Tahap 2. Ekstraksi Oligosakarida Pembuatan Tepung Ubi Jalar
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5 Jumlah total S agalactiae di organ target
Kemampuan bakteri dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. agalactiae pada ikan nila juga dilihat dari jumlah bakteri S. agalactiae di organ target yaitu otak, ginjal, hati dan mata. Hasil pengamatan terhadap jumlah total bakteri S. agalactiae di organ target disajikan pada Gambar 17 dan Lampiran 9.
A
B
Gambar 17. Total bakteri S. agalactiae di organ target pada minggu ke-3 (A)
dan minggu ke-4 (B); PO(+). kontrol positif; PO(-). kontrol negatif; P1. probiotik; P2. prebiotik P3. Sinbiotik
Dari hasil pengamatan terhadap organ target selama penelitian, secara umum jumlah bakteri S. agalactiae tertinggi ditemukan di otak pada semua perlakuan. Hal ini terlihat dari gejala klinis yang timbul pasca ikan diinfeksi. Beberapa jam setelah diinfeksi, ikan terlihat menunjukkan gejala berenang abnormal (miring atau tidak seimbang). Bakteri S. agalactiae
yang diinfeksikan ke ikan, akan masuk ke dalam pembuluh darah lalu bersama aliran darah terbawa menuju otak. Hernandez et al. (2009) menyatakan bahwa otak adalah target utama
0 1 2 3 4 5 6 PO(+) P1 P2 P3 Ju ml a h B a k te ri ( lo g C F U /ml ) Perlakuan 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 PO(+) P1 P2 P3 Ju ml a h B a k te ri ( lo g C F U /ml ) Perlakuan Otak Ginjal Hati Mata
dari bakteri S. agalactiae setelah bakteri ini mencapai aliran darah. Lebih lanjut, Hernandez
et al. (2009) menyatakan bahwa hasil histopatologi terhadap ikan yang terinfeksi bakteri S. agalactiae, kerusakan ditemukan 71,2% di otak, sisanya adalah di organ ginjal, hati dan mata.
Jumlah bakteri terendah selama penelitian diperoleh pada perlakuan P3, di mana pada hari ke-14 pasca infeksi tidak lagi ditemukan bakteri S. agalactiae di semua organ target. Dari hasil ini menunjukkan bahwa probiotik, prebiotik dan sinbiotik mampu menekan jumlah bakteri S. agalactiae di organ. Diduga hal ini berkaitan dengan peningkatan respon imun ikan nila berupa peningkatan jumlah dan aktivitas makrofag di jaringan, sehingga aktivitas fagositosis menjadi lebih tinggi dan jumlah bakteri yang dimusnahkan juga menjadi lebih banyak.
4.6 Histopatologi
Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat adanya gangguan pada ikan akibat serangan bakteri patogen adalah dengan pengamatan terhadap perubahan histopatologi. Menurut Hinton dan Lauren (1990), histopatologi merupakan hasil dari adanya perubahan secara biokimia dan fisiologis pada jaringan organisme. Dengan indikator histologik, dapat diketahui perubahan yang terjadi pada ikan sebagai akibat dari perubahan kualitas air, penanganan ataupun karena infeksi patogen.
4.6.1 Otak
Menurut Takashima dan Hibiya (1995), ada lima bagian utama dari otak ikan yaitu telencephalon, diencephalon, mesencephalon, metencephalon dan myelencephalon. Pengaturan keseimbangan berenang ikan di air berada pada bagian metencephalon yaitu pada bagian cerebellum.
Hasil pengamatan histopatologi pada organ otak sebagai akibat serangan bakteri
Tabel 3. Perubahan patologis otak ikan nila yang diinfeksi S. agalactiae
Perlakuan Perubahan patologis di otak
Hp Ht N D K V
PO (+) + + + + + +
P1 + + - - - -
P2 + + - - - -
P3 + + - - - -
Ket : Hp. hiperplasia ; Ht. hipertropi ; N. nekrosis ; D. degenerasi ; K. kongesti ; V. vakuolisasi
Otak ikan yang diinfeksi dengan S. agalactiae memperlihatkan mengalami ensefalitis yang ditandai dengan adanya kongesti, hipertropi dan vakuolisasi, necrosis dan degenerasi pada perlakuan PO(+). Menurut Cheville (1999) perubahan patologi fokal nekrosis dapat berupa pelunakan jaringan (liquefative) sebagai akibat reaksi enzimatis yang terjadi karena masuknya toksin. Akan tetapi, pada perlakuan P1, P2 dan P3, tidak terjadi vakuolisasi, kongesti, nekrosis dan degenerasi. Gambaran mikroskopis perubahan patologis organ otak yang terjadi pada masing-masing perlakuan disajikan pada Gambar 18 berikut :
Gambar 18. Histopatologi otak ikan nila yang diinjeksi S. agalactiae
A. hiperplasia ; B. hipertropi ; C. nekrosis, degenerasi ; D. kongesti E. vakuolisasi. 1 bar = 50 µm
Dari pengamatan mikroskopik, infeksi S. agalactiae menyebabkan timbulnya degenerasi pada bagian otak pada perlakuan PO(+). Hal ini sesuai dengan pendapat Robert (2010), bahwa infeksi bakterial dapat menyebabkan gangguan metabolisme sel (degenerasi) yang ditandai dengan adanya akumulasi intraseluler dengan ciri mikroskopik berupa banyak sel yang letaknya berdesak-desakan, sel membengkak, warna lebih pucat, ditemukannya vakuola dan nekrosis. Degenerasi pada bagian sel otak ini yang akan menyebabkan ikan kehilangan keseimbangan dalam berenang, gerakan renang berputar dan cenderung
A
B C
D
kepermukaan. Menurut Hardi (2011), ikan yang menunjukkan berenang whirling secara histopatologi pada otak bagian cerebellum terdapat adanya degenerasi dan nekrosa bagian kranial.
Vakuolisasi dari pengamatan mikroskopis terlihat sebagai ruangan yang kosong pada jaringan otak, terjadi akibat kerusakan sel sehingga sel mengalami kehancuran. Vakuolisasi diduga disebabkan infeksi melalui aliran darah kemudian menuju ke otak dan menimbulkan kerusakan pada jaringan penyusun organ tersebut.
4.6.2 Ginjal
Ginjal umumnya terletak antara columna vertebralis dan gelembung renang. Ginjal mempunyai peran sebagai organ ekskresi yang menyaring bahan limbah yang tidak bermanfaat dari darah. Hasil pengamatan histopatologi pada organ ginjal disajikan selengkapnya pada Tabel 4 berikut :
Tabel 4. Perubahan patologis ginjal ikan nila yang diinfeksi S. agalactiae
Perlakuan Perubahan patologis di ginjal
V Sr Dp D K Hm N
PO (+) + + + + + + +
P1 - - - - + + -
P2 - - - - + + -
P3 - - - - + + -
Ket : V. vakuolisasi ; Sr. sel radang ; Dp. Deposisi protein hilalin ; D. degenerasi ; K. kongesti ; Hm. hemoragi ; N. nekrosis
Dari Tabel diatas, terlihat pada perlakuan PO(+) memperlihatkan bahwa ikan yang diinfeksi S. agalactiae mengalami perubahan–perubahan patologis berupa hipertropi, hemoragi, degenerasi, kongesti, adanya sel radang dan nekrosis. Pada perlakuan P1, P2, dan P3 juga terjadi hemoragi dan kongesti, namun tidak terjadi sel radang, vakuolisasi, degenerasi dan nekrosis. Gambaran mikroskopis perubahan patologis pada organ ginjal disajikan selengkapnya pada Gambar 19 berikut :
Gambar 19 . Histopatologi ginjal ikan nila yang diinjeksi S. agalactiae A. ginjal normal ; B. vakuolisasi ; C. sel radang ; D. deposisi protein hialin; E. kongesti; F. degenerasi, nekrosis ; G: hemoragi 1 bar = 50 µm
Ginjal merupakan salah satu organ yang aktif dalam melakukan perlawanan terhadap masuknya mikroorganisme asing (patogen) melalui mekanisme makrofag dan sel limfosit di ginjal. Bila terjadi infeksi, maka di dalam ginjal akan terjadi mekanisme perlawanan berupa pembentukan sel darah putih seperti monosit, limfosit dan granulosit. Rombout et al. (2005) meyatakan bahwa pada ikan teleostei, ginjal berperan dalam pembentukan berbagai kelompok sel darah putih seperti monosit dan granulosit (netrofil, basofil dan eosinofil). Serangan bakteri patogen dengan intensitas tinggi menyebabkan ginjal harus menjalankan fungsinya lebih berat sehingga terjadi kerusakan sel. Selain itu bakteri yang berhasil menyerang ginjal akan mengeluarkan eksotoksin yang mampu menyebabkan terjadinya pendarahan atau hemoragi pada organ bagian epitel tubulus.
Kerusakan epitel tubulus menyebabkan terhambatnya fungsi reasorbsi protein. Edema interstisialis dan deposit protein pada glomerulus menyebabkan terjadinya glomerulonefritis (peradangan glomerulus) yang ditandai dengan reaksi radang pada glomerulus dengan infiltrasi leukosit dan proliferasi sel, yang diduga disebabkan oleh patogen S. agalactiae yang menginfeksi sel-sel epitel tubulus renalis. Infeksi ini selanjutnya mempengaruhi metabolisme dan proses enzimatis yang menyebabkan terganggunya fungsi
A E C B F G B D
normal ginjal sebagai organ ekskresi dan osmoregulasi, hal ini mengakibatkan terganggunya proses fisiologis tubuh ikan bahkan dapat mengakibatkan kematian (Robert 2001).
4.6.3 Hati
Berdasarkan pengamatan histopatologis terhadap jaringan hati, ditemukan atropi, degenerasi lemak, hipertropi, kongesti dan hemoragi pada perlakuan PO(+). Pada perlakuan P1 dan P2 terjadi kongesti, hemoragi dan hipertropi sedangkan pada perlakuan P3 hanya terjadi hemoragi dan kongesti. Hasil pengamatan histopatologi pada organ hati disajikan pada Tabel 5 berikut :
Tabel 5. Perubahan patologis hati ikan nila yang diinfeksi S. agalactiae
Perlakuan Perubahan patologis di hati
At Dl Ht K Hm
PO (+) + + + + +
P1 - - + + +
P2 - - + + +
P3 - - - + +
Ket : At. Atropi ; Dl. Degenerasi lemak ; Ht. hipertropi ; K. kongesti ; Hm. hemoragi Berdasarkan Tabel diatas terlihat kongesti terjadi pada semua perlakuan. Kongesti ditandai dengan adanya kenaikan jumlah darah di dalam pembuluh darah sehingga terjadi pembendungan. Gambaran mikroskopik berupa kapiler darah tampak melebar penuh berisi eritrosit. Degenerasi lemak yang tampak sebagai vakuola dalam sel hati menunjukkan bahwa dalam tubuh terdapat ketidakseimbangan proses normal yang mempengaruhi kadar lemak di dalam dan di luar jaringan hati akibat gangguan metabolisme. Menurut Cheville (1990) adanya peningkatan pembentukan lipid di dalam sel hati dapat terjadi akibat toksin yang merusak proses metabolisme lemak dengan menghambat kerja enzim sehingga mengakibatkan akumulasi lemak. Gambaran mikroskopis perubahan patologis pada organ hati disajikan selengkapnya pada Gambar 20 berikut :
Gambar 20. Histopatologi hati ikan nila yang diinjeksi S. agalactiae
A. hati normal ; B. atropi ; C. degenerasi lemak ; D. hipertropi E. kongesti, F. hemoragi. 1 bar = 50 µm
Radang pada organ hati diindikasikan dengan adanya infiltrasi sel-sel radang, yang menunjukkan bahwa patogen menginfeksi sel-sel hati. Migrasi sel radang adalah indikasi reaksi mekanisme pertahanan terhadap zat toksik yang masuk kedalam tubuh untuk menghancurkan agen infeksi. Menurut Ressang (1984), radang dapat dipicu dan diakibatkan oleh bakteri yang mempunyai potensi mengeluarkan toksin. Kerusakan pada sel hati ditemukan pada semua perlakuan pada minggu ke-3 (7 hari pasca infeksi S. agalactiae). Pada minggu ke-4 kerusakan masih ditemukan pada perlakuan PO(+), akan tetapi tidak ditemukan lagi pada perlakuan P1, P2 dan P3. Hal ini menunjukkan bahwa ikan pada perlakuan tersebut sudah mengalami recovery mendekati kondisi normal.
6.4.4 Mata
Menurut Ferguson (1989), mata ikan terdiri dari beberapa lapisan yaitu retina, choroidal, dan iris. Hasil pengamatan histopatologi terhadap bagian-bagian tersebut disajikan dalam Tabel 6 berikut :
A E C D C B F
Tabel 6. Perubahan patologis mata ikan nila yang diinfeksi S. agalactiae
Perlakuan Perubahan patologis di mata
Ht Hp V N
PO (+) + + + +
P1 - - - -
P2 - - - -
P3 - - - -
Ket : Ht. hipertropi ; V. vakuolisasi ; Ht. hipertropi ; Hp. Hiperplasia ; N. Nekrosis
Berdasarkan Tabel diatas terlihat bahwa pada perlakuan PO (+) ditemukan perubahan patologis berupa hipertropi, hiperplasia, vakuolisasi dan nekrosis. Hipertropi adalah peningkatan volume suatu organ atau jaringan karena pembesaran komponen sel. Hiperplasia adalah peningkatan jumlah sel akan tetapi sel-sel tetap memiliki ukuran yang sama. Meskipun hipertropi dan hiperplasia adalah dua proses yang berbeda, mereka sering terjadi bersama-sama. Menurut Hardi (2011), adanya hipertropi dan hiperplasia pada bagian
choroidal menyebabkan ikan mengalami eksoptalmia (mata menonjol baik lateral maupun bilateral). Hipertropi dan hiperplasia terjadi pada perlakuan PO(+) pada minggu ke-3 dan minggu ke-4, namun tidak ditemukan pada perlakuan P1, P2 dan P3.
Perubahan yang terjadi pada organ mata sebagai akibat serangan bakteri
S. agalactiae umumnya hampir sama dengan perubahan patologikal pada organ otak ginjal dan hati. Perubahan tampak terlihat adanya degenerasi dan nekrosis yang menyebabkan keadaan jaringan memiliki aktivitas rendah dan mati. Kematian sel akibat serangan bakteri
S. agalactiae dapat terjadi cukup cepat melalui perubahan pada inti sel dan sitoplasma secara keseluruhan. Nekrosis ditandai dengan inti tampak lebih gelap dan batasan antar sel tampak tidak jelas.
Gambaran mikroskopis perubahan patologis pada organ hati disajikan selengkapnya pada Gambar 21 berikut :
Gambar 21. Histopatologi mata ikan nila yang diinjeksi S. agalactiae
A. mata normal ; B. hipertropi ; C. vakuolisasi ; D. hiperplasia E. nekrosis. 1 bar = 50 µm
Bakteri S. agalactiae yang berkembang pada organ mata masuk melalui aliran darah dan menghasilkan eksotoksin yang merusak bagian choroidal sehingga terjadi perubahan tersebut. Pada penelitian ini ditemukan pula hemoragi pada perlakuan PO(+), yang menunjukkan bahwa S. agalactiae bersifat septicemia yang mampu menyebarkan faktor virulensinya melalui pembuluh darah dan menuju ke mata. Dari pengamatan makroskopis, gejala kerusakan mata (eksoptalmia) terjadi pada hari ke-4 sampai hari ke-7. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Evans (2006), bahwa kerusakan pada mata ikan nila umumnya terjadi pada hari ke-4 pasca infeksi bakteri S. agalactiae.