• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA

IKU 10. Jumlah Pulau-pulau kecil yang Mandiri (pulau)

Pulau-pulau kecil yang mandiri adalah pulau-pulau kecil yang diupayakan untuk mampu memanfaatkan potensi kelautan dan perikanan yang ada melalui pengembangan sentra bisnis kelautan dan perikanan berbasis pulau-pulau kecil sehingga diharapkan dapat menciptakan peluang investasi, meningkatkan produksi perikanan tangkap, meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah khususnya di pulau-pulau kecil, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pulau-pulau kecil.

Sentra bisnis kelautan dan perikanan berbasis pulau-pulau kecil merupakan konsep pembangunan sentra kelautan dan perikanan berbasis pulau-pulau kecil dengan prinsip: integrasi, efisiensi, kualitas dan akselerasi tinggi.

Target jumlah pulau-pulau kecil yang mandiri di Tahun 2015 adalah sebanyak 5 pulau, dan telah terealisasi 5 pulau.

Tabel 21. Daftar Pulau Kecil Yang Menjadi Capaian Indikator Kinerja Jumlah Pulau-Pulau kecil Mandiri

No. Nama Pulau Kabupaten/Kota Provinsi

1 Pulau Simeulue Simeulue Aceh

Sasaran Strategis 2

Terwujudnya kedaulatan dalam pengelolaan SDKP

Indikator Kinerja Utama Target Capaian % Status

10) Jumlah Pulau-pulau kecil yang Mandiri (pulau) 5 5 100

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT JENDERAL PENGELELOLAN RUANG LAUT 2015 | 46

2 Pulau Bunguran Natuna Kepulauan Riau

3 Pulau Sangihe Kepulauan Sangihe Sulawesi Utara 4 Pulau Yamdena Maluku Tenggara Barat Maluku

5 Pulau Kolepon Merauke Papua

Indikator kinerja jumlah pulau-pulau kecil yang mandiri merupakan indikator kinerja baru yang berkaitan dengan program pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu (SKPT) di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan. Kebijakan, strategi, dan program percepatan pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu (SKPT) di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan dijelaskan dalam lampiran 2. Sentra kelautan dan perikanan terpadu (SKPT) adalah pusat bisnis kelautan dan perikanan terpadu mulai dari hulu sampai ke hilir berbasis kawasan. Sedangkan kawasan perbatasan adalah bagian dari wilayah negara yang terletak pada sisi dalam sepanjang batas wilayah Indonesia dengan negara lain, dalam hal batas wilayah negara di darat, kawasan perbatasan berada di kecamatan. Dasar hukum pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu (SKPT) di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan dijelaskan dalam lampiran.

Pembangunan SKPT di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 2 tahun 2015 tentang RPJMN Tahun 2015 - 2019 dengan 7 (tujuh) arah kebijakan umum, yaitu: (1) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, (2) Meningkatkan pengelolaan dan nilai tambah sumber daya alam (SDA) yang berkelanjutan, (3) Mempercepat pembangunan infrastruktur untuk pertumbuhan dan pemerataan, (4) Peningkatan kualitas lingkungan hidup, mitigasi bencana alam dan perubahan iklim, (5) Penyiapan landasan pembangunan yang kokoh, (6) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan, dan (7) Mengembangkan dan memeratakan pembangunan daerah. Di samping itu, indikator dan pogram ini sejalan pula dengan beberapa butir nawacita, yaitu:

a. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

b. Meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia.

c. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.

d. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Dalam konsep program pembangunan SKPT di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan akan dikembangkan sebuah sistem dan pola yang memanfaatkan sumber daya kelautan dan perikanan serta sumber daya manusia sebagai basis pembangunan SKPT yang akan menjadi episentrum pengelolaan sumber daya laut khususnya pada bidang penangkapan, budidaya, dan technopark. Untuk menunjang berkembangnya bidang-bidang usaha tersebut khususnya dalam menjaga ketersediaan sumber daya ikan dan kelestarian lingkungan, maka upaya konservasi menjadi bagian integral dari pengembangan sentra bisnis perikanan rakyat di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan.

Secara konseptual, SKPT terdiri dari 4 (empat) komponen pokok, yaitu: (1) pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana; (2) peningkatan kompetensi nelayan,

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT JENDERAL PENGELELOLAN RUANG LAUT 2015 | 47

pembudidaya ikan, pengolah dan pemasar ikan, serta petani garam termasuk penguatan kelembagaannya; (3) pengembangan bisnis kelautan dan perikanan; dan (4) pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan. Komponen pokok SKPT ini dijelaskan dalam lampiran 4.

Fokus pembangunan SKPT di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan diarahkan pada 4 (empat) aspek, yaitu: (1) peningkatan nilai tambah, (2) peningkatan daya saing, (3) modernisasi dan korporatisasi usaha, dan (4) penguatan produksi dan produktivitas pelaku utama dan pelaku usaha kelautan dan perikanan. Hal ini dijelaskan dalam lampiran 5.

Ruang lingkup program pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu (SKPT) di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan meliputi:

1. Penataan kawasan SKPT melalui penyusunan rencana zonasi, penyusunan rencana induk (masterplan), dan penyusunan rencana bisnis (business plan);

2. Pemberian bantuan dan revitalisasi sarana dan prasarana produksi bidang kelautan dan perikanan;

3. Pemberian bantuan permodalan usaha bidang kelautan dan perikanan;

4. Penguatan kelembagaan usaha kelautan dan perikanan melalui pengembangan sistem bisnis kelautan dan perikanan, koordinasi lintas kementerian/lembaga, pembinaan, pendampingan, dan kemitraan;

5. Penyediaan fasilitas, sarana, dan prasarana untuk menunjang bisnis kelautan dan perikanan;

6. Penguatan daya saing melalui peningkatan nilai tambah dan pemasaran produk hasil kelautan dan perikanan;

7. Pengembangan technopark melalui penguatan peran ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung pengolahan hasil perikanan dan jasa kelautan;

8. Pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan pemberdayaan masyarakat kelautan dan perikanan;

9. Pengembangkan sistem perkarantinaan ikan, pengendalian mutu, keamanan hasil perikanan, dan keamanan hayati ikan;

10. Pengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan dan perikanan.

11. Pengelolaan kawasan konservasi perairan dalam rangka menjaga kelestarian sumber daya ikan untuk mendukung bisnis kelautan dan perikanan serta wisata bahari; dan

12. Peningkatan pengawasan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan.

Tujuan pembangunan SKPT di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan adalah membangun dan mengintegrasikan proses bisnis kelautan dan perikanan berbasis masyarakat melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan secara berkelanjutan. Sedangkan sasaran pembangunan SKPT di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan adalah:

a. Memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat lokal; b. Mendukung ketahanan pangan nasional; dan

c. Menghasilkan devisa negara melalui kegiatan ekspor sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal.

Pembangunan SKPT di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan ini merupakan program baru di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang melibatkan keterlibatan unit eselon 1 lingkup KKP (DJPRL, DJPDSPKP, DJPT, DJPB, DJPSDKP, BPSDMKP, Balitbang KP, dan BKIPM) dan stakeholders terkait (K/L, Pemerintah Daerah, BUMN, BUMD, swasta, perguruan

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT JENDERAL PENGELELOLAN RUANG LAUT 2015 | 48

tinggi, dan masyarakat). Keterlibatan unit eselon 1 lingkup KKP dalam SKPT ini menyesuaikan dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing.

Untuk menentukan lokasi pembangunan SKPT di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan tentunya mempertimbangkan berbagai kriteria. Kriteria, pengusulan, dan penetapan lokasi, serta mekanisme pelaksanaan SKPT di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan dijelaskan dalam lampiran 6.

Organisasi pelaksana pembangunan SKPT bersifat adhoc yang dibentuk mulai dari pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota sebagai pelaksana (dapat dilihat pada lampiran 7).

1. Tingkat Pusat

a. Dibentuk sekretariat pusat yang beranggotakan unsur dari KKP, terdiri dari pengarah, penanggung jawab dan pengelola;

b. Dibentuk kelompok kerja (Pokja) masing-masing lokasi pembangunan SKPT, terdiri dari ketua, sekretaris dan anggota; dan

c. Dibentuk pengelola pembangunan SKPT di lokasi SKPT, terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara dan tenaga pendukung.

2. Tingkat Provinsi

Gubernur membentuk tim kerja pembangunan SKPT tingkat provinsi yang terdiri dari unsur Dinas yang membidangi kelautan dan perikanan dan SKPD terkait, perguruan tinggi dan stakeholders terkait lainnya.

3. Tingkat Kabupaten

Bupati/Walikota membentuk tim kerja pembangunan SKPT tingkat kabupaten/kota yang terdiri dari unsur dinas yang membidangi kelautan dan perikanan, SKPD terkait dan stakeholders terkait lainnya.

Tahun 2015 ini merupakan tahun pertama pelaksanaan program pembangunan SKPT di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan. Keterlibatan Ditjen PRL dalam program ini pada tahun 2015 adalah penyediaan sarana prasarana pulau-pulau kecil dan pengadaan sarana kapal operasional pengembangan kawasan kelautan dan perikanan terintegrasi.

Mengingat bahwa program pembangunan SKPT di pulau-pulau kecil dan/atau kawasan perbatasan ini merupakan program baru, mungkin akan menghadapi beberapa kendala antara lain:

a. Terbatasnya data dan informasi yang medukung inplementasi bisnis kelautan dan perikanan.

b. Belum sinerginya kegiatan lintas sektor dan instansi di setiap lokus bisnis kelautan dan perikanan.

c. Rendahnya kualitas SDM dan IPTEK.

d. Kesulitan dalam aksesibilitas lokasi (faktor geografis).

e. Terbatasnya sarana dan prasarana yang mendukung bisnis kelautan dan perikanan. f. Lemahnya pendampingan masyarakat.

g. Lemahnya kelembagaan bisnis kelautan dan perikanan

Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk mengatasi kendala tersebut antara lain:

a. Menyediakan data dan informasi yang medukung inplementasi bisnis kelautan dan perikanan.

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT JENDERAL PENGELELOLAN RUANG LAUT 2015 | 49

b. Memperkuat sinerginya kegiatan lintas sektor dan instansi di setiap lokus bisnis kelautan dan perikanan.

c. Meningkatkan kualitas SDM dan IPTEK.

d. Menyediakan transportasi dan konektivitas antar pulau/antar lokasi.

e. Menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung bisnis kelautan dan perikanan. f. Memperkuat pendampingan masyarakat.

g. Memperkuat kelembagaan bisnis kelautan dan perikanan. h. Monitoring dan evaluasi secara berkala.

Monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara berjenjang oleh pelaksana, pokja SKPT dan pengelola SKPT tiap lokasi pada setiap perkembangan tahapan pelaksanaan program. Hasil monitoring dan evaluasi dapat dijadikan sebagai bahan untuk pengendalian dan tindak lanjut perbaikan bagi perencanaan dan pelaksanaan Program SKPT.

Penyusunan dan penyampaian laporan hasil monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan program SKPT dilaksanakan secara berjenjang mulai dari pengelola SKPT tiap lokasi, kelompok kerja (Pokja) tiap lokasi SKPT dan dilaporkan kepada penanggungjawab program per triwulan.

Hasil pelaksanaan program SKPT yang dilaporkan meliputi: a. Hasil pantauan dan evaluasi kegiatan program SKPT; b. Kendala dan permasalahan dalam pelaksanaan program; c. Capaian program SKPT; dan

d. Rekomendasi, efektivitas, dan efesiensi pelaksanaan program.

Untuk menentukan apakah suatu pulau kecil berstatus pra mandiri atau mandiri, direncanakan menggunakan metode sebagai berikut:

a. Menentukan kriteria penilaian (dalam hal ini ada 5 kriteria: fisik, sosial, ekonomi, kelembagaan, serta lingkungan hidup dan sumberdaya laut);

b. Menentukan variabel, kondisi, skor penilaian, dan alat verifikasi; c. Menghitung skor penilaian (hasil penilaian); dan

d. Membuat kategori pulau (levelling).

Rencana sumber data yang digunakan untuk metode ini sebagai berikut: a. Penggunaan data sekunder dari pulau-pulau kecil (PPK);

b. Focus group discussion (FGD), pengamatan visual di PPK; dan c. Sampling dengan kuesioner.

d. Kategori pulau dalam pengelolaan pulau-pulau kecil:  Pra Mandiri 1 (>5-7);

 Pra Mandiri 2 (>8-10);  Pra Mandiri 3 (>11-15);  Pra Mandiri 4 (>16-20);  Mandiri (>21-25)

Tabel 22. Sasaran Strategis 3

LAPORAN KINERJA DIREKTORAT JENDERAL PENGELELOLAN RUANG LAUT 2015 | 50