung pada cadangan dan produksi karbohidrat.
Daun merupakan bagian yang penting bagi suatu tanaman. Daun mengan-dung klorofil yang digunakan untuk fotosintesis. Pada tanaman sagu dewasa, daun mengalami pengeringan sebanyak satu atau dua pelepah setiap satu atau dua bulan sekali (Schuiling 2009). Menurut Flach (1986) dalam Wahid (1987), bibit sagu yang tumbuh dengan baik akan mengeluarkan 1-2 daun setiap bulan. Berdasarkan percobaan, petiol baru keluar pada minggu ke-4 MSA.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa bibit dengan bobot yang lebih kecil hingga sedang mempunyai persentase pemekaran daun yang lebih banyak dari-pada bibit dengan bobot yang lebih besar. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Irawan (2010). Hal ini diduga karena bibit dengan bobot yang lebih kecil memanfaatkan cadangan makanan yang terdapat dalam banir untuk membentuk tajuk. Apabila cadangan makanan sudah habis, bibit dapat melakukan fotosintesis sendiri.
Pemupukan menggunakan pupuk organik cair tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan bibit sistem polibag di pembibitan. Hal tersebut diduga karena suhu yang terlalu tinggi (sampai 35oC) menyebabkan pupuk menguap. Selain itu, tanah gambut yang digunakan sebagai media tanam mempunyai Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang tinggi (46.59-74.22 me/100 g) dan Kejenuhan Basa yang rendah (5.75-7.69 %) yang menyebabkan tanah menjadi masam. Hal tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap kekahatan N, P, K, Ca, Mg, dan Mo (Purwanto et al., 2001).
Percobaan pemupukan tanaman sagu sebelumnya pernah dilakukan, khususnya pemberian unsur hara makro pada tanaman. Pemupukan pada tanaman sagu tidak memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman yang meliputi rata-rata jumlah daun (Kueh, 1995; Ando et. al., 2007; Dewi, 2009) pertumbuhan diameter batang (Kueh,1995), dan tinggi tanaman (Kueh, 1995; Lina et. al., 2009; Dewi, 2009).
52
Berbeda dengan hasil percobaan pemupukan oleh Kakuda et al., (2005). Pada percobaan tersebut penambahan unsur hara sangat mempengaruhi bobot anakan yang terdapat pada rumpun sagu. Rata-rata peningkatan bobot anakan sagu sebesar 9 kg/anakan/tahun. Pemberian pupuk dapat mempercepat akumulasi bobot kering anakan sagu daripada tanaman induknya. Kondisi bibit selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 25.