• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5 Hasil Evaluasi Terhadap Sediaan Masker Gel Peel- off .1 Hasil Pemeriksaan Homogenitas .1 Hasil Pemeriksaan Homogenitas

4.7.1 Kadar Air (moisture)

Pengukuran kadar air dilakukan dengan menggunakan alat moisture checker yang terdapat dalam perangkat skin analyzer Aramo. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 4.7, yang menunjukkan bahwa kadar air pada wajah semua kelompok sukarelawan sebelum pemakaian masker gel peel-offanti-aging adalah dehidrasi (0-29). Setelah pemakaian masker gel peel-offanti-aging selama 4 minggu, semua kelompok sukarelawan mengalami peningkatan kadar air dari dehidrasi menjadi normal kecuali kelompok blanko.

Tabel 4.7 Data hasil pengukuran kadar air (moisture) pada wajah sukarelawan setelah pemakaian masker gel peel-off anti-aging selama 4 minggu Formula Suka-

Dehidrasi 0-29; Normal 30-50; Hidrasi 51-100 (Aramo, 2012) F0 : Blanko (dasar masker gel peel-off)

F1 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 1%

F2 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 3%

F3 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 5%

Pada sukarelawan yang memakai masker gel peel-off dengan formula F3 (masker gel peel-offekstrak daun katuk 5%) memiliki persentase peningkatan kadar air yang lebih tinggi dari formula F0, F1, dan F2. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang diberikan maka kadar air semakin meningkat. Grafik pengaruh pemakaian masker gel peel-offanti-aging terhadap kadar air kulit dapat dilihat pada Gambar 4.2 dan 4.3.

Data selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik Kruskal Wallis. Hasil analisis statistik dari pengukuran kadar air menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) antar formula setelah pemakaian masker gel peel-offanti-aging selama 4 minggu. Hasil analisis statistik setelah 4

minggu pemakaian masker gel peel-offanti-aging menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kadar air yang signifikan (p ≤ 0,05) antara blanko dengan F2 dan F3, tetapi tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) antara blanko dengan F1. Selanjutnya antara F1 dengan F2 terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) kemudian F1 dengan F3 terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05).

Dan antara F2 dengan F3 tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p > 0,05).

Gambar 4.2 Grafik hasil pengukuran kadar air (moisture) pada kulit wajah sukarelawan kelompok blanko, masker gel peel-offekstrak daun katuk 1%, 3%, dan 5% selama 4 minggu

Gambar 4.3 Grafik persentase pemulihan kadar air (moisture) pada kulit wajah sukarelawan kelompok blanko, masker gel peel-offektrak daun katuk 1%, 3%, dan 5% selama 4 minggu.

4.7.2 Kehalusan (evenness)

Pengukuran kehalusan kulit menggunakan perangkat skin analyzer yaitu dengan lensa perbesaran 60 kali dengan warna lampu sensor berwarna biru. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 4.8, yang menunjukkan bahwa kehalusan kulit semua kelompok sukarelawan sebelum pemakaian masker gel peel-offadalah normal (32-51), dan setelah pemakaian selama 4 minggu, formula F3 yang mampu menurunkan angka kehalusan dari normal menjadi halus (0-31).

Tabel 4.8 Data hasil pengukuran kehalusan (evenness) pada wajah sukarelawan setelah pemakaian masker gel peel-offanti-aging selama 4 minggu Formula Suka-

Halus 0-31; Normal32-51; kasar 52-100 (Aramo, 2012).

F0 : Blanko (dasar masker gel peel-off)

F1 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 1%

F2 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 3%

F3 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 5%

Grafik pengaruh pemakaian masker gel peel-offanti-aging terhadap kehalusan kulit wajah sukarelawan selama 4 minggu dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Pada sukarelawan yang memakai masker gel peel-off dengan formula F3 (masker gel peel-offekstrak daun katuk 5%) memiliki persentase peningkatan kehalusan yang lebih tinggi dari formula F0, F1, dan F2 setelah pengukuran pada minggu keempat. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang diberikan dan semakin lama penggunaan pada kulit wajah maka kehalusan kulit semakin meningkat. Grafik persentase peningkatan kehalusan kulit dapat dilihat pada Gambar 4.4.

Gambar 4.4 Grafik hasil pengukuran kehalusan (evennes) pada kulit wajah sukarelawan kelompok blanko, masker gel peel-offektrak daun katuk 1%, 3%, dan 5% selama 4 minggu

Gambar 4.5 Grafik persentase pemulihan kehalusan (evenness) pada kulit wajah sukarelawan kelompok blanko, masker gel peel-offektrak daun katuk 1%, 3%, dan 5% setelah 4 minggu

Data selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik Kruskal Wallis. Hasil analisis statistik dari pengukuran kehalusan menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) antar formula setelah pemakaian masker gel peel-offanti-aging selama 4 minggu. Hasil analisis statistik setelah 4 minggu pemakaian masker gel peel-offanti-aging menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kehalusan yang signifikan (p ≤ 0,05) antara blanko dengan formula F1, F2 dan F3. selanjutnya antara F1 dengan F2 dan F3 juga terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) sedangkan antara F2 dengan F3 tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p > 0,05).

3.3.2 4.7.3 Pori (pore)

Pengukuran besar pori menggunakan perangkat skin analyzer yaitu dengan lensa perbesaran 60 kali dengan warna lampu sensor berwarna biru, pada saat melakukan pengukuran kehalusan kulit, maka secara otomatis pengukuran pori ikut terbaca. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 4.9, yang menunjukkan bahwa pori wajah kelompok sukarelawan sebelum pemakaian masker gel peel-offanti-aging adalah beberapa besar (20-39) untuk semua kelompok sukarelawan.

Setelah pemakaian masker gel peel-offanti-aging selama 4 minggu, hasil pengukuran pori pada sukarelawan tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Artinya, pori wajah masih dalam kategori beberapa besar. Akan tetapi pada setiap penambah ekstrak ukuran pori menurun dapat dikatakan semakin kecil pori yang terdapat diwajah walaupun masih dalam kategori beberapa besar. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak yang digunakan efektif dalam menurunkan pori-pori pada kulit wajah sukarelawan.

Data selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik Kruskal Wallis. Hasil analisis statistik dari pengukuran pori menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) antar formula setelah pemakaian masker gel peel-offanti-aging pada minggu kedua hingga keempat. Hasil analisis statistik

setelah 4 minggu pemakaian masker gel peel-offanti-aging menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) antara blanko dengan semua konsentrasi masker gel peel-offekstrak daun katuk. Antara F1 dengan F2 dan F3 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) dan antara F2 dan F3 terdapat perbedaan yang signifikan (p < 0,05).

Tabel 4.9 Data hasil pengukuran pori (pore) pada wajah sukarelawan setelah pemakaian masker gel peel-offanti-aging selama 4 minggu

Formula Suka- Relawan

Pori Peningka

tan pori Sebelum Pemakaian (minggu) (%)

I II III IV

Kecil 0-19; Beberapa besar 20-39; Sangat besar 40-100 (Aramo, 2012).

F0 : Blanko (dasar masker gel peel-off)

F1 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 1%

F2 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 3%

F3 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 5%

Ukuran pori-pori berhubungan erat dengan kehalusan pada kulit. Semakin kecil ukuran pori-pori pada kulit menunjukkan semakin halus kulit tersebut, sebaliknya semakin besar ukuran pori-pori menunjukkan semakin kasar kulit tersebut.

Grafik pengaruh pemakaian masker gel peel-offanti-aging terhadap pori kulit wajah sukarelawan selama 4 minggu dapat dilihat pada Gambar 4.6.

Pada sukarelawan yang memakai masker gel peel-off dengan formula F3 (masker gel peel-offekstrak daun katuk 5%) memiliki persentase peningkatan pori yang lebih tinggi dari pada formula F0, F1, dan F2. Grafik persentase peningkatan aktifitas masker gel peel-offanti-aging terhadap pori kulit dapat dilihat pada Gambar 4.6.

Gambar 4.6 Grafik hasil pengukuran pori (pore) pada wajah sukarelawan kelompok blanko, masker gelpeel -off ekstrak daun katuk 1%, 3%, dan 5% selama 4 minggu

Gambar 4.7 Grafik persentasepemulihan pori (pore) pada kulit wajah sukarelawan kelompok blanko, masker gelpeel-off ekstrak daun katuk 1%, 3%, dan 5% setelah 4 minggu

Besarnya pori dapat disebabkan oleh sinar matahari dan sel kulit mati.

Pori-pori dapat membesar apabila terkena sinar matahari yang terlalu terik.

Peningkatan suhu menyebabkan kotoran mudah masuk dan tersumbat di dalamnya sehingga menyebabkan jerawat lebih mudah timbul (Muliyawan dan Suriana, 2013).

4.7.4 Noda (spot)

Pengukuran banyaknya noda dengan menggunakan perangkat skin analyzer dengan lensa perbesaran 60 kali dengan lampu sensor warna jingga.

Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10 Data hasil pengukuran noda (spot) pada wajah sukarelawan setelah pemakaian masker gel peel-offanti-aging selama 4 minggu

Formula Suka- relawan

Noda Pemulih

an noda Sebelum Pemakaian (minggu) (%)

I II III IV

Sedikit 0-19; Beberapa noda 20-39; Banyak noda 40-100 (Aramo, 2012) F0 : Blanko (dasar masker gel peel-off)

F1 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 1%

F2 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 3%

F3 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 5%

Hasil diatas menunjukkan bahwa kulit wajah kelompok sukarelawan F0, F1, F2 sebelum pemakaian masker gel peel-offanti-aging memiliki beberapa noda (20-39) sedangkan pada kelompok sukarelawan F3 sebelum pemakaian masker gel peel-offanti-aging memiliki banyak noda (40-100).

Setelah pemakaian masker gel peel-offanti-aging selama 4 minggu, hasil pengukuran noda pada sukarelawan yang memakai masker gel peel-off formula F3 mengalami pengurangan noda, yaitu dari banyak noda menjadi beberapa noda.

Sedangkan formula F0, F1 dan F2 hanya mampu mengurangi noda sedikit saja.

Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak kandungan ekstrak daun katuk yang ada di dalam sediaan masker gel peel-offmaka semakin besar peranannya dalam mengurangi jumlah noda pada kulit yang diakibatkan oleh sinar matahari.

Data selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik Kruskal Wallis. Hasil analisis statistik dari pengukuran noda menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) antar formula setelah pemakaian masker gel peel-offanti-aging pada minggu keempat.

Hasil analisis statistik setelah 4 minggu pemakaian masker gel peel-offanti-aging menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05)

antara blanko (F0) dengan semua konsentrasi masker gel peel-offekstrak daun katuk. Selanjutnya antara F1 dengan F2 dan F3 terdapat perbedaan yang signifikan (p< 0,05). Sedangkan pada F2 dan F3 tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05).

Grafik pengaruh dan grafik persentase peningkatan pemakaian masker gel peel-offanti-aging terhadap noda pada kulit wajah sukarelawan selama 4 minggu dapat dilihat pada Gambar 4.8 dan 4.9.

Gambar 4.8 Grafik hasil pengukuran noda (spot) pada kulit wajah sukarelawan kelompok blanko, masker gel peel-offektrak daun katuk 1%,3%, dan 5% selama 4 minggu

Gambar 4.9 Grafik persentase pemulihan noda (spot) pada kulit wajah sukarelawan kelompok blanko, masker gel peel-offektrak daun katuk 1%; 3%; dan 5% setelah 4 minggu

3.5.4 4.7.5 Keriput (wrinkle)

Pengukuran keriput dengan menggunakan perangkat alat skin analyzer menggunakan lensa perbesaran 10 kali dengan lampu sensor berwarna biru. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 4.11, yang menunjukkan bahwa kulit wajah semua kelompok sukarelawan sebelum pemakaian masker gel peel-offanti-aging adalah berkeriput (20-52). Setelah pemakaian masker gel peel-offanti-aging selama 4 minggu, hasil pengukuran keriput pada semua kelompok sukarelawan tidak mengalami perubahan yang signifikan. Artinya, kulit wajah masih dalam kategori berkeriput. Akan tetapi pada setiap penambah ekstrak ukuran keriput

0 20 40 60

awal minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4

Noda (%)

mengalami penurunan dapat dikatakan semakin sedikit keriput yang terdapat diwajah walaupun masih dalam kategori berkeriput. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak yang digunakan efektif dalam menurunkan keriput pada kulit wajah sukarelawan selama pemakaian masker gel peel-offekstrak daun katuk.

Berdasarkan data yang diperoleh aktivitas masker gel peel-offekstrak daun katuk yang paling efektif yaitu F3 konsentrasi 5%.

Tabel 4.11 Data hasil pengukuran keriput (wrinkle) kulit wajah sukarelawan setelah pemakaian masker gel peel-offanti-aging selama 4 minggu Formula Suka-

Tidak berkeriput 0-19; Berkeriput 20-52; Berkeriput parah 53-100 (Aramo, 2012) F0 : Blanko (dasar masker gel peel-off)

F1 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 1%

F2 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 3%

F3 : Masker gel peel-off ekstrak daun katuk 5%

Hasil analisis statistik dari pengukuran keriput menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) antar formula setelah pemakaian masker gel

peel-offanti-aging selama 4 minggu. Hasil analisis statistik setelah 4 minggu

pemakaian masker gel peel-offanti-aging menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) antara F0 (blanko) dengan F2 dan F3 sedangkan pada blanko dengan F1, F1 dan F2, F2 dan F3 tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05). Dan terdapat perbedaan yang signifikan (p ≤ 0,05) antara formula F1 dan F3.

Grafik pengaruh pemakaian masker gel peel-offanti-aging terhadap jumlah keriput kulit sukarelawan selama 4 minggu dapat dilihat pada Gambar 4.10.

Gambar 4.10 Grafik hasil pengukuran keriput (wrinkle) pada wajah sukarelawan kelompok blanko, masker gel peel-offektrak daun katuk 1%, 3%, dan 5% selama 4 minggu

Grafik persentase peningkatan pemulihan masker gel peel-offanti-aging terhadap keriput kulit sukarelawan selama 4 minggu dapat dilihat pada Gambar 4.11.

Gambar 4.11 Grafik persentase pemulihan keriput (wrinkle) pada wajah sukarelawan kelompok blanko, masker gel peel-offektrak daun katuk 1%, 3%, dan 5% setelah 4 minggu

awal minggu 1 minggu 2 minggu 3 minggu 4

Keriput (%)

Kulit merupakan organ tubuh yang secara langsung terpapar sinar UV dari matahari. Sinar UV dapat menyebabkan penurunan sintesis kolagen dan serat elastis kulit. Kolagen merupakan komponen utama lapisan kulit dermis (lapisan bawah epidermis). Lapisan dermis merupakan lapisan kulit yang berperan untuk bertanggung jawab pada sifat elastisitas dan halusnya kulit. Apabila produksi kolagen menurun pada lapisan dermis kulit (dan pasti menurun seiring pertambahan usia dan faktor lingkungan), maka kulit akan terlihat kering dan tidak elastis lagi. Akibatnya, kulit tampak berkerut dan mengendur (Muliyawan dan Suriana, 2013).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait