PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
6.2 Kadar Serum Progesteron
Uji perbandingan untuk mengetahui perbedaan kadar serum progesteron pada ibu hamil inpartu dan tidak inpartu digunakan uji t-independent. Berdasarkan
42 hasil analisis didapatkan bahwa rerata kadar serum progesteron kelompok inpartu adalah 214,9092,06 dan rerata kelompok tidak inpartu adalah 190,6976,02.
Analisis kemaknaan dengan uji t-independent menunjukkan bahwa rerata kadar serum progesteron pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p > 0,05).
Kadar serum progesteron tidak berbeda pada wanita hamil inpartu maupun wanita hamil tidak inpartu, dimana hal ini sesuai dengan teori Chaliss dan Lye pada tahun 1994 yang menyatakan bahwa kadar progesteron plasma tetap tinggi dan baru akan menurun setelah plasenta dilahirkan.
Yang berbeda adalah jumlah reseptor progesteron, bukan kadar serum progesteron. Kenyataan bahwa persalinan manusia terjadi tanpa adanya pelucutan progesteron sistemik menimbulkan suatu paradox bagaimana inisiasi persalinan bisa terjadi sehingga diajukanlah teori pelucutan progesteron fungsional. Teori pelucutan progesteron fungsional menyatakan bahwa persalinan manusia terjadi bukan karena pelucutan kadar progesteron sistemik namun karena terjadinya penurunan jumlah reseptor progesteron.
Manusia memiliki dua isoform mayor PR, yaitu PRA dan PRB. Kedua bentuk PR ini memiliki hormon steroid dan afinitas yang sama untuk mengikat DNA namun mereka memiliki aktivitas yang berbeda. Aksi progesteron sebagai penenang diduga dimediasi oleh PRB. Progsteron reseptor tipe A ( PRA ) memiliki afinitas yang sama untuk mengikat progesteron namun PRA menekan aktivitas transkripsional yang dimediasi oleh PRB. Kedua PR membentuk dual sistem dalam mengontrol aksi progesteron melalui mediasi target sel, dimana PRB
43 memediasi dan PRA menekan respon terhadap progesteron. Tingkatan dimana penekanan PRA terhadap respon progesteron tergantung pada kelimpahan relatif PRB. Disimpulkan bahwa pelucutan progesteron pada persalinan manusia dimediasi oleh peningkatan rasio PRA/PRB di miometrium.
Selama masa kehamilan manusia, progesteron menurunkan respon estrogen dengan menghambat ekspresi ERα miometrium. Hal ini menjelaskan mengapa miometrium kebal terhadap rangsangan estrogen pada hampir sepanjang masa kehamilan. Pada awal kaskade persalinan ekspresi PRA miometrium meningkat, menyebabkan terjadinya penurunan respons terhadap progesteron karena represi aktivitas PRB transkripsional. Inhibisi bertahap aksi progesteron yang dimediasi oleh PRB menghilangkan hambatan terhadap ekspresi ERα, dimana hal ini mengakibatkan estrogen dalam sirkulasi meningkatkan ekspresi gen CAP dan mengubah uterus menjadi kontraktil. Selama masa kehamilan manusia, progesteron bukan hanya menekan ekspresi gen CAP yang secara langsung berperan pada terjadinya kontraksi miometrium namun juga menghilangkan respon miometrium terhadap rangsangan estrogen. Diilustrasikan pada gambar 2.5.
Pada sistem ini aksi hormonal secara prinsip di kontrol oleh respon target sel, keberadaan hormon dalam sirkulasi dibutuhkan tersedia di atas nilai minimal, namun kadarnya tidak penting. Paradigma ini menjelaskan mengapa inhibisi pada progesteron saja tidak cukup untuk menginisiasi kaskade persalinan secara penuh.
Sebagai tambahan, penekanan terhadap respon estrogen oleh progesteron dapat
44 menjelaskan mengapa persalinan tidak diinisiasi saat prematur walaupun kadar estrogen meningkat di atas normal.
Paradigma umum mengenai kontrol fisiologis dari waktu kelahiran manusia adalah multipel dan berlimpahnya sinyal-sinyal hormonal yang menginisiasi persalinan untuk menginduksi pelucutan progesteron fungsional.
Penelitian pada sel miometrium manusia menunjukkan bahwa PGF2α
merangsang ekspresi PRA dan meningkatkan ekspresi rasio PRA/PRB. Penemuan ini memberi kesan bahwa pelucutan progesteron fungsional pada persalinan manusia diinduksi oleh PGF2α. Pada wanita pemberian PGF2α menginduksi persalinan dan kelahiran pada semua tingkat kehamilan. Saat diberikan pada wanita dalam fase labor aktif ( fase 2 ) potensi dan aksi uterotoniknya sangat instan. Dibandingkan dengan pemberian pada uterus yang tenang ( fase 0 ) aksinya baru tampak setelah masa laten 15 sampai 20 jam. Ini mewakilkan waktu yang dibutuhkan oleh miometrium untuk masuk ke status kontraktil dan mengindikasikan bahwa PGF2α memiliki uterotrofik seperti aksi uterotonik.
Induksi fase 1 oleh hormon yang berperan serta pada fase 2 memberi kesan adanya lingkaran timbal balik positif hormonal pada proses persalinan manusia. Kaskade hormonalnya adalah sebagai berikut, ( ilustrasi terdapat pada gambar 2.6):
1. Progesteron mempertahankan relaksasi miometrium melalui PRs spesifik 2. Pelucutan Progesteron fungsional dimediasi oleh peningkatan Ekspresi
PRA
45 3. Pelucutan Progesteron fungsional menginduksi aktivasi estrogen
fungsional dengan peningkatan ekspresi ERα miometrium
4. Estrogen dalam sirkulasi meningkatkan ekspresi CAP miometrium dan uterotonin
5. Beberapa faktor menginduksi Pelucutan Progesteron fungsional dengan meningkatkan ekspresi PRA.
Tanda-tanda fisiologis multipel bergabung pada miometrium hamil untuk menginduksi pelucutan progesteron fungsional baik secara langsung maupun tidak langsung. Induksi pelucutan progesteron fungsional merupakan langkah integratif yang sangat penting pada kontrol hormonal dari persalinan manusia. Pelucutan progesteron fungsional juga dimediasi oleh interaksi PRB dengan target DNA yang terhambat. Selain daripada itu juga terdapat peran berbagai faktor yang meningkatkan/menghambat kerja PR. Pelucutan progesteron fungsional dimediasi oleh peningkatan ekspresi PRA, dalam hal ini terjadi penurunan PRB secara relatif, dimana PRB ini berfungsi memediasi kerja hormon progesteron di miometrium. Penurunan reseptor inilah yang bisa menjawab mengapa inisiasi persalinan bisa terjadi walaupun kadar serum progesteron tetap tinggi.kemudian pelucutan progesteron fungsional mengaktivasi estrogen fungsional dengan peningkatan ekspresi ERα miometrium. Aktivasi estrogen fungsional bersama-sama dengan estrogen dalam sirkulasi meningkatkan ekspresi CAP miometrium dan uterotonin sehingga uterus berada dalam fenotip kontraktil yang akan membawa kepada proses persalinan.
46 Sebagai kesimpulan, bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa korepresor PR, seperti aktivator PR, mengatur aktivitas PR dengan suatu cara agar dapat terjadi penurunan respon progesteron pada miometrium aterm. Penelitian lebih lanjut akan membawa penemuan baru pada bidang endokrinologi molekular yang rumit ini.
47 BAB VII