• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jumlah Gerakan Operkulum Ikan 3

Jumlah Gerakan Operkulum Ikan 3 15.30 15.20 15.10 15.00 14.70 14.40 14.30 14.30 14.10 14.00 13.90 13.00 13.50 14.00 14.50 15.00 15.50 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Hari ke-

Tinggi Air (cm)

Tinggi Air (cm)

Grafik diatas merupakan garafik tinggi air pada system 4, dimana pada system 4 terdapat 1 tanaman Hydrilla dan 3 ekor ikan. Pada grafik terlihat Tinggi air hari 0 sebesar 15.30, hari-1 sebesar 15.20, hari-2 sebesar 15.10, hari ke-3 sebesar 15.00, hari-4 sebesar 14.70, hari-5 sebesar 14.40, hari-6 sebesar 14.30, hari ke-7 sebesar 14.30, hari ke-8 sebesar 14.10, hari ke-9 sebesar 14.00 dan hari ke-10 sebesar 13.90. Dapat terlihat pada grafik terjadi penurunan pada tinggi air dalam akuarium di system 4.

Pada praktikum kali ini, praktikan mengamati interaksi antarkomponen ekosistem pada air tawar. Pada ekosistem air tawar yang diamati, terdapat 4 sistem yang berbeda, yaitu sistem 1 yang berisi air dan Hydrilla; sistem 2 yang berisi air dan 1 ekor ikan; sistem 3 yang berisi air, 1 ekor ikan, dan Hydrilla serta sistem 4 yang berisi air, 3 ekor ikan dan Hydrilla. Pengamatan dilakukan selama 11 hari, yaitu dari hari ke-0 sampai hari ke-10. Komponen yang diamati meliputi suhu, pH, kadar DO, Jumlah gerakan operkulumikan, Keadaan ikan, serta tinggi air. Dari hasil pengamatan diperoleh hasil sebagai berikut:

a. Sistem 1 (Tanaman Hydrilla)

Suhu pada hari ke-nol yang tercatat adalah 22.6 °C. Pada hari pertama suhu 22.7 °C, hari kedua suhu sebesar 21.90°C, hari tiga 22.13 °C, hari ke-empat 22.4°C, hari ke-lima sebesar 22.1°C, hari ke-enam dan hari kedelapan suhu sama sebesar 22.43°C, hari ke-tujuh suhu sebesar21.97°C, hari ke-sembilan suhu sebesar 22.50°C dan hari ke-sepuluh suhu sebesar 22.3°C. Dalam system satu akuarium hanya berisi satu Hydrilla, perubahan suhu mengalami kenaikan dan penurunan hal itu disebabkan karena suhu udara luar atau lingkungan mempengaruhi terhadap suhu air dalam akuarium. Hal tersebut juga dapat dihubungkan dengan kondisi alam, biasanya dikarenakan oleh pengaruh cuaca yang menyebabkan suhu mengalami kenaikan dan penurunan.

Pada system satu perubahan kadar DO tidak stabil. Hari ke-0 dan ke-1 menunjukkan kadar DO yang lebih kecil dibandingkan hari-hari berikutnya. Hal ini dikarenakan adanya ketidak akuratan pada alat DO meter. Terjadi fluktuasi

pada DO air dalam akuarium di system 1. Kadar DO yang terukur dari hari ke hari tidak dapat terprediksi, karena selalu mengalami peningkatan dan penurunan yang tak menentu. Hal ini karena adanya organisme (Hydrilla) dalam air yang mengambil oksigen terlarut untuk proses respirasinya. Intensitas matahari yang digunakan untuk fotosintesis sangat dipengaruhi oleh cuaca. Pada saat praktikum, kebanyakan intensitas cahaya yang kurang sehingga membuat Hydrilla tidak berfotosintesis secara maksimum dan akan membuat kadar DO dalam air sedikit.

pH pada system satu mengalami kenaikan sehingga hal tersebut dapat dikatakan semakin basa. Air yang semakin basa menunjukkan bahwa terjadi penurunan penggunaan CO2. pH yang relative naik dari hari kehari tersebut, dikarenakan pada system satu, hanya terdapat Hydrilla. Hydrilla menghasilkan oksigen (O2) saat fotosintesis. Oksigen yang dihasilkan semakin banyak dari hari kehari dikarenakan dalam system tersebut tidak terdapat ikan, sehingga oksigen yang telah dihasilkan Hydrilla tidak terpakai dan larut dalam air. Oksigen yang terlarut dapat mempengaruhi pH air, dimana semakin banyak oksigen yang terlarut maka pH-nya semakin besar.

Ketinggian air pada system satu mengalami penerununan. Ketinggian awal pada hari ke-nol adalah 15cm dan pada saat hari ke-sepuluh ketinggian air di akuarium menjadi 13.70 cm. Ketinggian air yang terus mengalami penurunan diakibatkan oleh penguapan yang terjadi. Penguapan pada aquarium dipengaruhi oleh suhu dan juga cahaya, semakin tinggi suhu akan semakin cepat penguapan yang terjadi. Begitu pula dengan cahaya, semakin besar intensitas cahaya yang diterima akan menyebabkan penguapan yang terjadi juga semakin cepat.

b. Sistem 2 (1 ekor ikan)

Pada sistem kedua ini suhu hari ke 0 sebesar 22.80oC ; hari ke-1 sebesar 22.70 oC; hari ke – 2 sebesar 21.90 oC ; hari ke-3 sebesar 22.20 oC; hari ke-4 sebesar 22.46oC ; hari ke-5 sebesar 22.20 oC; hari ke-6 sebesar 22.40 oC; hari ke-7 o

C sebesar 21.90 oC; hari ke-8 sebesar 22.37 oC; hari ke-9 sebesar 22.40 oC; hari ke-10 sebesar 22.30 oC . Suhu mengalami fluktuasi hari ke-0 sampai hari ke 10 sampai suhu mengalami kenaikan dan penurunan .

mg/L; pada hari ke-2 sebesar 1.00 mg/L; pada hari ke-3 sebesar 1.37 mg/L; pada hari ke-4 sebesar 0.50 mg/L; pada hari ke-5 sebesar 1,60 mg/L ; pada hari ke-6 sebesar 1.83 mg/L; pada hari ke-7 sebesar 4.67 mg/L; pada hari ke-8 sebesar 4.26 mg/L; pada hari ke-9 sebesar 4.80 mg/L; pada hari ke-10 sebesar 5.20 mg/L. Pada hari ke-0 hingga ke-4 kadar DO mengalami fluktuasi tetapi pada hari ke-4 hingga hari ke-10 mengalami kenaikan.

Dalam akuarium sistem 2 yang hanya berisi satu ekor ikan, perubahan kadar DO tidak stabil. Perubahan suhunya juga tidak terlalu mencolok sehingga dalam hal ini susah untuk mengaitkan antara perubahan DO dengan suhu. Kemungkinan terbesar perubahan DO dikarenakan difusi oksigen dengan udara dari luar akuarium. Semakin melakukan difusi dengan udara luar maka kadar DO semakin besar.suhu udara luar/lingkunagan mempengaruhi terhadap suhu air dalam aquarium.Suhu dari luar juga bisa dipengaruhi oleh cuaca.apabila hujan maka suhu luar akan rendah dan apabila cuaca cerah suhu luar akan tinggi.

Pada sistem kedua di mana pada aquarium diisi hanya dengan 1 ekor ikan, pH mula-mula (hari ke 0) sebesar 7.85; pada hari 1 sebesar 8.39; pada hari ke-2 sebesar 8.63; pada hari ke-3 sebesar 8,67; pada hari ke-4 sebesar 8.7ke-2; pada hari ke-5 sebesar 8.93; pada hari ke-6 sebesar 8.95; pada hari ke-7 sebesar 9.163; pada hari ke-8 sebesar 9.27; pada hari ke-9 sebesar 9.43; pada hari ke-10 sebesar 9.47. pada system II (1 ekor ikan), diperoleh pH yang relative naik dari hari ke-1 sampai hari ke-10 dari keseluruhan data yang diperoleh, pH air pada system II mengalami kenaikan dari hari ke hari.

Nilai pH bergantung pada jumlah hydrogen terlarut pada air dalam akuarium tersebut, semakin banyak jumlah hydrogen terlarut, maka nilai pH pun akan semakin turun dan air cenderung asam. Ada berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan nila pH, diantaranya adalah kadar atau jumlah CO2.Hal ini ditunjukkan pada persamaan reaksi berikut ini :

CO2 + H2O + H2CO3  HCO3 + 3H+ + CO3 2-CO2 + H2O  2H+ + CO3

2-Semakin banyak CO2 yang dihasilkan dari respirasi, makan reaksi akan bergerak ke kanan dan terjadi pelepasan ion H+ sehingga pH air turun (cenderung

asam). Sedangkan Penurunan/penggunaan CO2 maka pH air akan naik (cenderung basar).

Jika nilai pH rendah, maka kadar CO2 dalam air tersebut tinggi, hal ini juga berpengaruh pada kadar oksigen terlarut (DO). Jika kadar CO2 tinggi maka kadar DO dalam air tersebut rendah. Jadi jika pH rendah, maka kadar CO2 tinggi sedangkan kadar DO nya rendah, begitu pula sebaliknya , jadi pH pada sistem 2 menunjukkan bahwa semakin basa sehingga terjadi penurunan pengguanaan CO2. Pada sistem kedua di mana pada aquarium diisi hanya dengan 1 ekor ikan, jumlah gerakan operkulum mula-mula (hari ke 0) sebesar 172 pada hari ke-0 operkulum ikan cepat dan ikan sering naik permukaan; pada hari ke-1 sebesar 147 keadaan ikan operkulumcepat dan ikan sering naik ke permukaan; pada hari ke-2 sebesar 145 keadaan ikan , ikan tidak banyak bergerak berada di bagian tengah dan sering naik ke permukaan , operkulumcepat; pada hari ke-3 sebesar 134 keadaan ikan ikan berada di permukaan lebih sering; mulai dari hari ke-4 ikan mati. frekuensi operkulumsemakin menurun hal ini terjadi karena kadar d.o juga menurun sehingga berpengaruh terhadap gerakan operkulumdan tingkah laku ikan.Yaitu terlihat gerakan operkulumikan semakin cepat dan ikan sering naik ke permukaan. Ikan naik ke permukaan karena ikan mencoba mencari oksigen melalui udara karena dalam air oksigen kadar oksigen semakin menurun. jadi semakin turun kadar oksigen dalam air maka frekuensi jumlah gerakan

operkulumsemakin menurun.

Pada sistem kedua di mana pada aquarium diisi hanya dengan 1 ekor ikan, Tinggi air mula-mula (hari ke 0) sebesar 15 cm; pada hari ke-1 sebesar 14.70cm ; pada hari ke-2 sebesar 14.70cm; pada hari ke-3 sebesar 14.50 cm; pada hari ke-4 sebesar 14.30 cm; pada hari ke-5 sebesar 14.30 cm; pada hari ke-6 sebesar 14.10 cm; pada hari ke-7 sebesar 14.10 cm; pada hari ke-8 sebesar 13.90 cm; pada hari ke-9 sebesar 13.80 cm; pada hari ke-10 sebesar 13.80 cm. Pada tinggi air terlihat perubahan yang mencolok yaitu air mengalami penurunan

Penurunan tinggi air dari hari ke hari ini karena terjadi Penguapan pada aquarium dipengaruhi oleh suhu dan juga cahaya, semakin tinggi suhu akan semakin cepat penguapan yang terjadi. Begitu pula dengan cahaya, semakin besar

intensitas cahaya yang diterima akan menyebabkan penguapan yang terjadi juga semakin cepat.

c. Sistem 3 (Tanaman Hydrilla + 1 ekor ikan)

Data hasil pengamatan pada system 3 yang terdiri dari 1 tanaman

Hydrilla dan 1 ekor ikan menunjukkan pengukuran suhu hari ke-0 sebesar

22,66oC, hari ke-1 sebesar 22,76oC, hari ke-2 sebesar 21,87 oC hari ke-3 sebesar 22,20 oC, hari ke -4 sebesar 22,53oC, hari ke-5 sebesar 22,20 oC, hari ke-6 sebesar 22,37 oC, hari ke-7 sebesar 21,83 oC, hari ke-8 sebesar 22,30 oC, hari ke-9 sebesar 22,47 oC dan hari ke-10 sebesar 22,27 oC. berdasarkan data tersebut dapat terlihat bahwa terjadi fluktuasi nilai suhu air pada sistem 3. Suhu yang terukur dari hari ke hari tidak dapat terprediksi, karena selalu mengalami peningkatan dan penurunan. Hal ini dapat terjadi karena, cuaca yang tidak menentu pada saat praktikum berlangsung. Cuaca akan mempengaruhi besar suhu yang terdapat pada sistem ini. Saat hujan turun, suhunya akan menurun, sedangkan saat cuaca panas, maka suhunya akan cenderung naik. Suhu pada sistem 3 berkisar antara 21,80oC – 22, 80 oC. Namun kisaran suhu ini bukan suhu optimum dimana ikan bisa hidup dengan baik. Ikan akan baik pada suhu ruangan, yaitu sekitar 25oC. Karena pengaruh suhu juga, ikan pada sistem 3 cepat mati. Karena enzim yang bekerja pada metabolisme ikan tidak akan maksimum bekerja.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi kehidupan ikan pada sistem-3 adalah besarnya pH. Rata-rata pH hari ke-0 sebesar 7,77, hari ke-1 sebesar 8,33, hari ke-2 sebesar 8,66, hari ke-3 sebesar 8,76, hari ke-4 sebesar 9,21, hari ke-5 sebesar 9,43, hari ke-6 sebesar 9,63, hari ke-7 sebesar 9,44, hari ke-8 sebesar 9,57, hari ke-9 sebesar 9.74 dan hari ke-10 sebesar 9,68. Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa secara umum terjadi peningkatan pada pH air dalam akuarium di system 3. Hal ini disebabkan karena adanya CO2 yang dihasilkan pada proses respirasi ikan yang terdapat pada akuarium. Terdapat keterkaitan antara pH dan jumlah pergerakan operkulumikan. Setelah ditelaah, pH akan naik saat pergerakan operkulumikan cepat. Seperti yang telah disebutkan bahwa ketersediaan CO2 di dalam air dapat menyebabkan adanya reaksi antara

Dengan bertambahnya pergerakan operkulum ikan akan membuat CO2 meningkat dan pH akan mengalami penurunan. Sedangkan saat ikannya mati pH yang terukur akan menngalami kenaikan, karena CO2 dalam air berkurang (CO2 hanya dihasilkan dari Hydrilla saja). Kisaran nilai pH pada sistem 3 sebesar 7,77 -9,70 atau dapat dikatakan bahwa air pada sistem 3 bersifat basa.

Pada sistem 3, kadar DO hari ke-0 sebesar 1,30 mg/L, hari ke-1 sebesar 1,36 mg/L, hari ke-2 sebesar 1,30 mg/L, hari ke-3 sebesar 3,37 mg/L, hari ke-4 sebesar7,60 mg/L, hari ke-5 sebesar 5,33mg/L, hari ke-6 sebesar 5,80 mg/L, hari ke-7 sebesar 8,00 mg/L, hari ke-8 sebesar 8,43 mg/L, hari ke-9 sebesar 8,30 mg/L dan hari ke-10 sebesar 7,36 mg/L. Terjadi fluktuasi pada kadar DO air dalam akuarium di system 3. Berdasarkan data yang telah diperoleh dapat terlihat bahwa rata-rata nilai jumlah oksigen yang terlarut dalam sistem 3 menunjukkan kenaikan yang signifikan pada hari ke-3 sampai hari ke-4. Selanjutnya, pada hari ke-5 menunjukkan penurunan nilai DO. Selain itu, kenaikan kadar DO juga mengalami kenaikan yang signifikan pada hari ke-7. Sedangkan pada hari ke-8 dan hari ke-9 besarnya nilai DO terbilang konstan. Sementara itu nilai DO pada hari ke-0, 1, dan 2 menunjukkan nilai yang tidak akurat sehingga terjadi kenaikan secara signifikan pada hari ke-3, hal ini disebabkan karena adanya kesalahan alat. DO yang terukur dari hari ke hari tidak dapat terprediksi, karena selalu mengalami peningkatan dan penurunan yang tak menentu. Hal ini karena adanya organisme (Hydrilla dan ikan) dalam air yang mengambil oksigen terlarut untuk proses respirasinya. Jumlah oksigen yang terlarut dalam air bernilai kecil saat ikan masih hidup dan Hydrilla berfotosintesis secara minimal. Hal ini dapat terjadi saat cuaca memburuk. Intensitas matahari yang digunakan untuk fotosintesis sangat dipengaruhi oleh cuaca. Pada saat praktikum, kebanyakan intensitas cahaya yang kurang sehingga membuat Hydrilla tidak berfotosintesis secara maksimum dan akan membuat kadar DO dalam air sedikit. Hal ini juga yang akan membuat ikan mati.

Selanjutnya, saat perhitungan jumlah gerakan operkulum pada ikan setiap menit dalam system 3 didapatkan jumlah gerakan operkulum harike- 0 sebesar 108 kali/menit, hari ke-1 sebesar 213 kali/menit, dan hari ke-2 sebesar 206 kali/menit, sedangkan pada hari ke-3 ikan mati. Dapat terlihat bahwa terjadi

peningkatan pada jumlah gerakan operkulum ikan pada hari ke-1, namun kemudian mengalami penurunan di hari ke-1. Hal ini kemungkinan besar dapat disebabkan karena jumlah oksigen yang terlarut dalam air turun pada hari ke-2 (proses fotosintesis Hydrilla tidak sebanding dengan kebutuhan respirasi ikan) yang akan membuat ikan harus ke atas permukaan untuk mengambil oksigen. Gerakan operkulum ikanpun akan semakin cepat untuk bisa mendapatkan oksigen. Namun karena belum cukup, pada hari berikutnya ikannya mati. Selain karena kadar DO, pengaruh suhu juga dapat menyebabkan ikan mati. Setiap makhluk hidup memiliki suhu sendiri untuk hidup dengan baik, begitupula dengan ikan. Hal ini dibuktikan, saat suhu turun ikan akan mati atau pun ada kemungkinan lain yaitu ikan pada sistem 3 dalam keadaan stress saat dilakukan pengamatan.

Tinggi air pada sistem 3 cenderung menurun hal ini terlihat pada hari ke-0 tinggi air sebesar 15,ke-0ke-0 cm, hari ke-1 sebesar 14,9ke-0 cm, hari ke-2 sebesar 14,80cm, hari ke-3 sebesar 14,70 cm, hari ke-4 sebesar 14,50 cm, hari ke-5 sebesar 14,40 cm, hari ke-6 sebesar 14,30cm, hari ke-7 sebesar 14,30cm, hari ke-8 sebesar 13,90 cm, hari ke-9 sebesar 13,90cm dan hari ke-10 sebesar 13,80 cm. Hal ini disebabkan karena air tersebut akan terserap oleh organisme (Hydrilla maupun ikan saat masih hidup) yang terdapat didalam akuarium dalam proses respirasi mereka. Kemungkinan yang lain adalah adanya proses penguapan kare na selama pengamatan sistem dalam keadaan terbuka, sehingga dapat menyebabkan berkurangnya ketinggian air dalam akuarium.

Pada hari ke-0 ikan tenang dan pergerakan opekulum lambat, serta ikan selalu berada mendekati Hydrilla. Sedangkan pada hari ke-1 pergerakan operkulum lebih cepat dibandingkan hari sebelumnya, seperti halnya pada hari ke-0 posisi ikan selalu mendekati Hydrilla. Pada hari ke-2 ikan dominan berada di bagian tengah akuarium, serta ikan tidak banyak bergerak. Gerakan operkulum ikan juga tidak secepat hari ke-1. Ikan lebih banyak mendekati Hydrilla untuk dapat memperoleh makanan. Pada hari ke-3 ikan dalam sistem 3 mati, hal ini dikarenakan terjadi penurunan suhu pada hari sebelumnya. Sehingga ikan tidak dapat melakukan proses metabolisme secara maksimal. Pada dinding akuarium juga terdapat gelembung-gelembung yang merupakan oksigen hasil fotosintesis

dari Hydrilla. Hari ke-4 pengamatan menunjukkan hilangnya gelembung-gelembung pada dinding akuarium, karena proses fotositesis Hydrilla yang tidak sempurna akibat cuaca yang buruk. Begitu pula pada hari ke-5 sampai hari ke-8. Pada hari ke-9 dan hari ke-10 air di dalam akuarium terlihat lebih keru dari hari-hari sebelumnya serta terdapat jentik-jentik yang menunjukkan bahwa dalam akuarium tercemar (baik udara luar maupun dari sisa-sisa kotoran ikan yang sudah mati).

d. Sistem 4 (Tanaman Hydrilla + 3 ekor ikan)

Suhu pada system 4, dimana pada system 4 terdapat 1 tanaman Hydrilla dan 3 ekor ikan yaitu hari 0 sebesar 22,83oC, hari-1 sebesar 22,66oC, hari-2 sebesar 21,83 oC, hari ke-3 sebesar 22,13 oC, hari-4 sebesar 22,50 oC, hari-5 sebesar 21,90 o

C, hari-6 sebesar 21,40 oC, hari ke-7 sebesar 21,80 oC, hari ke-8 sebesar 22,27 oC, hari ke-9 sebesar 22,40 oC dan hari ke-10 sebesar 22,20 oC. Dapat terlihat pada data terjadi fluktuasi pada suhu air dalam akuarium di system 4. Suhu yang terukur dari hari ke hari tidak dapat terprediksi, karena selalu mengalami peningkatan dan penurunan. Hal ini kerena cuaca yang tidak menentu pada saat praktikum berlangsung. Cuaca akan mempengaruhi besar suhu yang terdapat pada sistem ini. Saat hujan turun, suhunya akan menurun, sedangkan saat hujan tidak turun, maka suhunya akan cenderung naik. Suhu pada sistem 4 berkisar antara 21,80 oC-22,83 oC. Namun kisaran suhu ini bukan suhu optimum dimana ikan bias hidup dengan baik. Ikan akan baik pada suhu ruangan, yaitu sekitar 25oC. Karena pengaruh suhu juga, ikan pada sistem 4 cepat mati. Karena enzim yang bekerja pada metabolisme ikan tidak akan maksimum bekerja. Namun adapula alasa lain seperti karena kurangnya oksigen dalam air yang menyebabkan ikan mati. Hal ini akan dibahas di paragraf mengenai Dissolved Oxygen.

Pada sistem-4 besar pH hari 0 sebesar 7.58, hari-1 sebesar 8.36, hari-2 sebesar 8.77, hari ke-3 sebesar 8.73, 4 sebesar 8.68, 5 sebesar 8.76, hari-6 sebesar 8.90, hari ke-7 sebesar 9.08, hari ke-8 sebesar 9.20, hari ke-9 sebesar 9.26 dan hari ke-10 sebesar 9.20. Dapat disimpulkan bahwa secara umum terjadi peningkatan pada pH air dalam akuarium di system 4. Hal ini disebabkan karena adanya CO2 yang dihasilkan oleh proses respirasi pada ketiga ikan yang terdapat pada akuarium. Terdapat keterkaitan antara pH dan jumlah pergerakan

operkulumikan. Setelah ditelaah, pH akan naik saat pergerakan operkulumikan

cepat. Seperti yang telah disebutkan bahwa ketersediaan CO2 di dalam air dapat menyebabkan adanya reaksi antara CO2 + H2O  H2CO3(asam). Dengan bertambahnya pergerakan operkulumikan akan membuat CO2 meningkat dan pH akan mengalami penurunan. Sedangkan saat ikannya mati pH yang terukur akan menngalami kenaikan, karena CO2 dalam air berkurang(hanya dari Hydrilla saja). pH pada sistem 4 berkisar antara 7.58-9.20(basa) .

Pada sistem 4, DO hari 0 sebesar 1.33, hari-1 sebesar 1.33, hari-2 sebesar 0.53, hari ke-3 sebesar 0.83, hari-4 sebesar 0.77, hari-5 sebesar 0.10, hari-6 sebesar 0.40, hari ke-7 sebesar 0.20, hari ke-8 sebesar 0.26, hari ke-9 sebesar 1.20 dan hari ke-10 sebesar 1.07. Terjadi fluktuasi pada DO air dalam akuarium di system 4. DO yang terukur dari hari ke hari tidak dapat terprediksi, karena selalu mengalami peningkatan dan penurunan yang tak menentu. Hal ini karena adanya organisme yang terdapat dalam air yang mengambil DO untuk proses respirasinya. DO dalam air akan mengalami penurunan saat 3 ekor ikan semua hidup dan namun Hydrilla berfotosintesis secara miniimal. Hal ini dapat terjadi saat cuaca yang tidak bersahabat. Intensitas matahari yang digunakan untuk fotosintesis sangat dipengaruhi oleh cuaca. Pada saat praktikum, kebanyakan intensitas cahaya yang kurang sehingga membuat Hydrilla tidak berfotosintesis secara maksimum dan akan membuat DO dalam air menurun. Karena terdapat 3 ekor ikan dalam akuarium, hal ini akan membuat kadar DO semakin sedikit dan bahkan aka nada kompetisi untuk mendapatkan DO. Hal ini juga yang akan membuat ikan mati.

Grafik diatas merupakan garafik Jumlah gerakan operkulumikan 1 pada system 4, dimana pada system 4 terdapat 1 tanaman Hydrilla dan 3 ekor ikan. Pada grafik terlihat jumlah gerakan operkulum hari 0 sebesar 158, hari-1 sebesar 227, hari-2 sebesar 220, hari ke-3 sebesar 209, dan hari-4 sampai hari ke-10 sebesar 0 (Ikan mati). Sedangkan pada ikan 2, jumlah pergerakan operkulum hari 0 sebesar 157, hari-1 sebesar 228, hari-2 sebesar 214, hari ke-3 sebesar 139, dan hari-4 sebesar 132, hari ke-5 sebesar 167, dan hari ke-6 sampai hari ke-10 sebesar 0 (Ikan mati). Serta pada ikan 3, jumlah pergerakan operkulumnya adalah hari 0 sebesar 157, hari-1 sebesar 233, hari-2 sebesar 219, hari ke-3 sebesar 199, dan

hari-4 sebesar 113, dan hari ke-5 sampai hari ke-10 sebesar 0 (Ikan mati). Dapat terlihat bahwa terjadi peningkatan pada jumlah gerakan operkulumikan pada hari pertama, namun kemudian mengalami penurunan di hari selanjutnya. Hal ini kemungkinan besar karena kadar DO yang turun pada air (disebabkan karena proses fotosintesis Hydrilla tidak sebanding dengan kebutuhan respirasi 3 ikan) yang akan membuat ikan harus ke atas permukaan untuk mengambil oksigen. Gerakan operkulumikanpun akan semakin cepat untuk berebut oksigen. Namun karena belum cukup, pada hari berikutnya ikannya mati. Selain karena kadar DO, pengaruh suhu juga dapat menyebabkan ikan mati. Setiap makhluk hidup memiliki suhu sendiri untuk hidup dengan baik, begitupula dengan ikan. Hal ini dibuktikan, saat suhu turun ikan akan mati. Jumlah gerakan operkulumikan 1 berkisar antara 158-227 kali permenit, jumlah gerakan operkulumikan 2 berkisar antara 132-228 kali permenit, sedangkan Jumlah gerakan operkulumikan 3 berkisar antara 113-233 kali permenit.

Tinggi air pada sistem 4 cenderung menurun hal ini terlihat pada hari 0 tinggi air sebesar 15.30cm, hari-1 sebesar 15.20cm, hari-2 sebesar 15.10cm, hari ke-3 sebesar 15.00cm, hari-4 sebesar 14.70cm, hari-5 sebesar 14.40cm, hari-6 sebesar 14.30cm, hari ke-7 sebesar 14.30cm, hari ke-8 sebesar 14.10cm, hari ke-9 sebesar 14.00cm dan hari ke-10 sebesar 13.90cm. Hal ini disebabkan karena air

Dokumen terkait