AKUNTABILITAS KINERJA
4. Jumlah Paket Teknologi Hasil Litbang Enisora
BATAN sebagai lembaga litbang menghasilkan produk hasil litbang berupa proses maupun barang (prototip) sebagai kelengkapan hasil litbang yang siap di scale up untuk diproduksi yang dilengkapi dengan dokumen teknis terhadap produk tersebut yang disebut dengan paket teknologi. Dalam Renstra BATAN 2010‐2014, target yang direncanakan pada tahun 2010 sebanyak 7 paket teknologi tercapai 100% dengan rincian sebagai berikut.
4.1. Paket Teknologi Pengembangan Teknologi Produksi Radioisotop
Pada tahun 2010 BATAN menghasilkan 1 paket teknologi produksi radioisotop 125I seed brakiterapi skala laboratorium. 125I seed adalah mikro kapsul yang diisi dengan bahan radioaktif 125I seed yang dilapiskan pada batang perak lalu ditutup dengan cara pengelasan laser. radioisotop 125I seed telah lolos uji kebocoran dengan metode gelembung sesuai ISO 978:1992 dan uji kontaminasi dengan metode usap basah sesuai ISO 9978:1992. Seed ini termasuk dalam klasifikasi produk brakiterapi C‐53211 yang mempunyai isodosis simetris. Produk sumber radioisotop tertutup 125I seed dimanfaatkan untuk terapi kanker prostat dan kanker payudara dengan metode brakiterapi laju dosis rendah.
Pada tahun 2010 telah berhasil dibuat 30 125I seed dengan kisaran aktivitas 0,97‐5,8 mCi/seed dan sudah diperkenalkan ke beberapa rumah sakit antara lain RS. Hasan Sadikin‐Bandung, RS. YARSIS‐Surakarta, dan RS. Soetomo‐Surabaya, dan juga diperkenalkan kepada masyarakat melalui Talk Show di TVRI.
BATAN beserta pihak ketiga sedang menyiapkan pengajuan sertifikasi termasuk uji klinis 125I seed sebagai alat kesehatan ke Kementerian Kesehatan. Diharapkan teknologi produksi 125I seed dapat segera diimplementasikan oleh mitra industri untuk diproduksi secara masal dan didistribusikan di Indonesia, sehingga kebergantungan pada 125I seed impor bisa dikurangi. Pada periode 2010‐2014 BATAN menargetkan 4 paket teknologi radioisotop, yaitu : 125I Seed Brachyterapy tesertifikasi, larutan injeksi Brachyterapy 125I‐PNIPA, Nucleotida bertanda (Y32P)‐ATP tersertifikasi, dan Nanodevice Brachyterapy 198Au0‐PAMAM
Selain 125I seed untuk brakiterapi, BATAN pada tahun 2009 telah menghasilkan 2 radioisotop untuk teknologi perunut.
4.2. Paket Teknologi Pengembangan Teknologi Produksi Radiofarmaka
Pada tahun 2010 BATAN menghasilkan 1 paket teknologi radiofarmaka 177Lu‐DOTA‐trastuzumab skala laborarium sebagai targetted radiotheraphy untuk kanker payudara. Paket teknologi ini meliputi uji praklinis pada tikus dan protokol kendali kualitasnya setelah menyelesaikan tahap sintesis dan preparasi senyawa targeted terapi yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya. Persiapan uji klinis 177Lu‐DOTA‐trastuzumab pada penderita kanker payudara untuk mendapatkan
Brakiterapi 125
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah – BATAN 2010 34 ijin komite medik telah dilakukan melalui kerja sama dengan Rumah Sakit Hasan Sadikin. 177Lu sebagai salah satu lantanida radioaktif memancarkan partikel beta dengan waktu paruh 6,71 hari yang dianggap ideal untuk tujuan terapi. Sementara itu monoklonal antibodi Trastuzumab mempunyai kemampuan untuk masuk ke dalam suatu target yang spesifik. Dengan adanya pengembangan teknologi produksi radiofarmaka untuk menggabungkan kedua kemampuan tersebut melalui suatu bifunctional chelator maka diharapkan terbentuk radiofarmaka 177Lu‐ DOTA‐Trastuzumab sebagai radiofarmaka yang potensial untuk terapi kanker payudara. Hasil Pencitraan Tikus pada 3 Jam Paska Injeksi 177Lu‐DOTA‐Trastuzumab Hasil Pencitraan Tikus pada 144 Jam Paska Injeksi 177Lu‐DOTA‐Trastuzumab
Pada Renstra 2010‐2014, BATAN menargetkan 5 paket teknologi radiofarmaka untuk diagnosa dan terapi kanker yaitu radiofarmaka PET 18FLT, radiofarmaka SPECT Tc‐HYNIC‐Folat, MRI Contrast Agent Gd‐DTPA‐Folat, radiofarmaka 177Lu‐DOTA Trastuzumab dan Nimotuzumab, serta generator radionuklida terapi 90Sr/90Y.
Sebelumnya, BATAN pada tahun 2009 telah menghasilkan 1 paket teknologi proses produksi radiofarmaka untuk aplikasi medik berupa generator Tc‐99‐m berbasis PZC (polimer‐zircon‐ compound) sebagai carrier isotop ke target dalam diagnosis penyakit.
4.3. Paket Teknologi Pengembangan Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi di Bidang Pangan Pada tahun 2010 BATAN telah menghasilkan 1 paket teknologi pengembangan aplikasi teknologi isotop dan radiasi di bidang pangan berupa formula pakan ternak dan vaksin ternak ruminansia Fasciolosis. Formula pakan ternak yang dihasilkan berupa formula pakan komplit untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi potong. Formula suplemen pakan multinutrien ini telah diujicobakan di berbagai provinsi dan mendapatkan respon yang baik dari para peternak. Bahan vaksin ternak ruminansia Fasciolosis yang dihasilkan digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh hewan ternak terhadap penyakit cacing hati. Pada Renstra 2010‐2014, BATAN menargetkan 3 kandidat bahan vaksin ruminansia yaitu vaksin fasciolosis, mastitis, dan brucellosis.
Vaksin lain yang telah dihasilkan BATAN sampai dengan tahun 2009 adalah Vaksin Koksivet Polivalen Supra 95 yang merupakan hasil kerjasama antara BATAN dengan PUSVETMA Surabaya dan FKH IPB Bogor.
4.4. Paket Teknologi Pengembangan Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi di Bidang Kesehatan Pada tahun 2010 BATAN menghasilkan 1 paket teknologi pengembangan aplikasi teknologi isotop dan radiasi di bidang kesehatan berupa teknik radiasi pembuatan bank jaringan Bone Ocular Spherical Implant Radiation (BOSIR) dan Amnion steril radiasi. BOSIR yang dihasilkan oleh BATAN merupakan salah satu implan okular alternatif yang berpotensi besar dalam menangani kasus kehilangan bola mata pada pasien. BOSIR dapat mengurangi ketergantungan bahan implan orbita dari impor, serta dapat menangani pasien lebih banyak karena harga yang terjangkau. Hasil Uji klinis tingkat keberhasilan 70%.
Bone Ocular Spherical Implant Radiation (BOSIR)
Jaringan amnion steril radiasi telah diaplikasikan terhadap 4 pasien osteosarkoma (kanker tulang) sebagai penutup jaringan yang rusak akibat radioterapi di RS Hasan Sadikin Bandung. Setelah 4 minggu luka pasien sembuh dan siap untuk transplantasi kulit. Sejumlah amnion juga telah disumbangkan pada korban bencana alam seperti Tsunami di Nangro Aceh Darussalam (NAD) dan gempa bumi di Daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pada Renstra 2010‐2014, BATAN menargetkan 1 paket teknologi bank jaringan berupa pembuatan tulang sintetis. Sampai dengan tahun 2009 BATAN telah menghasilkan 1 dokumen teknis jaringan amnion steril, BOSIR yang merupakan tahapan dalam pembuatan paket teknologi bank jaringan. 4.5. Paket Teknologi Pengembangan Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi di Bidang Industri Pada tahun 2010 BATAN menghasilkan 1 paket teknologi pengembangan aplikasi teknologi isotop dan radiasi di bidang industri berupa Chitosan dan teknologi pangan radiasi siap saji.
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah – BATAN 2010 36 Chitosan yang dikembangkan di BATAN adalah Oligo‐chitosan yang berasal dari chitosan yang diiradiasi sinar gamma untuk proses degradasi menjadi Oligo‐chitosan. Sebagai bahan baku chitosan digunakan limbah khitin dengan proses isolasi (deproteinasi dan demineralisasi). Kandungan zat aktif dalam Oligo‐chitosan adalah: Giberin (GA3, GA5 dan GA7), auxin, indolacetic acid dan sitokinin (kinetin dan zentin). Oligo‐chitosan digunakan sebagai bahan penginduksi pertumbuhan terutama tanaman hortikultura. Keunggulan chitosan antara lain mempercepat pertumbuhan, tahan terhadap bakteri dan jamur tertentu, meningkatkan hasil produksi, dan mempercepat pembibitan.
Teknologi pangan siap saji yang dihasilkan BATAN pada tahun 2010 adalah teknologi radiasi siap saji pada rendang dan pepes ikan yang telah diproses dan diajukan untuk mendapatkan Standar Nasional Indonesia.
Saat ini BATAN bekerja sama dengan Badan Karantina‐Kementerian Pertanian dan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) pada kegiatan iradiasi buah mangga dan manggis agar buah tahan lama, tidak cepat busuk, sehingga dapat diharapkan secara ekonomi akan meningkatkan kualitas pasar.
Selain itu BATAN bekerjasama dengan industri kecil dan menengah (PT. Yun Yi , Bandeng Juana, dan Marimas) serta dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam penelitian makanan steril untuk penderita HIV.
Penelitian “Teknologi Komersialisasi Pangan Olahan Siap Saji Iradiasi : Potensi, Peluang dan Tantangan” memperoleh penghargaan atas karya inovasi dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia dalam 102 inovasi yang paling prospektif tahun 2010.
Sampai dengan tahun 2009 BATAN telah memperoleh ijin dari Menkes mengenai jenis komoditas bahan pangan untuk diproses dengan iradiasi yaitu Permenkes No. 701/Menkes/Per/VIII/2009,
Chitosan dari khitin radiasi (kiri) dan non radiasi (kanan) Pangan radiasi siap saji ”pepes’ (kiri) dan ”rendang” kanan
untuk pengawetan bahan pangan : buah dan sayuran segar; produk olahan sayur dan buah; Ikan, pangan laut, daging, dan produk olahannya ; Serta makanan siap saji. 4.6. Paket Teknologi Pengembangan Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi di bidang SDAL. Pada tahun 2010 BATAN menghasilkan 1 paket teknologi pengembangan aplikasi teknologi isotop dan radiasi di bidang sumber daya alam dan lingkungan (SDAL) berupa : • data isotop alam dan gas untuk menentukan asal usul fluida dan suhu reservoir lapangan panasbumi Ulubelu Lampung dan Tangkuban Perahu,
• data isotop alam Pb‐210 exess yang terdapat di dalam tanah yang dimanfaatkan untuk pemetaan erosi daerah tangkapan air (cathment), dan
• database C‐13pada kayujati di beberapa daerah di Pulau Jawa.
Kegiatan ini akan terus dilaksanakan sampai dengan 2014 yang difokuskan di provinsi Bangka Belitung. Penelitian dalam bidang SDAL “Teknologi Radiotracer untuk Panas Bumi dan EOR” memperoleh penghargaan atas karya inovasi dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia dalam 102 inovasi yang paling prospektif tahun 2010.
4.7. Paket Teknologi Radioekologi Kelautan di Semenanjung Muria
Berkaitan dengan rencana pembangunan PLTN di Indonesia yang berlokasi di Jepara, pada tahun 2010 BATAN menghasilkan 1 paket teknologi radioekologi kelautan di Semenanjung Muria yang terdiri dari :
• Pemantauan radioekologi kelautan di Semenajung Muria Jepara. Hasil yang diperoleh berupa baseline data radioekologi kelautan khususnya radionuklida alam yang ada dalam kompartemen laut seperti dalam sedimen dan air laut, sejalan dengan rencana pembangunan PLTN pertama di Indonesia.
• Rancangan laboratorium radioekologi kelautan di Semenanjung Muria untuk mendapatkan diskripsi dan karakterisasi laboratorium radioekologi kelautan.
• Pemodelan penyebaran radionuklida dalam kompartemen laut. Hasil pemodelan menunjukkan simulasi pola sebaran panas dan radionuklida di Semenanjung Muria Jepara sebagai calon tapak PLTN di Indonesia. Dengan telah diketahuinya model simulasi ini maka dapat digunakan untuk perhitungan safety assessment (perkiraan penerimaan dosis) oleh penduduk di wilayah semenanjung Muria.
• Pengembangan metode analisis radionuklida dalam kompartemen laut untuk mengetahui aktivitas plutonium di dalam sedimen sebagai database radionuklida pemancar alfa di laut
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah – BATAN 2010 38 sekitar calon tapak PLTN. Hasil yang diperoleh tahun 2010 dinyatakan bahwa tidak di deteksi adanya aktivitas plutonium di dalam sedimen.
Dalam rangka menambah lokasi alternatif calon tapak PLTN, kegiatan ini akan dilakukan pula di Provinsi Bangka ‐ Belitung pada tahun 2011‐2014. Target sesuai Renstra sampai dengan tahun 2014 akan menghasilkan konsep desain laboratorium teknologi kelautan.