Gambar 40. Lima Jenis tangkapan dominan berdasarkan famili di Kabupaten
III.7. KABUPATEN BINTAN III.7.1.HASIL TANGKAPAN
III.7. KABUPATEN BINTAN III.7.1.HASIL TANGKAPAN Total tangkapan Tangkapan ikan nelayan kabupaten Bintan pada tahun 2009 mewakili semua musim (4 musim) yaitu dari bulan Januari sampai Desember. Periode Musim di kabupaten Bintan masih sama seperti tahun‐tahun sebelumnya yaitu musim Utara (November‐Februari), musim Timur (Maret‐Mei), musim Selatan (Juni‐Agustus) dan musim Barat (September‐Oktober). Periode musim Barat di desa Gunung Kijang hanya terjadi selama 2 bulan yaitu September dan Oktober. Sedangkan desa Mapur musim Barat terjadi selama 3 bulan yaitu September sampai November (RPTK, 2008). Nelayan di kabupaten Bintan umumnya melaut di setiap musim meskipun pada musim tertentu yaitu musim Utara angin dan ombak besar. Saat ini hanya sedikit nelayan yang melaut. Kondisi cuaca secara umum 5 desa di kabupaten Bintan disajikan pada tabel 17.
Tabel 17. Kondisi cuaca per musim di Kabupaten Bintan
Desa
Musim
Utara Timur Selatan Barat Angin Ombak Angin Ombak Angin Ombak Angin Ombak
Gunung Kijang
Besar Tinggi Kecil Kecil Sedang Sedang‐ Tinggi
Sedang‐ Besar
Sedang‐ tinggi Kawal Besar Tinggi Kecil Kecil Sedang Sedang‐
Tinggi Sedang‐ Besar Sedang‐ tinggi Teluk Bakau
Besar Tinggi Kecil Kecil Sedang Sedang‐ Tinggi Sedang‐ Besar Kecil‐ besar Malang Rapat
Besar Tinggi Kecil Kecil Sedang Sedang‐ Tinggi
Sedang‐ Besar
Kecil‐ Tinggi Mapur Besar Tinggi Kecil Kecil Kecil‐
sedang Kecil‐ Tinggi Sedang‐ Besar Kecil‐ Tinggi Sumber : Disarikan dari RPTK Desa Gunung Kijang, Kawal, Teluk Bakau, Malang Rapat dan Mapur, 2008
Total tangkapan per bulan nelayan kabupaten Bintan berikisar antara 744,2 kg ‐ 4785 kg (Tabel 18). Total tangkapan ikan tertinggi terjadi pada musim selatan (bulan Juni) yaitu 4785 kg. Musim selatan umumnya musim paling produktif bagi nelayan untuk mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal dibanding musim yang lainnya. Pada musim ini cuaca sangat mendukung bagi nelayan untuk melaut. Pada musim selatan terlihat adanya variasi kondisi cuaca yaitu ombak dan angin dari sedang hingga besar Tabel 18. Total tangkapan per bulan di Kabupaten Bintan tahun 2009 Bulan Tangkapan 3 hari (kg) Jumlah lokasi pendaratan Rerata tangkapan (kg/bulan) Januari 744,2 7 106,31 Februari 2515 7 359,29 Maret 2089 8 261,13 April 2722 8 340,25 Mei 4752 9 528 Juni 4785 9 531,67 Juli 3447 9 383 Agustus 2266 9 251,78 September 2634 8 329,25 Oktober 1205 7 172,14 November 2303 9 255,89 Desember 3959 7 565,57 TOTAL 33421,20 97 340,36 Sumber : Data primer CREEL, 2009 Tangkapan berdasarkan alat tangkap
Alat tangkap yang digunakan nelayan kabupaten Bintan umumnya masih sama dengan tahun‐tahun sebelumnya. Jenis alat tangkap yang digunakan adalah bubu, bubu ketam, jaring , kelong, panah, pancing, speargun, rawai dan tangkul. Diantara jenis‐jenis alat tangkap tersebut terdapat beberapa alat yang memiliki produktivitas tinggi dan hampir digunakan sepanjang musim yaitu, bubu, bubu ketam, jaring, pancing dan rawai.
Alat tangkap jaring, pancing dan rawai memiliki variasi berbeda berdasarkan jenis ikan target yang akan ditangkap. Jaring puput yang hanya digunakan untuk menangkap ikan puput dan jaring todak hanya digunakan untuk menangkap ikan todak. Jaring‐jaring tersebut memiliki perbedaan di ukuran mata jaring dan disesuaikan dengan ukuran ikan target yang akan di tangkap. Untuk alat tangkap pancing dan rawai biasanya dibedakan berdasarkan
ukuran mata pancing. Ukuran mata pancing untuk ikan hiu dan pari biasanya lebih besar jika dibandingkan mata pancing untuk menangkap ikan yang lebih kecil (gambar 46). Gambar 46. Rawai hiu (kiri) dan rawai ikan (kanan) Dari kelima alat tangkap dominan yang digunakan oleh nelayan di kabupaten Bintan, alat tangkap rawai memiliki total tangkapan paling tinggi yaitu 2087 kg , dengan kisaran antara 100,9 kg ‐ 2087 kg. Fluktuasi total tangkapan per musim tidak begitu tinggi, kecuali pada musim utara. Alat tangkap rawai ini umumnya digunakan oleh nelayan di desa Kawal dan Teluk Bakau.
Fluktuasi tangkapan yang sama juga terjadi pada alat tangkap bubu. Tangkapan bubu umumnya rendah kecuali pada musim utara yaitu mencapai 516,6 kg. Alat tangkap bubu banyak digunakan oleh nelayan dari desa Mapur dan Teluk Bakau. Hasil tangkapan menggunakan jaring dan bubu ketam ternyata juga memiliki fluktuasi musiman hampir sama yaitu tangkapan terlihat rendah pada musim utara kemudian mengalami kenaikan pada musim timur yang pada akhirnya mengalami puncak tangkapan tertinggi pada musim selatan. Setelah itu akan kembali mengalami penurunan pada musim barat hingga tangkapan terendah terjadi pada musim utara. Total tangkapan tertinggi dari kedua alat tangkap tersebut diperoleh pada peralihan musim timur menuju musim selatan (Mei‐Juni) sebesar 2121,1 kg untuk jaring dan 1207 kg untuk bubu ketam.
Tangkapan menggunakan pancing memiliki kisaran 47,3 kg‐ 865,5 kg sepanjang tahun 2009. Tangkapan tertinggi alat ini diperoleh pada musim barat dan didominasi oleh nelayan dari desa Mapur dan Teluk Bakau.
III.7.2. JENIS IKAN
Jenis‐jenis tangkapan nelayan kabupaten Bintan umumnya bervariasi mulai dari tangkapan jenis ikan dan non ikan. Tangkapan jenis ikan dikelompokkan lagi menjadi dua yaitu ikan asosiasi dengan karang dan ikan pelagis. Setelah dilakukan identifikasi dikelompokkan berdasarkan famili diperoleh 11 famili dengan lima famili dominan dengan kontribusi tangkapan tertinggi berturut‐ turut adalah Scombridae, Carangidae, Siganidae, Lutjanidae dan Scaridae.
Dari kelima famili dominan, empat diantaranya dikelompokkan kedalam ikan karang, yaitu Carangidae, Siganidae, Lutjanidae dan Scaridae. Total tangkapan famili Carangidae mencapai 3709 kg didominasi oleh jenis ikan selar. Kontribusi ikan selar menyumbang 91,95 % yaitu 3410,7 kg dari total famili Carangidae. Jenis lain yang memberikan kontribusi tinggi terhadap famili Carangidae adalah selar papan dengan total tangkapan 245,3 kg. Kedua jenis ini hampir ditangkap disepanjang musim dan dominan ditangkap oleh nelayan desa Teluk Bakau, Malang Rapat dan Sedikit ditangkap di desa Kawal dan Mapur. Sedangkan jenis lain dari famili ini umumnya total tangkapan <50 kg.
Famili siganidae atau dikenal dengan sebutan Baronang didominasi oleh jenis lambai sebesar 987,4 kg dan lebam sebesar 319, 8 kg, sedangkan kontribusi tangkapan jenis‐jenis yang lain <100 kg. Total tangkapan famili Siganidae mencapai 1597,4 kg. Famili ini umumnya ditangkap sepanjang musim namun tidak setiap bulan dan lebih banyak ditangkap oleh nelayan dari desa Teluk Bakau, Mapur dan sedikit di desa Kawal.
Total Tangkapan famili Lutjanidae (kakap) sebesar 944,8 kg didominasi oleh jenis mentimun (382,4 kg) dan mentanda (272,5 kg). Secara umum famili Lutjanidae melimpah pada musim barat dan utara kecuali mentimun yang ditangkap disepanjang tahun. Famili ini banyak ditangkap oleh nelayan desa Mapur, Gunung Kijang dan sedikit di desa Kawal.
Famili Scaridae didominasi oleh ikan jampung. Ikan jampung memberi kontribusi tangkapan sebesar 704,2 kg dari total famili Scaridae sebesar 753,5 kg atau sekitar 93,45 %. Sedangkan jenis lain selain jampung kontribusinya sangat rendah yaitu <30 kg. Famili ini hampir ditangkap disetiap bulan dan merata di semua desa kecuali desa Gunung Kijang.
Tangkapan ikan karang berdasarkan jenis yang berhasil diidentifikasi dikelompokkan menjadi 63 jenis. Tabel 19 menunjukkan sembilan jenis ikan karang dominan yang ditangkap nelayan kabupaten Bintan.
Tabel 19. Jenis ikan karang dominan di Kabupaten Bintan tahun 2009 Nama Ilmiah Famili Nama Lokal Total (kg)
Decapterus tabl Carangidae Selar 3410,7 Siganus doliatus Siganidae Lambai 978,4 Scarus pyrrhurus Scaridae Jampung 704,2 Paropeneus chrysopleuron Mullidae Pinang‐Pinang 568,1
Caesio lunaris Caesionidae 476,2
Lutjanus decussatus Lutjanidae Mentimun 382,4 Siganus guttatus Siganidae Lebam 319,8 Lethrinus lentjan Lethrinidae Ketambak 300,6 Lutjanus ehrenbergi Lutjanidae Mentanda 272,5
Jenis tangkapan kelompok non ikan karang (jenis‐jenis pelagis) didominasi oleh famili Scombridae. Total tangkapan famili Scombridae mencapai 5995 kg sepanjang tahun 2009. Kontribusi tangkapan terbesar famili ini didominasi oleh ikan selikur (3212,3 kg), tongkol (1064,9 kg) dan kembung (869,2 kg). Anggota famili scombridae umumnya banyak ditangkap di desa Teluk Bakau dan Malang rapat. Hampir setiap bulan sepanjang tahun 2009 jenis‐jenis ikan yang termasuk ke dalam famili Scombridae tertangkap oleh nelayan, namun tangkapan tertinggi diperoleh pada musim utara (November‐ Februari).
Jenis tangkapan non ikan lainnya adalah dari famili portunidae (ketam rajungan), sotong dan pari. Famili portunidae menyumbangkan 77,09 % dari total tangkapan jenis non ikan atau sekitar 6835,75 kg. Kemudian diikuti tangkapan sotong yang menyumbang sekitar 22,55 % atau sebesar 2000,2 kg. Sotong yang ditangkap oleh nelayan terdapat 2 jenis yaitu sotong karang dan sotong batu. Secara morfologi terdapat perbedaan yang tampak pada bagian dorsal tubuh. Pada sotong batu bagian dorsal (punggung) sangat keras menyerupai tempurung kura‐kura. Dari segi nilai ekonomi sotong karang kurang lebih sama dengan sotong batu dengan harga berkisar antara 8000‐13000 sesuai dengan ukuran sotong.
III.7.3. CPUE
CPUE (Tangkapan per unit usaha) digunakan untuk mengetahui produktivitas per alat tangkap untuk setiap musim. Dari hasil penghitungan CPUE akan terlihat flukstuasi nilai CPUE disetiap bulan ataupun musim disepanjang tahun. Sehingga data tersebut bisa digunakan sebagai acuan manajemen penggunaan alat tangkap pada musim yang sama pada tahun‐tahun berikutnya. Dari kelima alat tangkap yang digunakan nelayan di kabupaten Bintan hanya 4 jenis alat tangkap yang memberikan kontribusi signifikan terhadap hasil tangkapan yaitu bubu, jaring, pancing dan rawai. Berikut adalah nilai CPUE untuk masing‐masing alat tangkap pada tahun 2009;
Nilai CPUE tertinggi untuk tiap alat tangkap hampir semuanya diperoleh pada musim utara kecuali CPUE pancing yang tertinggi diperoleh pada musim barat.
Nilai CPUE bubu berkisar antara 3,96‐39,74 kg dengan rata‐rata CPUE senilai 14, 47 kg. Nilai CPUE jaring berkisar antara 13,35‐67,74 dengan rata‐rata CPUE adalah 33,97 kg. Nilai CPUE pancing berkisar antara 5,12‐24,4 kg dengan rata‐rata 9,83 kg. Sedangkan nilai CPUE rawai berkisar antara 7,76‐ 109,84 kg dengan rata‐rata per bulan 35,81 kg.
III.7.4.TREND TAHUN 2008‐2009
Trend Tangkapan
Trend total tangkapan per tahun merupakan perbandingan rata‐rata tangkapan nelayan per bulan pada tahun 2008 dan 2009. Rata‐rata tangkapan/bulan mengalami kenaikan yaitu dari 197, 55 kg pada tahun 2008 naik hingga 344,5 kg pada tahun 2009. Gambar 48. Total tangkapan nelayan perbulan di Kabupaten Bintan tahun 2008 dan 2009.
Lokasi pendaratan ikan di 5 desa kabupaten Bintan tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Meningkatnya rata‐rata tangkapan disebabkan karena meningkatnya jumlah responden pada tahun 2009 yang secara tidak langsung menambah kontribusi terhadap total tangkapan.
Trend CPUE
Nilai CPUE alat tangkap dominan nelayan di kabupaten Bintan tahun 2008 cenderung mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun 2009 (Gambar 49). Nilai CPUE bubu relatif kecil penurunannya dari 15 kg menjadi 13,17 kg. Keadaan ini menunjukkan bahwa produktivitas alat tangkap bubu relatif tidak berubah. Penurunan nilai CPUE yang cukup signifikan terlihat pada alat tangkap jaring dan pancing. Nilai CPUE jaring dan pancing turun sekitar 50 % pada tahun 2009. Sedangkan Nilai CPUE rawai mengalami kenaikan dari 26,4 kg hingga 40,57 kg . Hal ini menunjukkan bahwa mungkin terjadi peningkatan kapasitas penggunaan alat tangkap rawai di tahun 2009.
Gambar 49. Trend CPUE dari beberapa alat tangkap di Kabupaten Bintan tahun 2009 III.8. KABUPATEN LINGGA III.8.1. HASIL TANGKAPAN
Pengambilan data CREEL tahun 2009 di Kabupaten Lingga dilakukan di 7 desa, yaitu Limbung, Benan, Berjung, Penaah, Sekanah, Temiang dan Mamut. Di masing‐masing desa ditetapkan 2 lokasi pendaratan ikan sebagai tempat pendataan, sehingga jumlah lokasi pendaratan ikan di Kabupaten Bintan adalah 14 lokasi.
Total Tangkapan
Hasil tangkapan nelayan bervariasi setiap bulannya. Rata‐rata tangkapan nelayan selama 3 hari pendataan dari bulan Januari– Desember 2009 adalah sebesar 1327,98 kg dengan rata‐rata tangkapan per bulan sebesar 105,78 kg (Tabel 20). Tangkapan nelayan terlihat cenderung meningkat pada bulan Juli sampai Oktober, dan menurun pada bulan Desember 2009. Keadaan ini sesuai dengan Romdiati, et.al (2006) yang menyatakan bahwa hasil tangkapan terbesar umumnya diperoleh nelayan pada Musim Selatan (Juni‐September). Akan tetapi jika dibandingkan dengan tangkapan pada tahun 2008 hasil ini sangatlah bertentangan, karena pada tahun 2008 hasil tangkapan nelayan tertinggi dijumpai pada musim Barat (September‐Desember) (Laporan CREEL, Lingga 2008).
Tabel 20. Total Tangkapan Nelayan per bulan di Kabupaten Lingga tahun 2009 Bulan Tangkapan 3 hari (kg) Jumlah lokasi Rerata tangkapan/bulan Januari 430,3 9 47,81 Februari 1422 14 101,57 Maret 1124 14 80,29 April 957 14 68,36 Mei 1163 14 83,07 Juni 1055 13 81,15 Juli 1580 14 112,86 Agustus 2128 14 152 September 2123 13 163,31 Oktober 2227 13 171,31 November 233,5 4 58,38 Desember 1493 10 149,3 Rata‐rata 1327,98 146 105,78 Sumber : data CREEL, 2009 Tangkapan per Alat Tangkap
Hasil identifikasi alat tangkap, diketahui bahwa nelayan di Kabupaten Lingga menggunakan 10 jenis alat tangkap, yaitu bubu, candit, comek, jaring, jaring kepiting, pancing, rawai, serok, tangkul dan tonda. Namun demikian hanya 5 alat tangkap yang memberikan kontribusi signifikan kepada total tangkapan (gambar 50)
Gambar 50. Jenis alat tangkap dominan yang memberikan kontribusi terbesar
kepada total tangkapan
Masing‐masing alat tangkap dominan di Kabupaten Linggga memberikan kontribusi yang bervariasi terhadap total tangkapan nelayan.
Alat tangkap
pancing memberikan kontribusi sebesar 45,52% , bubu sebesar
18,4%, jaring sebesar 13,98%, rawai sebesar 9,98% dan jaring
kepiting sebesar 7,55%.
Kontribusi masing‐masing alat tangkap juga berbeda sepanjang tahun. Alat tangkap bubu dan rawai memberikan kontribusi terbesar pada bulan Juli‐ Agustus, jaring kepiting pada bulan Juni – Juli. Kontribusi alat tangkap jaring terlihat relatif besar pada bulan September – Oktober, sedangkan pancing pada bulan Agustus sampai Oktober.
III.8.2. JENIS IKAN
Jenis tangkapan yang diperoleh nelayan di Kabupaten Lingga sangat bervariasi. Jenis tangkapan dibedakan menjadi kelompok ikan dan non ikan. Kelompok ikan dibedakan lagi menjadi kelompok ikan karang dan non ikan karang. Kelompok ikan karang didominasi oleh 5 famili, yaitu : Carangidae, Lutjanidae, Siganidae, Haemulidae dan Caesionidae. Carangidae merupakan ikan asosiasi dengan terumbu karang mendominasi total tangkapan, yaitu sebesar 1696 kg. Dari keempat famili lainnya, famili Lutjanidae yang dikenal sebagai ikan kakap dan famili Siganidae atau ikan baronang memberikan kontribusi tangkapan lebih dari 1000 kg, yaitu sebesar 1082,6 kg dan 1014,8 kg. Selanjutnya dua famili lainnya memberikan kontribusi terhadap hasil tangkapan masing‐masing sebesar 460, 9 kg untuk famili Haemulidae atau ikan bibir tebal dan 370 kg untuk famili Caesionidae atau ikan ekor kuning.
Ikan‐ikan karang yang ditangkap oleh nelayan di Kabupaten Lingga dikelompokkan menjadi sepuluh jenis ikan karang yang dominan berdasarkan jumlah tangkapannya (Tabel 21.).
Tabel 21. Jenis Ikan Karang Dominan di Kabupaten Lingga Tahun 2009 Jenis Famili Berat Mentimun (Lutjanus decussatus) Lutjanidae 944 Dingkis (Siganus argenteus) Siganidae 550,6 Lebam (Siganus guttatus) Siganidae 393,9 Selar (Decapterus tabl) Carangidae 334,6 Kerapu Sunu Seranidae 154,9 Ikan Merah Lutjanidae 138,6 Atule mate Carangidae 126,5 Mempinang (Paropeneus chrysopleuron) Mullidae 115,8 Mentanda (Lutjanidae) Lutjanidae 72,3 Lambai (Siganus doliatus) Siganidae 70,3 Sumber : Data CREEL, 2009 Kelompok non ikan karang yang umumnya tertangkap di Kabupaten Lingga adalah jenis‐jenis ikan yang termasuk kedalam famili Sphyraenidae dengan total tangkapan sebesar 1861,14 kg. Kelompok non ikan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap total tangkapan nelayan adalah famili Portunidae, sotong dan pari (Gambar 51). Total tangkapan dari masing‐ masing adalah sebesar 1147,65 kg (Portunidae), 847,9 (Sotong) dan 745,5 kg (Pari). Gambar 51 memperlihatkan bahwa terlihat bahwa hasil tangkapan tertinggi di kabupaten Lingga selama tahun 2009 bukanlah ikan karang, akan tetapi ikan pelagis (Sphyraenidae). Hal ini memberikan gambaran bahwa penangkapan ikan karang oleh nelayan di kabupaten ini masih terbatas. Menurut informasi pencatat, ada nelayan yang menangkap ikan karang ekonomis, seperti kerapu (Serranidae) dalam keadaan hidup. Kemudian ikan tersebut ditampung dalam keramba dan langsung dijual ke pengumpul dari Singapura. Gambar 51. Jenis tangkapan di Kabupaten Lingga tahun 2009
III.8.3. CPUE
Catch Per Unit Effort atau total tangkapan per satuan usaha menunjukkan produktifitas per masing‐masing alat tangkap yang digunakan di tiap daerah. Alat tangkap di kabupaten Lingga yang umum digunakan adalah pancing, jaring, jaring kepiting, rawai dan bubu. Alat tangkap lainnya, seperti comek digunakan oleh beberapa nelayan di desa Berjung, candit di desa Mamut dan tangkul serta serok digunakan oleh sebagian kecil nelayan di desa Temiang.
Penangkapan per Satuan Usaha (Catch Per Unit Effort/CPUE) dari kelima alat tangkap itu memberikan gambaran yang berbeda . CPUE untuk alat jaring (13,3 kg) terlihat paling tinggi dibandingkan dengan CPUE alat tangkap lainnya. Alat tangkap ini terlihat efektif digunakan oleh nelayan desa Benan, dengan jenis tangkapan umumnya adalah ikan‐ikan yang berukuran besar seperti pari, hiu dan jahan. Nilai CPUE alat tangkap bubu, jaring dan pancing relatif sama, berkisar antara 8,91 kg – 9,81 kg (Gambar 52). Jaring kepiting mempunyai nilai CPUE paling kecil dantara kelima alat tangkap, yaitu 4,97 kg. Alat tangkap ini memang spesifik digunakan untuk menangkap rajungan (Portunidae) dan digunakan terutama oleh nelayan di desa Limbung. Gambar 52. CPUE beberapa alat tangkap dominan di Kabupaten Lingga
Nilai CPUE kelima alat tangkap berfluktuasi sepanjang tahun. Nilai CPUE bubu dan jaring terlihat tinggi pada bulan Agustus. Artinya bahwa hasil tangkapan nelayan di bulan Agustus dengan alat tangkap bubu dan jaring paling banyak dibandingkan dengan bulan‐bulan lainnya. Demikian pula dengan Nilai CPUE jaring kepiting terlihat tinggi pada bulan April. Keadaan ini mencerminkan bahwa pada bulan April tangkapan nelayan untuk jenis rajungan lebih tinggi dibandingkan dengan bulan lainnya.
III.8.4. TREND TAHUN 2008‐2009
Trend Tangkapan
Pemantauan pendaratan ikan di daerah‐daerah COREMAP Kabupaten Lingga telah dilakukan sejak tahun 2008. Perbandingan data yang diperoleh pada tahun 2008 dan 2009 menunjukkan bahwa rata‐rata tangkapan per daerah per bulan pada tahun 2008 sebesar 101,5 Kg, sedangkan di tahun 2009 sedikit lebih tinggi, yaitu 105,9 Kg (Gambar 54). Kenaikan hasil tangkapan ini mungkin disebabkan oleh adanya penambahan target tangkapan nelayan. Dari hasil pemantauan tahun 2008 terlihat bahwa alat tangkap dominan di kabupaten Lingga hanya 4 jenis, sedangkan tahun 2009 alat tangkap dominan bertambah menjadi 5 jenis, yaitu jaring kepiting. Diduga adanya tangkapan rajungan memberikan kontribusi terhadap trend tangkapan nelayan. Hal ini juga dapat dilihat dari jenis tangkapan dominan di kabupaten Lingga yang memperlihatkan bahwa rajungan menempati urutan ketiga dari total tangkapan nelayan tahun 2009 dengan jumlah tangkapan sebesar 1147,95 kg.
Gambar 54. Trend rata‐rata tangkapan per bulan tahun 2008‐2009 di kabupaten
Lingga
Trend CPUE
Trend CPUE lima alat tangkap di Kabupaten Lingga disarikan dalam Gambar 55. Dari gambar tersebut terlihat bahwa nilai CPUE alat tangkap bubu, jaring pancing dan rawai cenderung menurun bila dibandingkan dengan nilai CPUE tahun sebelumnya, hanya nilai CPUE jaring kepiting yang mengalami sedikit kenaikan, yaitu 3,50 kg pada tahun 2008 menjadi 4,97 kg pada tahun 2009