DAFTAR LAMPIRAN
4.2. Kadar PbTerlarut di Perairan Teluk Banten
Penyebaran spasial dari kadar Pb terlarut di wilayah pengamatan berkisar
antara 0.0005 hingga 0.0066 ppm (Gambar 12). Konsentrasi Pb yang berada di
bagian Timur pelabuhan (Stasiun 1, 8, 9 dan 10) yang berkisar antara 0.0005-0.004 ppm. Lain halnya dengan stasiun yang berada di bagian Barat pelabuhan dimana konsentrasinya semakin meningkat dengan semakin jauhnya stasiun dari pelabuhan yaitu berkisar antara 0.004-0.005 ppm (Stasiun 4) dan semakin meningkat 0.006 ppm (Stasiun 2 dan 3) hingga 0.0066 ppm (Stasiun 5, 6, dan 7).
Hasil penelitian di wilayah pengamatan menunjukan bahwa konsentrasi Pb terlarut meningkat menuju Barat pelabuhan dan semakin menurun di bagian Timur Laut pelabuhan. Meningkatnya kadar Pb di bagian Barat diduga karena adanya buangan dari mesin kapal yang beroperasi di bagian Barat. Buangan tersebut mengandung minyak yang pada umumnya mendapat zat tambahan
®
Teluk Banten Karangantu Legenda Inset : TDS ( g/l ) ë 8 9 7 6 3 2 5 4 1 10 Desa Banten Desa Margaluyu Desa Sawahluhur ,000000 ,000000 ,000000 ,000000 ,000000 ,000000 9 3 3 3 6 0 0 ,0 0 00 0 0 9 3 3 4 0 0 0 ,0 0 0 00 0 9 3 3 4 4 0 0 ,0 00 0 00 9 3 3 4 8 0 0 S. Cibanten 628400 628800 629200 629600 630000 630400 BT LS 32.1 - 32.7 30.9 - 31.5 31.5 – 32.1 P. Jawa P. Sumatera Kali Karangantu ë Pelabuhan Stasiun Garis PantaiSumber Peta : Peta Teluk Banten Bakosurtanal Skala 1 : 100 000, Tahun 1997; Google Maps Tahun 2011; Peta Administrasi Kabupaten Serang Skala 1 : 225 000 Tahun 2011
tetraethyl yang mengandung Pb untuk meningkatkan kualitasnya (Rochyatun et
al., 2006).
Gambar 12. Sebaran spasial kadar Pb terlarut (ppm) di perairan Teluk Banten saat pengamatan
4.3. Sebaran Spasial Kualitas Air dan Pb di Perairan
Hasil pemetaan terhadap paramater kualitas air sebelumnya menunjukkan bahwa penyebaran di wilayah pengamatan cenderung menuju bagian Barat, dimana konsentrasinya rendah di bagian Timur. Rendahnya konsentrasi tersebut dapat diindikasikan dengan melihat karakter dari air yang dapat dibedakan
berdasarkan parameter terukur (pH, TDS, dan salinitas). Karakter air sungai dapat diindikasikan dengan pH, TDS, dan salinitas rendah, dan sebaliknya air laut diindikasikan dengan pH, TDS dan Salinitas relatif tinggi. Proses-proses dinamika pantai dan sungai menghasilkan gradien konsentrasi yang
mencerminkan variasi kekuatan arus pantai dan sungai berbeda menurut musim.
®
Inset : Teluk Banten Karangantu Legenda Konsentrasi Pb (ppm ) 0.0005 - 0.004 0.004 - 0.005 0.005 - 0.006 LS ë 8 9 7 6 3 2 5 4 1 10 Desa Banten Desa Margaluyu Desa Sawahluhur 9 3 3 3 6 0 0 ,0 00 0 00 9 3 3 4 0 0 0 ,0 0 0 0 00 9 3 3 4 4 0 0 ,0 00 0 00 9 3 3 4 8 0 0 ,0 0 0 00 0 500 250 0 500Meters S. Cibanten 629600 630000,000000 ,000000 Kali Karangantu P. Sumatera P. Jawa 0.006 - 0.0066Sumber Peta : Peta Teluk Banten Bakosurtanal Skala 1 : 100 000, Tahun 1997; Google Maps Tahun 2011; Peta Administrasi Kabupaten Serang Skala 1 : 225 000 Tahun 2011
ë Pelabuhan Stasiun Garis Pantai 628400,000000 BT 628800,000000 629200,000000 ,000000 630400
Hasil pengukuran oleh tim BMKG (2010) pada bulan Maret-Agustus menunjukan bahwa arus di wilayah pengamatan bergerak menuju Barat-Barat Laut. Demikian pula, hasil pengukuran oleh aparat Pelabuhan Perikanan Pantai Karangantu pada bulan Agustus (2011) menunjukan arus di perairan Teluk Banten bergerak dari arah Pelabuhan Karangantu dan muara Sungai Cibanten menuju
Barat Laut yang bergerak dengan kecepatan 1 hingga 3 cm/s (Gambar 13).
Kecepatan arus semakin meningkat di bagian Timur pelabuhan yang bergerak menuju Barat Laut dengan kecepatan hingga 12 cm/s.
Gambar 13. Pola Arus di Perairan Karangantu, Teluk Banten pada bulan Agustus 2011 (Sumber : Pelabuhan Perikanan Pantai Karangantu, 2011) Arah arus ini dapat mempengaruhi sebaran termasuk sebaran logam berat misalnya Pb. Massa air laut yang bergerak ke arah barat akan membawa masukan senyawa kimiawi yang berasal sungai ke arah barat khususnya di depan mulut sungai. Kekosongan massa air di depan mulut sungai akan diisi oleh massa air laut yang bergerak dari arah timur yang diduga memiliki konsentrasi Pb rendah, sehingga sebaran konsentrasi Pb nampak lebih rendah di sebelah Timur dan
Gambar 14 menunjukan pola penggunaan lahan, dimana pada bagian Timur Sungai Cibanten sebagian besar berupa lahan persawahan dan
pertambakan, sebaliknya di bagian Barat teluk sebagian besar berupa pemukiman dan industri. Kegiatan industri ini diperkirakan menjadi sumber potensi Pb. Sumber potensi Pb lainnya kemungkinan berasal dari lalu lintas kapal, dimana sebagian besar aktivitas berada di bagian Barat. Hal ini mengindikasikan bahwa secara umum potensi Pb di wilayah penelitian lebih banyak berada di bagian Barat. Seperti telah ditunjukan pada hasil penelitian yang pernah dilakukan, konsentrasi Pb mencapai 0.006 ppm di bagian Barat yang relatif lebih tinggi dari
bagian Timur dengan konsentrasi <0.001 ppm (Rochyatun et al., 2005).
Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa sebaran Pb dan parameter lain sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrodinamika perairan pantai seperti arus dan pengaruh aliran sungai. Pola ini diduga sangat bervariasi sesuai dengan musim yang terjadi di wilayah tersebut. Dengan demikian, kondisi sebaran Pb kemungkinan akan berbeda pada musim barat.
Gambar 14. Peta penggunaan lahan dan alur kapal di Daerah Banten
ë
ë
ë
ë
Ci B an ten C i K a d u e n Ci B ere un N E W S 61 5 00 0 62 0 00 0 62 5 00 0 63 0 00 0 63 5 00 0 64 0 00 0 93 2 50 0 0 93 2 50 0 0 93 3 00 0 0 93 3 00 0 0 93 3 50 0 0 93 3 50 0 0 93 4 00 0 0 93 4 00 0 0 93 4 50 0 0 93 4 50 0 0 Su mb er Peta :Peta P eng g u naan Lah an B an ten , S kal a 1 : 1 0 0 0 0 0, B ako s urtan al 2 01 0 Peta Ad im in istras i Ban ten , Sk ala 1 : 25 0 00 0 , B ap p eda 2 0 1 1
36 00 0 0 36 00 0 0 45 00 0 0 45 00 0 0 54 00 0 0 54 00 0 0 63 00 0 0 63 00 0 0 72 00 0 0 72 00 0 0 81 00 0 0 81 00 0 0 91 80 0 00 91 80 0 00 92 70 0 00 92 70 0 00 93 60 0 00 93 60 0 00 94 50 0 00 94 50 0 00 95 40 0 00 95 40 0 00 Inset : 2 0 2 4 6 8 10 12 Kilometers Kedalaman (meter) 30 - 40 20 - 30 10 - 20 0 - 10 Leg enda Sungai Lokasi Penelitian Alur Kapal Industri ë Pelabuhan
Hutan Lahan Kering Kebun Campuran Mangrove Perkebunan Permukiman Rawa Sawah Semak/Belukar Tambak/Empang Tegalan/Ladang Tubuh Air Penggunaan Lahan Atribut P u la u S um a te r a Pulau Jaw a Lau t Jaw a 24
25 5.1. Kesimpulan
Sebaran Pb di wilayah pengamatan diindikasikan dipengaruhi oleh kondisi hidrodinamika pantai yang diperkirakan sangat bervariasi dengan musim. Pada saat penelitian, sebaran cenderung bergerak ke arah Barat dan hal ini juga
dicerminkan oleh sebaran parameter pH, TDS dan salinitas. Ketiga parameter ini merupakan karakter dari air sungai yang bercampur dengan air laut sehingga membentuk gradien konsentrasi yang meningkat ke arah barat.
5.2. Saran
Untuk lebih memahami kondisi sebaran senyawa Pb dan indikator kimiawi lainnya di wilayah Teluk Banten, pengamatannya pada musim barat perlu
dilakukan untuk memberikan gambaran menyeluruh terhadap pola senyawa kimiawi, yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pemanfaatan dan potensi permasalahan yang mungkin timbul sehubungan dengan kegiatan-kegiatan yang ada dan pengembangannya.
26
Astuty, S dan S, Diana. 2002. Budidaya Makroalga Kappaphycus alvarezii di
Perairan Pulau Panjang Serta Analisis Ekonominya. Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. Bandung.
[Bapedal] Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Provinsi Banten. 2006. Tinjauan Masalah dan Penanganan Sumberdaya Air, Hutan dan Wilayah
Pesisir dan Laut. In Laporan Tahunan Keadaan Lingkungan. Serang.
Banten.
[Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Serang. 2011. Peta Administrasi Kabupaten Serang-Banten Skala 1 : 225 000 Tahun 2011. Serang.
[BMKG] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Pusat. 2010. Data Angin Perairan Teluk Banten. Jakarta.
[Bakosurtanal] Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 1997. Peta Teluk Banten Skala 1 : 100.000 Tahun 1997. Jakarta.
Bryan, G.W. 1976. Heavy metals contamination in the sea. In Johnston (Ed).
Marine Pollution. New York. 285 h.
Chester, R. 1993. Marine Geochemistry. Unwik Hyman. London.
Childs, C. 2004. Interpolating Surfaces in Arcgis Spacial Analyst. Esri Education
Series. Hal:32-35. Diuduh dari:
http://www.esri.com/news/arcuser/0704/files/interpolating/pdf. [diakses: 13 November 2011].
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta.
Hutagalung ,H.P, D. Setiapermana, S.H. Riyono. 1997. Metode Analisis Air Laut, Sedimen dan Biota. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
Hutagalung, H.P. 1994. Kandungan Logam Berat dalam Sedimen di Kolam Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Makalah Penunjang Seminar Pemantauan Pencemaran Laut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
[PPP] Pelabuhan Perikanan Pantai Karangantu. 2011. Data Arus dan Pasangsurut di Perairan Banten Tahun 2011. Serang.Banten.
Pramono, H P. 2008. Akurasi Metode IDW dan Kriging untuk Interpolasi Sebaran Sedimen Tersuspensi di Maros, Sulawesi Selatan. Forum Geografi, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). Vol. 22(1):145-158.
Purbani, D, B. Sekresno, E. Mustikasari, G. Kusumah, T. Solihuddin. 2010. Optimalisasi Data Fisik Perairan untuk Kajian Kelimpahan dan Jenis Ikan di Teluk Banten. Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non Hayati.
Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Resmiati, T, S. Diana, S. Astuty. 2002. Komposisi Jenis Alat Tangkap yang Beroperasi di Perairan Teluk Banten-Serang. Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. Bandung.
Rochyatun, E, M.T. Kaisupy, A. Rozak. 2006. Distribusi Logam Berat dalam Air dan Sedimen di Perairan Muara Sungai Cisadane. Makara, Sains. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. Vol. 10(1):35-40.
Rochyatun, E, Lestari, A. Rozak. 2005. Kualitas Lingkungan Perairan Banten dan sekitarnya Ditinjau dari Kondisi Logam Berat. Makara, Sains. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. Vol. 38:23-46.
Simanjuntak, M. 2007. Variasi Musiman Oksigen Terlarut di Perairan Teluk
Banten. Bidang Dinamika Laut. Indonesian Journal of Marine Science.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. Vol. 12(3):125-132.
Wulandari, S.Y, B. Yulianto, Sukristiyo. 2008. Pola Sebaran Logam Berat Pb dan
Cd di Muara Sungai Babon dan Seringin Semarang. Indonesian Journal of
Marine Science. Universitas Diponegoro Semarang. Semarang. Vol. 13(4):203-208.
28
Lampiran 1. Peralatan yang digunakan saat penelitian
Water sampler (Van Dorn) Atomic Absorption Spectrophotometer
(AAS-7000)
Water quality checker (Horiba U50) Cool box
Botol sampel polietilen GPS (Global Positioning System)
Garmin 76CSx
Probe
28
Tabel 2. Hasil pengukuran kualitas air secara in situ dan kadar Pb pada tanggal 13 Juli 2011
Stasiun bujur lintang cuaca warna air pH DO
(mg/l) salinitas TDS (mg/l) suhu Kekeruhan (NTU) Kedalaman (m) Pb (ppm) 1 106,1658 -6,02418 cerah coklat keruh 7,58 6,8 31,2 31,4 29,52 11,3 1 0,00282 2 106,162 -6,02181 cerah hijau coklat 8,27 6,89 32,3 32,7 30,09 17,9 1,5 0,00541 3 106,1593 -6,02116 cerah hijau keruh 8,30 6,62 31,6 32,1 30,21 11,1 1,35 0,00541 4 106,1647 -6,01987 cerah hijau biru 7,90 5,4 31,2 31,5 30,04 9,71 1,1 0,00481 5 106,1647 -6,0171 mendung hijau 7,92 6,21 31,3 31,7 29,93 4,84 1,15 0,00661 6 106,1068 -6,02029 cerah coklat hijau 7,78 6,56 31,4 31,5 30,19 29,7 1,35 0,00661 7 106,169 -6,0192 cerah
hijau
kecoklatan 7,78 6,32 32,3 32,7 30,3 9,3 1,1 0,00661 8 106,169 -6,02241 cerah hijau keruh 7,35 6,19 31,5 31,4 31,18 26,6 1,2 0,00282 9 106,1725 -6,02119 cerah hijau keruh 7,60 5,9 30,8 31,5 30,47 11,4 1,3 0,00481 10 106,1752 -6,02416 cerah coklat tua 7,60 5,44 30,8 31,8 30,91 6,73 0,85 0,00282
31
Penulis adalah anak kedua dari dua bersaudara. Putri
dari A. Saepudin dan Chahya Ningsih. Lahir pada 12 November 1989 di Rangkasbitung, Banten. Semenjak duduk di tingkat Taman Kanak-kanak hingga SMA bersekolah di Kota Pandeglang, Banten. Tahun 2007 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Pandeglang, kemudian melanjutkan pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan mayor Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Selama mengikuti kegiatan perkuliahan penulis mengikuti berbagai kegiatan di dalam dan luar kampus yang meliputi Unik Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti Gentra Kaheman pada bidang teater, kumpulan penulis Tanda Baca sebagai fotografer, Himpunan Profesi (Himiteka) dan juga dipercaya sebagai
ketua dalam Rotaract Buitenzorg (Organization Social Internasional). Selain itu,
penulis menjadi asisten praktikum mata kuliah Biologi Laut pada tahun ajaran 2009-2011. Disamping menjadi seorang mahasiswa, penulis pun menjadi tentor
pada mata kuliah Pengantar Matematika dan Kalkulus di lembaga Express
Course, serta mata pelajaran Matematika pada tahun 2008/2009 di lembaga Nurul
Fikri dan 2008/2012 di lembaga Primagama. Pada akhir semester, penulis melakukan penelitian mengenai penyebaran logam berat dengan metode IDW di perairan Teluk Banten.
ADE NOVIA PUTRI
SKRIPSI
DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012
26
Astuty, S dan S, Diana. 2002. Budidaya Makroalga Kappaphycus alvarezii di
Perairan Pulau Panjang Serta Analisis Ekonominya. Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. Bandung.
[Bapedal] Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Provinsi Banten. 2006. Tinjauan Masalah dan Penanganan Sumberdaya Air, Hutan dan Wilayah
Pesisir dan Laut. In Laporan Tahunan Keadaan Lingkungan. Serang.
Banten.
[Bappeda] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Serang. 2011. Peta Administrasi Kabupaten Serang-Banten Skala 1 : 225 000 Tahun 2011. Serang.
[BMKG] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Pusat. 2010. Data Angin Perairan Teluk Banten. Jakarta.
[Bakosurtanal] Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 1997. Peta Teluk Banten Skala 1 : 100.000 Tahun 1997. Jakarta.
Bryan, G.W. 1976. Heavy metals contamination in the sea. In Johnston (Ed).
Marine Pollution. New York. 285 h.
Chester, R. 1993. Marine Geochemistry. Unwik Hyman. London.
Childs, C. 2004. Interpolating Surfaces in Arcgis Spacial Analyst. Esri Education
Series. Hal:32-35. Diuduh dari:
http://www.esri.com/news/arcuser/0704/files/interpolating/pdf. [diakses: 13 November 2011].
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta.
Hutagalung ,H.P, D. Setiapermana, S.H. Riyono. 1997. Metode Analisis Air Laut, Sedimen dan Biota. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
Hutagalung, H.P. 1994. Kandungan Logam Berat dalam Sedimen di Kolam Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Makalah Penunjang Seminar Pemantauan Pencemaran Laut. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
[PPP] Pelabuhan Perikanan Pantai Karangantu. 2011. Data Arus dan Pasangsurut di Perairan Banten Tahun 2011. Serang.Banten.
Pramono, H P. 2008. Akurasi Metode IDW dan Kriging untuk Interpolasi Sebaran Sedimen Tersuspensi di Maros, Sulawesi Selatan. Forum Geografi, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal). Vol. 22(1):145-158.
Purbani, D, B. Sekresno, E. Mustikasari, G. Kusumah, T. Solihuddin. 2010. Optimalisasi Data Fisik Perairan untuk Kajian Kelimpahan dan Jenis Ikan di Teluk Banten. Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Non Hayati.
Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Resmiati, T, S. Diana, S. Astuty. 2002. Komposisi Jenis Alat Tangkap yang Beroperasi di Perairan Teluk Banten-Serang. Fakultas Pertanian. Universitas Padjadjaran. Bandung.
Rochyatun, E, M.T. Kaisupy, A. Rozak. 2006. Distribusi Logam Berat dalam Air dan Sedimen di Perairan Muara Sungai Cisadane. Makara, Sains. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. Vol. 10(1):35-40.
Rochyatun, E, Lestari, A. Rozak. 2005. Kualitas Lingkungan Perairan Banten dan sekitarnya Ditinjau dari Kondisi Logam Berat. Makara, Sains. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. Vol. 38:23-46.
Simanjuntak, M. 2007. Variasi Musiman Oksigen Terlarut di Perairan Teluk
Banten. Bidang Dinamika Laut. Indonesian Journal of Marine Science.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta. Vol. 12(3):125-132.
Wulandari, S.Y, B. Yulianto, Sukristiyo. 2008. Pola Sebaran Logam Berat Pb dan
Cd di Muara Sungai Babon dan Seringin Semarang. Indonesian Journal of
Marine Science. Universitas Diponegoro Semarang. Semarang. Vol. 13(4):203-208.
28
Lampiran 1. Peralatan yang digunakan saat penelitian
Water sampler (Van Dorn) Atomic Absorption Spectrophotometer
(AAS-7000)
Water quality checker (Horiba U50) Cool box
Botol sampel polietilen GPS (Global Positioning System)
Garmin 76CSx
Probe
28
Tabel 2. Hasil pengukuran kualitas air secara in situ dan kadar Pb pada tanggal 13 Juli 2011
Stasiun bujur lintang cuaca warna air pH DO
(mg/l) salinitas TDS (mg/l) suhu Kekeruhan (NTU) Kedalaman (m) Pb (ppm) 1 106,1658 -6,02418 cerah coklat keruh 7,58 6,8 31,2 31,4 29,52 11,3 1 0,00282 2 106,162 -6,02181 cerah hijau coklat 8,27 6,89 32,3 32,7 30,09 17,9 1,5 0,00541 3 106,1593 -6,02116 cerah hijau keruh 8,30 6,62 31,6 32,1 30,21 11,1 1,35 0,00541 4 106,1647 -6,01987 cerah hijau biru 7,90 5,4 31,2 31,5 30,04 9,71 1,1 0,00481 5 106,1647 -6,0171 mendung hijau 7,92 6,21 31,3 31,7 29,93 4,84 1,15 0,00661 6 106,1068 -6,02029 cerah coklat hijau 7,78 6,56 31,4 31,5 30,19 29,7 1,35 0,00661 7 106,169 -6,0192 cerah
hijau
kecoklatan 7,78 6,32 32,3 32,7 30,3 9,3 1,1 0,00661 8 106,169 -6,02241 cerah hijau keruh 7,35 6,19 31,5 31,4 31,18 26,6 1,2 0,00282 9 106,1725 -6,02119 cerah hijau keruh 7,60 5,9 30,8 31,5 30,47 11,4 1,3 0,00481 10 106,1752 -6,02416 cerah coklat tua 7,60 5,44 30,8 31,8 30,91 6,73 0,85 0,00282
ADE NOVIA PUTRI. Sebaran Spasial Logam Berat Pb di Perairan Teluk Banten. Dibimbing oleh TRI PRARTONO dan VINCENTIUS P. SIREGAR. Kualitas perairan di sekitar Teluk Banten telah diindikasikan mengalami penurunan kualitas air. Seiring dengan meningkatnya perkembangan industri, potensi sumber logam berat seperti Pb diperkirakan makin membahayakan. Keberadaan aktivitas manusia, khususnya kegiatan budidaya rumput laut dan rajungan. Penelitian ini bertujuan memetakan dan menganalisis sebaran spasial Pb dan kualitas air yang diharapkan dapat memberikan informasi pola keberadaanya di wilayah tersebut.
Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Agustus 2011 yang terdiri dari kegiatan lapang dan analisis logam berat di laboratorium. Kegiatan lapang mencakup pengukuran kualitas air dan pengambilan sampel air untuk analisis Pb dilakukan pada 10 stasiun yang menyebar pada arah barat, utara, dan timur dari muara Pelabuhan Karangantu. Sampel air tersebut di ekstrak kemudian dianalisis
menggunakan Atomic Absorption Spectrometry (AAS) untuk mengetahui kadar
Pb di perairan. Selanjutnya, analisis secara spasial menggunakan metode interpolasi IDW.
Hasil penelitian menunjukan sebaran Pb di wilayah pengamatan sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrodinamika perairan pantai seperti pergerakan arus yang diperkirakan sangat bervariasi dengan musim. Sebaran Pb cenderung menyebar ke arah Barat dan hal ini terlihat juga dari sebaran parameter pH, TDS dan Salinitas. Konsentrasi Pb diperkirakan berasal dari kegiatan yang ada disekitar wilayah pengamatan termasuk kegiatan perkapalan, perindustrian, dan massa air dari sungai Cibanten serta Kali Karangantu.