Pendahuluan
Pengembangan kebijakan pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Bogor merupakan skenario pengembangan kebijakan yang didasarkan pada faktor kunci yang mempunyai pengaruh tinggi dan memiliki ketergantungan terhadap sistem yang dikaji, dalam hal ini sistem hutan rakyat di Kabupaten Bogor. Faktor yang perlu dikelola adalah faktor memiliki pengaruh tinggi terhadap tingkat keberlanjutan sehingga mampu mendorong kinerja sistem pengelolaan untuk mencapai tujuan sistem. Faktor lainnya yang dikelola adalah faktor dengan ketergantungan yang rendah sehingga mampu mencapai kinerja tanpa tergantung terhadap faktor lainnya, sedangkan faktor dengan ketergantungan yang tinggi maka perlu dikelola secara lebih hati-hati karena dapat mempengaruhi ketidakstabilan di dalam sistem.
Skenario pengembangan kebijakan pengelolaan berkelanjutan hutan rakyat di Kabupaten Bogor dilakukan dengan menggunakan metoda analisis prospektif (ex-ante). Analisis prospektif ini dilakukan dengan menganalisis derajat hubungan kekuatan dan ketergantungan dengan memberikan skor penilaian tingkat pengaruh langsung maupun tidak langsung antar elemen (faktor) di dalam sistem pengelolaan hutan rakyat yang dikaji. Pemberian nilai tingkat pengaruh antar elemen mulai dari tidak ada pengaruh (0), berpengaruh kecil (1), berpengaruh sedang (2), dan berpengaruh sangat kuat (3).
Hasil analisis prospektif merupakan rumusan alternatif kebijakan berupa skenario strategis dalam pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Bogor sehingga dicapai kondisi yang efektif di masa yang akan datang melalui berbagai skenario yang mungkin terjadi. Analisis prospektif ini menghasilkan faktor-faktor dominan (kunci) yang berpengaruh sensitif terhadap kinerja sistem. Skenario pengembangan kebijakan dilakukan dengan mengintervensi faktor kunci tersebut agar dapat meningkatkan kinerjanya dan kinerja sistem dapat di lihat dari peningkatan nilai indeks keberlanjutan pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Bogor.
Tujuan penelitian pada Bab ini adalah: (1) memformulasikan rumus model pengembangan keberlanjutan hutan rakyat; dan (2) mensimulasi susunan skenario strategi pengembangan kebijakan keberlanjutan hutan rakyat ke depan di Kabupaten Bogor.
Metode Penelitian
Perumusan kebijakan dilakukan dengan analisis prospektif. Analisis prospektif merupakan salah satu analisis yang banyak digunakan untuk merumuskan alternatif kebijakan berupa skenario strategis yang berkaitan dengan pengelolaan sumberdaya alam, industri ataupun sumberdaya lainnya untuk mencapai kondisi yang efektif dan efisien di masa yang akan datang. Analisis prospektif dapat digunakan sebagai alat untuk mengekplorasi dan mengantisipasi melalui skenario. Dapat juga sebagai alat normatif yang merupakan pendekatan berorientasi tindakan yang dimulai dari visi
terpilih mengenai masa depan dan menentukan jalur untuk mencapainya. Dengan demikian, analisis prospektif tidak berfokus pada optimasi solusi, tetapi pada penyediaan berbagai macam pilihan dan tujuan bagi para pembuat keputusan dan turut merancang serangkaian alternatif ketimbang memilih alternatif terbaik (Bourgeois 2007).
Data yang diperlukan untuk melakukan analisis prospektif adalah data primer berupa data atribut-atribut pengungkit. Data ini berasal dari hasil analisis keberlanjutan BAB 5. Data lain yang diperlukan adalah data sekunder. Data ini berguna untuk mengkonfirmasi perbedaan dan menjustifikasi kesamaan hasil analisis yang dilakukan. Data pendukung lainnya maupun hasil triangulasi lapangan di hutan rakyat. Triangulasi adalah metode yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk memeriksa dan menetapkan validitas dengan menganalisa dari berbagai perspektif. Triangulasi merujuk pada konsistensi suatu penelitian, namun Patton (2001) menekankan bahwa inkonsistensi sebuah analisis tidak boleh di lihat sebagai kelemahan bukti, tetapi kesempatan untuk mengungkap makna lebih dalam data.
Metode Analisis Prospektif
Model kebijakan disusun menggunakan analisis prospektif. Analisis ini digunakan untuk menentukan peubah-peubah dominan yang mempengaruhi sistem pengelolaan hutan rakyat yang dikaji. Analisis prospektif digunakan dalam mengkuantifikasi data kualitatif. Analsisi prospektif menghasilkan klasifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan suatu masalah dan dipetakan ke dalam 4 (empat) kuadran yaitu: (1) kuadran I=input; (2) kuadran II = stake; (3) kuadran III = output; dan (4) kuadran IV = unused.
Untuk melihat pengaruh langsung antar faktor dalam sistem, yang dilakukan pada tahap pertama analisis prospektif digunakan matriks (Hardjomidjojo 2002) yang akan dijawab oleh pakar. Untuk menentukan faktor kunci digunakan software analisis prospektif yang akan memperlihatkan tingkat pengaruh dan ketergantungan antar faktor di dalam sistem.
Tahapan akhir dari analisis prospektif adalah membangun skenario strategis model pengelolaan hutan rakyat berkelanjutan. Skenario ini merupakan kombinasi dari beberapa keadaan variabel-variabel kunci yang mungkin terjadi di masa mendatang. Dalam penelitian ini skenario dikelompokkan ke dalam tiga kluster skenario yaitu kluster skenario pesimis, skenario moderat, dan skenario optimis.
Hasil dan Pembahasan
Pengembangan Kebijakan Pengelolaan Hutan Rakyat Berkelanjutan Identifikasi Faktor Dominan
Identifikasi faktor dominan dalam sistem pengelolaan berkelanjutan hutan rakyat di Kabupaten Bogor dilakukan terhadap faktor pengungkit (leverage factor) dari setiap dimensi keberlanjutan yang diperoleh dari hasil analisis leverage dengan menggunakan Rap-forest yang disajikan pada Bab V. Faktor pengungkit (leverage) dari kelima dimensi keberlanjutan pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Bogor sebanyak 21 faktor disajikan pada Tabel 44.
Tabel 44. Faktor pengungkit dimensi keberlanjutan pengelolaan hutan rakyat
No Kode Faktor pengungkit (leverage factor) Dimensi 1 EKL1 penggunaan lahan menjadi lahan terbangun Ekologi
2 EKL2 konservasi lahan kritis Ekologi
3 EKL3 efisiensi pemanfaatan lahan Ekologi
4 EKN1 tenaga kerja informal Ekonomi
5 EKN2 produktivitas kayu Ekonomi
6 EKN3 pendapatan petani bulanan Ekonomi
7 EKN4 posisi tawar tengkulak Ekonomi
8 EKN5 insentif harga pasar kayu rakyat Ekonomi
9 EKN6 pasar industri kayu gergajian Ekonomi
10 SOS1 partisipasi petani menambah nilai kayu sosial & budaya 11 SOS2 tingkat penyerapan tenaga kerja sosial & budaya
12 SOS3 tingkat kemiskinan sosial & budaya
13 SOS4 sosialisasi bertani sosial & budaya
14 LBG1 lembaga keuangan mikro legal & kelembagaan
15 LBG2 jumlah penyuluhan kehutanan legal & kelembagaan 16 LBG3 program penyuluhan pertanian dan kehutanan legal & kelembagaan 17 LBG4 organisasi pemerintah bidang penyuluhan legal & kelembagaan 18 ATK1 akses jalan ke pusat layanan publik aksesibilitas & teknologi 19 ATK2 akses informasi pasar kayu aksesibilitas & teknologi 20 ATK3 pengolahan kayu pascapanen aksesibilitas & teknologi 21 ATK4 standar teknik penebangan aksesibilitas & teknologi
Faktor pengungkit yang diperoleh dari analisis leverage tersebut kemudian dilakukan penilaian tingkat pengaruh antar faktor baik secara langsung maupun tidak langsung. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan Analisis Prospektif. Setiap faktor memiliki pengaruh yang lemah sampai dengan sangat kuat terhadap faktor lainnya. Dengan menilai tingkat pengaruh ini maka karakter faktor memiliki tingkat pengaruh maupun tingkat ketergantungan terhadap faktor lainnya di dalam sistem pengelolaan hutan rakyat. Analisis prospektif terhadap sistem pengelolaan berkelanjutan hutan rakyat maka dihasilkan pengelompokan setiap faktor dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) kuadran yaitu:
a. kuadran I = INPUT atau faktor penentu (driving varables) b. kuadran II = STAKE atau faktor penghubung (key variables) c. kuadran III = OUTPUT atau faktor terikat (output variables) d. kuadran IV = UNUSED atau faktor bebas (marginal variables)
Hasil analisis prospektif terhadap sistem pengelolaan berkelanjutan hutan rakyat di Kabupaten Bogor disajikan ada Gambar 52. Faktor yang masuk ke dalam kuadran II merupakan faktor kunci yang memiliki karakteristik pengaruh dan ketergantungan terhadap sistem yang kuat. Dalam pengelolaan sumberdaya hutan rakyat maka diharapkan banyak faktor yang berada di kuadran II (Stake) atau faktor penghubung maka dibutuhkan pengelolaan yang lebih hati-hati karena faktor ini memiliki pengaruh yang besar dan ketergantungan yang besar terhadap sistem.
Gambar 52. Tingkat kepentingan faktor-faktor yang berpengaruh dalam sistem pengelolaan berkelanjutan hutan rakyat di Kabupaten Bogor
Berdasarkan Gambar 52 dapat di lihat bahwa faktor dengan karakter yang memiliki pengaruh tinggi dan ketergantungan tinggi sebanyak 6 (enam) faktor yaitu (1) pendapatan petani per bulan, (2) posisi tengkulak, (3) partisipasi petani menambah nilai kayu, (4) tingkat kemiskinan, (5) jumlah penyuluh kehutanan, dan (6) program penyuluhan pertanian dan kehutanan.
Memperhatikan hal tersebut maka faktor yang dominan (kunci) di dalam sistem hutan rakyat di Kabupaten Bogor adalah faktor yang memiliki pengaruh yang tinggi terhadap kinerja sistem sebanyak 6 (enam) faktor yaitu:
1) EKN3 = pendapatan petani per bulan 2) EKN4 = posisi tengkulak
3) SOS1 = partisipasi petani menambah nilai kayu 4) SOS3 = tingkat kemiskinan
5) LBG2 = jumlah penyuluh kehutanan
6) LBG3 = program penyuluhan pertanian dan kehutanan
Keenam faktor tersebut mempunyai pengaruh yang besar terhadap kinerja sistem hutan rakyat di Kabupaten Bogor. Faktor ini perlu dikelola dengan lebih baik. Perubahan terhadap kinerja faktor kunci maka secara sensitif berpengaruh terhadap kinerja sistem. Peningkatan kinerja sistem dapat didorong melalui intervensi atau peningkatan kinerja pada setiap faktor kunci sehingga secara bersama-sama mampu meningkatkan kinerja sistem. Pengembangan kebijakan pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Bogor dilakukan melalui intervensi terhadap faktor-faktor kunci sehingga diharapkan mampu meningkatkan kinerja sistem yang dapat di lihat melalui peningkatan nilai indeks keberlanjutannya.
Pendapatan petani per bulan (EKN3). Pendapatan dari pengusahaan hutan rakyat diperoleh dari penjualan produk kayu rakyat baik berupa kayu pertukangan maupun kayu bakar. Pendapatan yang diperoleh dari penjualan hasil hutan rakyat pada
I
IV
III
umumnya belum merupakan komponen utama dalam struktur pendapatan pemilik hutan rakyat. Hal ini disebabkan kegiatan pengusahaan hutan rakyat bukan merupakan mata pencaharian pokok bagi petani pemiliknya melainkan hanya sebagai tabungan yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang memerlukan biaya relatif besar atau pada musim-musim paceklik.
Dari 50 responden petani hutan rakyat, sebagian besar responden (74,09%) memiliki pendapatan antara Rp1.500.000-Rp3.000.000 per bulan, dengan jumlah rata- rata anggota rumah tangganya tidak lebih dari 5 orang. Jika pendapatan ini dibagi dengan jumlah anggota keluarga yang dimiliki maka rata-rata per kapita pendapatan per adalah Rp300.000-Rp600.000 atau rata-rata Rp300.000. Responden yang memiliki pekerjaan sampingan seperti hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan buruh ditempat lain akan memperoleh pendapatan yang lebih besar dibandingkan dengan responden yang tidak mempunyai pekerjaan lain.
Besarnya pendapatan/penerimaan dari pengusahaan hutan rakyat belum merupakan indikator bagi besarnya keuntungan yang diperoleh petani pemiliknya karena masih tergantung pada besar kecilnya ongkos produksi yang dikeluarkan. Pendapatan merupakan penerimaan dari hasil suatu usaha yang telah dikurangi dengan biaya-biaya selama proses produksi. Pendapatan ini diperoleh dari hasil tanaman kehutanan dan pertanian. Beragamnya mata pencaharian responden berpengaruhi secara langsung dengan besarnya pendapatan responden.
Berdasarkan Sajogyo (1977), metode perkiraan garis kemiskinan dengan membandingkan besarnya kebutuhan minimum dalam beras-ekuivalen. Kebutuhan minimum rakyat Indonesia adalah untuk daerah kota sebesar 360 kg dan untuk daerah kota sebesar 240 kg beras-ekuivalen per orang per tahun. Responden di sekitar hutan rakyat termasuk daerah perdesaan, sehingga kebutuhan minimum beras daerah perdesaan adalah sebesar 240kg per orang per tahun, selanjutnya dengan memperhati- kan rata-rata harga beras medium yang berlaku di Kabupaten Bogor tahun 2015 yaitu Rp10.300/kg, diperoleh garis kemiskinan sebesar Rp2.436.000/jiwa/tahun maka per bulan sebesar Rp203.000/bulan per orang. Berdasarkan data dalam dokumen Penyusunan Perencanaan Target Indikator Ekonomi Kabupaten Bogor Tahun 2014- 2018 disebutkan bahwa Garis Kemiskinan tahun 2015 adalah Rp322.956/Kapita /Bulan. Dengan demikian, dapat dikatakan rata-rata pendapatan rumah tangga per kapita pemilik hutan rakyat masih di bawah garis kemiskinan, artinya pemilik hutan rakyat di Kabupaten Bogor tergolong penduduk miskin.
Posisi tengkulak (EKN4). Jenis-jenis kayu yang banyak ditanam di hutan rakyat di Kabupaten Bogor terbagi atas tiga kelompok, yaitu kelompok sengon (lokal: Jeunjing) (Paraserianthes falcataria), kelompok afrika (Maesopsis eminii) dan kelompok merahan atau sering disebut kelompok kayu keras yang terdiri dari kayu buah-buahan seperti durian (Durio zibethinus), kecapi (Sandoricum koetjape), nangka (Artocarpus heterophyllus) dan lain-lain. Pada umumnya, responden hutan rakyat di Kabupaten Bogor lebih banyak menanam tanaman kayu jenis sengon daripada jenis afrika, alasannya karena tanaman tersebut cepat panen dan batangnya memiliki nilai jual yang cukup tinggi. Umur kayu yang dijual antara 3-5 tahun, dengan diameter 15-25 cm dan tinggi cabang 10-20 m Harga kayu yang dibayar tengkulak Rp250.000-Rp550.000. Hitungan harga kayu per pohon oleh tengkulak, jika umur kayu 5 tahun dengan diameter kayu 25 cm maka 1 pohon rata-rata menghasilkan kubikasi 0,2-0,6 m3. Jika harga pasaran kayu Rp1.200.000 per m3 maka harga kayu per pohon adalah antara
Rp240.000 s/d Rp720.000, atau harga rata-ratanya yang ditaksir tengkulak Rp540.000/pohon.
Bhat et al. (1998) menyebutkan bahwa sengon dapat tumbuh dengan cepat, terutama pada tegakan yang masih muda. Pada kondisi lingkungan yang bagus. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Hardiatmi (2010) dan Krisnawati et al. (2011) bahwa sengon merupakan pohon yang pertumbuhannya tercepat di dunia. Pada umur 1 tahun dapat mencapai tinggi 7 m, umur 3 tahun mencapai 16 m, umur 9 tahun mencapai 33 m dan pada umur 12 tahun dapat mencapai tinggi 39 m, dengan diameter 30-60 cm dan tinggi cabang 10–30 m. Kurinobu et al. (2007) melaporkan bahwa pohon-pohon sengon yang tumbuh pada tegakan berumur 3–5 tahun memiliki diameter rata-rata 11,3– 18,7 cm (diameter maksimum 25,8 cm) dan tinggi rata-rata 11,7–20,5 m (tinggi maksimum 23,5 m). Selain itu harga untuk kayu sengon dapat mencapai Rp650.000/m3 atau lebih (Hardiatmi 2010).
Pemasaran kayu hutan rakyat dilakukan seperti pemasaran hasil-hasil pertanian lainnya. Pemilik langsung menjual kayu yang masih berdiri kepada para pembeli. Jarang sekali pemilik mengolah sendiri kayu-kayunya dan menjual langsung ke konsumen. Pada umumnya petani hutan rakyat di Kanbupaten Bogor menjual kayu jenis Sengon dan Afrika dalam bentuk pohon berdiri kepada para pedagang perantara (tengkulak) yang mendatanginya. Kajian menyebutkan bahwa sebagian besar petani hutan rakyat masih sangat kurang pengetahuannya dalam memasarkan hasil-hasil kayunya (Hardjanto 2003), minimnya informasi pasar dan kurangnya modal (Perdana et al. 2012) menyebabkan masih dominannya peran tengkulak yang membeli kayu-kayu dari rakyat dengan harga yang relatif rendah. Dalam kajian Pratama et al. (2015) disebutkan bahwa pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan terdiri aspek pelaksanaan pemeliharaan, pelaksanaan pemanenan, dan pelaksanaan pemasaran. Aspek pelaksanaan pemasaran kayu oleh petani hutan rakyat memiliki kategori buruk.
Di Kabupaten Bogor, petani hutan rakyat memiliki ketergantungan terhadap tengkulak masih tinggi, terutama peran tengkulak dapat menyediakan dana cepat. Keuntungan petani menggunakan jasa tengkulak saat penjualan kayu adalah petani terbebaskan dari biaya pemanenan dan pasca panen (Hayono 1996). Dengan demikian, biaya-biaya pemanenan, pengolahan dan pemasaran ditanggung oleh tengkulak, sedangkan biaya produksi yang ditanggung oleh petani terbatas pada biaya pengelolaan hutannya (penanaman dan pemeliharaan) yaitu mulai dari biaya sewa tanah, pembelian bibit, pupuk, upah buruh (tenaga kerja) langsung, pembelian barang modal (peralatan penanaman dan pemeliharaan), bunga modal dan pajak. Kepraktisan dalam penjualan dengan sistem borongan memberi konsekuensi tingkat keuntungan yang relatif lebih rendah dibandingkan petani yang menjual kayunya langsung ke industri penggergajian.
Sistem pemasaran kayu rakyat melibatkan pelaku pemasaran seperti pemilik hutan rakyat, pedagang pengumpul (tengkulak), industri penggergajian, dan industri barang jadi (Syahadat et al. 2004; Syahadat 2012). Pada pemasaran kayu rakyat di Kabupaten Bogor sampai ke industri penggergajian dapat dikelompokkan menjadi dua saluran utama yaitu saluran dengan tengkulak dan saluran tanpa tengkulak. Alur pemasaran yang sering dilakukan oleh pemilik hutan rakyat adalah alur pemasaran model (1), sedangkan alur pemasaran model (2) jarang dilakukan karena bila pemilik hutan rakyat menjual langsung ke industri penggergajian, pemilik hutan rakyat harus mengeluarkan biaya eksploitasi yang cukup tinggi. Skema saluran pemasaran kayu rakyat di Kabupaten Bogor dapat di lihat pada Gambar 53.
Gambar 53 Saluran pemasaran kayu hutan rakyat sampai ke industri penggergajian Kabupaten Bogor
Menghitung besarnya pendapatan dari pengusahaan hutan rakyat dapat didasarkan pada banyaknya rata-rata panen dari bentuk produk pohon berdiri per satuan luas dikalikan dengan harga yang berlaku di lapangan. Besarnya keuntungan pengusahaan hutan rakyat tergantung pada faktor lokasi (ekonomi) dan kesuburan tanah, cara pembinaan, jenis tanaman campuran dan harga hasil produknya (Sumarta 1963; Hayono 1996).
Perbedaan harga yang diterima oleh petani dari tengkulak dengan industri penggergajian antara 15%–30%, tergantung dari bentuk, ukuran, dan kondisi kayu yang dijual oleh petani. Syahadat (2012) menyebutkan bahwa harga kayu di tingkat petani rendah, karena biasanya petani menjual kayu tersebut ke pedagang pengumpul (tengkulak) atas dasar kebutuhan dana yang mendesak meskipun umur pohon tersebut belum masak tebang (daur butuh).
Partisipasi petani menambah nilai kayu (SOS1). Hingga tahun 2015 ini, kegiatan pemanenan kayu dan industri pengolahan kayu di Kabupaten Bogor terus memberikan kontribusi pendapatan ekonomi baik dari keuntungan (rent), aset, dan penerimaan pajak. Hal ini ditunjukkan oleh kontribusi sektor kehutanan terhadap tingkat pertumbuhan perekonomian kabupaten Bogor sebesar 1,8% (BPS 2015). Banyak peluang yang dapat diperoleh oleh petani dari kegiatan menambah nilai kayu, namun demikian, sebagian besar petani kecil dan penduduk miskin pedesaan di sekitar hutan rakyat tidak memperoleh banyak manfaat dari kegiatan ini. Sebagian besar resposnden (78%) di hutan rakyat Kabupaten Bogor tidak melakukan nilai tanbah terhdap kayu yang di jual.
Sunderlin (2003) mencatat beberapa alasan mengapa hanya sedikit perolehan yang dinikmati oleh penduduk miskin. Ekstraksi kayu merupakan kegiatan padat modal- teknologi-keterampilan, beroperasi terbaik pada skala besar, dan ditujukan bagi pasar konsumen tertentu. Penanaman pohon berkayu memerlukan investasi jangka panjang, penguasaan lahan yang pasti, dan pengelolaan risiko yang tinggi. Sedangkan penduduk miskin seringkali tidak mempunyai lahan, atau menguasai lahan hanya secara informal. Penduduk miskin juga memerlukan uang tunai dalam jangka pendek dan lebih suka untuk menghindari risiko.
Pada umumnya para pemangku kepentingan cenderung mengarahkan bahwa masyarakat dan penduduk miskin perlu lebih banyak diberikan peluang untuk memperoleh manfaat dari penggunaan dan pengelolaan sumberdaya hutan. Di lain sisi, mereka kadangkala kurang mendorong bahwa upaya yang terbaik ialah “partisipasi” atau “kemitraan” dalam pelaksanaan pengelolaan kehutanan secara komersial. Mayers (2006) merangkum bukti tentang kemampuan kehutanan komersial dalam mengurangi kemiskinan, maupun peluang dan tantangan untuk membuat kehutanan komersial lebih memihak kepada penduduk miskin. Kehutanan dapat memberikan kontribusinya kepada
(1)
semua bentuk mata pencaharian, akan tetapi seringkali tidak melakukannya kecuali dampak trickle down dari pembayaran pajak untuk pembangunan wilayah. Berbagai inisiatif sedang dicari untuk menawarkan insentif atau pengakuan terhadap hutan “lestari”, tetapi belum menyentuh pada kehutanan yang “pro-miskin”.
Kehutanan komersial berskala besar dapat menyediakan pekerjaan, tetapi sedikit bukti yang menunjukkan terjadinya pengurangan kemiskinan. Perusahaan kehutanan berskala kecil dapat mengurangi kemiskinan, bila terdapat kondisi pemungkin kebijakan dan hak-hak yang menguntungkan mereka. Terdapat peluang untuk memperoleh manfaat yang lebih luas dari kehutanan komersial berskala besar maupun kecil dengan memperluas peluang kerja dan meningkatkan partisipasi dan kolaborasi lebih besar dengan penduduk miskin. Mayers (2006) menggarisbawahi bahwa informasi yang baik, demokrasi pada tingkat lokal yang kuat, penegakan aturan sederhana yang adil, gagasan yang kreatif dan keteladanan, serta kemitraan yang berkomitmen tinggi semuanya akan diperlukan untuk mencapai keberhasilan.
Berdasarkan data dan analisis Input Output yang dipublikasi BPS (2000), produksi
kayu mempunyai nilai pengali (multiplier) relatif rendah dibandingkan dengan
penggunanaan lahan agroforestri lainnya yang tersedia (misalnya karet). Diantara kegiatan pengolahan kayu, pembuatan mebel dan komponen bangunan mempunyai nilai pengali lebih tinggi dibandingkan dengan pembuatan pulp atau kayu lapis. Bahkan jika kegiatan kehutanan menyediakan manfaat pengali, patut dipertanyakan apakah
“kehutanan” atau kegiatan lain menyediakan manfaat pengali dengan tingkat lebih
tinggi, atau manfaat yang lebih sedikit ditargetkan bagi penduduk miskin di pedesaan. Menurut Sunderlin (2003), berbagai kegiatan sektor kehutanan telah menciptakan
dampak pengali (multiplier effect) lapangan kerja di daerah setempat karena para
pekerja mereka menciptakan permintaan akan barang dan jasa lokal. Kegiatan kehutanan juga memperbaiki transportasi dan akses pasar bagi penduduk miskin pedesaan yang terisolir.
Tingkat kemiskinan (SOS3). Meskipun modernisasi dan dinamika pembangunan wilayah-wilayah sekitar hutan rakyat di Kabupaten Bogor, namun peran hutan belum tergantikan bagi pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga petani di sekitar hutan rakyat. Masyarakat yang tinggal di hutan merupakan salah satu kelompok miskin di Kabupaten Bogor. Masyarakat miskin di Kabupaten Bogor dibagi menjadi tiga kelas. Kelas pertama masyarakat Sangat Miskin (SM) 76.175 KK, kelas kedua masyarakat Miskin (M) 59.921 KK dan masyarakat Hampir Miskin (HM) 59.926 KK (BPS 2015). Pada ketiga kelas masyarakat miskin tersebut mereka ada yang tinggal di dalam atau di sekitar kawasan hutan. Terdapat rata-rata sekitar 21 persen orang yang tinggal pada lahan hutan merupakan penduduk miskin (Brown 2004; Wollenberg et al. 2004). Sementara 30 persen orang yang tinggal di desa-desa sekitar kawasan hutan memperoleh sebagian besar penghidupannya dari hutan (Sunderlin et al. 2000; Wollenberg et al. 2004). Kondisi ini cenderung menahun sehingga perubahan kondisi kesejahteraan sulit untuk diubah. Peningkatan kesejahteraan penduduk sekitar hutan memerlukan upaya khusus yang tidak dapat disamakan dengan upaya penanggulangan kemiskinan masyarakat pedesaan secara umum. Beberapa faktor harus diperhatikan agar keseimbangan fungsi hutan dapat terjaga, misalnya pola kepemilikan dan pengelolaan hutan yang ada, peluang ekonomi yang tersedia dari hutan dan kendala-kendala pembangunan di masing-masing wilayah.
Sebagian besar sumber penghasilan keluarga petani berasal dari areal hutan rakyat, baik untuk konsumsi maupun sebagai sumber penghasil uang tunai. Kontribusi terbesar
penerimaan petani hutan menurut (Rositah 2006) bukan berasal dari hasil kayu, tetapi bersumber dari hasil hutan bukan kayu, tanaman sawah, musiman, agroforestri, tambak ikan dan gaji buruh tani. Dan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan adalah luas lahan yang dikuasai oleh setiap rumahtangga petani (Suharjito 2012) di sekitar hutan rakyat.
Karakteristik ekonomi rumahtangga petani hutan dipengaruhi oleh keadaan