Kabupaten Minahasa merupakan daerah yang pendapatannya sebagian besar berasal dari Dana Perimbangan. Dalam APBD-nya, 90,59% pendapatan berasal dari dana perimbangan dengan Dana Alokasi Umum (DAU) sebagai sumber pendapatan yang dominan. DBH selaku dana transfer yang alokasikan sesuai penerimaan riil pemerintah hanya mempunyai porsi sebesar 3,68%.
Tabel 3.8
(dalam miliar rupiah)
APBD APBD-P R APBD
Pendapatan 616,16 714,81 713,95 PAD 24,30 27,01 22,48 Dana Perimbangan 558,16 565,63 564,84 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 33,69 122,17 126,64 Belanja 629,52 770,08 717,83 Belanja Pegawai 414,55 513,19 48,10 Belanja Barang dan Jasa 97,98 127,30 119,24 Belanja Modal 74,75 82,21 79,03 Belanja Lainnya 42,25 47,39 38,55 Pembiayaan Netto 13,37 55,27 58,84 Penerimaan Pembiayaan 16,22 6,06 6,06 Pengeluaran Pembiayaan ,29 5,29 1,73
35 Hasil Temuan Lapangan
Perbandingan APBD dengan APBD Perubahan sangat menonjol dalam pendapatan daerah yang berasal dari lain-lain pendapatan yang sah khususnya dana penyesuaian yang berasal dari pemerintah. Dalam APBD Perubahan terjadi peningkatan sebesar Rp86,08 miliar, hal tersebut dikarenakan dalam APBD Kabupaten Minahasa hanya menganggarkan penerimaan yang berasal dari Dana Insentif Daerah (DID) sedangkan transfer dana tunjangan profesi guru PNSD dan dana tambahan penghasilan guru PNSD baru dimasukkan dalam APBD – Perubahan. Kedua dana transfer baru dapat dimasukkan dalam APBD-P karena ditahun 2012 kedua jenis transfer baik transfer tunjangan Profesi dan tambahan penghasilan ditetapkan bulan Maret 2012. Penyesuaian pendapatan dalam APBD-P lainnya adalah adanya penambahan target PAD yang berasal dari pajak daerah dan penyesuaian DBH sesuai alokasi.
Penambahan pendapatan yang berasal dari dana penyesuaian (dana tambahan penghasilan dan tunjangan guru PNSD) sudah ditetapkan peruntukannya, yaitu masuk dalam belanja pegawai, oleh karena itu dalam APBD-P belanja pegawai Kabupaten Minahasa mengalami penyesuaian yang paling besar. Belanja yang mengalami penyesuaian terbesar kedua adalah belanja barang jasa dengan penyesuaian sebesar Rp29,3 miliar. Peningkatan anggaran belaja pada APBD-P selain dikarenakan adanya peningkatan dalam anggaran pendapatan juga disebabkan adanya penyesuaian pembiayaan yang terdapat penambahan karena adanya realisasi SiLPA tahun sebelumnya lebih besar (Rp60,6 miliar) dibanding dengan yang dianggarkan dalam APBD (Rp16,2 miliar). Perbandingan APBD, APBD-P dan realisasi APBD dapat dilihat dalam grafik dibawah.
Dalam realisasi APBD Kabupaten Minahasa tampak bahwa target PAD yang dianggarkan dalam APBD dan APBD Perubahan tidak mencapai target yang telah ditetapkan, hal itu tampak dalam nilai realisasi yang lebih rendah. Pendapatan pajak yang berasal dari pajak hotel dan pajak penerangan jalan merupakan pajak daerah mengalami penurunan dari target yang telah direncanakan, sehingga menyebabkan realisasi pajak daerah lebih rendah dari target yang dianggarkan. Sedangkan untuk retribusi, realisasi retribusi jasa umum merupakan retribusi yang mempunyai selisih terbesar dari yang dianggarkan (Rp2,00 miliar). Hal serupa juga terjadi pada pendapatan DBH, realisasi DBH atau dalam PMK definitif lebih rendah dibanding dengan yang dianggarkan dalam APBD-P /PMK alokatif. Sedangkan pelampauan pendapatan terjadi pada dana bagi hasil dari provinsi, dimana realisasi dan bagi hasil dari provinsi lebih tinggi Rp3,5 miliar dari yang diperkirakan dalam APBD-P.
Belanja Kabupaten Minahasa tahun 2012 terserap 93,2% dari anggaran yang tertuang dalam APBD-P. Jenis belanja yang mempunyai selisih anggaran dengan realiasi terbesar secara nominal adalah belanja pegawai (tidak terserap Rp39,8 miliar). Kendala dalam belanja pegawai adalah adanya perencanaan kenaikan belanja pegawai yang dibuat terlalu besar serta adanya sisa tunjangan profesi guru yang tidak bisa digunakan. Sebagaimana diketahui belanja gaji dianggarkan untuk peningkatan gaji sebesar 10% ditambah acres 2,5% sedangkan realisasi kenaikan gaji pegawai adalah 7%. Belanja barang /jasa, belanja perjalanan dinas merupakan salah satu jenis belanja yang mempunyai selisih yang cukup besar (Rp2,5 miliar), sedangkan di belanja modal belanja reahabilitasi bangunan sekolah tidak terserap Rp2,8 miliar dari Rp9,2 milliar dana yang dianggarkan.
Secara keseluruhan realisasi APBD Kabupaten Minahasa tetap mengalami defisit sebagaimana yang dianggarkan, meskipun realisasinya lebih rendah dari anggaran. Akumulasi defisit dengan total pembiayaan menjadi SiLPA tahun 2012 dimana nilainya mengalami penurunan meskipun tidak terlalu jauh dengan SiLPA tahun 2011 (SiLPA tahun 2011 Rp60,6 miliar, SiLPA tahun 2012 Rp55,0 miliar). Dengan uraian tersebut maka dapat dikatakan bahwa SiLPA tahun 2012 Kabupaten Minahasa lebih dikarenakan adanya belanja yang tidak terserap.
37 Hasil Temuan Lapangan
i. kABuPAten ketAPAng
Seperti halnya Kabupaten Minahasa dan Kota Bontang, Kabupaten Ketapang merupakan daerah yang hampir sebagian besar berasal dari dana perimbangan, karena 92,5% pendapatan berasal dana perimbangan, khususnya Dana Alokasi Umum (76,63% total pendapatan). Untuk dana perimbangan, DAU dan DAK yang dianggarkan dalam APBD sudah mengacu pada alokasi pemerintah sedangkan untuk DBH masih menggunakan perkiraan dan dilakukan penyesuaian pada APBD Perubahan. PAD kabupaten Ketapang mempunyai porsi yang kecil dalam APBD, yaitu berkisar 5,07% total pendapatan, dengan pendapatan dominan di pajak daerah dan lain-lain pendapatan yang sah.
Tabel 3.9
(dalam miliar rupiah)
APBD APBD-P R APBD
Pendapatan 1.013,39 1.068,14 1.148,13 PAD 51,34 57,07 64,85 Dana Perimbangan 937,49 94,07 991,16 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 24,56 70,40 92,12 Belanja 1.026,37 1.173,83 1.125,05 Belanja Pegawai 397,15 477,69 469,18 Belanja Barang dan Jasa 24,71 277,90 259,46 Belanja Modal 290,69 325,00 306,15 Belanja Lainnya 9,15 93,25 9,03 Pembiayaan Netto 12,97 105,69 105,68 Penerimaan Pembiayaan 33,41 115,12 115,11 Pengeluaran Pembiayaan 20,43 9,43 9,43
Penyesuaian anggaran pendapatan yang tertuang dalam APBD-P Kabupaten Ketapang sebagian besar dikarenakan adanya penyesuaian terhadap alokasi pemerintah, hal tersebut tampak pada penambahan pendapatan yang berasal dari
Dana Penyesuaian dan penyesuaian besaran alokasi DBH. Sedangkan peningkatan perkiraan penerimaan PAD dikarenakan adanya percepatan dalam pembuatan regulasi di bidang Pajak dan Retribusi. Disisi belanja penyesuaian khususnya dilakukan pada Belanja Pegawai, sebagai imbas adanya dana penyesuaian yang peruntukannya sudah ditentukan untuk Tambahan Gaji Guru. Selain belanja pegawai terdapat peningkatan belanja lainnya, hal ini selain diakibatkan adanya peningkatan perkiraan penerimaan pendapatan, maka peningkatan belanja juga disebabkan oleh adanya peningkatan pembiayaan daerah. Peningkatan pembiayaan daerah tersebut dikarenakan adanya besaran SiLPA tahun 2011 yang realisasinya lebih besar dari yang diperkirakan pada anggaran. Dalam APBD perkiraan SiLPA tahun 2011 adalah Rp33,4 miliar namun dalam APBD-P SiLPA tahun 2011 disesuaikan dengan audit realisasi 2011 sebesar Rp115,1 miliar. Selisih antara perkiraan dan realiasi diprediksi karena adanya realisasi transfer diakhir tahun, juga adanya kontribusi dari belanja yang tidak dapat diserap.
Grafik 3.9
Grafik 3.9 menunjukkan bahwa Realisasi pendapatan Kabupaten Ketapang lebih tinggi dari yang dianggarkan baik dalam APBD atau APBD-P. Pelampauan pendapatan terbesar berasal dari DBH, yaitu sebesar Rp50,5 miliar (63,1% total pelampauan pendapatan), pelampauan DBH tersebut menunjukkan adanya transfer di akhir tahun yang tidak dianggarkan dalam APBD-P. Pelampauan pendapatan terbesar kedua berasal dari dana bagi hasil pemerintah provinsi, yaitu sebesar Rp21,6 miliar (27% total pelampauan pendapatan). Disisi belanja, penyerapannya mencapai 95,91% total belanja yang dianggarkan dalam APBD-P,
39 Hasil Temuan Lapangan
dimana belanja yang mempunyai penyerapan tertinggi adalah belanja bantuan keuangan kepada pemerintah desa yang mencapai 99,8%. sedangkan belanja barang jasa dan belanja modal secara berturut-turut terserap 93,37% dan 94,2%, hal tersebut dikarenakan keterlambatan panitia pekerjaan dalam melakukan lelang dan terbatasnya SDM (PNS yang bersertifikat dan tenaga teknis). Realisasi pendapatan yang melampaui anggaran dan realisasi belanja yang terserap 95,8% menyebabkan terjadinya surplus, meskipun dalam anggarannya diperkirakan terjadi defisit. Terjadinya surplus mengakibatkan SiLPA tahun 2012 menjadi meningkat, yang semula Rp115,1 miliar menjadi Rp128,8 miliar. Secara nominal surplus Kabupaten Ketapang lebih didominasi adanya pelamapauan pendapatan (Rp80,0 miliar) dibanding dengan besarnya belanja yang tidak terserap (Rp48,78 miliar).