• Tidak ada hasil yang ditemukan

K ONFLIK SEMAKIN MEMANAS , PASUKAN INTERNASIONAL TIBA

Versi resmi dari pemerintah yaitu bahwa tanggal 23 Mei kelompok Alfredo menyerang tentara F-FDTL di Fatuahi, di pinggir Dili, yang menewaskan satu orang dan melukai tujuh lainnya.54 Dua orang pengikut setia Alfredo terbunuh, termasuk seorang bernama Kablaki, seorang petisioner yang terlibat dalam penyerangan ke istana pemerintah tanggal 28 April.

Alkatiri tetap berpendapat bahwa Alfredo telah merencanakan aksi penyerangan sebagai bagian dari sebuah kampanye politik, dan ia diperintah oleh orang lain untuk menjatuhkannya. Aksi kekerasan yang lebih banyak akan dapat membantu tujuan tersebut.55 Seorang penasihat militer internasional di Dili yang menganalisa lokasi dimana bentrokan terjadi mengatakan bahwa ia percaya bentrokan tersebut mungkin bukan sebuah serangan yang telah

52 Wawancara Crisis Group, Aderito de Jesus Soares, 12 September 2006.

53 “Divide FRETILIN and Timor-Leste will explode”, UNOTIL Daily Media Review, 22 Mei 2006.

54 “Gunfights in Fatu Ahi: 2 people killed, 8 injured”, Daily Media Review, 24 Mei 2006.

55 “East Timor: Downfall of a prime minister”, rekaman program SBS Dateline program, 30 Agustus 2006.

direncanakan, melainkan sebuah kasus dimana kedua kelompok saling terkejut bertemu kelompok yang lain ada disitu.56 Sebuah film yang diambil oleh crew TV dari Australia yang berada di lokasi bentrokan pada saat itu memperlihatkan bahwa pengikut Alfredo melepaskan tembakan pertama kali, tetapi hal ini tidak harus berarti bahwa mereka memang sengaja menyerang.57

Sebuah koalisi LSM punya penjelasan yang jauh lebih rumit lagi. Menurut analisa mereka, dua kelompok geng telah beroperasi di wilayah tersebut sejak tahun 2000, yang satu dipimpin oleh Alito “Rambo”, yang satu lagi Jacinto “Kulao”. Setelah bulan April 2006, persaingan antar geng berubah menjadi bersifat politis, Rambo berpihak pada lorosae dan Kulao dengan loromonu. Tanggal 22 Mei, sehari sebelum dugaan aksi serangan, konflik pecah antar kedua geng, menewaskan empat orang. Warga setempat memberitahu koalisi LSM bahwa tentara F-FDTL membantu Rambo, jadi kepala desa telah meminta Alfredo untuk melindungi kelompok Kulao. Mereka juga mengatakan polisi dari unit pasukan cadangan telah mendirikan sebuah basis dekat basis Kulao.58 Insiden ini adalah salah satu insiden yang sedang diusut oleh komisi internasional. Dan apapun penyebab insiden tersebut, hasilnya adalah operasi F-FDTL melawan kelompok Alfredo, dimana sebagian besar berhasil pulang ke Aileu dengan selamat.

Insiden tembak menembak ini menimbulkan serangkaian aksi kekerasan baru. Malam itu, di tengah-tengah laporan mengenai polisi yang melakukan desersi dan bergabung dengan para petisi, polisi bersenjata dan warga sipil mulai berkumpul di Tibar, di bagian barat Dili. Pagi tanggal 24 Mei, kelompok ini, bersama dengan para tentara pemberontak, menyerang dari perbukitan di atas markas angkatan bersenjata di Tacitolu, membunuh seorang perwira F-FDTL, Kapten Domingos de Oliveira (Kaikeri), komandan logistik pusat pelatihan angkatan bersenjata Timor Leste di Metinaro.

Sebuah pertanyaan yang penting yaitu bagaimana para penyerang mampu memperoleh cukup persenjataan dan amunisi dan terus melakukan penembakan selama lebih dari empat jam

56 Wawancara Crisis Group di Dili, 12 September 2006.

57 “East Timor: Downfall of a prime minister”, op. cit.

58 Rede Monitorizasaun Direitus Humanus (RMDH),

“Submission to the Independent Special Commission of Inquiry for Timor-Leste on Security & Political Crisis in Timor Leste”, September 2006.

pertempuran sengit. Salah satu dari mereka yang terlibat, yaitu seorang tentara yang dipecat bernama Railos, mengatakan kepada program televisi Australia berjudul “Four Corners” bahwa Rogerio Lobato, dengan sepengetahuan Alkatiri, telah membentuk sebuah tim keamanan rahasia yang dipersenjatai dengan delapanbelas senjata jenis HK-33, untuk membunuh lawan politik FRETILIN. Railos, yang kredibilitasnya patut dipertanyakan, mengatakan bahwa ia bertemu dengan Alkatiri tanggal 8 Mei dan diperintahkan untuk “menghabiskan semua petisioner”.59 Alkatiri mengakui bertemu dengan Railos dan dua orang yang lain beberapa kali selama kongres partai FRETILIN tetapi mengatakan ia meminta mereka untuk melakukan pengamanan, bukan untuk membunuh siapapun.

Tak berapa lama di hari yang sama, rumah Taur Matan Ruak diserang oleh sebuah kelompok dari loromonu, yang terdiri dari para polisi pro-Rogerio Lobato, dibawah kendali wakil komandan polisi Dili, Abilio Mesquita alias “Mausoko”. Bulan Agustus, Mesquita, dari sebuah sel penjara di Dili, menuduh bahwa Xanana Gusmao telah memberi perintah kepadanya untuk melakukan penyerangan. Ia juga mengklaim ikut hadir dalam sebuah pertemuan di rumah Xanana di suatu waktu “sebelum krisis” ketika rencana untuk menjatuhkan Alkatiri dibahas.60 Crisis Group tidak mengetahui jika ada bukti untuk mendukung klaim tersebut.

“Ada perasaan negara ini akan karam”, kata seorang penasihat militer internasional. Ada beberapa versi yang berbeda mengenai apa yang terjadi selanjutnya.

Sebuah sumber mengatakan, Taur Matan Ruak menemui Alkatiri siang itu dan memberikan sebuah ultimatum – apakah kita akan mempersenjatai unit pasukan cadangan, atau anda meminta bantuan pasukan internasional. Menurut sumber ini, Alkatiri setuju bahwa Matan Ruak dapat membagikan senjata ke sebuah kelompok bekas pejuang Falintil termasuk beberapa pengikut Elle Sette (L-7) – yang mana hal ini adalah sebuah langkah luarbiasa mengingat sejarah

59 Liz Jackson, “Claims E Timor’s PM recruited secret security force”, Lateline, 8 Juni 2006, at http://www.abc.net.

au/lateline/content/2006/s1658941.htm. Railos secara tidak meyakinkan mengatakan ia bergabung dengan para penyerang dari Tacitolu untuk membujuk mereka supaya tidak melakukan penyerangan. Ia punya rasa ketidaksenangan dengan F-FDTL karena dipecat tahun 2003, dan dia dari barat. Ia punya lebih banyak alasan untuk bergabung dengan para petisi daripada memerangi mereka, bahkan jika ia menerima senjata dari Rogerio.

60 “Declaration from Abilio Mausoko”, Comarca Becora, 20 Agustus 2006 (terjemahan bahasa Inggris dari bahasa Tetum).

pemberontakan Elle Sette terhadap otoritas FALINTIL. Baik Taur Matan Ruak maupun Alkatiri menyangkal bahwa Alkatiri pernah terlibat dalam memutuskan hal itu. Tetapi dengan atau tanpa ijin darinya, angkatan bersenjata telah membagi-bagikan sebanyak 200 dari 1,000 senjata yang telah ditransfer dari Metinaro ke Baucau kepada “pasukan cadangan”.

Berbeda dengan pembagian senjata yang dilakukan secara rahasia dan ilegal oleh polisi ke warga sipil, pembagian senjata oleh angkatan bersenjata relatif lebih tertib dan terdokumentasi dengan baik, membuat senjata tersebut lebih mudah diperoleh kembali setelah pasukan internasional tiba.61

Bagaimanapun juga, pemerintah memutuskan untuk meminta bantuan, dan sebuah permohonan bantuan resmi – yang ditandatangani oleh Alkatiri dengan berat hati – dikirim ke Australia, Portugal, Malaysia dan Selandia Baru.

Pengaruh langsung dari aksi penyerangan ke markas F-FDTL yaitu memperuncing permusuhan antara tentara dan polisi, yang membawa kepada malapetaka tanggal 25 Mei. Pagi itu, sekelompok tentara F-FDTL, bersama dengan beberapa polisi dari sebuah unit yang berbasis di Baucau (bagian timur Timor Leste) melucuti senjata tiga orang polisi di Comoro, sebuah wilayah yang sangat rawan di Dili. Tentara F-FDTL saling tembak menembak dengan sebuah patroli kepolisian bermobil. Tak berapa lama pagi itu, para pemuda bergabung dengan beberapa tentara F-FDTL membakar sebuah rumah milik saudara dari Rogerio Lobato. Rumah tersebut terbakar habis bersama dengan seorang ibu dan empat orang anak didalamnya; semuanya tewas. Kemudian rumah Ismail Babo, komandan polisi yang terlibat dalam peristiwa Gleno, yang menurut beberapa orang terlibat dalam penyerangan terhadap markas angkatan bersenjata, juga dibakar.

Tak lama kemudian, sekitar jam 11 pagi, tentara F-FDTL menyerang markas kepolisian. Penasihat militer PBB datang ke lokasi kejadian dan lewat Taur Matan Ruak, menegosiasikan apa yang mereka pikir adalah sebuah penyelesaian damai terhadap masalah ini, yaitu: tentara F-FDTL akan membiarkan polisi di dalam untuk pergi, tanpa senjata, dan mereka akan dikawal ke kantor UNOTIL oleh polisi PBB. Tetapi tak seorangpun melucuti senjata personil F-FDTL yang berada di luar markas polisi, dan ketika 85 anggota polisi mulai meninggalkan gedung dan berjalan menuju kantor UNOTIL, para tentara mulai melepaskan tembakan. Sembilan anggota polisi langsung tewas tertembak, satu meninggal beberapa

61 Crisis Group interview, Dili, 12 September 2006.

saat kemudian, dan sekitar 30 orang terluka. Komisi penyelidikan ditugaskan untuk memutuskan siapa yang bertanggung jawab.

Pada saat pertempuran berlangsung di seantero kota dan polisi tidak terlihat dimanapun, 100 orang tentara dari total 1,300 tentara Australia telah mendarat di Dili. Xanana mengumumkan ia mengambil alih kendali keamanan – berdasarkan landasan konstitusional yang kurang jelas: Alkatiri mempertanyakan legalitas dari tindakan Xanana tetapi mengatakan ia akan bekerja sama. Kemudian Xanana memerintahkan Alkatiri untuk memecat Rogerio Lobato dan Menteri Pertahanan Roque Rodrigues. Malaysia, Portugal dan Selandia Baru juga mengirimkan pasukannya yang jika seluruhnya digabungkan jumlahnya mencapai 2,250 tentara.62 PBB dan sejumlah kedutaan dengan susah payah berusaha mengevakuasi para pegawainya yang non-essential staff bersamaan dengan meletusnya tembak menembak antara polisi dan militer, dan kelompok geng yang sebagian besar loromonu, bersenjatakan parang dan ”panah ambon”

(yaitu semacam ketapel, bukan memakai batu sebagai bahan lontaran tetapi besi yang ujungnya diruncingkan, sangat mematikan), menyerang warga lorosae.63 Di New York, Kofi Annan mengumumkan bahwa Ian Martin, yang mengawasi jajak pendapat kemerdekaan tahun 1999 sebagai kepala Misi PBB di Timor Timur (UNAMET), sedang kembali ke Timor Leste sebagai utusan khususnya.

Seorang tamu yang malam itu bertemu dengan Alkatiri dan Menteri Pertahanan Roque Rodrigues mengatakan mereka, seperti yang lain, kelihatan lumpuh: “Mereka seperti anak-anak penderita autistik, duduk di tempat gelap, dengan badan membungkuk ke depan, tangannya memeluk lutut mereka, tubuhnya mengayun ke depan dan belakang”.64 Seantero kota, katanya, dicekam ketakutan yang luar biasa.

Pertempuran terus berlangsung di jalan-jalan, dan warga Dili mencari perlindungan di kompleks-kompleks gereja, kantor-kantor LSM dan berusaha menyelamatkan diri bersama dengan teman dan saudara ke luar kota Dili. PBB memperkirakan bahwa lebih dari 120,000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak April, dan jumlah tersebut terus

62 Pemerintah Australia, awas terhadap ketegangan politik internal, bersikeras bahwa Xanana, Alkatiri dan Ramos Horta secara resmi menyetujui pengiriman pasukan.

63 Dipakai di konflik komunal di Ambon (1999-2001), panah Ambon adalah ketapel dengan paku sepanjang 5 inci sebagai anak panahnya dan di beberapa kasus kabel telepon sebagai panahnya.

64 Wawancara Crisis Group, Dili, 12 September 2006.

bertambah.65 Tanggal 30 Mei, sejumlah preman menjarah kantor jaksa agung, memporak porandakan file-file dan mencuri perlengkapan kantor dan kertas-kertas. Laporan media memusatkan perhatian pada kenyataan bahwa diantara data yang hilang adalah file-file dari Unit Kejahatan Serius mengenai orang-orang yang didakwa terlibat dalam kekerasan 1999, termasuk mantan panglima TNI Wiranto. Tetapi, tidak ada alasan untuk percaya bahwa para preman tersebut memilih-milih apa yang mereka hancurkan atau mereka jarah, dan isyu bahwa Indonesia terlibat tak berdasar.

Dengan kehadiran pasukan internasional, perhatian pun berpindah kepada pertarungan politik: apakah Alkatiri akan tetap memegang jabatannya atau pergi?

V. PERTARUNGAN POLITIK

Bulan Juni kita melihat perang kemauan politik yang berlarut-larut antara Xanana Gusmao dan Mari Alkatiri, dan meskipun diakhiri dengan pengunduran diri Alkatiri tanggal 27 Juni, dalam beberapa hal, dua-duanya telah kalah.

Tanggal 3 Juni, Jose Ramos Horta dan Alcino Baris dilantik sebagai menteri pertahanan dan menteri dalam negeri (Ramos Horta juga tetap menjabat sebagai menteri luar negeri untuk sementara). Namun keesokan harinya, dalam sebuah sikap menantang, Komite Sentral FRETILIN memilih Rogerio Lobato, yang baru saja dipecat, sebagai wakil presiden partai.

Dalam pelantikan tersebut, FRETILIN mengeluarkan sebuah pernyataan yang memuji “para pemimpin FRETILIN atas perbuatan gagah berani dimana FRETILIN telah mempertahankan nilai-nilai demokratis dan UUD Republik Timor Leste”, menegaskan kembali “dukungan total FRETILIN terhadap pemerintah yang dipimpin oleh Saudara Sekretaris Jenderal Mari Alkatiri” dan memberi selamat kepada partai mereka sendiri atas

“kedewasaan sebagian besar rakyat, terutama para milisi FRETILIN, dalam bereaksi terhadap situasi keseluruhan”.66

Tanggal 6 Juni, dalam sebuah demonstrasi yang diorganisir oleh Mayor Tara, sekitar 1,500 orang melakukan pawai ke arah kota melewati Palacio do Governo dan menyerukan Alkatiri untuk turun.

Mereka kemudian bergerak ke kantor Xanana, dimana Mayor Tara bertemu dengan presiden, dan kemudian presiden berpidato kepada massa. Perdana Menteri

65“East Timor: Allies deploying peacekeepers after new outbreak of violence”, Lusa, 24 Mei 2006.

66 Declaration, Frente Revolucionária Do Timor-Leste Independente Comité Central Da FRETILIN, 4 Juni 2006.

Alkatiri menuduh bahwa semua gerakan yang melawannya dikipasi oleh pihak yang sama yang telah memicu kerusuhan bulan Desember 2002 yang berakhir dengan pembakaran rumahnya.67 Ia sangat mendukung sebuah komisi penyelidikan internasional untuk mengusut kejadian bulan April dan Mei, begitu juga dengan seluruh anggota pemerintah. Dan tangggal 8 Juni, Timor Leste secara resmi mengajukan permohonan kepada PBB untuk membentuk sebuah komisi.

Mayor Alfredo, dari basisnya di Maubisse, terus menyerukan untuk diadakan dialog, memberi isyarat kesediaan untuk bekerja sama dengan pasukan internasional dan mendesak dukungan bagi Xanana Gusmao – tetapi mengatakan ia tak akan menyerahkan senjatanya sampai Alkatiri mengundurkan diri. Tetapi setelah melakukan perundingan-perundingan dengan pasukan internasional, kelompok-kelompok yang berhubungan dengannya dan Mayor Tara mulai menyerahkan senjata mereka.

Tanggal 19 Juni, Ramos Horta menyampaikan sebuah pesan dari presiden ke Railos dan orang-orangnya bahwa mereka sebaiknya menyerahkan senjata mereka. Kelompok tersebut membuat sebuah pernyataan publik, mengatakan kembali apa yang telah dikatakan Railos dalam berita TV “Four Corner”, yaitu bahwa mereka diberi senjata atas perintah dari Alkatiri dan Lobato, dan bersedia menyerahkan senjata mereka jika Alkatiri ditangkap.68 Jaksa Agung Timor Leste mengeluarkan sebuah surat perintah penangkapan terhadap Rogerio hari berikutnya, dengan menyebutkan Rogerio telah membagi-bagikan senjata kepada kelompok Railos sebagai sebuah upaya untuk “merubah ketertiban publik dan aturan hukum demokratis”.69 Xanana mengikuti langkah ini dengan sebuah surat kepada Alkatiri menuntutnya untuk mengundurkan diri atau menghadapi pemecatan atas tuduhan keterlibatan dalam kasus pembagian senjata.70

Dokumen terkait