• Tidak ada hasil yang ditemukan

Percobaan 2. Penghitungan Jumlah Bakteri Vibrio , Perkembangan Gejala Klinis Penyakit IMN dan Konfirmasi Virus IMNV di Tubuh

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil

4.1.2 Percobaan 2. Penghitungan Jumlah Bakteri Vibrio , Perkembangan Gejala Klinis Penyakit IMN dan Konfirmasi Virus IMNV di Tubuh

c fu /u d a n g )

V. harveyi (7 Log cfu/ml) IMNV + V. harveyi (7 Log cfu/ml) Kontrol

untuk dosis V. harveyi 108 cfu/ml mortalitas awal terjadi pada pengamatan hari ke-3 pasca infeksi sebesar 4.2%. Hasil akhir pengamatan pada hari ke-14 menunjukkan bahwa ko-infeksi IMNV dan dosis V. harveyi 107 cfu/ml menyebabkan mortalitas kumulatif mencapai 46% sedangkan pada dosis 108

Penghitungan jumlah bakteri Vibrio dilakukan di tubuh udang uji dan air pemeliharaannya. Penghitungan dilakukan pada 3 perlakuan yaitu infeksi tunggal

V. harveyi 10

cfu/ml mortalitas kumulatif mencapai 54%.

4.1.2 Percobaan 2. Penghitungan Jumlah Bakteri Vibrio, Perkembangan Gejala Klinis Penyakit IMN dan Konfirmasi Virus IMNV di Tubuh Udang Uji dengan PCR

4.1.2.1 Penghitungan jumlah bakteri Vibrio

7 cfu/ml, ko-infeksi IMNV dengan V. harveyi 107 cfu/ml dan kontrol. Sampel penghitungan bakteri di tubuh udang diperoleh dari organ hepatopankreas. Jumlah bakteri Vibrio koloni hijau berpendar pada tubuh udang awal adalah 0 cfu/udang. Setelah infeksi bakteri dilakukan, bakteri Vibrio koloni hijau berpendar dapat ditemukan atau diisolasi dari organ sampel pada perlakuan ko-infeksi dan infeksi tunggal V. harveyi 107

Bakteri Vibrio koloni hijau berpendar ditemukan pada setiap pengambilan sampel pada perlakuan ko-infeksi namun untuk infeksi tunggal V. harveyi mulai ditemukan pada hari ke-8 pasca infeksi. Pada perlakuan ko-infeksi, bakteri Vibrio

koloni hijau berpendar pada hari ke-2 yaitu 4.65 Log cfu/udang (4.5 x 10 cfu/ml (Gambar 7).

Gambar 7. Jumlah bakteri Vibrio koloni hijau berpendar di tubuh udang.

0 6.05 6.39 5.00 5.67 5.43 0 6.37 6.48 7.00 6.81 6.94 0 0 0 0 0 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 0 2 4 6 8 10

Waktu Pengamatan (Hari)

Ju m lah B akt er i ( L o g cf u /m l)

V. harveyi (7 Log cfu/ml) IMNV + V. harveyi (7 Log cfu/ml) Kontrol

cfu/udang). Koloni bakteri Vibrio hijau berpendar cenderung bertambah tinggi pada pengambilan sampel berikutnya, dan koloni bakteri tersebut paling tinggi ditemukan pada hari ke-10 pasca infeksi yaitu 7.03 Log cfu/udang (1.08 x 107

cfu/udang). Vibrio koloni hijau berpendar hanya ditemukan 2 kali pada perlakuan infeksi tunggal V. harveyi 107cfu/ml dan tidak ditemukan pada perlakuan kontrol. Bakteri Vibrio koloni hijau berpendar pada perlakuan infeksi tunggal V. harveyi

107 cfu/ml diisolasi dari hari ke-8 (3.30 Log cfu/udang atau 2 x 103 cfu/udang) dan hari ke-10 (5.30 Log cfu/udang atau 2 x 105 cfu/udang) pasca infeksi.

Penghitungan bakteri Vibrio koloni hijau berpendar juga dilakukan di air pemeliharaan. Jumlah bakteri Vibrio koloni hijau berpendar pada perlakuan ko-infeksi IMNV dan V. harveyi 107 cfu/ml yang diperoleh dari 5 waktu pengambilan sampel selalu lebih tinggi dari 6 Log cfu/ml atau 106 cfu/ml (Gambar 8). Jumlah terkecil yang ditemukan yaitu pada hari ke-2 sebesar 6.37 Log cfu/ml (2.33 x 106 cfu/ml), dan terbesar pada hari ke-6 sebesar 7 Log cfu/ml (1.01 x 107

Untuk perlakuan infeksi tunggal V. harveyi 10

cfu/ml).

7 cfu/ml, jumlah Vibrio

koloni hijau berpendar yang ditemukan cenderung mengalami penurunan. Pada dua pengamatan pertama yaitu hari ke-2 dan 4 pasca infeksi, jumlah Vibrio hijau berpendar yang ditemukan di atas 6 Log cfu/ml (106 cfu/ml). Namun pada pengamatan selanjutnya (hari ke- 4, 6 dan 10 pasca infeksi) bakteri Vibrio koloni hijau berpendar yang ditemukan antara 5 Log cfu/ml sampai 6 Log cfu/ml (105– 106 cfu/ml). Sedangkan pada kontrol, koloni Vibrio hijau berpendar tidak ditemukan.

20 4.08 5.78 5.83 6.11 6.84 6.73 4.08 5.54 6.16 6.48 7.12 7.15 4.08 4.74 5.42 6.48 6.36 6.08 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 0 2 4 6 8 10

Waktu Pengamatan (Hari)

J u m la h B a k te ri ( L o g c fu /u d a n g )

V. harveyi (7 Log cfu/ml) IMNV + V. harveyi (7 Log cfu/ml) Kontrol

4.90 6.22 6.48 6.72 6.49 6.80 4.90 6.48 6.52 7.23 7.16 7.22 4.90 6.48 6.62 6.86 6.36 6.99 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 0 2 4 6 8 10

Waktu Pengamatan (Hari)

Ju m lah B akt er i ( L o g cf u /m l)

V. harveyi (7 Log cfu/ml) IMNV + V. harveyi (7 Log cfu/ml) Kontrol

Selain terhadap bakteri Vibrio hijau berpendar, penghitungan juga dilakukan terhadap total bakteri Vibrio di tubuh udang dan air pemeliharaan. Pada perlakuan infeksi tunggal V. harveyi 107

Pada perhitungan total bakteri Vibrio di air pemeliharaan, bakteri Vibrio

selalu ditemukan pada setiap pengambilan sampel di ke-3 perlakuan. Berdasarkan 5 kali pengambilan sampel (hari ke-2, 4, 6, 8 dan 10 pasca infeksi) terjadi kecenderungan peningkatan total Vibrio selama pengamatan (Gambar 10).

Gambar 10. Jumlah total bakteri Vibrio di air pemeliharaan.

cfu/ml maupun ko-infeksi, bakteri Vibrio

selalu ditemukan pada setiap pengambilan sampel. Pada kedua perlakuan tersebut densitas terendah Vibrio diperoleh pada pengamatan hari ke-2 dan tertinggi pada hari ke-8 pasca infeksi (Gambar 9). Sedangkan pada kontrol, densitas Vibrio

terendah pada pengamatan hari ke-2 dan tertinggi pada hari ke-6 pasca infeksi.

Analisis statistik dengan uji T dilakukan untuk membandingkan jumlah bakteri Vibrio yang ditemukan di tubuh udang pada hari ke-10 pasca infeksi. Pada perlakuan infeksi tunggal Vibrio harveyi jumlah Vibrio hijau berpendar yang diisolasi pada hari ke-10 pasca infeksi yaitu 2x105 ± 1x105 cfu/ml. Nilai tersebut berbeda signifikan (P<0.05) jika dibandingkan dengan jumlah Vibrio hijau berpendar di tubuh udang pada perlakuan ko-infeksi yaitu sebesar 108x105 ± 27,06x105 cfu/ml (Tabel 5). Perbedaan sangat signifikan diperoleh pada analisis jumlah total bakteri Vibrio yang diisolasi pada perlakuan infeksi tunggal dan ko-infeksi (P<0.01). Pada infeksi tunggal diperoleh densitas total Vibrio 53,67x105 ± 6.81x105 cfu/ml sedangkan pada ko-infeksi 139,67x105 ± 5,69x105

Perlakuan

cfu/ml. Tabel 5. Jumlah bakteri Vibrio (rataan±SD) pada hari ke-10 pasca infeksi.

Vibrio Hijau Berpendar

(cfu/udang)*

Total Vibrio

(cfu/udang)** Infeksi tunggal V. harveyi 2x105 ± 1x105a 53,67x105 ± 6.81x105a

Ko-infeksi 108x105 ± 27,06x105 b 139,67x105 ± 5,69x105b

Keterangan: hp=hepatopankreas. )*=berbeda nyata antara 2 perlakuan (P<0.05). )**=berbeda nyata antara 2 perlakuan (P<0.01).

4.1.2.2 Perkembangan klinis penyakit IMN

Perkembangan klinis penyakit IMN diamati pada perlakuan infeksi tunggal IMNV, ko-infeksi IMNV dengan V. harveyi 107

Perlakuan

cfu/ml dan kontrol untuk mengetahui awal munculnya gejala klinis, mortalitas awal dan total mortalitas pada akhir pengamatan (Tabel 6).

Tabel 6. Observasi gejala klinis dan mortalitas udang uji. Gejala Klinis # (Hari) Mortalitas (Hari) Mortalitas kumulatif (%) Konfirmasi PCR Hari ke-2 Hari ke-10 IMNV 6 10 13.33 2 sampel:

semua (-) (+) dan (-) 2 sampel:

Ko-infeksi 6 4)*

10)**

40 2 sampel:

semua (-) semua (+) 2 sampel: Kontrol Tidak ada Tidak ada 0 1 sampel:

(-) 1 sampel: (-) Keterangan: )* mortalitas akibat infeksi V. harveyi; )**kematian awal akibat infeksi virus IMNV;

)# nekrosis/ lebam putih pada otot

Hasil pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa pada perlakuan infeksi tunggal IMNV maupun ko-infeksi, gejala klinis visual berupa warna putih

22

lebam pada jaringan otot pertama kali terlihat pada hari ke-6 pasca infeksi. Namun untuk perlakuan kontrol, tidak ditemukan adanya gejala klinis selama dilakukannya pengamatan.

Mortalitas yang diamati adalah mortalitas awal dan mortalitas kumulatif setelah 14 hari pengamatan. Mortalitas awal perlakuan infeksi tunggal IMNV didapat pada hari ke-10 pasca infeksi dan mortalitas kumulatif sebesar 13.33 %. Sedangkan pada perlakuan ko-infeksi IMNV dan V. harveyi 107 cfu/ml mortalitas dengan gejala klinis penyakit IMN diperoleh pada hari ke-10 pasca infeksi. Sebelumnya pada perlakuan ko-infeksi ditemukan juga mortalitas pada hari ke-4 pasca infeksi, namun mortalitas tersebut belum ditemukan gejala klinis penyakit IMN sehingga diduga kematian udang lebih disebabkan oleh infeksi V. harveyi. Mortalitas kumulatif (hari ke-14 pasca infeksi) pada perlakuan ko-infeksi adalah 40 %. Pada perlakuan kontrol tidak ditemukan mortalitas maupun gejala klinis penyakit IMN pada udang uji. Pengamatan akhir perlakuan kontrol di hari ke-14, menunjukkan nilai mortalitas kumulatif sebesar 0 %.

Konfirmasi keberadaan virus IMNV di tubuh udang uji dilakukan dengan mengirimkan sampel ke laboratorium PCR. Pengujian PCR dilakukan pada 3 perlakuan yaitu infeksi tunggal IMNV, ko-infeksi IMNV dengan Vibrio harveyi

107 cfu/ml dan kontrol. Pengujian dilakukan pada pengamatan hari ke-2 dan 10 pasca infeksi. Hasil uji PCR menggunakan kit komersial Nugen-IMNV menunjukkan bahwa pada sampel hari ke-2 setelah infeksi, ke-3 perlakuan menunjukkan IMNV negatif (Tabel 6 dan Gambar 11). Berarti udang uji tidak atau belum terinfeksi oleh virus IMNV atau terinfeksi namun densitas virus masih rendah sehingga tidak bisa dideteksi oleh kit PCR Nugen-IMNV. Pengujian yang dilakukan pada hari ke-10 pasca infeksi, perlakuan infeksi tunggal menunjukkan hasil 1 sampel positif terinfeksi IMNV dan 1 sampel lainnya negatif. Perlakuan ko-infeksi IMNV dan V. harveyi 107

Observasi perkembangan gejala klinis dilakukan setiap 2 hari setelah infeksi terhadap parameter seperti gejala klinis visual lebam putih atau nekrosis,

cfu/ml menunjukkan bahwa 2 sampel yang diuji positif terinfeksi virus IMNV. Sedangkan perlakuan kontrol menunjukkan hasil negatif terinfeksi virus IMNV.

histopatologi organ limfoid dan jaringan otot, serta gejala-gejala klinis lain yang diperoleh selama observasi (Tabel 7).

Keterangan: Sampel hari ke-2 (A) dan 10 (B) pasca infeksi. Marker (M), kontrol positif (C+), kontrol negatif (C-), perlakuan infeksi tunggal IMNV (1), perlakuan ko-infeksi IMNV dan V. harveyi 107

Seperti disebutkan pada Tabel 6, gejala klinis awal berupa munculnya nekrosis dengan bentuk visual berwarna putih (tidak transparan) pada otot muncul pertama kali pada hari ke-6 pasca infeksi. Gejala klinis tersebut muncul bersamaan baik pada perlakuan infeksi tunggal IMNV maupun ko-infeksi IMNV dan V. harveyi. Gejala klinis tersebut termasuk level 2 berdasarkan Costa et al.

(2009), yaitu terdapat sedikit nekrosis pada abdomen udang. Pada ke-2 perlakuan sampai hari ke-10 setelah infeksi IMNV gejala klinis visual tersebut tetap pada level 2. Namun pada hari ke-12 dan 14 pasca infeksi, pada ko-infeksi ditemukan udang pada level 3 yaitu hampir seluruh otot mengalami nekrosis (Gambar 12).

cfu/ml (2) dan kontrol (3). Adanya pita pada 314 bp menunjukkan sampel positif terinfeksi IMNV.

Gambar 11. Hasil pengujian PCR udang uji menggunakan kit PCR Nugen-IMNV.

M C- C+ 1 1 2 2 3 527 bp 314 bp 1250 bp 700 bp 400 bp 300 bp 527 bp 314 bp M C- C+ 1 1 2 2 3 1250 bp 700 bp 400 bp 300 bp A B

24

Tabel 7. Perkembangan gejala klinis luar (visual) dan histopatologi.

No Gejala Klinis Infeksi Tunggal IMNV (Hari) Ko-infeksi IMNV dan V. harveyi (Hari)

2 4 6 8 10 12 14 2 4 6 8 10 12 14

1 Gejala klinis luar (visual) - - ++ ++ ++ ++ +++ - - ++ ++ ++ +++ +++

2 Histopatologi otot n n n n BI NA NA n n n BI BI NA NA

3 Gejala klinis organ limfoid (visual)

- ukuran n n n n n n n n n n n n n n

- warna n n n n n Mrh Mrh n n n n n n Mrh

4 Histologi organ limfoid n n n Ab Ab NA NA n n n Ab Ab NA NA

5 Pengamatan visual organ lain (usus) n n n n n n n n n n n n n Ab Keterangan: ++ (sedikit nekrosis/ lebam putih pada otot); +++ (nekrosis/ lebam putih tampak jelas di otot udang); BI (badan inklusi); Mrh (merah); Ab (abnormal); n

(normal); NA (not available/ tidak diamati).

Keterangan: Sampel udang infeksi tunggal (A); sampel udang ko-infeksi (B); dan udang normal (C). Gambar 12. Sampel udang pada hari ke-14 dengan gejala klinis nekrosis level 3.

B

Pada pengamatan gejala klinis berupa abnormalitas secara visual diperoleh juga abnormalitas pada organ limfoid dan organ usus (Tabel 7 dan Gambar 13). Abnormalitas pada organ limfoid berupa perbedaan warna visual organ limfoid dengan udang normal. Organ limfoid tersebut berwarna kemerahan dan terjadi pada kedua perlakuan. Abnormalitas juga terjadi pada organ usus namun hanya ditemukan pada ko-infeksi. Masing-masing abnormalitas tersebut tidak ditemukan di awal pengamatan setelah infeksi. Abnormalitas warna organ limfoid dan usus ditemukan pada pengamatan hari ke-12 dan 14 pasca infeksi.

Keterangan: Warna organ limfoid pada udang normal (A); warna organ limfoid pada udang perlakuan infeksi tunggal IMNV (B); abnormalitas bentuk usus dan warna organ limfoid udang

perlakuan ko-infeksi (C). Tanda panah menunjukkan organ limfoid dan usus. Gambar 13. Abnormalitas organ limfoid dan usus dengan observasi visual.

A B

26

Pengamatan perkembangan klinis juga dilakukan dengan pengamatan histopatologi jaringan otot dan organ limfoid udang uji. Pengamatan histologi hanya dilakukan sampai hari ke-10. Abnormalitas sel ditandai dengan ditemukannya badan inklusi (Gambar 14). Badan inklusi pada jaringan otot pada perlakuan ko-infeksi mulai ditemukan pada hari ke-8 pasca infeksi. Sedangkan pada perlakuan infeksi tunggal IMNV, badan inklusi ditemukan pada hari ke-10 pasca infeksi. Abnormalitas organ limfoid melalui pengamatan histopatologi diperoleh juga pada hari ke-8, namun limfoid organ speroid dapat dilihat pada sampel yang diambil pada hari ke-10 pasca infeksi. Abnormalitas tersebut terlihat dari bentuk sel yang abnormal pada histologi organ limfoid. (Gambar 15).

Keterangan: Infeksi tunggal IMNV (A); ko-infeksi (B); dan kontrol (C). Tanda panah menunjukkan badan inklusi. (Skala bar: 50 µm).

Gambar 14. Histopatologi jaringan otot udang uji.

A

C B

28

Keterangan: Infeksi tunggal IMNV (A); ko-infeksi (B); dan kontrol (C). (Skala bar: 50 µm). Gambar 15. Histopatologi organ limfoid udang uji.

A

C B

4.2 Pembahasan

Penyakit IMN saat ini masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam. Beberapa penelitian penyakit IMN yang telah dilakukan umumnya mengenai biomolekuler virus IMNV (Tang et al. 2005; Poulos et al. 2006; Andrade et al.

2007; Andrade et al. 2008; Tang et al. 2008). Penelitian juga dilakukan untuk mengkonfirmasi virus IMNV di wilayah yang terkena wabah seperti di Brazil (Pinheiro et al. 2007; Costa et al. 2009) dan Indonesia (Senapin et al. 2007).

Berdasarkan hasil penelitian (Gambar 6), infeksi tunggal bakteri V. harveyi dengan dosis 106 cfu/ml dan 107 cfu/ml menggunakan metode perendaman (imersi) tidak menyebabkan udang uji mengalami kematian (mortalitas). Kematian dapat terjadi pada dosis infeksi tunggal 108 cfu/ml yaitu pada saat pengamatan hari ke-6. Hasil berbeda diperoleh Phuoc et al. (2009), yang melaporkan bahwa infeksi tunggal V. campbellii dengan perendaman pada berbagai dosis (106, 107 dan 108

Ko-infeksi penyakit virus dan bakteri pada udang juga belum banyak dilaporkan, terutama virus IMNV. Penelitian ko-infeksi virus-bakteri yang telah dilaporkan yaitu WSSV-bakteri Vibrio di tambak udang (Manilal et al. 2010) dan WSSV-bakteri Vibrio (V. campbelli dan V. harveyi) skala eksperimen (Phuoc et

cfu/ml) pada 6 hari pengamatan setelah dilakukan infeksi tidak menyebabkan mortalitas. Melalui hasil tersebut, Phuoc et al. (2009) menduga bahwa dosis-dosis V. campbelli tersebut tidak cukup untuk menyerang udang vaname hingga menyebabkan wabah atau kematian. Jika mengandaikan dengan kondisi alamiah di tambak udang, maka wabah penyakit bakterial dapat terjadi akibat dari interaksi yang komplek (Phuoc et al. 2009).

Namun perbedaan hasil tersebut diduga disebabkan oleh perbedaan padat tebar per akuarium atau wadah uji. Pada penelitian ini padat tebar udang per akuarium adalah 8 ekor (bobot rata-rata= 2.71±0.395 g) per 10 liter air laut, sedangkan Phuoc et al. (2009) menggunakan 6 ekor udang (bobot rata-rata= 2.41±0.65 g) per 10 liter air laut. Seperti diketahui, bahwa disamping status inang (kesehatan atau genetik), kejadian penyakit ditentukan juga oleh beberapa faktor lain seperti: stressor fisik dan patogen lain yang membuat portal entry. Bentuk

stressor fisik antara lain fluktuasi di air (oksigen, salinitas, temperatur) dan padat tebar yang tinggi (Kautsky et al. 2000).

30

al. 2008; Phuoc et al. 2009). Informasi lain mengenai ko-infeksi IPV (infectious pancreaticnecrosis) - Vibrio pada ikan kerapu (Lee et al. 1999). Umumnya ko-infeksi pada penelitian-penelitian tersebut menyebabkan peningkatan mortalitas terhadap udang.

Pada penelitian ini yang menggunakan ko-infeksi virus IMNV dan bakteri

V. harveyi, udang uji dengan perlakuan ko-infeksi mengalami mortalitas lebih cepat jika dibandingkan dengan kontrol. Beberapa dosis V. harveyi yang tidak menyebabkan kematian pada infeksi tunggal bahkan menghasilkan mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan infeksi tunggal IMNV (gambar 6). Costa

et al. (2009) melaporkan dampak infeksi IMNV terhadap nilai kekebalan tubuh udang vaname. Seperti yang terjadi pada infeksi WSSV, virus IMNV juga menyebabkan penurunan total hemocyte. Penurunan total hemocyte akibat infeksi IMNV sebesar 30%, bahkan aktivitas antimikrobial pada hemocyte tidak mampu meningkat ketika ada infeksi bakteri Vibrio harveyi (Costa et al. 2009). Dilaporkan juga bahwa, pada infeksi virus IMNV dapat menyebabkan peningkatan persentase apoptosis (Costa et al. 2009). Hal ini diduga bahwa fenomena meningkatnya mortalitas dan percepatan kejadian mortalitas awal udang uji pada penelitian ini terjadi karena penurunan aktivitas antimikrobial dan level hemocyte serta aktivitas kekebalan tubuh udang yang lain. Penurunan aktivitas kekebalan tubuh tersebut dimanfaatkan oleh V. harveyi ketika menginfeksi udang. Sehingga pada penelitian ini ditemukan kematian udang sebelum munculnya gejala klinis penyakit IMN pada perlakuan ko-infeksi (Tabel 6). Faktanya, pada kondisi infeksi tunggal V. harveyi 107 cfu/ml tidak ditemukan mortalitas pada udang uji. Sebagaimana dilaporkan, bahwa udang memiliki kemampuan untuk mengeliminasi jumlah bakteri Vibrio dari dalam tubuhnya dengan cepat. Bahkan hanya dalam 2 jam pasca injeksi bakteri Vibrio, udang dapat mengeliminasi Vibrio dari haemolymp hingga mencapai 97% (Van de Braak

et al. 2002). Diduga hal ini yang menyebabkan infeksi tunggal V. harveyi pada penelitian ini memerlukan dosis yang tinggi untuk menyebabkan mortalitas udang uji yaitu 108

Penghitungan Vibrio di tubuh udang dilakukan untuk mengetahui dampaknya terhadap akselerasi mortalitas udang uji. Penghitungan diutamakan

pada bakteri Vibrio hijau berpendar yang menjadi ciri V. harveyi yang digunakan.

V. harveyi pada infeksi tunggal pada penelitian ini ditemukan mulai hari ke-8 pasca infeksi (Gambar 7). Sedangkan bakteri Vibrio hijau berpendar pada perlakuan ko-infeksi virus IMNV dan V. harveyi 107

Jumlah total Vibrio meningkat secara signifikan pada perlakuan ko-infeksi dalam penelitian ini. Menurut Rodriguez et al. (2010) ada kemungkinan infeksi lain (terutama dari golongan virus seperti WSSV, IHHNV dan TSV) yang menyebabkan peningkatan densitas Vibrio di tubuh udang pada kasus wabah vibriosis di tambak dibandingkan dengan densitas Vibrio pada udang normal. Saat ini di lapangan belum dapat dikonfirmasi bahwa bakteri Vibrio lain termasuk koloni berwarna kuning dapat menjadi virulen pada kondisi wabah penyakit IMN. Namun pada saat terjadi wabah penyakit WSS, telah dikonfirmasi bahwa terdapat

V. alginolyticus yang virulen dari tambak yang terkena wabah penyakit WSS (Manilal et al. 2010). Sedangkan pada skala penelitian laboratorium juga telah dilaporkan oleh Phuoc et al. (2009). Dalam penelitiannya Rodriguez et al. (2010) melaporkan bahwa rata-rata jumlah bakteri Vibrio yang diisolasi dari

cfu/ml selalu ditemukan sejak awal pengambilan sampel (hari ke-2) hingga hari ke-10 pasca infeksi. Pada hari ke-10 pasca infeksi densitas Vibrio hijau berbeda signifikan antara perlakuan infeksi tunggal V. harveyi dan ko-infeksi (P<0.05). Selain itu perbedaan terlihat juga pada jumlah total Vibrio di tubuh udang pada kedua perlakuan (P<0.01). Percepatan peningkatan jumlah Vibrio di tubuh udang menyebabkan percepatan kematian udang uji.

Dengan demikian mekanisme yang terjadi dalam penelitian ini adalah bakteri Vibrio bertindak sebagai patogen sekunder yang diduga menyebabkan percepatan dan peningkatan mortalitas pada udang yang terinfeksi virus IMNV. Sedangkan virus IMNV bertindak sebagai agen penyakit primer (IMNV sebagai infeksi primer). Hal ini terkait dengan karakteristik bakteri V. harveyi yang merupakan mikroflora alam di perairan laut atau pantai (Chrisolite et al. 2008) sedangkan virus (IMNV) membutuhkan inang untuk hidup. Walaupun bersifat penyakit kronis pada penaeid, penyakit IMN dapat menyebabkan kerusakan sistem kekebalan tubuh dan melemahkan udang sehingga memungkinkan untuk masuknya patogen sekunder yang umumnya berasal dari golongan bakteri.

32

hepatopankreas udang vaname pada saat wabah vibriosis adalah 105 cfu/g. Pada udang sehat dilaporkan bahwa rata-rata Vibrio di hepatopankreas udang vaname 1.3x104 cfu/g (Gomes-Gil et al. 1998). Dalam penelitian ini, mortalitas awal perlakuan ko-infeksi terjadi pada hari ke-4 tanpa adanya gejala klinis luar penyakit IMN. Pada hari tersebut jumlah bakteri Vibrio yang diisolasi adalah 1.45x106 cfu/hp, densitas tersebut sangat berbeda jika dibandingkan dengan isolasi dari perlakuan kontrol pada hari yang sama (2.65x105 cfu/hp) maupun pada udang sehat yang dilaporkan oleh Gomez-Gil et al. (1998).

Pada penelitian ini, tidak ada perbedaan awal ditemukannya gejala klinis nekrosis antara perlakuan infeksi tunggal IMNV dan ko-infeksi. Gejala awal ditemukan pada hari ke-6, sedangkan mortalitas awal diperoleh pada hari ke-10. Mortalitas awal ke-2 perlakuan tersebut juga identik. Hasil penelitian lain yang dilakukan Tang et al. (2005) melaporkan bahwa udang vaname yang diinfeksi oleh IMNV menampakkan gejala klinis pertama kali pada hari ke 6 setelah infeksi dan mengalami mortalitas pertama kali pada hari ke-13. Mortalitas total udang vaname pada pengujian tersebut 33.33%, mortalitas tersebut lebih tinggi dibandingkan infeksi tunggal IMNV penelitian ini yang hanya 13.33%. Namun pada perlakuan ko-infeksi mortalitas kumulatif pada hari ke-14 pasca infeksi bisa mencapai 40%, walaupun dosis V. harveyi yang diinfeksikan tidak menyebabkan mortalitas pada infeksi tunggal. Penelitian lain menunjukkan, bahwa udang vaname mengalami mortalitas pertama kali pada hari ke-8, dan mortalitas mencapai 100 % pada hari ke-52 setelah infeksi (Andrade et al. 2007).

Untuk mengkonfirmasi bahwa udang perlakuan terinfeksi oleh virus IMNV, maka dilakukan pengujian PCR dengan menggunakan kit komersial (Nugen-IMNV). Pengujian PCR saat hari ke-2 pasca infeksi pada perlakuan infeksi IMNV dan ko-infeksi belum menunjukkan udang terinfeksi positif IMNV. Namun pada hari ke-10, sampel dapat dikonfirmasi positif IMNV. Coelho et al.

(2009) dalam penelitiannya melaporkan IMNV dapat dikonfirmasi di hari ke-5 setelah terinfeksi. Udang vaname yang terinfeksi virus IMNV namun belum menunjukkan gejala klinis nekrosis juga dapat dikonfirmasi positif dengan RT-PCR (Costa et al. 2009).

Perkembangan gejala klinis penyakit IMN juga diamati pada perlakuan infeksi tunggal IMNV dan ko-infeksi. Secara umum tidak ada perbedaan gejala klinis penyakit IMN yang diobservasi dari 2 perlakuan tersebut. Pada pengamatan visual diketahui, bahwa gejala klinis nekrosis muncul pertama kali pada hari ke-6 pada level nekrosis ringan, sedangkan pada hari ke-14 setelah infeksi mulai ditemukan udang dengan gejala nekrosis di seluruh otot abdomen (level moderat). Hasil ini identik dengan penelitian yang dilakukan oleh Tang et al. (2005). Pada penelitian lain, gejala klinis nekrosis pertama kali dapat dilihat pada hari ke-3 setelah infeksi IMNV (Poulos et al. 2006).

Beberapa gejala abnormalitas yang diperoleh selama observasi 14 hari yaitu abnormalitas warna organ limfoid dan abnormalitas bentuk usus. Gejala tersebut belum dapat dikonfirmasi apakah disebabkan oleh IMNV atau oleh patogen lain. Namun sebagai gambaran bahwa organ limfoid merupakan organ prinsip sebagai sampel untuk pengujian molekuler pada infeksi kronis (OIE 2009). Berarti organ limfoid diduga merupakan organ target dari penyakit IMN.

Selain organ limfoid, otot merupakan jaringan yang umum digunakan sebagai sampel untuk pengujian skala sel maupun molekuler (Andrade et al.

2007). Hasil pengamatan histopatologi terhadap organ limfoid dan jaringan otot udang uji pada penelitian ini tidak menampakkan perbedaan pada perlakuan infeksi tunggal IMNV dan ko-infeksi. Pada pengamatan histologi, udang yang terserang infeksi IMNV sering menampakkan koagulasi/penggumpalan nekrosis pada jaringan otot namun tidak selalu (Andrade et al. 2008). Sampel yang diperoleh dari hari ke-10 menampakkan adanya badan inklusi pada histologi jaringan otot. Selain itu terdapat juga penggumpalan jaringan otot seperti nekrosis (Gambar 14). Secara umum udang yang terinfeksi virus IMNV menunjukkan lesi pada otot skeletal, koagulasi nekrosis termasuk nekrosis multifocal, kongesti pada

hemocyte, inflamasi fibrocytic, fagositosis dan bodi inklusi sitoplasma serta infiltrasi hemocyte (Tang et al. 2005; Poulos et al. 2006; Andrade et al. 2007; Coelho et al. 2009).

Infeksi IMNV juga tampak pada organ limfoid udang. Abnormalitas bentuk organ limfoid dimana limfoid tidak dapat mempertahankan bentuk

Dokumen terkait