• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. HASIL ANALISIS FISIKO KIMIA SABUN

1. Kadar Air dan Zat Menguap

Jumlah air yang terkandung dalam suatu bahan disebut kadar air. Pengukuran kadar air dan zat menguap pada suatu bahan perlu dilakukan karena air dapat mempengaruhi kualitas sabun yang dibuat. Spitz (1996) menjelaskan bahwa semakin banyak air yang terkandung dalam sabun maka akan membuat sabun menjadi semakin mudah menyusut atau habis pada saat digunakan.

Ketaren (1986) menjelaskan bahwa proses oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dan minyak atau lemak. Oksidasi biasanya dimulai dengan pembentukan peroksida dan hidroperoksida. Tingkat selanjutnya ialah terurainya asam-asam lemak disertai dengan konversi hidroperoksida menjadi aldehid dan keton serta asam-asam lemak bebas. Senyawa aldehid dan keton yang dihasilkan dari lanjutan reaksi oksidasi ini memiliki sifat mudah menguap seperti alkohol.

Di dalam buku SNI (1994) kadar air dan zat menguap maksimal 15 %. Kadar sebesar itu akan menyebabkan sabun yang dihasilkan cukup keras sehingga akan lebih efisien dan lebih awet. Hasil analisis menunjukkan bahwa semua sabun memiliki nilai kadar air dan zat

21 menguap sesuai dengan yang disyaratkan SNI, karena berkisar antara 13,470 – 14,810 %. Data hasil analisis kadar air dan zat menguap dapat dilihat pada Gambar 6.

Keterangan : SNI mensyaratkan bahwa kadar air dan zat menguap maksimal 15 %

Gambar 6. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka, kadar air dan zat menguap

Hasil analisis keragaman pada Lampiran 4 (bagian b) menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH dan tepung tapioka yang ditambahkan pada sabun berpengaruh nyata terhadap kadar air dan zat menguap sabun yang dihasilkan dengan tingkat kepercayaan 95 % (✂=0,05). Hasil uji lanjut Duncan pada Lampiran 4 (bagian c)

menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi tepung tapioka menunjukkan perbedaan yang nyata. Begitu pula halnya dengan konsentrasi NaOH, hasil uji lanjut Duncan pada Lampiran 4 (bagian d) menunjukkan bahwa NaOH 30 % berbeda nyata dengan konsentrasi NaOH 35 %.

Jika dilihat pada Gambar 6. seiring meningkatnya konsentrasi tepung tapioka maka justru menurunkan kadar air sabun yang dihasilkan. Jadi, penambahan tepung tapioka pada formulasi sabun dapat mengurangi kadar air sabun. Perbedaan penggunaan konsentrasi NaOH juga dapat

KADAR AIR DAN ZAT MENGUAP

10 11 12 13 14 15 16 0 2,5 5 7,5 Konsentrasi Tepung Tapioka (%)

K a d a r A ir (% ) NaOH 30 % NaOH 35 % SNI

mempengaruhi kadar air, karena dari Gambar 6. itu pula dapat dilihat bahwa sabun yang dibuat dengan menggunakan konsentrasi NaOH 35 % memiliki kadar air yang lebih rendah dari sabun yang menggunakan konsentrasi NaOH 30 %. Jadi, makin tinggi konsentrasi NaOH yang digunakan, maka makin dapat mengurangi kadar air sabun.

2. Jumlah Asam Lemak

Asam lemak akan menentukan karakteristik sabun yang dihasilkan. Asam lemak yang dominan pada minyak jarak pagar sebagai bahan dasar pembuat sabun di sini ialah jenis asam lemak oleat (C18H34O2) yang memiliki sifat melembabkan. Jumlah asam lemak suatu sabun menyatakan persentase asam lemak yang terkandung di dalam sabun itu. Semakin besar persentasenya maka karakteristik dari asam lemak dominannya akan semakin jelas.

Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai asam lemak semua sabun berkisar antara 77,615 – 83,710 %. Kisaran ini masuk dalam syarat SNI, yakni minimal 70 %. Data hasil analisis jumlah asam lemak dapat dilihat pada Gambar 7.

Keterangan : SNI mensyaratkan bahwa jumlah asam lemak minimal 70 %

Gambar 7. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka dan jumlah asam lemak

JUMLAH ASAM LEMAK

70 72 74 76 78 80 82 84 86 0 2,5 5 7,5 Konsentrasi Tepung Tapioka (%)

A s a m L e m a k ( % ) NaOH 30 % NaOH 35 % SNI

23 Hasil analisis keragaman yang ditunjukkan pada Lampiran 5 (bagian b), dengan tingkat kepercayaan 95 % ( =0,05) menunjukkan bahwa tepung tapioka tidak mempengaruhi secara nyata jumlah asam lemak yang terkandung dalam sabun. Adapun faktor konsentrasi NaOH berpengaruh.

Hasil uji lanjut Duncan pada Lampiran 5 (bagian c) menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH 30 % dan 35 % memberikan pengaruh yang nyata pada jumlah asam lemak sabun. Hal ini menjelaskan bahwa meski dalam komposisi yang sama, sabun dengan konsentrasi NaOH yang lebih tinggi yakni 35 % lebih efektif proses saponifikasinya dibanding sabun konsentrasi NaOH 30 %. Sehingga sabun yang dibuat dengan konsentrasi NaOH 35 % memiliki jumlah asam lemak yang lebih rendah dibanding sabun dengan konsentrasi NaOH 30 %.

3. Kadar Fraksi Tak Tersabunkan

Ketaren (1986) menjelaskan bahwa senyawa-senyawa seperti kolesterol, fatty alcohol, sterol dan pigmen termasuk fraksi yang tidak dapat tersabunkan karena senyawa-senyawa itu tidak bereaksi dengan NaOH sehingga dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut lemak. Artinya, setelah sabun terbentuk senyawa-senyawa tersebut akan tetap pada bentuk asalnya dan total keseluruhan senyawa-senyawa tersebut dapat dihitung kadarnya yang disebut sebagai kadar fraksi tak tersabunkan.

Cavitch (1997) menjelaskan bahwa penggunaan jumlah NaOH yang kurang dari bilangan penyabunan dan menyebabkan terjadinya kelebihan kadar minyak akan menghasilkan batang sabun yang masih meninggalkan sisa sabun yang tidak tersabunkan, sehingga membuat sabun tersebut lebih lembut dan lembab.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sabun yang dihasilkan memiliki nilai kadar fraksi yang tak tersabunkan berkisar antara 7,385 – 7,710 %. SNI mensyaratkan kadar fraksi yang tak tersabunkan maksimal 2,5 %, namun semua nilai fraksi tak tersabunkan sabun mandi yang

dianalisis berada jauh di atas nilai yang disyaratkan SNI. Hal ini bisa terjadi karena banyaknya senyawa fraksi tak tersabunkan yang terkandung dalam minyak jarak pagar. Tepung tapioka juga mempengaruhi tingginya jumlah fraksi tak tersabunkan, karena tepung tapioka termasuk senyawa yang tidak bereaksi dengan NaOH. Data hasil analisis kadar fraksi tak tersabunkan dapat dilihat pada Gambar 8.

Keterangan : SNI mensyaratkan bahwa kadar fraksi tak tersabunkan maksimal 2,5 %

Gambar 8. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka dan kadar fraksi tak tersabunkan

Pada Lampiran 6 (bagian b) tentang hasil analisis keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (✁=0,05) ditunjukkan bahwa baik

tepung tapioka maupun konsentrasi NaOH mempengaruhi secara nyata kadar fraksi tak tersabunkan yang terkandung dalam sabun. Hasil uji lanjut Duncan pada Lampiran 6 (bagian c) menunjukkan bahwa tiap-tiap konsentrasi tepung tapioka memberikan pengaruh yang berbeda. Begitu pula halnya dengan konsentrasi NaOH yang pada Lampiran 6 (bagian d) menunjukkan adanya perbedaan yang nyata.

Formulasi sabun untuk tepung tapioka dibedakan menjadi 0 %, 2,5 %, 5 % dan 7,5 % yang dihitung berdasarkan persen keseluruhan sabun. Semakin tinggi persentase tepung tapioka pada suatu formula

KADAR FRAKSI TAK TERSABUNKAN

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 2,5 5 7,5 Konsentrasi Tepung Tapioka (%)

F ra k s i T a k T e rs a b u n k a n ( % ) NaOH 30 % NaOH 35 % SNI

25 sabun, maka semakin berkurang persentase minyak jarak pagarnya. Pada analisis ini kombinasi senyawa-senyawa tak tersabunkan yang terkandung dalam minyak dan tepung tapioka itulah yang membuat kadar fraksi tak tersabunkan menjadi tinggi nilainya.

Sabun yang memiliki konsentrasi tepung tapioka 0 %, seluruh senyawa fraksi tak tersabunkan berasal dari minyak jarak pagar. Sementara untuk sabun yang ada penambahan tepung tapioka, semakin tinggi konsentrasi tepung tapioka yang digunakan pada suatu formula, maka tepung tapioka itulah yang kelak menaikkan kadar fraksi tak tersabunkan.

4. Bahan Tak Larut dalam Alkohol

Di dalam Annual book of ASTM (2001) dijelaskan bahwa bahan tak larut dalam alkohol pada sabun meliputi garam alkali seperti karbonat, silikat, fosfat dan sulfat serta pati. Total keseluruhan senyawa- senyawa tersebut dapat dihitung kadarnya yang disebut sebagai bahan tak larut dalam alkohol.

Keterangan : SNI mensyaratkan bahwa bahan tak larut dalam alkohol maksimal 2,5 %

Gambar 9. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka dan bahan tak larut dalam alkohol

BAHAN TAK LARUT DALAM ALKOHOL

0 0,5 1 1,5 2 2,5 0 2,5 5 7,5 Konsentrasi Tepung Tapioka (%)

B a h a n T a k L a ru t d a la m A lk o h o l (% ) NaOH 30 % NaOH 35 % SNI

Hasil analisis menunjukkan bahwa semua sabun memiliki nilai bahan tak larut dalam alkohol pada kisaran 0,565 – 0,765 %. SNI mensyaratkan bahwa bahan tak larut dalam alkohol maksimal 2,5 %. Jadi, semua nilai bahan tak larut dalam alkohol tersebut masuk dalam nilai yang disyaratkan SNI. Data hasil analisis bahan tak larut dalam alkohol dapat dilihat pada Gambar 9.

Hasil analisis keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (✄=0,05) yang disajikan pada Lampiran 7 (bagian b), menunjukkan

bahwa baik tepung tapioka maupun konsentrasi NaOH tidak mempengaruhi secara nyata bahan tak larut dalam alkohol yang terkandung dalam sabun.

5. Kadar Alkali Bebas yang Dihitung Sebagai Kadar NaOH

Di dalam buku SNI (1994) dijelaskan bahwa alkali bebas ialah alkali dalam sabun yang tidak terikat sebagai senyawa. Kelebihan alkali dalam sabun mandi tidak boleh melebihi 0,1 %. Kelebihan alkali pada sabun mandi dapat disebabkan jumlah alkali yang melebihi jumlah alkali yang digunakan untuk melakukan saponifikasi keseluruhan minyak menjadi sabun.

Alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun mandi di sini ialah menggunakan larutan NaOH dengan konsentrasi 30 % dan 35 %. Cavitch (1997) menjelaskan bahwa Percikan larutan NaOH dapat membuat kulit perih dan mengalami kebutaan. Oleh karenanya bekerja dengan larutan NaOH harus berhati-hati.

Pada proses pembuatan sabun/saponifikasi terjadi reaksi antara senyawa minyak dan alkali. Setelah sabun terbentuk maka akan masih ditemukan adanya senyawa alkali bebas. Perhitungan kadar alkali itulah yang nantinya disebut sebagai kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH.

Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH berada pada kisaran 0,020 – 0,045 %.

27 Semua nilai tersebut masuk dalam syarat SNI, karena SNI mensyaratkan bahwa kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH maksimal 0,1 %. Data hasil analisis kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH dapat dilihat pada Gambar 10.

Hasil analisis keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (☎=0,05) menunjukkan bahwa baik konsentrasi NaOH maupun tepung

tapioka tidak mempengaruhi secara nyata kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH yang terkandung dalam sabun. Hasil analisis keragaman ini dapat dilihat pada Lampiran 8 (bagian b).

Keterangan : SNI mensyaratkan bahwa kadar alkali bebas yang dihitung sebagai NaOH maksimal 0,1 %

Gambar 10. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka dan kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH

6. Minyak Mineral

Di dalam situs (http://www.britannica.com, 2004) dijelaskan bahwa minyak mineral merupakan cairan minyak yang jernih, tidak berwarna dan merupakan hasil samping dari destilasi minyak bumi. Minyak mineral ialah zat yang tetap sebagai minyak dan pada penambahan air akan terjadi emulsi antara air dan minyak yang ditandai

KADAR ALKALI BEBAS YANG DIHITUNG SEBAGAI NaOH

0 0,05 0,1

0 2,5 5 7,5

Konsentrasi Tepung Tapioka (% )

A lk a li B e b a s y a n g D ih it u n g S e b a g a i N a O H ( % ) NaOH 30 % NaOH 35 % SNI

dengan kekeruhan. Mineral merupakan senyawa yang mengandung unsur logam. Minyak mineral berarti minyak yang mengandung unsur logam.

SNI (1994) mensyaratkan kadar minyak mineral haruslah negatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa semua sabun yang dihasilkan memberikan hasil negatif yang menyatakan bahwa tiap-tiap sabun tersebut tidak mengandung minyak mineral dan masuk dalam syarat SNI.

7. Derajat Keasaman (pH)

Cavitch (1997) menjelaskan bahwa derajat keasaman atau pH mengukur tingkat keasaman dari suatu substansi dalam sebuah larutan. Sebuah substansi yang terurai di dalam air dan dapat meningkatkan konsentrasi ion hidrogen (H+) suatu larutan disebut zat asam (memiliki nilai di bawah 7 pada skala pH). Sebuah substansi yang terurai di dalam air dan dapat meningkatkan ion hidroksil/hidroksida (OH-) suatu larutan disebut zat basa (memiliki nilai di atas 7 pada skala pH). Makin tinggi nilai pH, makin rendah konsentrasi ion hidrogen dan artinya makin sedikit substansi yang bersifat asam.

Wasitaatmadja (1997) menjelaskan bahwa derajat keasaman (pH) merupakan paramater yang sangat penting dalam suatu produk kosmetik karena pH dari kosmetik yang dipakai mempengaruhi daya absorbsi kulit. Kosmetik dengan pH yang sangat tinggi atau sangat rendah dapat meningkatkan daya absorbsi kulit sehingga kulit menjadi teriritasi. Jellinek (1970) menjelaskan bahwa pH sabun umumnya berkisar antara 9,5 – 10,8. Kulit normal memiliki pH sekitar 5. Mencuci dengan sabun akan meningkatkan nilai pH kulit untuk sementara, akan tetapi kenaikan tersebut tidak akan melebihi nilai 7.

Hasil analisis menunjukkan bahwa semua sabun memiliki nilai pH berkisar antara 9,375 – 9,815. Data hasil analisis derajat keasaman (pH) dapat dilihat pada Gambar 11.

Hasil analisis keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (✆=0,05) pada Lampiran 10 (bagian b) menunjukkan bahwa tepung

29 terkandung dalam sabun, namun konsentrasi NaOH berpengaruh. Hasil uji lanjut Duncan pada Lampiran 10 (bagian c) menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH 30 % dan 35 % memberikan pengaruh yang nyata pada pH sabun.

Gambar 11. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka dan derajat keasaman (pH)

Pada Gambar 11. dapat dilihat bahwa konsentrasi NaOH memang berpengaruh nyata terhadap pH sabun. Semakin tinggi konsentrasi NaOH yang digunakan, maka semakin tinggi pH sabunnya. Walaupun dengan komposisi NaOH yang sama, namun jika konsentrasinya berbeda tentu saja akan membedakan pH sabunnya. Sabun yang dibuat dengan konsentrasi NaOH yang tinggi, maka sabun yang dihasilkan akan memiliki pH yang tinggi pula. Artinya sabun tersebut semakin bersifat basa.

8. Stabilitas Emulsi

Emulsi dalam situs (http://www.britannica.com, 2004) dijelaskan merupakan campuran dua atau lebih cairan dimana salah satu bentuk dari kedua cairan itu dalam ukuran tetesan-tetesan (droplets), mikroskopis, ultramikroskopis yang terdistribusi secara keseluruhan dalam cairan yang

DERAJAT KEASAMAN (pH) 9 9,1 9,2 9,3 9,4 9,5 9,6 9,7 9,8 9,9 0 2,5 5 7,5 Konsentrasi Tepung Tapioka (%)

p

H NaOH 30 %

lain. Emulsi terbentuk dari komponen cairan-cairan penyusunnya baik secara spontan atau seringkali terbentuk secara mekanik contohnya seperti agitasi.

Kestabilan emulsi dalam sabun dipengaruhi oleh jumlah asam lemak yang terkandung dalam sabun. Asam lemak ini berperan dalam menjaga konsistensi sabun. Kestabilan emulsi dalam sabun juga dipengaruhi oleh kadar air dan adanya bahan dasar yang bersifat higroskopis seperti gliserin dan EDTA. Semakin tinggi kadar air dalam sabun maka semakin tidak stabil sistem emulsinya.

Suryani et al, (2002) menjelaskan bahwa sabun padat termasuk dalam emulsi tipe w/o (water in oil). Emulsi yang baik tidak membentuk lapisan-lapisan, tidak terjadi perubahan warna dan memiliki konsistensi tetap. Stabilitas atau kestabilan suatu emulsi merupakan salah satu karakter penting dan mempunyai pengaruh besar terhadap mutu produk emulsi ketika dipasarkan. Ketidakstabilan suatu sistem emulsi dapat diamati dari fenomena yang terjadi selama emulsi dibiarkan atau disimpan dalam jangka waktu tertentu.

Prinsip dasar tentang kestabilan emulsi adalah keseimbangan antara gaya tarik menarik dan gaya tolak menolak yang terjadi antar partikel dalam sistem emulsi. Apabila kedua gaya ini dapat dipertahankan tetap seimbang atau terkontrol, maka partikel-partikel dalam sistem emulsi dapat dipertahankan agar tetap seimbang. Fase dominan (pendispersi) pada sabun mandi yang dihasilkan ialah fase minyak, sehingga pengemulsi (emulsifier) yang digunakan harus bisa larut dalam minyak.

Mutu produk emulsi salah satunya ditentukan oleh stabilitas emulsi, hal itu juga berlaku untuk sabun mandi yang merupakan produk emulsi. Penentuan stabilitas emulsi terhadap sabun bertujuan untuk mengetahui daya simpan sabun tersebut. Sabun mandi yang memiliki stabilitas emulsi yang baik akan memiliki daya simpan yang cukup panjang.

31 Hasil analisis menunjukkan bahwa semua sabun memiliki nilai stabilitas emulsi pada kisaran 83,435 – 85,520 %. Data hasil analisis stabilitas emulsi dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka dan stabilitas emulsi

Hasil analisis keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (✝=0,05) pada Lampiran 11 (bagian b) menunjukkan bahwa baik

konsentrasi NaOH maupun tepung tapioka tidak mempengaruhi secara nyata stabilitas emulsi sabun.

9. Stabilitas Busa

Piyali (1999) menjelaskan bahwa busa merupakan aspek penting dalam produk-produk deterjen dan surfaktan merupakan salah satu penghasil busa yang baik. Dua hal penting yang harus diperhatikan tentang busa adalah kecepatan menghasilkan busa dan stabilitas busa. Faktor yang mempengaruhi kedua hal tersebut ialah konsentrasi ion logam yang terdapat dalam air seperti ion kalsium (Ca2+) dan ion magnesium (Mg2+) STABILITAS EMULSI 80 81 82 83 84 85 86 87 0 2,5 5 7,5 Konsentrasi Tepung Tapioka (%)

S ta b il it a s E m u ls i (% ) NaOH 30 % NaOH 35 %

Di dalam situs (www.online-tensiometer.com, 2004) dijelaskan bahwa stabilitas busa yang baik dapat bersifat positif atau negatif tergantung pada aplikasinya. Busa yang stabil cukup lama lebih diinginkan pada produk kesehatan tubuh karena busa dianggap membantu membersihkan tubuh, dan dengan busa yang melimpah wangi sabun akan lebih lama melekat pada tubuh. Busa yang kurang stabil biasanya untuk produk deterjen, karena jika busanya terlalu melimpah akan memperlama proses pembilasan. Nilai stabilitas busa diperoleh dari ukuran volume busa setelah didiamkan untuk periode waktu tertentu.. Shipp (1996) menjelaskan bahwa stabilitas busa dapat ditingkatkan dengan cara menambahkan bahan atau komponen lain. Salah satu bahan tersebut ialah surfaktan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai stabilitas semua sabun berkisar antara 83,350 – 88,540 %. Data hasil analisis stabilitas busa dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka dan stabilitas busa

Hasil analisis keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (✞=0,05) pada Lampiran 12 (bagian b) menunjukkan bahwa tepung

tapioka tidak mempengaruhi secara nyata stabilitas busa sabun, namun STABILITAS BUSA 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 0 2,5 5 7,5 Konsentrasi Tepung Tapioka (%)

S ta b il it a s B u s a ( % ) NaOH 30 % NaOH 35 %

33 konsentrasi NaOH berpengaruh. Hasil uji lanjut Duncan pada Lampiran 12 (bagian c) menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH 30 % dan 35 % memberikan pengaruh yang nyata pada stabilitas busa sabun. Pada Gambar 13. terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi NaOH nya maka akan semakin tinggi pula stabilitas busa sabun yang dihasilkan.

10. Kekerasan Sabun

Pengukuran tingkat kekerasan terhadap sabun mandi yang dihasilkan ialah dengan menggunakan penetrometer. Penetrometer adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur kekerasan dari suatu bahan dengan cara menjatuhkan sebuah jarum ke dalam benda tersebut. Kedalaman dari penetrasi jarum ke dalam sampel dinyatakan dalam sepersepuluh meter dari angka yang ditunjukkan pada skala penetrometer. Semakin dalam sampel tersebut ditembus oleh jarum berarti sampel tersebut semakin lunak.

Asam lemak yang terkandung dalam sabun akan mempengaruhi tingkat kekerasan. Asam lemak laurat, miristat, palmitat dan stearat mempunyai karakteristik mengeraskan (hardening), sedangkan asam lemak oleat yang merupakan asam lemak dominan sabun mandi pada penelitian ini tidak memiliki karakteristik tersebut.

Asam lemak jenuh adalah asam lemak yang tidak mengandung ikatan rangkap dan memiliki titik cair yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam lemak yang mengandung banyak ikatan rangkap, sehingga asam lemak jenuh biasanya berbentuk padat pada suhu ruang. Berdasarkan hal tersebut, maka asam lemak jenuh dapat digunakan pada pembuatan sabun batang. Semakin banyak jumlah asam lemak jenuh yang terkandung dalam sabun, maka sabun yang dihasilkan akan semakin keras. Kekerasan sabun juga dipengaruhi oleh kadar air yang terkandung dalam sabun. Semakin tinggi kadar airnya, maka semakin lunak sabun yang terbentuk. Hasil analisis menunjukkan bahwa semua sabun memiliki nilai kekerasan pada kisaran 3,135 – 4,775 mm/g.detik. Data hasil analisis stabilitas busa dapat dilihat pada Gambar 14.

Hasil analisis keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (✟=0,05) pada Lampiran 13 (bagian b) menunjukkan bahwa baik tepung

tapioka maupun konsentrasi NaOH mempengaruhi secara nyata tingkat kekerasan sabun. Hasil uji lanjut Duncan pada Lampiran 13 (bagian c) menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi tepung tapioka menunjukkan perbedaan yang nyata. Begitu pula halnya dengan konsentrasi NaOH, hasil uji lanjut Duncan pada Lampiran 13 (bagian d) menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH 30 % berbeda nyata dengan konsentrasi NaOH 35 %.

Gambar 14. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka dan kekerasan

Pada Gambar 14. terlihat bahwa makin tinggi konsentrasi tepung tapioka yang ditambahkan pada formula sabun, maka semakin mengeraskan sabun. Perbedaan yang mencolok juga terlihat pada penggunaan konsentrasi NaOH yang berbeda. Konsentrasi NaOH yang berbeda akan mempengaruhi kekerasan sabun yang dihasilkan. Makin tinggi konsentrasi NaOH yang digunakan, sabun akan semakin keras.

KEKERASAN PRODUK 0 1 2 3 4 5 6 0 2,5 5 7,5 Konsentrasi Tepung Tapioka (%)

K e k e ra s a n ( m m /g s ) NaOH 30 % NaOH 35 %

Tabel 9. Rekapitulasi data rata-rata hasil analisis fisiko kimia

Hasil Analisis

Konsentrasi tepung tapioka (%)

NaOH 30 % NaOH 35 % Analisis

0 2,5 5 7,5 0 2,5 5 7,5

Standar Keterangan

Kadar air dan zat menguap (%) 14,810 14,080 13,770 13,470 13,925 13,695 13,615 13,520 Maks 15 % (SNI) Masuk standar

Jumlah asam lemak (%) 81,365 82,830 83.075 83,710 78,705 78,300 78,060 77,615 Min 70 % (SNI) Masuk standar

Kadar fraksi tak tersabunkan (%) 7,620 7,705 7,575 7,710 7,490 7,665 7,645 7,385 Maks 2,5 % (SNI) Tidak masuk standar

Bahan tak larut dalam alkohol (%) 0,695 0,695 0,565 0,650 0,765 0,755 0,760 0,760 Maks 2,5 % (SNI) Masuk standar

Kadar alkali bebas yang dihitung

sebagai NaOH (%) 0,025 0,030 0,030 0,020 0,045 0,025 0,045 0,020 Maks 0,1 % (SNI) Masuk standar

Minyak mineral negatif negatif negatif negatif negatif negatif negatif negatif Negatif (SNI) Masuk standar

Derajat keasaman (pH) 9,580 9,430 9,500 9,375 9,735 9,750 9,700 9,815 9,5 – 10,8 (Jellinek, 1970) Masuk standar

Stabilitas emulsi (%) 84,390 84,840 83,435 84,240 85,110 83,805 84,995 85,520 Tidak disyaratkan dalam SNI

Stabilitas busa (%) 85,185 84,615 83,350 85,525 86,395 85,350 88,540 85,585 Tidak disyaratkan dalam SNI

D. HASIL UJI ORGANOLEPTIK SABUN

Uji organoleptik dilakukan untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis terhadap sabun mandi pada penelitian ini. Uji organoleptik di sini meliputi uji penerimaan panelis terhadap tekstur, penampakan, pembusaan sabun, serta kesan lembut dan kesan kesat pada kulit. Panelis yang dipilih termasuk kategori panelis tidak terlatih berjumlah 25 orang yang sudah terbiasa menggunakan sabun mandi khususnya sabun mandi opaque. Hasil uji organoleptik bersama-sama hasil analisis fisiko kimia nantinya digunakan untuk menentukan sabun mandi yang terbaik.

Pada uji organoleptik ini panelis akan diminta tanggapannya terhadap delapan buah sabun mandi dengan konsentrasi tepung tapioka dan NaOH yang berbeda. Tanggapan yang diberikan oleh panelis direpresentasikan dalam bentuk nilai antara 1 sampai dengan 5 dengan penjelasan sebagai berikut : o Nilai 1 menyatakan bahwa panelis memberikan kesan sangat tidak suka o Nilai 2 menyatakan bahwa panelis memberikan kesan tidak suka o Nilai 3 menyatakan bahwa panelis memberikan kesan biasa saja/netral o Nilai 4 menyatakan bahwa panelis memberikan kesan suka

o Nilai 5 menyatakan bahwa panelis memberikan kesan sangat suka

Pada uji organoleptik ini ke delapan buah sabun mandi yang diujikan diberi kode angka tertentu yang menunjukkan konsentrasi tepung tapioka dan NaOH yang terkandung di dalamnya. Kode angka ke delapan buah sabun tersebut bisa dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Kode sabun untuk uji organoleptik

Kode Tepung Tapioka (%) NaOH (%) Kode Tepung Tapioka (%) NaOH (%) 102 0 30 183 0 35 296 2,5 30 467 2,5 35 364 5 30 478 5 35

37

1. Tekstur

Uji tekstur merupakan uji untuk mengetahui tanggapan panelis

Dokumen terkait