• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Kabupaten Bangkalan

Pertumbuhan Ekonomi Bangkalan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, peningkatan tersebut bisa dilihat dari perkembangan PDRB Bangkalan sebagai tolok ukur pertumbuhan ekonomi. PDRB Kabupaten Bangkalan pada tahun 1998 hanya sebesar Rp. 2,255 Milliar meningkat menjadi 3,830 Milliar pada tahun 2014. Peningkatan angka PDRB tersebut diikuti oleh peningkatan pendapatan per kapita masyarakat Bangkalan. Pada 1998 Pendapatan per kapita masyarakat sebesar 2.9 Juta, meningkat menjadi 3.1 juta pada 2005 dan 4 juta pada tahun 2014 (lihat Tabel 3).

Tabel 3. PDRB dan Pendapatan Per Kapita Kabupaten Bangkalan

No Tahun Per Kapita (juta) PDRB (Milliar)

1 1998 2.9 2,255

2 2000 2.9 2,300

3 2005 3.1 2,799

4 2010 3.9 3,502

5 2014 4.0 3,830

Sumber : BPS Bangkalan 2015 (diolah)

Pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan peningkatan pendapatan per kapita masyarakat akan menyebabkan terjadinya transformasi struktural. Transformasi struktural bisa dilihat dari kontribusi masing-masing sektor ekonomi dalam pembentukan PDRB dan serapan tenaga kerja. Kontribusi sektoral dapat digunakan untuk melihat leading sector sebuah perekonomian, sehingga dapat dilihat sebuah perekonomian telah mengalami transformasi struktural atau tidak.

Tabel 4 menunjukkan bahwa selama tahun pengamatan 1998-2014, sektor pertanian (primer) bukan merupakan leading sector dalam pembentukan PDRB Kabupaten Bangkalan, bahkan kontribusi sektor pertanian terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada 1998 sektor pertanian menyumbang 44.12 persen sedangkan pada tahun 2009 sektor pertanian hanya menyumbang 31.78 persen, kontribusi sektor pertanian terus mengalami penurunan hingga pada tahun 2014 hanya menyumbang 19.59 persen terhadap pembentukan PDRB.

Sementara itu, selama kurun waktu 1998-2009 sektor jasa menjadi sektor yang paling dominan dalam pembentukan PDRB Kabupaten Bangkalan, tercatat pada tahun 1998 sektor jasa menyumbang 50.73 persen dan pada tahun 2009 meningkat menjadi 54.58 persen. Sektor industri menjadi sektor yang paling kecil kontribusinya dalam pembentukan PDRB selama kurun waktu 1998-2009. Pada tahun 1998 sektor industri hanya menyumbang 5.14 persen dan pada 2009 sektor industri hanya menyumbang 13.65 persen. Pada akhir tahun analisis, sektor indutri menjadi leading sector dengan kontribusi sebesar 51.19 persen.

Arah transformasi struktural di Bangkalan menuju sektor industri sebagai sektor utama dalam pembentukan PDRB. Hal ini tidak lepas dari meningkatnya penerimaan dari sub sektor penggalian, pertambangan dan migas setelah explorasi migas di Bangkalan. Sementara itu, kontribusi sektor jasa masih relatif besar

walaupun perannya sebagai leading sector sudah digeser oleh sektor industri. Sub sektor perdagangan besar, hotel, keuangan dan jasa-jasa merupakan sub sektor jasa yang berperan dominan dalam besarnya kontribusi sektor jasa. Tahun 1998- 2009 arah transformasi struktural Bangkalan adalah J-I-P (Jasa–Industri- pertanian), keadaaan tersebut berubah dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi sektor industri menjadi I-J-P (industri-jasa-pertanian).

Tabel 4. Kontribusi Sektoral Kabupaten Bangkalan (Persen)

No Tahun Pertanian Industri Jasa

PDRB TK PDRB TK PDRB TK 1 1998 44.12 66.17 5.14 9.43 50.73 24.39 2 1999 45.21 60.68 5.20 11.45 49.60 27.88 3 2000 44.69 67.62 5.11 9.41 50.20 22.97 4 2001 41.07 62.72 10.16 8.98 48.76 28.30 5 2002 39.80 65.06 10.25 7.82 49.94 27.12 6 2003 38.17 67.19 10.70 6.76 51.13 26.05 7 2004 37.00 60.80 11.01 8.61 51.99 30.59 8 2005 34.66 60.25 11.68 10.15 53.66 29.60 9 2006 33.78 60.38 12.07 11.53 54.15 28.09 10 2007 31.28 77.09 14.47 8.72 54.25 14.19 11 2008 31.77 56.15 13.90 12.39 54.32 31.46 12 2009 31.78 57.11 13.65 22.13 54.58 20.76 13 2010 18.82 63.56 56.63 8.60 24.56 27.83 14 2011 18.76 56.51 55.78 23.43 25.45 20.06 15 2012 19.51 64.35 52.76 9.73 27.73 25.92 16 2013 20.43 68.88 49.88 9.19 29.69 21.93 17 2014 19.59 60.60 51.19 9.97 29.22 29.43

Sumber: BPS Bangkalan 2015 (diolah)

Tabel 4 juga menunjukkan bahwa selama tahun analisis 1998-2014 sektor pertanian masih menjadi sektor dengan serapan tenaga kerja terbesar di Kabupaten Bangkalan. Selama kurun waktu analisis kapasitas sektor pertanian dalam menampung tenaga kerja naik turun. Pada tahun 1998 sektor pertanian menampung 66.17 persen dari total tenaga kerja. Pada tahun 2007 bahkan sektor pertanian menampung hingga 77.09 persen dan pada 2014 sektor pertanian hanya menampung tenaga kerja 60.60 persen. Selama tahun analisis 1998-2014, sektor pertanian rata-rata menampung tenaga kerja sebesar 63.24 persen.

Sektor industri menjadi sektor dengan serapan tenaga kerja paling kecil dibandingkan dengan sektor ekonomi yang lain. Pada tahun 1998 sektor industri hanya menyerap tenaga kerja sebesar 9.43 persen. Serapan terbesar sektor industri terjadi pada tahun 2011 sebesar 23.43 persen namun akhir tahun analisis turun kembali menjadi 9.97 persen. Selama periode analisis 1998-2014, sektor industri rata-rata menyerap tenaga kerja sebesar 11.08 persen.

Sementara itu, sektor jasa menjadi sektor tertinggi kedua setelah sektor pertanian dalam kontribusinya menyerap tenaga kerja. Meskipun perkembangannya naik-turun namun secara kesluruhan, daya serap sektor jasa terhadap tenaga kerja semakin meningkat. Pada tahun 1998, sektor jasa hanya menyerap tenaga kerja sebesar 24.39 persen. Serapan terbesar sektor jasa terhadap

tenaga kerja terjadi pada tahun 2008 mencapai 31.46 persen. Pada akhir tahun analisis, sektor jasa hanya menyerap 29.43 persen. Rata-rata sektor jasa menyerap tenaga kerja sebesar 25.68 persen.

Tabel 4 menunjukkan bahwa perekonomian Kabupaten Bangkalan telah mengalami transformasi struktur produksi dimana sektor pertanian sudah tergeser peranannya dalam pembentukan PDRB, bahkan pada akhir tahun analisis sektor pertanian menjadi sektor yang paling kecil kontribusinya dalam pembentukan PDRB. Terjadinya transformasi struktur produksi, terlihat dengan jelas pada Gambar 5. Dimana kontribusi sektor pertanian terus mengalami penurunan hingga pada tahun 2014 menjadi sektor dengan kontribusi terkecil dalam pembentukan PDRB Kabupaten Bangkalan.

Gambar 5. PDRB Sektoral Kabupaten Bangkalan

Sementara itu, kontribusi sektoral terhadap serapan tenaga kerja pada Tabel 4 menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor utama serapan tenaga di Kabupaten Bangkalan. Selama periode analisis 1998-2014, rata-rata sektor pertanian menyerap tenaga kerja hingga 63.24 persen. Data-data tersebut menunjukkan bahwa belum terjadi transformasi struktur tenaga kerja di Kabupaten Bangkalan, dengan tenaga kerja lebih banyak terkonsentrasi pada sektor pertanian. Sektor industri dan jasa masih belum bisa menyerap surplus tenaga kaerja di sektor pertanian.

Data pada Tabel 4, Gambar 5 dan Gambar 6 menunjukkan bahwa terjadi unbalanced transformastion pada perekonomian Bangkalan, dimana transformasi struktur produksi tidak diimbangi oleh transformasi struktur tenaga kerja. Sebagai contoh, pada tahun 2013 sektor pertanian menyerap tenaga kerja sebesar 68.88 persen, sektor industri sebesar 9.19 persen dan sektor jasa sebesar 21.93 persen, sedangkan pangsa relatif sektor pertanian, industri dan jasa terhadap pembentukan PDRB masing-masing 20.43 persen, 49.88 persen dan 29.69 persen. Temuan ini membuktikan hipotesis Arthur Lewis yang menyatakan bahwa pada perekonomian negara berkembang sektor pertanian mengalami surplus tenaga kerja dan memiliki produktivitas yang rendah (marginal produktivity tenaga kerja sama dengan 0). Produktivitas sektoral yang rendah dibuktikan dengan serapan tenaga kerja paling besar namun kontribusi sektoralnya terhadap pembentukan PDRB paling kecil. 0 10 20 30 40 50 60 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 Pers e n ta se Pertanian Industri Jasa

Gambar 6 Tenaga Kerja Sektoral Bangkalan 2. Kabupaten Sampang

Pertumbuhan Ekonomi Sampang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, peningkatan tersebut bisa dilihat dari perkembangan PDRB Sampang sebagai tolok ukur pertumbuhan ekonomi. PDRB Kabupaten Sampang pada tahun 1998 hanya sebesar Rp. 1,830 Milliar meningkat menjadi 3,359 Milliar pada tahun 2014. Peningkatan angka PDRB tersebut diikuti oleh peningkatan pendapatan per kapita masyarakat Sampang. Pada 1998 Pendapatan per kapita masyarakat sebesar 2.4 Juta, meningkat menjadi 2.6 juta pada 2005 dan 3.6 juta pada tahun 2014 (perhatikan Tabel 5).

Pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan peningkatan pendapatan per kapita masyarakat akan menyebabkan terjadinya transformasi struktural. Transformasi struktural bisa dilihat dari kontribusi masing-masing sektor ekonomi dalam pembentukan PDRB dan serapan tenaga kerja. Kontribusi sektoral dapat digunakan untuk melihat leading sector sebuah perekonomian, sehingga dapat dilihat sebuah perekonomian telah mengalami transformasi struktural atau tidak.

Tabel 5 PDRB dan Pendapatan Per Kapita Kabupaten Sampang

No Tahun Per Kapita (juta) PDRB (Milliar)

1 1998 2.4 1,830

2 2000 2.5 1,888

3 2005 2.6 2,211

4 2010 3.3 2,907

5 2014 3.6 3,359

Sumber : BPS Sampang 2015 (diolah)

Kondisi struktur Produksi Kabupaten Sampang sedikit berbeda dengan Kabupaten Bangkalan. Selama periode tahun 1998-2008 sektor pertanian menjadi sektor utama dalam pembentukan PDRB, tercatat pada tahun 1998 sektor pertanian menyumbang 53.68 persen sementara pada tahun 2008 pangsa sektor pertanian menurun menjadi 42.13 persen. Namun, meskipun demikian pada tahun tersebut sektor pertanian masih menjadi sektor dengan kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB Kabupaten Sampang. Itu artinya, pada tahun 2008 perekonomian Kabupaten Sampang belum mengalami transformasi struktur produksi. 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 P er sen tase Pertanian Industri Jasa

Pada tahun 2009, perekonomian Kabupaten Sampang mengalami transformasi struktur produksi dengan bergesernya leading sector perekonomian ke sektor jasa. Sektor jasa berkontribusi sebesar 42.84 persen sementara sektor pertanian menyumbang 41.06 persen. Sementara itu pada akhir tahun analisis kontribusi sektor-sektor ekonomi cukup berimbang dengan sektor industri menjadi sektor utama dengan 38.76 persen diikuti sektor jasa sebesar 29.69 persen dan sektor pertanian dengan kontribusi paling kecil yakni sebesar 31.22 persen.

Arah transformasi struktural di Sampang menuju sektor industri sebagai sektor utama dalam pembentukan PDRB. Hal ini tidak lepas dari meningkatnya penerimaan dari sub sektor industri seperti industri pengolahan, listrik, gas dan air minum. Sementara itu, kontribusi terbesar sektor jasa disumbangkan oleh sub sektor perdagangan besar, hotel, keuangan dan jasa-jasa. Arah transformasi struktural Sampang adalah I-J-P (industri – jasa - pertanian).

Tabel 6 Kontribusi Sektoral Kabupaten Sampang

No Tahun Pertanian Industri Jasa

PDRB TK PDRB TK PDRB TK 1 1998 53.68 77.88 3.82 6.47 42.51 15.66 2 1999 54.65 77.50 3.54 4.73 41.81 17.77 3 2000 54.16 81.93 3.54 3.19 42.30 14.88 4 2001 53.60 83.80 15.32 1.68 31.07 14.53 5 2002 53.26 77.93 15.05 6.32 31.69 15.75 6 2003 52.69 83.95 14.49 2.39 32.82 13.66 7 2004 52.88 82.04 13.88 3.00 33.24 14.96 8 2005 49.55 74.34 14.36 3.76 36.09 21.90 9 2006 49.35 67.68 14.18 12.54 36.47 19.78 10 2007 43.35 78.64 16.08 12.32 40.57 9.04 11 2008 42.13 76.27 16.24 8.82 41.63 14.91 12 2009 41.06 72.45 16.10 15.75 42.84 11.80 13 2010 31.22 71.61 40.63 8.50 28.16 19.89 14 2011 31.55 61.10 38.76 24.85 29.69 14.05 15 2012 31.18 64.34 38.50 18.64 30.33 17.02 16 2013 29.61 62.18 39.35 16.28 31.04 21.53 17 2014 30.60 56.67 36.21 20.38 33.19 22.96

Sumber: BPS Kabupaten Sampang 2015 (diolah)

Tabel 6 menunjukkan bahwa selama tahun analisis 1998-2014 sektor pertanian masih menjadi sektor dengan serapan tenaga kerja terbesar di Kabaupaten Sampang. Selama kurun waktu analisis kapasitas sektor pertanian dalam menampung tenaga kerja naik turun. Pada tahun 1998 sektor pertanian menampung 77.88 persen dari total tenaga kerja. Pada tahun 2003 bahkan sektor pertanian menampung hingga 83.95 persen dan pada 2014 sektor pertanian hanya menampung tenaga kerja 56.67 persen. Selama tahun analisis 1998-2014, sektor pertanian rata-rata menampung tenaga kerja sebesar 73.55 persen.

Sektor industri menjadi sektor dengan serapan tenaga kerja paling kecil dibandingkan dengan sektor ekonomi yang lain selama periode 1998-2006. Pada tahun 1998 sektor industri hanya menyerap tenaga kerja sebesar 6.47 persen.

Serapan terbesar sektor industri terjadi pada tahun 2011 sebesar 24.85 persen namun pada akhir tahun analisis turun kembali menjadi 20.38 persen meskipun memiliki tren peningkatan dari 2 tahun sebelumnya. Selama periode analisis 1998-2014, sektor industri rata-rata menyerap tenaga kerja sebesar 9.98 persen. Sementara itu, sektor jasa menjadi sektor tertinggi kedua setelah sektor pertanian dalam kontribusinya menyerap tenaga kerja. Perkembangan kontribusi sektor jasa dalam menyerap tenaga kerja sangat fluktuatif. Pada tahun 1998, sektor jasa hanya menyerap tenaga kerja sebesar 15.66 persen. Pada akhir tahun analisis, sektor jasa menyerap tenaga kerja sebesar 22.96 persen, angka tersebut merupakan angka terbesar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Rata-rata sektor jasa menyerap tenaga kerja sebesar 16.48 persen.

Gambar 7. PDRB Sektoral Kabupaten Sampang

Keadaan kontribusi sektoral terhadap serapan tenaga kerja seperti yang tergambar pada Tabel 6 menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor utama serapan tenaga di Kabupaten Sampang. Selama periode analisis 1998-2014, rata-rata sektor pertanian menyerap tenaga kerja hingga 73.55 persen. Data-data tersebut menunjukkan bahwa belum terjadi transformasi struktur tenaga kerja di Kabupaten Sampang, dengan tenaga kerja lebih banyak terkonsentrasi pada sektor pertanian. Sektor industri dan jasa masih belum bisa menyerap surplus tenaga kerja di sektor pertanian.

Tabel 6 menunjukkan bahwa perekonomian Kabupaten Sampang telah mengalami transformasi struktur produksi dimana sektor pertanian sudah tergeser peranannya dalam pembentukan PDRB, bahkan pada akhir tahun analisis sektor pertanian menjadi sektor yang paling kecil kontribusinya dalam pembentukan PDRB. Terjadinya transformasi struktur produksi, terlihat dengan jelas pada Gambar 6. Dimana kontribusi sektor pertanian terus mengalami penurunan hingga pada tahun 2014 menjadi sektor dengan kontribusi terkecil dalam pembentukan PDRB Kabupaten Sampang.

Kontribusi sektoral terhadap serapan tenaga kerja seperti yang terlihat pada Tabel 6 menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor utama serapan tenaga di Kabupaten Sampang. Selama periode analisis 1998-2014, rata-rata sektor pertanian menyerap tenaga kerja hingga 73.55 persen. Data-data tersebut menunjukkan bahwa belum terjadi transformasi struktur tenaga kerja di Kabupaten Sampang, dengan tenaga kerja lebih banyak terkonsentrasi pada sektor pertanian. Sektor industri dan jasa masih belum bisa menyerap surplus tenaga kerja di sektor pertanian.

0 10 20 30 40 50 60 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 P er sen tase Pertanian Industri Jasa

Data pada Tabel 6, Gambar 7 dan Gambar 8 menunjukkan bahwa terjadi unbalanced transformastion pada perekonomian Sampang, dimana transformasi struktur produksi tidak diikuti oleh transformasi struktur tenaga kerja. Sebagai contoh, pada tahun 2014 sektor pertanian menyerap tenaga kerja sebesar 56.67 persen, sektor industri sebesar 20.38 persen dan sektor jasa sebesar 22.96 persen, sedangkan pangsa relatif sektor pertanian, industri dan jasa terhadap pembentukan PDRB masing-masing 30.60 persen, 36.21 persen dan 33.19 persen. Temuan ini sesuai dengan hipotesis Arthur Lewis yang menyatakan bahwa sektor pertanian mengalami surplus tenaga kerja dan memiliki produktivitas yang rendah (marginal produktivity tenaga kerja sama dengan 0). Produktivitas sektoral yang rendah dibuktikan dengan serapan tenaga kerja paling besar namun kontribusi sektoralnya terhadap pembentukan PDRB paling kecil.

Gambar 8 Tenaga Kerja Sektoral Kabupaten Sampang 3. Kabupaten Pamekasan

Pertumbuhan Ekonomi Pamekasan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, peningkatan tersebut bisa dilihat dari perkembangan PDRB Pamekasan sebagai tolok ukur pertumbuhan ekonomi. PDRB Kabupaten Pamekasan pada tahun 1998 hanya sebesar Rp. 1,395 Milliar meningkat menjadi 2,644 Milliar pada tahun 2014. Peningkatan angka PDRB tersebut diikuti oleh peningkatan pendapatan per kapita masyarakat Pamekasan. Pada 1998 Pendapatan per kapita masyarakat sebesar 2 Juta, meningkat menjadi 2.1 juta pada 2005 dan 3.2 juta pada tahun 2014 (lihat Tabel 7).

Tabel 7. PDRB dan Pendapatan Per Kapita Kabupaten Pamekasan

No Tahun Per Kapita (juta) PDRB (Milliar)

1 1998 2.0 1,395

2 2000 2.1 1,429

3 2005 2.1 1,686

4 2010 2.7 2,172

5 2014 3.2 2,644

Sumber : BPS Pamekasan 2015 (diolah)

Pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan peningkatan pendapatan per kapita masyarakat akan menyebabkan terjadinya transformasi struktural. Transformasi struktural bisa dilihat dari kontribusi masing-masing sektor ekonomi dalam pembentukan PDRB dan serapan tenaga kerja. Kontribusi

0 20 40 60 80 100 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 P er sen tase Pertanian Industri Jasa

sektoral dapat digunakan untuk melihat leading sector sebuah perekonomian, sehingga dapat dilihat sebuah perekonomian telah mengalami transformasi struktural atau tidak.

Struktur produksi Kabupaten Pamekasan sangat fluktuatif. Pada tahun 1998 sektor pertanian hanya menyumbang 33.03 persen naik menjadi 57.48 pada tahun 2001 dan kembali turun pada tahun 2014 menjadi 33.03 persen. Sektor jasa menjadi sektor dengan kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB pada tahun 1998-2000, namun tahun berikutnya kontribusi sektor jasa hanya sebesar 34.80 persen. Pada tahun 2014, sektor jasa kembali menjadi sektor utama dengan kontribusi sebesar 46.88 persen. Sementara itu, sektor industri menjadi sektor dengan perkembangan paling stabil, pada tahun 1998 sektor industri hanya menyumbang 5.34 persen, meningkat 10.89 persen pada tahun 2008 dan meningkat kembali menjadi 20.09 persen. Secara lengkap, perkembangan kontribusi sektoral Kabupaten Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 8.

Arah transformasi struktural Kabupaten Pamekasan menuju sektor jasa sebagai sektor utama dalam pembentukan PDRB. Hal ini tidak lepas dari meningkatnya penerimaan dari sub sektor jasa seperti perdagangan besar, perhotelan, keuangan dan jasa-jasa. Arah transformasi struktural Pamekasan adalah J-P-I (jasa – pertanian - industri).

Tabel 8. Kontribusi Sektoral Kabupaten Pamekasan

No Tahun Pertanian Industri Jasa

PDRB TK PDRB TK PDRB TK 1 1998 33.03 72.73 5.34 7.04 61.62 20.22 2 1999 33.61 68.52 5.42 8.57 60.97 22.91 3 2000 33.11 62.83 5.67 10.1 61.21 27.08 4 2001 57.48 58.06 7.72 11.56 34.80 30.38 5 2002 57.16 72.46 7.78 5.8 35.06 21.74 6 2003 57.14 77.17 7.68 5.42 35.18 17.41 7 2004 56.54 75.36 7.64 3.84 35.82 20.8 8 2005 54.90 77.83 7.75 3.19 37.35 18.97 9 2006 54.90 76.89 7.60 6.72 37.50 16.39 10 2007 46.70 75.95 10.97 12.37 42.33 11.68 11 2008 45.56 68.83 10.89 10.21 43.55 20.96 12 2009 45.06 64.77 10.65 18.28 44.29 16.95 13 2010 34.34 66.21 20.32 11.06 45.34 22.73 14 2011 34.26 75.5 20.22 12.44 45.53 12.06 15 2012 34.03 75.71 19.94 3.25 46.03 21.05 16 2013 33.30 75.93 20.01 5.43 46.70 18.65 17 2014 33.03 65.54 20.09 8.37 46.88 26.09

Sumber: BPS Pamekasan 2015 (diolah)

Berdasarkan Tabel 8, keadaan tenaga kerja di Kabupaten Pamekasan hampir sama dengan kondisi tenaga kerja di Bangkalan dan Sampang. Selama tahun analisis 1998-2014 sektor pertanian masih menjadi sektor dengan serapan tenaga kerja terbesar. Kemampuan sektor pertanian menampung tenaga kerja naik-turun.

Pada tahun 1998 sektor pertanian menampung 72.73 persen. Pada tahun 2005 bahkan sektor pertanian menampung hingga 77.83 persen dan pada 2014 sektor pertanian hanya menampung tenaga kerja 65.54 persen. Selama tahun analisis 1998-2014, sektor pertanian rata-rata menampung tenaga kerja sebesar 71.19 persen.

Sektor industri menjadi sektor dengan serapan tenaga kerja paling kecil dibandingkan dengan sektor ekonomi yang lain. Pada tahun 1998 sektor industri hanya menyerap tenaga kerja sebesar 7.04 persen. Serapan terbesar sektor industri terjadi pada tahun 2009 mencapai hingga sebesar 12.44 persen, namun pada akhir tahun analisis turun menjadi 8.37 persen. Selama periode analisis 1998-2014, sektor industri rata-rata menyerap tenaga kerja sebesar 8.45 persen. Sementara itu, sektor jasa menjadi sektor tertinggi kedua setelah sektor pertanian dalam kontribusinya menyerap tenaga kerja. Perkembangan kontribusi sektor jasa dalam menyerap tenaga kerja sangat fluktuatif. Pada tahun 1998, sektor jasa hanya menyerap tenaga kerja sebesar 20.22 persen. Pada akhir tahun analisis, sektor jasa menyerap tenaga kerja sebesar 26.09 persen. Selama periode 1998-2014 Rata-rata sektor jasa menyerap tenaga kerja sebesar 20.36 persen.

Meskipun perkembangan kontirbusi sektoral Kabupaten Pamekasan sangat fluktuatif, tetap terjadi transformasi struktur produksi, dimana pada tahun 2014, sektor pertanian hanya menyumbang 33.03 persen dalam pembentukan PDRB, dengan sektor jasa menjadi sektor utama dengan kontribusi sebesar 46.88 persen. Grafik pada Gambar 9 menunjukkan dengan sangat jelas terjadinya transformasi struktur produksi pada perekonomian Kabupeten Pamekasan.

Gambar 9. PDRB Sektoral Kabupaten Pamekasan

Keadaan kontribusi sektoral terhadap serapan tenaga kerja pada Tabel 8 menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor utama serapan tenaga di Kabupaten Sampang. Selama periode analisis 1998-2014, rata-rata sektor pertanian menyerap tenaga kerja hingga 73.55 persen. Data-data tersebut menunjukkan bahwa belum terjadi transformasi struktur tenaga kerja di Kabupaten Sampang, dengan tenaga kerja lebih banyak terkonsentrasi pada sektor pertanian. Sektor industri dan jasa masih belum bisa menyerap surplus tenaga kerja di sektor pertanian.

0 10 20 30 40 50 60 70 1998 2000 2002 2004 2006 2008 2010 2012 2014 P er sen tase Pertanian Industri Jasa

Gambar 10. Tenaga Kerja Sektoral Pamekasan

Data pada Tabel 8, Gambar 9 dan Gambar 10 menunjukkan bahwa terjadi unbalanced transformastion pada perekonomian Pamekasan, dimana transformasi struktur produksi tidak diikuti oleh transformasi struktur tenaga kerja. Sebagai contoh, pada tahun 2014 sektor pertanian menyerap tenaga kerja sebesar 65.54 persen, sektor industri sebesar 8.37 persen dan sektor jasa sebesar 26.09 persen, sedangkan pangsa relatif sektor pertanian, industri dan jasa terhadap pembentukan PDRB masing-masing 33.03 persen, 20.09 persen dan 46.88 persen. Temuan ini sesuai dengan hipotesis Arthur Lewis yang menyatakan bahwa sektor pertanian mengalami surplus tenaga kerja dan memiliki produktivitas yang rendah (marginal produktivity tenaga kerja sama dengan 0). Produktivitas sektoral yang rendah dibuktikan dengan serapan tenaga kerja paling besar namun kontribusi sektoralnya terhadap pembentukan PDRB paling kecil.

Dokumen terkait