• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyelenggaraan pelayanan laboratorium secara periodik sampai dengan triwulan 3 menghasilkan 5.371 sampel atau mencapai 91,42% dari target yang ditetapkan sebanyak 5.875 sampel. Adapun rincian sampel di triwulan 3 yaitu : (i) sampel kesehatan ikan sebanyak 2.406 sampel; (ii) sampel kualitas lingkungan sebanyak 2.920 sampel dan (iii) sampel nutrisi sebanyak 45 sampel. Sampel yang masuk berasal dari internal BLUPPB, Dinas Perikanan Propinsi Jawa Barat, Dinas Perikanan, Kabupaten Bekasi, Pembudidaya dari Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, Kabupaten Pangandaran, serta pihak swasta dan mahasiswa.

Laboratorium BLUPPB melakukan kegiatan monitoring kesehatan ikan dan lingkungan sampai dengan triwulan 3 tahun 2017 yaitu :

1. Monitoring Kabupaten Bekasi

Pembudidaya udang di Kabupaten Bekasi menghadapi masalah kematian udang windu dan ikan nila pada masa pemeliharaan 40-65 hari. Menindaklanjuti hal tersebut maka BLUPPB melakukan monitoring untuk mengetahui permasalahan yang terjadi. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 3 Januari 2017 bertempat Kecamatan Muara Gembong, Desa Pantai Mekar dan Desa Pantai Bakti. Budidaya yang dilakukan adalah budidaya polikultur udang dan ikan dengan sistem tradisional tanpa pemberian pakan.

Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan maka pada budidaya udang kematian disebabkan kurangnya pengelolaan kualitas air menyebabkan timbulnya penyakit dan menyebar pada beberapa tambak. Sedangkan untuk budidaya ikan Nila ditemukan adanya serangan bakteri Streptococcus sp. Rekomendasi yang disarankan adalah :

a. Pemberdayaan kelompok dalam pengaturan pemasukan dan pembuangan air;

b. Penerapan biosecurity diantaranya dengan pembuatan petak tandon pada setiap unit pembudidaya untuk meminimalisasi penyebaran penyakit; dan

c. Peningkatan pengetahuan para pembudidaya dalam manajemen budidaya serta manajemen kesehatan ikan dan lingkungan.

Gambar 11. Pengambilan sampel bakteri dari ikan Nila 2. Monitoring Kabupaten Subang

Monitoring Kesehatan Ikan dan Lingkungan dilakukan di Kabupaten Subang pada tanggal 23-24 Maret 2017. Lokasi dipusatkan pada pembudidaya Nila didasarkan pada laporan Dinas Perikanan Kabupaten Subang adanya kematian dalam jumlah besar di budidaya nila.

Kegiatan monitoring ini dilakukan di 2 (dua) desa yang berbeda yaitu Kampung Cisusuh Desa Cijambe dan Kampung Tanjung Wangi.

Gambar 12. Petugas Monitoring Kesling BLUPPB beserta Dinas Perikanan Kabupaten Subang Kegiatan monitoring di Kabupaten Subang dilaksanakan di 2 (dua) kelompok yaitu Kelompok Perikanan Jaya Makmur dengan komoditas ikan nila merah dengan sistem intensif di kolam air deras dengan kepadatan tebar 50.000 ekor/kolam dengan luas kolam 2 x 8 x 2,5 m2, dan kelompok Maju Wangi dengan komoditas ikan mas di kolam air deras dengan sistem semi intensif dengan padat tebar 30.000 ekor/kolam dengan luas kolam 2 x 8 x 1,7 m2. Kematian ikan banyak terjadi pada minggu sebelumnya dan pada saat monitoring dilakukan sudah tidak ditemukan adanya kematian ikan.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan didapatkan :

a. Untuk paramater kimia dan fisika air pada umumnya masih dalam kisaran normal namun untuk konsentrasi Nitrit tergolong cukup tinggi karena diatas rata-rata, dikarenakan kepadatan ikan yg cukup tinggi dan tidak adanya manajemen kualitas air;

b. Berdasarkan keterangan dari petani bahwa gejala serangan penyakit diantaranya mata menonjol membesar, serta gerakan ikan yang tidak beraturan. Hal ini mengindikasikan adanya serangan bakteri Streptococcus sp. Tidak adanya screening benih ikan bebas penyakit sehingga ketika dilakukan penebaran terjadi kendala diantarannya ikan yang terserang virus atau bakteri;

c. Tidak adanya kolam penampungan air atau tandon, sehingga air yang masuk dari sumber air langsung masuk ke kolam budidaya dan tidak ada sistem filter air sehingga banyak terjadi masalah di kolam budidaya yang lokasinya paling ujung dan terjadi banyak kematian, selain itu ikan yang mati banyak dibiarkan di kolam budidaya, sehingga menyebabkan pembusukan di kolam budidaya dan dicurigai menjadi penyebab penularan penyakit ke ikan yang lainnya.

Gambar 13. Pengukuran dan Pengambilan Sampel Air di Lokasi Budidaya Beberapa rekomendasi yang diberikan kepada para petani adalah :

a. Perlu dilakukan monitoring kualitas air secara rutin agar dapat dilakukan tindakan pencegahan bila kualitas air menurun;

b. Lakukan filterisasi air masuk terutama pada saat musim hujan untuk meminimalisasi masuknya bahan organic dalam media pemeliharaan; dan

c. Lakukan vaksinasi untuk mencegah terjadinya serangan bakteri Streptococcus sp.

3. Kejadian Penyakit di Lingkup BLUPPB

Kejadian penyakit pada komoditas ikan masih didominasi oleh serangan parasit baik untuk ikan tawar maupun ikan laut. Pengendalian yang dilakukan di lapangan diantaranya dengan melakukan pengobatan secara perendaman (dipping), pergantian air dan pemberian vitamin C untu kmeningkatkan sistem imun ikan.

Tabel 14. Kejadian Penyakit di Internal Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang sampai dengan Triwulan 3 Tahun 2017

No Bulan Komoditas Jenis Penyakit Pengendalian Keterangan 1 Januari Kakap Putih Trichodina sp

Diplectanum sp

2 Februari Kerapu Trichodina sp

Hexamita sp

Kakap Putih Trichodina sp Caligus sp Cryptocarryon sp.

Perendaman air tawar rutin

Intensitas rendah

Bawal Bintang Trichodina sp Apiosoma sp

4 April Bawal Bintang Trichodina sp Pergantian air Kakap Putih Trichodina sp

Diplectanum sp

6 Juni Lele Adanya emboli gas Pergantian air Akibat fluktuasi

tekanan dalam air

7 Juli Lele Trichodina sp

Gyrodactylus sp Dactylogyrus sp

Vitamin

Kakap Putih Trichodina sp Diplectanum sp

9 September Sidat Trichodina Perendaman

4. Re-Akreditasi Laboratorium

Laboratorium BLUPPB telah menjalani proses re-akreditasi pada tanggal 14-15 September 2017 yang bertujuan untuk : (i) penerapan SNI ISO/IEC 170925:2008; dan (ii) re- assesment untuk penilaian kelayakan mempertahankan sertifikat akreditasi yang diterima bulan Juni 2012. Tim assesment terdiri dari Dr. Agus Susanto sebagai ketua tim dan Dr. Ekowati Chasanah sebagai asesor anggota.

Ringkasan hasil re-assesment yaitu Laboratorium BLUPPB telah berusaha mengimplementasikan SNI ISO/IEC 17025:2008 dengan baik tapi dalam assesment yang telah dilaksanakan masih ditemukan 15 ketidaksesuaian dengan kategori 2 sebanyak 13 dan ketidaksesuaian kategori 3 sebanyak 2. Adapun elemen ketidaksesuaian meliputi pengendalian dokumen, pembelian jasa dan perbekalan, pengaduan, pengendalian pekerjaan tidak sesuai, audit internal, personel, kondisi akomodasi dan lingkungan, metoda pengujian, peralatan dan ketertelusuran pengukuran. Namun secara umum Laboratorium BLUPPB masih dapat mempertahankan status akreditasi apabila dapat menyelesaikan seluruh tindakan perbaikan pada tanggal 16 Oktober 2017.

5. Pengujian Resistemnsi Anti Mikroba (AMR)

Laboratorium BLUPPB telah melakukan Uji resistensi mikroba (AMR) untuk bakteri yang telah diisolat dari lingkup BLUPPB. Bakteri yang telah digunakan hingga saat inia dalah bakteri vibrio alginolyticus dan Salmonella sp. Pengujian dilakukan pada kedua bakteri tersebut terhadap antibiotic Enrofloxacin dan Oxytetracyxlin (OTC).

Hasil pengujian memperlihatkan bahwa kedua bakteri masih sensitif terhadap kedua antibiotik tersebut. Bakteri vibrio alginolyticus dan Salmonella sp di lokasi BLUPPB sensitif pada disk enrofloxacin 5 µg dan disk OTC 30 µg. Pada media agar pengujian terlihat adanya zona hambat yang menunjukkan sensitivitas bakteri pada bahan anti bakteri yang digunakan.

Tetrasiklin maupun enrofloxacin termasuk dalam antibiotik dengan spectrum luas atau cukup efektif untuk banyak jenis bakteri baik kokus, basil maupun spiril.

Selain monitoring kesling, BLUPPB telah dan/atau akan melakukan rencana aksi yang akan dilakukan pada triwulan 4 meliputi : (i) monitoring kesehatan ikan dan lingkungan, khususnya monitoring TiLV dan AHPND; (ii) Pelayanan laboratorium uji untuk internal; (iii) Perbaikan hasil assesment untuk proses akreditasi; dan (iv) Pembayaran honorarium petugas SSMPI.

3.2.4 Pencapaian Sasaran Strategis 4 :

Terwujudnya ASN BLUPPB Karawang yang Kompeten, Profesional dan Berintegritas

Penyediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, professional dan berkepribadian sangat dibutuhkan untuk mendukung produktivitas dan aktivitas agar tujuan pembangunan perikanan budidaya dapat tercapai. SDM yang kompeten dan profesional merupakan salah satu kunci dalam pelaksanaan reformasi dan birokrasi dalam era globalisasi dengan tingkat persaingan yang tinggi. Oleh karenanya, salah satu sasaran strategis yang ditetapkan oleh BLUPPB adalah tersedianya SDM BLUPPB yang kompeten, profesional dan berintegritas. Pencapaian sasaran strategis sebagaimana yang tertera pada Tabel 3 dihitung di akhir tahun anggaran 2017 dan mengambil dari laporan kinerja DJPB.

Kegiatan yang akan dilakukan untuk mendukung IKU ini adalah : (i) penilaian kinerja pegawai yaitu melalui pengisian SKP dan E-log book pegawai, dan (ii) Penatausahaan pegawai seperti pengusulan formasi pejabat fungsional khusus ke Bagian Kepegawaian DJPB, pengusulan kebutuhan Diklat Kompetensi PNS ke Bagian Kepegawaian DJPB, sosialisasi peraturan bidang kepegawaian mengenai SKP, penilaian kinerja pegawai, dan penataan sumberdaya aparatur di lingkup BLUPPB.

3.2.5 Pencapaian Sasaran Strategis 5 :

Tersedianya Manajemen Pengetahuan BLUPPB Karawang yang Handal dan Mudah Diakses Informasi merupakan sesuatu yang dihasilkan dari pengolahan data sehingga menghasilkan informasi yang berguna. Informasi yang baik adalah informasi yang diberikan sesuai dengan kebutuhannya, baik kelengkapan materi, waktu pemberian, keakuratan data sehingga informasi akan bersifat valid dan handal. Selain itu, informasi juga harus mudah diakses melalui teknologi berbasis IT seperti website. Pencapaian sasaran strategis ini diukur melalui 1 (satu) IKU dengan hasil sebagaimana yang tertera pada Tabel 3. Pencapaian sasaran strategis ini dihitung di akhir tahun anggaran 2017 dan mengambil dari laporan kinerja DJPB.

Upaya yang dilakukan untuk mendukung capaian IKU ini adalah melakukan koordinasi terkait bagian hukum, kerja sama dan humas dalam rangka mendukung kegiatan prioritas dalam rangka konsultasi publik.

3.2.6 Pencapaian Sasaran Strategis 6 :

Terwujudnya Birokrasi BLUPPB Karawang yang Efektif, Efisien dan Berorientasi pada Layanan Prima

Sasaran Strategis “Terwujudnya Birokrasi DJPB yang Efektif, Efisien dan Berorientasi pada Layanan Prima” dihitung di akhir tahun anggaran 2017 dan mengambil dari laporan kinerja DJPB. Beberapa kegiatan yang dilakukan untuk mendukung SS 6 meliputi :

a. Nilai kinerja Reformasi Birokrasi DJPB, yaitu penyusunan Anjab dan ABK;

b. Tingkat maturitas SPIP, yaitu melakukan koordinasi dalam rangka mendukung kegiatan prioritas KKP. Adapun kegiatan prioritas KKP meliputi : (i) Percontohan teknologi biofloc ikan lele di masyarakat; dan (ii) bantuan benih dan/atau calon induk yang didistribusikan ke pembudidaya dan/atau restocking;

c. Persentase tindak lanjut direktif pimpinan, yaitu menindaklanjuti arahan pimpinan (Dirjen Perikanan Budidaya); dan

d. Nilai AKIP DJPB yaitu melaksanakan SAKIP di lingkungan internal BLUPPB.

3.2.7 Pencapaian Sasaran Strategis 7 :

Terkelolanya Anggaran Pembangunan BLUPPB Karawang secara Efisien dan Akuntabel Sasaran strategis ke-7 difokuskan untuk memastikan realisasi penyerapan anggaran sesuai dengan rencana/target yang ditetapkan. Adapun capaian yang telah dihasilkan oleh BLUPPB dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Capaian Sasaran Strategis 7. Terkelolanya Anggaran Pembangunan BLUPPB Karawang secara Efisien dan Akuntabel

No Indikator Kinerja Utama Target Tahun 2017 1. Nilai kinerja anggaran BLUPPB

Karawang (%)

85,00 - 34,27 #DIV/0!

2. Persentase kepatuhan terhadap SAP lingkup BLUPPB Karawang (%)

100,00 - 100,00 #DIV/0!

Dokumen terkait