BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.6. Jumlah Klorofil Daun Kentang
Daun merupakan organ yang diperlukan dalam proses fotosintesis. Proses fotosintesis terjadi di kloroplas dan pigmen utamanya berupa klorofil-a dan klorofil-b. Hasil pengamatan pada minggu kedelapan diperoleh rata-rata jumlah klorofil pada perlakuan konsentrasi hara makro tidak berbeda nyata kecuali pada
A B
25
konsentrasi hara makro 3 x, sedangkan seluruh perlakuan pada konsentrasi CaP didapati tidak berbeda nyata (Tabel 6).
Tabel 6. Jumlah klorofil planlet kentang pada konsentrasi hara makro dan CaP yang berbeda
Ket: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada tingkat kepercayaan 95%.
Jumlah klorofil planlet kentang dipengaruhi oleh konsentrasi hara makro (Sig<0,05), sedangkan konsentrasi CaP dan interaksinya dengan hara makro tidak berpengaruh (Sig>0,05) terhadap jumlah klorofil planlet kentang (Lampiran 8).
Jumlah klorofil pada perlakuan konsentrasi hara makro 1 x menghasilkan klorofil sebanyak 17,97 klorofil/mm2 dengan daun berwarna hijau tua merupakan hasil terbaik dibandingkan dengan konsentrasi lainnya (Tabel 6), hal tersebut dikarenakan kandungan klorofil pada konsentrasi hara makro 1 x telah cukup memenuhi dalam pembentukan warna hijau pada daun. Klorofil terbentuk karena adanya unsur nitrogen (N) berupa NH4NO3 yang terkandung pada media. Unsur nitrogen merupakan unsur hara yang berperan dalam penyusunan klorofil sehingga daun yang dihasilkan berwarna hijau (Dewanto et al., 2013) dan daun yang berwarna hijau tua mengindikasikan adanya klorofil-a yang tinggi (Lizawati, 2012).
Gambar 9. Kandungan klorofil daun pada konsentrasi hara makro 1 x Daun kentang pada bagian tengah planlet memiliki kandungan klorofil terbesar jika dibandingkan dengan daun kentang pada bagian dekat pucuk planlet ataupun pangkal bawah planlet, sehingga terdapat perbedaan kadar klorofil dari ketiga bagian daun tersebut (Gambar 9). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Utami, Haliani, Muslimin & Suwastika (2013), pada daun tanaman bawang merah diperoleh data kandungan klorofil dibagian tengah dan ujung daun lebih besar dibandingkan pada pangkal daun. Hal ini dikarenakan rendahnya intensitas cahaya yang mengenai bagian pangkal sehingga menyebabkan pembentukkan klorofil tidak sempurna dan umumnya warna daun menjadi pucat.
Perlakuan beberapa konsentrasi CaP tidak berpengaruh terhadap jumlah klorofil planlet kentang. Tidak berpengaruhnya perlakuan CaP terhadap klorofil disebabkan oleh peran CaP dalam media tidak berhubungan dengan pembentukan klorofil yang dihasilkan. Pembentukan klorofil dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu genetik tanaman, intensitas cahaya, oksigen, air, temperatur dan unsur hara, sedangkan fungsi CaP hanya memperkecil terjadinya nekrosis pada ujung daun (Elfiani, 2013).
27 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1) Planlet vigor berupa batang yang kokoh dihasilkan pada perlakuan konsentrasi hara makro 1,5 x tanpa penambahan CaP dan pertumbuhan planlet kentang terbaik dihasilkan pada perlakuan konsentrasi hara makro 0,5 x.
2) Konsentrasi CaP tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan eksplan kentang secara in vitro.
3) Interaksi antara konsentrasi hara makro dan konsentrasi CaP hanya berpengaruh terhadap peubah jumlah nodus planlet kentang.
5.2. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan adapun saran yang dapat diberikan terhadap penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut:
1) Perlu dilakukan aklimatisasi untuk mengetahui ketahanan hidup planlet kentang pada kondisi heterogen.
2) Perlu dilakukan kajian lanjutan mengenai penggunaan CaP pada konsentrasi yang lebih tinggi.
28 DAFTAR PUSTAKA
Abdollahi, M. R., Najafi, S., Sarikhani, H., & Moosavi, S. S. (2016). Induction and development of anther-derived gametic embryos in cucumber (Cucumis sativus L.) by optimizing the macronutrient and agar concentrations in culture medium. Turkish Journal of Biology, 40(3), 571–579.
https://doi.org/10.3906/biy-1502-55
Achmad, S. R., & Putra, R. C. (2016). Respon tanaman karet di pembibitan terhadap pemberian pupuk majemuk magnesium plus. Jurnal Penelitian Karet, 34(1), 49–60. jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek
Akhadiarto, S. (2009). Pemanfaatan limbah kulit singkong, kulit pisang dan kulit kentang sebagai bahan pakan ternak melalui teknik fermentasi. Jurnal
Teknologi Lingkungan, 10(3), 257–263.
https://doi.org/10.29122/jtl.v10i3.1471
Arimarsetiowati, R. (2012). Kultur jaringan tanaman kopi. Warta Pusat Penelitian Kopi Dan Kakao Indonesia, 24(2), 13–17.
Asgar, A., Rahayu, S. T., Kusmana, M., & Sofiari, E. (2011). Uji kualitas umbi beberapa klon kentang untuk keripik. Jurnal Hortikultura, 21(1), 51–59.
https://doi.org/10.21082/jhort.v21n1.2011.p51-59
Badan Pusat Statistik. (2020). Statistik Hortikultura 2020 (R. Setiawati, Sulistina, R. Widyasturi, T. M. Herdina, & M. Ulum (eds.); 2020th ed.). Badan Pusat Statistik Republik Indonesia. https://doi.org/10.21608/sjam.2020.159151 Dewanto, F. G., Londok, J. J. M. R., Tuturoong, R. A. V., & Kaunang, W. B.
(2013). Pengaruh pemupukan anorganik dan organik terhadap produksi tanaman jagung sebagai sumber pakan. Zootec, 32(5), 1–8.
https://doi.org/10.35792/zot.32.5.2013.982
Djajanegara, I. (2010). Pemanfaatan limbah buah pisang dan air kelapa sebagai bahan media kultur jaringan anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) tipe 229.
Jurnal Teknologi Lingkungan, 11(3), 373–380.
Elfiani. (2013). Pengumbian in vitro kentang granola. Jurnal Dinamika Pertanian, 28(1), 33–38.
Ewase, A. E. S., Alzarqah, A. E. M., & Bogmaza, A. F. M. (2018). Effect of calcium pantothenate on potato plants growth and shoot tip necrosis, cv. spunta.
Journal of Humanities and Applied Science, 31, 1–12.
Furnawanthi, I., Devianti, S. J., Nauly, D., Mardiyanto, R., & Elya, M. (2017).
Respon pertumbuhan eksplan kentang (Solanum tuberosum L.) variestas AP-4 terhadap manitol sebagai media konservasi secara in vitro. Prosiding Seminar Nasional 2017 Fakultas Pertanian UMJ, May, 245–252.
George, E. F., Hall, M. A., & Klerk, G. J. De. (2008). The components of plant
29 pemberian coumarin terhadap produksi mikro tuber planlet kentang (Solanum tuberosum L.) varietas granola. Jurnal Agroekoteknologi, 2(4), 1552–1562.
https://doi.org/10.32734/jaet.v2i4.8459
Hidayat, Y. S., Efendi, D., & Sulassih. (2018). Karakterisasi morfologi beberapa genotipe kentang (Solanum tuberosum) yang dibudidayakan di Indonesia.
Comm. Horticulturae Journal, 2(1), 28–34.
https://doi.org/10.29244/chj.2.1.28-34
Karjadi, A. ., & Buchory, A. (2008). Pengaruh auksin dan sitokinin terhadap pertumbuhan dan perkembangan jaringan meristem kentang kultivar granola.
Jurnal Hortikultura, 18(4), 380–384.
https://doi.org/10.21082/jhort.v18n4.2008.p
Karyanti. (2017). Pengaruh beberapa jenis sitokinin pada multiplikasi tunas anggrek Vanda douglas secara in vitro. Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), 4(1), 36–43. http://ejurnal.bppt.go.id/index.php/JBBI
Karyanti, Juanda, & Tajuddin, T. (2014). Kemampuan tumbuh eksplan Jatropha curcas L. pada media in vitro yang mengandung hormon IBA dan BA. Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI), 1(1), 1–8.
https://doi.org/10.29122/jbbi.v1i1.545
Karyanti, & Royani, J. I. (2012). Pemanfaatan bahan teknis KNO3, CaCl2, MgSO4, KH2PO4 sebagai hara makro dan Benzil Adenin dalam perbanyakan jati (Tectona grandis L.) secara in vitro. Jurnal Sains Dan Teknologi Indonesia, 14(3), 203–208. https://doi.org/10.29122/jsti.v14i3.927
Khasanah, I., Prihastanti, E., Hastuti, E. D., & Subagio, A. (2016). Pengaruh kombinasi pupuk daun dan nano silika terhadap pertumbuhan anggrek (Dendrobium sp.) pada subkultur secara in vitro. Jurnal Akademika Biologi, 5(3), 15–22.
https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/biologi/article/view/19499/18491 Kurniawan, E., Ginting, Z., & Nurjannah, P. (2017). Pemanfaatan urine kambing
pada pembuatan pupuk organik cair terhadap kualitas unsur hara makro (npk).
Seminar Nasional Sains Dan Teknologi, 23, 1–10.
jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek
Kusandriani, Y. (2016). Uji daya hasil dan kualitas delapan genotip kentang untuk industri keripik kentang nasional berbahan baku lokal. Jurnal Hortikultura,
24(4), 283–288. https://doi.org/10.21082/jhort.v24n4.2014.p283-288
Kusmana, N., & Sofiari, E. (2007). Karakterisasi kentang varietas granola, atlantic, dan balsa dengan metode UPOV. Buletin Plasma Nutfah, 13(1), 27.
https://doi.org/10.21082/blpn.v13n1.2007.p27-33
Lestari, E. G. (2011). Peranan zat pengatur tumbuh dalam perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan. Jurnal AgroBiogen, 7(1), 63–68.
https://doi.org/10.21082/jbio.v7n1.2011.p63-68
Lizawati. (2012). Induksi kalus embriogenik dari eksplan tunas apikal tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) dengan penggunaan 2,4 D dan TDZ.
Bioplantae, 1(2), 75–87.
Marlina, N. (2004). Teknik modifikasi media murashige dan skoog (MS) untuk konservasi in vitro mawar. Bulletin Teknik Pertanian, 9(1), 4–6.
Muhibuddin, A. (2016). Inovasi teknologi pengembangan budidaya kentang di dataran medium : teori dan pengalaman empiris (Sobirin (ed.); 1st ed.). CV.
Sah Media.
Mulyono, D., Syah, M. J. A., Sayekti, A. L., & Hilman, Y. (2017). Kelas benih kentang (Solanum tuberosum L.) berdasarkan pertumbuhan, produksi, dan mutu produk. Jurnal Hortikultura, 27(2), 209–216.
https://doi.org/http://dx.doi.org/10.21082/jhort.v27n2.2017.p209-216
Nuraini, A., Rizky, W. H., & Susanti, D. (2014). Pemanfaatan pupuk daun sebagai media alternatif dan bahan organik pada kultur in vitro kentang (Solanum tuberosum L.) kultivar granola. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Teknologi Pertanian Polinela, 189–196.
Nurchayati, Y., Setiari, N., Dewi, N. K., & Meinaswati, F. S. (2019). Karakterisasi morfologi dan fisiologi dari tiga varietas kentang (Solanum tuberosum L.) di Kabupaten Magelang Jawa Tengah. NICHE Journal of Tropical Biology, 2(2), 38–45.
Pantjaningtyas, S. (2012). Keefektifan penambahan kalsium klorida untuk mengurangi nekrosis pada perbanyakan kakao (Theobroma cacao L.) secara in vitro. Pelita Perkebunan, 28(1), 23–31.
Pramanik, D., & Rachmawati, F. (2010). Pengaruh jenis media kultur in vitro dan jenis eksplan terhadap morfogenesis lili oriental. Jurnal Hortikultura, 20(2), 111–119. https://doi.org/10.21082/jhort.v20n2.2010.p
Purba, D. E. H., Suprihatin, I. E., & Laksmiwati, A. A. I. A. M. (2016). Pembuatan bioetanol dari kupasan kentang (Solanum tuberosum L.) dengan proses fermentasi. Jurnal Kimia, 10(1), 155–160.
Purwanto, Purwantono, A. S. D., & Mardin, S. (2007). Modifikasi media MS dan perlakuan penambahan air kelapa untuk menumbuhkan eksplan tanaman
31
kentang. Jurnal Penelitian Dan Informasi Pertanian, 11(1), 36–42.
Rizal, S. (2017). Pengaruh nutrisi yang diberikan terhadap pertumbuhan tanaman sawi pakcoy (Brasicca rapa L.) yang di tanam secara hidroponik. Sainmatika, 14(1), 38–44.
Rudiyanto, Hapsari, B. W., & Ermayanti, T. M. (2018). Pengaruh modifikasi KH2PO4, NH4NO3 dan sukrosa terhadap pertumbuhan tunas serta pembentukan umbi mikro taka (Tacca leontopetaloides) secara in vitro. Jurnal Biologi Indonesia, 14(1), 11–21. https://doi.org/10.47349/jbi/14012018/11
Sagala, D., Tubur, H. W., Jannah, U. F., & Sinath, C. (2012). Pengaruh BAP terhadap pembentukan dan pembesaran umbi mikro kentang kultivar granola.
Jurnal Agroqua, 10(1), 5–12.
http://journals.unihaz.ac.id/index.php/agrogua/article/view/37
Saptari, R. T., & Sumaryono. (2016). Modifikasi sistem kultur in vitro untuk meningkatkan vigor planlet stevia (Stevia rebaudiana Bert.). Menara Perkebunan, 84(2), 61–68. https://doi.org/10.22302/ppbbi.jur.mp.v84i2.211
Siallagan, C. Y., Nurhidayah, T., & Nurbaiti. (2017). Pengaruh kompos limbah sayur-sayuran terhadap pertumbuhan bibit kopi robusta (Coffea canephora Pierre). Jom Faperta, 4(1), 1–8.
Sulistiani, E., & Yani, S. . (2012). Produksi bibit tanaman dengan menggunakan teknik kultur jaringan. Seameo Biotrop.
Supriyadi, Diana, N. E., & Djumali. (2018). Pertumbuhan dan produksi tebu (Saccharum officinarum Poaceae) pada berbagai paket pemupukan di lahan kering berpasir. Berita Biologi, 17(2), 147–156.
https://doi.org/10.14203/beritabiologi.v17i2.2287
Suryanti, I. A. P., Ramona, Y., & Proborini, M. W. (2013). Isolation and identification of the causative agents of wilting and their antagonistics in potato plants cultivated in Bedugul, Bali. Jurnal Biologi, 16(2), 37–41.
Swamy, M. K., Sudipta, K. M., Balasubramanya, S., & Anuradha, M. (2010). Effect of different carbon sources on in vitro morphogenetic response of patchouli (Pogostemon cablin Benth). Journal of Phytology, 2(8), 11–17.
Trivedi, M. K., Branton, A., Trivedi, D., Nayak, G., Bairwn, K., & Jana, S. (2015).
Physical, thermal, and spectroscopic characterization of biofield energy treated murashige and skoog plant cell culture media. Cell Biology, 3(4), 50–
57. https://doi.org/10.11648/j.cb.20150304.11
Utami, F. T., Haliani, Muslimin, & Suwastika, I. N. (2013). Organogenesis tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) lokal napu secara in vitro pada medium ms dengan penambahan IAA dan BAP. Online Jurnal of Natural Science, 2(2), 19–26.
https://doi.org/https://doi.org/10.22487/25411969.2013.v2.i2.1643
Wenas, M., Manengkey, G. S. J., & Makal, H. V. G. (2016). Insidensi penyakit layu bakteri pada tanaman kentang (Solanum tuberosum L) di Kecamatan Modoinding. Cocos, 7(3).
Widiastoety, D. (2014). Pengaruh auksin dan sitokinin terhadap pertumbuhan planlet anggrek mokara. Jurnal Hortikultura, 24(3), 230–238.
https://doi.org/10.21082/jhort.v24n3.2014.p230-238
Widiastoety, Dyah, Santi, A., & Solvia, N. (2012). Pengaruh myoinositol dan arang aktif terhadap pertumbuhan planlet anggrek dendrobium dalam kultur in vitro.
Jurnal Hortikultura, 22(3), 205–209.
https://doi.org/10.21082/jhort.v22n3.2012.p205-209
Yuniarachma, A., Roviq, M., & Nihayati, E. (2019). Respon pertumbuhan dan kandungan flavonoid tanaman bangun-Bangun (Plectranthus amboinicus Lour.) pada berbagai kerapatan naungan dan dosis pupuk nitrogen. Jurnal Produksi Tanaman, 7(12), 2206–2214.
Zulkarnain. (2006). Teknik kultur jaringan tanaman edisi ketiga. In Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
33 LAMPIRAN
Lampiran 1. Komposisi larutan stok pada media Murashige and Skoog
Larutan Senyawa Komposisi
Lampiran 2. Posisi perlakuan penanaman eksplan kentang
35 K3 : Konsentrasi Hara Makro 3 x
Lampiran 3. Rekapitulasi Hasil Uji Two Way Anova Diameter Batang Kentang pada Umur 8 Minggu Setelah Tanam
Sumber DB JK KT F
Hitung F Tabel Sig
Model 17 0,241 0,014 9,673 0,000
Konsentrasi Hara
Makro 5 0,228 0,046 31,147 2,35 0,000*
Konsentrasi CaP 2 0,001 0,000 0,221 3,12 0,802 Konsentrasi Hara
Makro*Konsentrasi CaP
10 0,012 0,001 0,826 1,97 0,605
Galat 72 0,106 0,001
Total 89
Keterangan: Angka yang diikuti oleh tanda (*) merupakan Sig <0.05
37
Lampiran 4. Rekapitulasi Hasil Uji Two Way Anova Tinggi Planlet Kentang pada Umur 8 Minggu Setelah Tanam
Sumber DB JK KT F
Hitung F Tabel Sig
Model 17 604,66 35,568 19,462 0.000
Konsentrasi Hara
Makro 5 561,408 112,282 61,324 2,48 0.000*
Konsentrasi CaP 2 5,559 2,779 1,518 3,26 0.233 Konsentrasi Hara
Makro*Konsentrasi CaP
10 35,686 3,769 2,058 2,10 0.055
Galat 36 65,91 1,831
Total 53 670,57
Keterangan: Angka yang diikuti oleh tanda (*) merupakan Sig <0.05
Lampiran 5. Rekapitulasi Hasil Uji Two Way Anova Jumlah Nodus Kentang pada Umur 8 Minggu Setelah Tanam
Sumber DB JK KT F
Hitung F Tabel Sig
Model 17 1141,67 67,157 12,463 0,000
Konsentrasi Hara
Makro 5 917,40 183,478 34,051 2,48 0,000*
Konsentrasi CaP 2 23,95 11,970 2,222 3,26 0,123 Konsentrasi Hara
Makro*Konsentrasi CaP
10 200,33 20,033 3,718 2,10 0,002*
Galat 36 193,99 5,388
Total 53 1335,64
Keterangan: Angka yang diikuti oleh tanda (*) merupakan Sig <0.05
39
Lampiran 6. Rekapitulasi Hasil Uji Two Way Anova Kerapatan Nodus Kentang pada Umur 8 Minggu Setelah Tanam
Sumber DB JK KT F
Hitung F Tabel Sig
Model 17 4,855 0,286 9,246 0,000
Konsentrasi Hara
Makro 5 4,251 0,850 27,252 2,35 0,000*
Konsentrasi CaP 2 0,135 0,067 2,183 3,12 0,120 Konsentrasi Hara
Makro*Konsentrasi CaP
10 0,469 0,047 1,519 1,97 0,150
Galat 72 2,224 0,31
Total 89
Keterangan: Angka yang diikuti oleh tanda (*) merupakan Sig <0.05
Lampiran 7. Rekapitulasi Hasil Uji Two Way Anova Jumlah Akar Kentang pada Umur 8 Minggu Setelah Tanam
Sumber DB JK KT F
Hitung F Tabel Sig
Model 17 156,533 9,209 56,70 0,000
Konsentrasi Hara
Makro 5 151,965 30,393 187,132 2,48 0,000*
Konsentrasi CaP 2 0,238 0,119 0,731 3,26 0,488 Konsentrasi Hara
Makro*Konsentrasi CaP
10 4,350 0,435 2,678 2,10 0,015
Galat 36 5,847 0,162
Total 53 162,40
Keterangan: Angka yang diikuti oleh tanda (*) merupakan Sig <0.05
41
Lampiran 8. Rekapitulasi Hasil Uji Two Way Anova Jumlah Klorofil Daun Kentang pada Umur 8 Minggu Setelah Tanam
Sumber DB JK KT F
Hitung F
Tabel Sig
Model 17 3037,202 178.659 2,550 0,000
Konsentrasi Hara
Makro 5 2752,486 550,497 17,101 2,35 0,000*
Konsentrasi CaP 2 23,829 11,915 0,370 3,12 0,692 Konsentrasi Hara
Makro*Konsentrasi CaP
10 260,887 26,089 0,810 1,97 0,619
Galat 72 2317,781 32,191
Total 89
Keterangan: Angka yang diikuti oleh tanda (*) merupakan Sig <0.05
Lampiran 9. Diameter batang planlet kentang pada 8 MST
Keterangan: Diameter batang planlet kentang konsentrasi hara makro 0,5 x (A); 0 ppm CaP (B); 0,5 ppm CaP (C); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 1 x (D); 0 ppm CaP (E); 0,5 ppm CaP (F); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 1,5 x (G); 0 ppm CaP (H); 0,5 ppm CaP (I); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 2 x (J); 0 ppm CaP (K); 0,5 ppm CaP (L); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 2,5 x
(M); 0 ppm CaP (N); 0,5 ppm CaP (O); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 3 x (P); 0 ppm CaP (Q); 0,5 ppm CaP (R); 5 ppm CaP
A B C D E F
G H I J K L
M N O P Q R
0,08 cm 0,08 cm 0,06 cm 0,12 cm 0,1 cm 0,1 cm
0,21 cm 0,2 cm 0,19 cm 0,16 cm 0,15 cm 0,18cm
0,15 cm 0,14 cm 0,14 cm 0,05 cm 0,05 cm 0,04cm
43
Lampiran 10. Tinggi planlet kentang pada 8 MST
Keterangan: Tinggi planlet kentang konsentrasi hara makro 0,5 x (A); 0 ppm CaP (B); 0,5 ppm CaP (C); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 1 x (D); 0 ppm CaP (E); 0,5 ppm CaP (F); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 1,5 x (G); 0 ppm CaP (H); 0,5 ppm CaP (I); 5 ppm CaP,
konsentrasi hara makro 2 x (J); 0 ppm CaP (K); 0,5 ppm CaP (L); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 2,5 x (M); 0 ppm CaP (N); 0,5 ppm CaP (O); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 3 x (P); 0 ppm CaP (Q); 0,5 ppm CaP (R); 5 ppm CaP
A B C D E F
G H I J K L
M N O P Q R
Lampiran 11. Jumlah nodus planlet kentang pada 8 MST
Keterangan: Jumlah nodus planlet kentang konsentrasi hara makro 0,5 x (A); 0 ppm CaP (B); 0,5 ppm CaP (C); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 1 x (D); 0 ppm CaP (E); 0,5 ppm CaP (F); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 1,5 x (G); 0 ppm CaP (H); 0,5 ppm CaP (I); 5 ppm CaP,
konsentrasi hara makro 2 x (J); 0 ppm CaP (K); 0,5 ppm CaP (L); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 2,5 x (M); 0 ppm CaP (N); 0,5 ppm CaP (O); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 3 x (P); 0 ppm CaP (Q); 0,5 ppm CaP (R); 5 ppm CaP
A B C D E F
G H I J K L
M N O P Q R
45
Lampiran 12. Kerapatan nodus planlet kentang pada 8 MST
Keterangan: Kerapatan nodus planlet kentang konsentrasi hara makro 0,5 x (A); 0 ppm CaP (B); 0,5 ppm CaP (C); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 1 x (D); 0 ppm CaP (E); 0,5 ppm CaP (F); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 1,5 x (G); 0 ppm CaP (H); 0,5 ppm CaP (I); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 2 x (J); 0 ppm CaP (K); 0,5 ppm CaP (L); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 2,5 x
(M); 0 ppm CaP (N); 0,5 ppm CaP (O); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 3 x (P); 0 ppm CaP (Q); 0,5 ppm CaP (R); 5 ppm CaP
A B C D E F
G H I J K L
M N O P Q R
0,9 cm 1 cm 0,8 cm
0,8 cm 0,7 cm 0,7 cm
0,6 cm 0,6 cm 0,6 cm 0,5 cm 0,4 cm
0,3 cm
0,4 cm
0,3 cm 0,2 cm
0,2 cm 0,2 cm
0,2 cm
Lampiran 13. Jumlah akar planlet kentang pada 8 MST
Keterangan: Jumlah akar planlet kentang konsentrasi hara makro 0,5 x (A); 0 ppm CaP (B); 0,5 ppm CaP (C); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 1 x (D); 0 ppm CaP (E); 0,5 ppm CaP (F); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 1,5 x (G); 0 ppm CaP (H); 0,5 ppm CaP (I); 5 ppm CaP,
konsentrasi hara makro 2 x (J); 0 ppm CaP (K); 0,5 ppm CaP (L); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 2,5 x (M); 0 ppm CaP (N); 0,5 ppm CaP (O); 5 ppm CaP, konsentrasi hara makro 3 x (P); 0 ppm CaP (Q); 0,5 ppm CaP (R); 5 ppm CaP
A B C D E F
G H I J K L
M N O P Q R