• Tidak ada hasil yang ditemukan

STAKEHOLDER PERSPECTIVE

A. Jumlah Produksi Perikanan Budidaya (Juta Ton)

Perkembangan volume produksi perikanan budidaya sampai dengan Triwulan II menunjukan trend yang positif, di mana volume produksi sampai dengan Triwulan II mencapai 6.158.770 ton atau meningkat sebesar 111,28% dari volume produksi pada triwulan I sebesar 2.915.013 ton. Sedangkan jika dilihat dari kinerja capaian produksi terhadap target menunjukan bahwa capaian produksi perikanan budidaya pada Triwulan II mampu mencapai sebesar 96,66% dari target sampai dengan Triwulan II sebesar 6.371.435 ton atau 44,06% dari target tahun 2014 sebagaimana terinci pada tabel 6 berikut.

22 Tabel 6. Capaian IKU 3 “Jumlah Produksi Perikanan Budidaya (Juta Ton)” sampai dengan Triwulan II

Tahun 2014

IKU 2010 2011 2012 2013 2014*** Keterangan

Jumlah Produksi Perikanan Budidaya (Juta ton)

Non Kumulatif, dihitung triwulanan.

Capaian sampai dengan triwulan I adalah 2,92 dari target tahunan 13,97 (20,85%). dihitung berdasarkan angka perkiraan. Angka 2,92 juta ton berdasarkan angka/data yang masuk dari Provinsi

- Persentase Realisasi s/d TW I terhadap Target s/d TW I

84,47 101,91 - Persentase Realisasi s/d TW I

terhadap Target Tahunan

17,27 20,85

- Target s/d TW II * * * 5,93 6,37

- Realisasi s/d TW II ** ** ** 5,35 6,16 ***

- Persentase Realisasi s/d TW II terhadap Target s/d TW II

90,16 96,66 - Persentase Realisasi s/d TW II

terhadap Target Tahunan

41,08 44,06 Ket : * : Belum ditetapkan targetnya

** : Belum dilakukan pengukuran ***: Data sementara

Perbandingan target dan realisasi produksi perikanan budidaya Triwulan II tahun 2013 – 2014 berdasarkan jenis budidaya seperti pada tabel 7 - 9 berikut.

Tabel 7. Perbandingan Target dan Realisasi Produksi Perikanan Budidaya Triwulan II Tahun 2013 – 2014 Berdasarkan Jenis Budidaya (Ton)

Indikator Kinerja

Ket: * : Angka sementara sampai dengan Triwulan II tahun 2014. Validasi data dilakukan secara tahunan pada bulan April tahun berikutnya

23 Tabel 8. Perbandingan Target dan Realisasi Produksi Perikanan Budidaya sampai dengan Triwulan II

Tahun 2014 Berdasarkan Jenis Budidaya (Ton)

Indikator Kinerja

budidaya (Ton) 2.860.478 3.439.625 120,25 6.371.435 6.158.770 96,66 13.978.946 44,06 -

1.375.348 1.969.231 143,18 3.064.854 3.660.631 119,44 6.726.688 54,42 Ket: * : Angka sementara sampai dengan Triwulan II tahun 2014. Validasi data dilakukan secara tahunan pada bulan April tahun berikutnya

Tabel 1. Perbandingan Target dan Realisasi (Revisi) Produksi Perikanan Budidaya sampai dengan Triwulan II Tahun 2014 Berdasarkan Jenis Budidaya (Ton)

No Jenis Budidaya Target Ket: * : Angka sementara sampai dengan Triwulan II tahun 2014. Validasi data dilakukan secara tahunan pada bulan April tahun berikutnya

Realisasi pencapaian produksi perikanan budidaya berdasarkan jenis budidaya sampai dengan Triwulan II masing-masing yaitu untuk jenis budidaya air laut sebesar 119,44%, disusul oleh budidaya air payau sebesar 95,12% dan budidaya air tawar sebesar 58,54%.

Sedangkan jika dilihat dari share jenis budidaya terhadap capaian produksi perikanan budidaya masing-masing budidaya air laut memberikan share terbesar yaitu 59,44%, disusul budidaya air payau sebesar 23,75%, dan budidaya air tawar sebesar 16,81%.

Terkait dengan prediksi capaian target pada akhir tahun 2014, dengan melihat trend perkembangan sampai dengan Triwulan II dan didukung oleh upaya konkrit, maka capaian IKU ini diprediksi akan tercapai. Adapun capaian produksi perikanan budidaya per jenis komoditas sampai dengan Triwulan II tahun 2014 sebagaimana pada tabel 10 berikut.

24 Tabel 10. Target dan Capaian Volume Produksi Perikanan Budidaya sampai dengan Triwulan II Tahun

2014 Menurut Jenis Komoditas utama

PROVINSI

Tahun 2014 Capaian

Kumulatif s/d TW II terhadap

Total Target Tahun 2014 (%) Target Kumulatif

s/d TW II (Ton)

Realisasi Kumulatif s/d TW II (Ton)*

Capaian Kumulatif terhadap Target s/d TW II (%)

Target Tahunan

JUMLAH/TOTAL 6.371.435 6.158.770 96,66 13.978.946 44,06

Udang 343.983 236.153 68,65 750.000 31,49

Udang Windu 85.658 54.279 63,37 188.000 28,87

Udang Vaname 258.325 160.726 62,22 562.000 28,60

Rumput Laut 3.553.883 4.384.396 123,37 7.800.000 56,21

Nila 656.101 376.262 57,35 1.440.000 26,13

Patin 410.063 174.597 42,58 900.000 19,40

Lele 382.726 264.232 69,04 840.000 31,46

Mas 273.376 179.904 65,81 600.000 29,98

Gurame 68.344 49.165 71,94 150.000 32,78

Kakap 3.827 2.752 71,91 8.400 32,76

Kerapu 6.014 6.954 115,62 13.200 52,68

Bandeng 382.726 293.017 76,56 840.000 34,88

Lainnya 290.392 191.338 65,89 637.346 30,02

Ket : *) angka sementara

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa komoditas yang mengalami capaian di atas seratus persen antara lain yaitu komoditas kerapu yang mencapai sebesar 115,62% dan rumput laut sebesar 123,37%. Kinerja positif pada kedua komoditas tersebut dipicu oleh proses percepatan pengembangan kawasan budidaya di daerah-daerah potensial yang berjalan optimal. Dukungan melalui pengembangan demfarm budidaya laut (kerapu dan rumput laut) di kawasan minapolitan dan industrialisasi telah secara nyata berpengaruh terhadap perkembangan aktivitas budidaya laut. Disamping itu, mulai membaiknya harga rumput laut secara langsung mampu mendorong animo masyarakat untuk berbudidaya rumput laut.

Sedangkan beberapa komoditas utama yang belum mencapai target antara lain yaitu : bandeng (76,56%), disusul gurame (71,94%), kakap (71,91%), lele (69,04%), ikan mas (65,81%), udang (62,22%), nila (57,35%), dan patin (42,58%). Tidak tercapainya realisasi produksi pada Triwulan II untuk beberapa komoditas antara lain udang, nila, gurame, patin, dan bandeng, disebabkan oleh dampak banjir yang terjadi pada triwulan I, kondisi ini masih berpengaruh terutama pada terlambatnya proses produksi (musim tanam). Pada beberapa sentral produksi aktivitas sampai dengan Triwulan II masih terfokus pada persiapan proses produksi dan penebaran, sehingga data hasil produksi secara umum belum bisa tercatat pada Triwulan II. Khusus untuk produksi ikan kakap, fenomena tingginya investasi dan cash flow produksi yang lama serta ketersediaan benih yang masih belum optimal menyebabkan

25 kedua usaha tersebut belum berkembang di masyarakat dan hanya terfokus pada perusahaan/pengusaha yang bermodal besar. Selain itu, adanya kendala non teknis terkait data laporan yang dikirim dari Provinsi ke Pusat mengalami keterlambatan waktu, mempengaruhi data capaian volume produksi sampai dengan Triwulan II tahun 2014 belum terekap secara maksimal. Komoditas budidaya yang masuk dalam produksi budidaya air tawar adalah ikan nila, patin, lele, mas, dan gurame. Komoditas budidaya yang masuk dalam produksi budidaya air payau adalah udang, rumput laut, nila, dan bandeng. Sedangkan komoditas budidaya yang masuk dalam produksi air laut adalah rumput laut, kakap, kerapu, dan bandeng. Komoditas yang termasuk dalam ikan lainnya antara lain gabus, toman, jelawat, betutu, mujair, sepat siam dan sebagainya. Penjelasan pencapaian produksi berdasarkan jenis budidaya sebagaimana berikut :

1. Produksi Budidaya Air Tawar

Realisasi capaian produksi untuk budidaya air tawar sampai dengan Triwulan II sebesar 1.035.235 ton atau masih dibawah target yaitu baru mencapai 58,54% dari target Triwulan II sebesar 1.768.559 ton. Jika dibandingkan dengan target pada tahun 2014, maka capaian produksi budidaya air tawar baru mencapai 26,67% dari target sebesar 3.881.602 ton.

Produksi air tawar didominasi oleh nila dengan memberikan share sebesar 32,71% terhadap total produksi budidaya air tawar; disusul patin yang memberikan share sebesar 16,87%

terhadap total produksi budidaya air tawar, lele memberikan share sebesar 25,52%

terhadap total produksi budidaya air tawar, ikan mas yang memberikan share sebesar 17,38% terhadap total produksi budidaya air tawar; gurame memberikan share sebesar 4,75% terhadap total produksi budidaya air tawar dan komoditas lainnya memberikan share sebesar 2,77%.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan belum tercapainya realisasi produksi budidaya air tawar pada Triwulan II, yaitu : (i) dampak banjir yang terjadi pada triwulan I masih berpengaruh terutama pada terlambatnya proses produksi (musim tanam), dimana pada beberapa sentral produksi aktivitas sampai dengan Triwulan II masih terfokus pada persiapan proses produksi dan penebaran, sehingga data hasil produksi secara umum belum bisa tercatat pada Triwulan II; dan (ii) data produksi yang dilaporkan dari Provinsi mengalami keterlambatan pengiriman ke Pusat.

Dalam upaya untuk mendorong realisasi capaian produksi budidaya air tawar, Ditjen Perikanan Budidaya akan terus melakukan langkah strategis dan konkrit yaitu melalui : (i) dukungan penguatan usaha pasca banjir melalui Tugas Pembantuan; (ii) pengembangan demfarm budidaya air tawar melalui Tugas Pembantuan di kawasan minapolitan dan industrialisasi; (iii) pengembangan gerakan minapadi; (iv) peningkatan sistem pelaporan produksi; (v) pengembangan budidaya nila melalui intensifikasi dengan bioflok dan running water; dan (vi) ekstensifikasi melalui kegiatan PUMP-PB.

26 2. Produksi Budidaya Air Payau

Realisasi capaian produksi untuk budidaya air payau sampai dengan Triwulan II sebesar 1.462.903 ton atau masih dibawah target yaitu baru mencapai 95,12% dari target Triwulan II sebesar 1.538.022 ton. Jika dibandingkan dengan target pada tahun 2014, maka capaian produksi budidaya air payau baru mencapai 43,40% dari target sebesar 3.370.656 ton.

Produksi air payau didominasi oleh rumput laut Gracilaria memberikan share sebesar 59,98% terhadap total produksi budidaya air payau; disusul masing-masing bandeng memberikan share 18,17% terhadap total produksi budidaya air payau; udang memberikan share sebesar 14,60% terhadap total produksi budidaya air payau; nila memberikan share sebesar 3,90% terhadap total produksi budidaya air payau; kerapu memberikan share sebesar 0,05% terhadap total produksi budidaya air payau dan komoditas lainnya yang memberikan share sebesar 3,30%.

Belum tercapainya realisasi produksi budidaya air payau disebabkan oleh dampak banjir yang terjadi pada triwulan I khususnya pada budidaya udang dan bandeng. Kondisi ini masih berpengaruh terutama pada terlambatnya proses produksi (musim tanam). Pada beberapa sentral produksi aktivitas sampai dengan Triwulan II masih terfokus pada persiapan proses produksi dan penebaran. Disamping itu hasil pengamatan di lapangan pada beberapa lokasi terutama di Pantura Jawa (Cirebon dan Indramayu), secara umum para pembudidaya udang belum mulai melakukan penebaran karena kondisi kualitas air masih belum optimal (salinitas masih rendah). Kondisi ini menyebabkan data hasil produksi secara umum belum bisa tercatat pada Triwulan II.

Ditjen Perikanan Budidaya terus mendorong upaya implementasi kebijakan melalui dukungan yang secara langsung berpengaruh terhadap pengembangan kawasan dan peningkatan produksi budidaya air payau yaitu melalui : (i) dukungan penguatan usaha pasca banjir melalui dukungan penyediaan benih dan input produksi lainnya; (ii) pengembangan demfarm budidaya air payau melalui TP di kawasan minapolitan dan industrialisasi; (iii) pengembangan industrialisasi (udang, bandeng, patin dan rumput laut) yang telah dilakukan sejak tahun 2012; (iv) pengembangan sistem produksi yang berbasis pada teknologi anjuran dan ramah lingkungan; (v) membangun kerjasama dengan stakeholders terkait, baik Pemerintah Daerah, lintas sektoral dan swasta dalam upaya fasilitasi pengembangan dan penguatan kapasitas usaha budidaya air payau yang diarahkan terhadap dukungan sarana dan prasarana budidaya, akses permodalan, penyebaran informasi dan teknologi budidaya, dan akses pasar; dan (vi) menyiapkan regulasi bagi pengembangan budidaya air payau (khususnya komoditas udang).

3. Produksi Budidaya Air Laut

Realisasi capaian produksi budidaya laut menunjukkan kinerja yang positif, di mana capaian produksi untuk budidaya laut sampai dengan Triwulan II sebesar 3.660.631 ton atau mencapai 119,44% dari target Triwulan II sebesar 3.064.854 ton. Jika dibandingkan dengan

27 target pada tahun 2014, maka capaian produksi budidaya laut baru mencapai 54,42 % dari target sebesar 6.726.688 ton. Volume produksi tersebut didominasi oleh capaian produksi rumput laut yang memberikan share sebesar 95,82% terhadap total produksi budidaya laut, disusul masing-masing ikan bandeng yang memberikan share sebesar 0,8% terhadap produksi budidaya laut, kerapu memberikan share 0,17% terhadap total produksi budidaya laut; kakap memberikan share sebesar sebesar 0,07% terhadap total produksi budidaya laut dan komoditas lainnya yang memberikan share sebesar 3,14%.

Realisasi capaian produksi budidaya rumput laut dipicu oleh mulai membaiknya harga rumput laut di tingkat pembudidaya (rata-rata Rp. 10.000 per kg rumput laut kering), kondisi ini secara langsung mendorong animo masyarakat untuk berbudidaya rumput laut, sehingga berpengaruh nyata terhadap percepatan pengembangan kawasan dan aktivitas budidaya rumput laut di berbagai daerah. Disamping itu, upaya Pemerintah dalam mendorong pengembangan budidaya laut pada sentra-sentra produksi melalui demfarm budidaya laut telah secara nyata mampu mendorong realisasi capaian produksi budidaya laut pada komoditas fin fish (kerapu) dan rumput laut. Khusus untuk komoditas kakap belum mampu mencapai target disebabkan aktivitas usaha budidaya masih belum memasyarakat namun masih terfokus dilakukan oleh para pengusaha/pemilik modal. Di samping itu ketersediaan benih ikan kakap saat ini masih belum optimal dan tersentral pada panti benih milik Pemerintah yang kapasitasnya masih terbatas.

Kegiatan yang dilakukan selama Triwulan II untuk mendukung IKU tersebut adalah : (i) Supervisi, pembinaan, monitoring dan evaluasi percontohan BAT; (ii) Identifikasi pembinaan dan monev model pengembangan Ugadi; (iii) Supervisi, pembinaan, monitoring dan evaluasi percontohan budidaya air payau dan laut di kawasan potensial budidaya air payau dan laut;

(iv) Monev percontohan dan kawasan budidaya air payau dan laut; (v) Pembinaan, monitoring dan evaluasi budidaya ikan hias; (vi) Forum sertifikasi auditor CBIB; (vii) Sinkronisasi database SIMSTAT PB Tahun 2013; (viii) Apresiasi budidaya ikan hias; (ix) Pembinaan petugas pengumpul data statistik; dan (x) Supervisi data.

Rencana aksi yang akan dilakukan pada periode selanjutnya adalah : (i) Konsolidasi budidaya air payau/Laut; (ii) Validasi data statistik perikanan budidaya; (iii) Forum pakan nasional; (iv) Temu koordinasi pengelolaan budidaya arwana super red; (v) Forum ikan hias; (vi) Forum budidaya air tawar; (vii) Percontohan budidaya ikan hias; dan (viii) Percontohan Ugadi.

Dokumen terkait