BAB II : ULAMA PEREMPUAN DALAM PENDIDIKAN
D. Kaidah Klasifikasi Intelektual Ulama
Tugas dari ulama sebagai pewaris nabi dibuktikan dari pengetahuan keagamaan dan keleburannya di masyarakat. Ulama diformulasikan sebagai seorang yang tidak hanya memiliki spesialis dalam satu bidang keilmuan, tetapi ia adalah seorang yang universal dalam cara pandangnya dan mempunyai otoritas dalam beberapa bidang keilmuan yang saling berkaitan. Dibawah ini diuraikan klasifikasi intelektual ulama dalam bidang ilmu al-Qur‟an, hadis, dan fiqh.
1. Ulama Tafsir
Al-Qur‟an merupakan sumber utama ajaran Islam, ia berfungsi sebagai petunjuk ke jalan yang benar. Petunjuk dalam al-Qur‟an banyak bersifat umum dan global, sehingga diperlukan penjelasan dan penjabaran darinya. Jika pada masa Rasulullah para sahabat menanyakan persoalan yang tidak jelas kepadanya, maka
48Badruddin Hsubky, Dilema Ulama dalam Perkembangan Zaman, hlm. 63.
43
setelah wafatnya Rasulullah, umat menanyakan berbagai persoalan kepada sahabat dan tabi‟in yang mumpuni.Pada zaman sekarang ini, tugas meluruskan persoalan keagamaan diwariskan pada ulama sebagaimana fungsinya sebagai pewaris para nabi. Namun, pada era modern ini menjadi ulama tafsir al-Qur‟an bukanlah suatu yang mudah. Karena untuk bisa memahami al-Qur‟an tidak cukup hanya dengan bersandar pada akal semata. Lebih lanjut Syaikh al-Islam Ibn Taymiyah menetapkan beberapa syarat bagi para ulama ahli tafsir dengan menyebutkan lima belas cabang ilmu yang harus dikuasai oleh seseorang yang hendak menafsirkan al-Qur‟an. Adapun syarat keilmuan yang harus dikuasai yaitu „ilm al-lughah, nahwu, ishtiqaq, al-ma‟ani, al-bayan, al-badi‟, al-qira‟at, al- aqidah, usul al-fiqh, asbab al-nuzul, al-qisas, nasikh wa mansukh, fiqh, hadits, dan „ilm al-mauhubah (ilmu anugerah Allah Kepada orang yang mengamalkan apa yang diketahui dengan tulus ikhlas).49
Sementara pendapat Quraish Shihab menekankan dua hal yang harus digarisbawahi dalam konteks menafsirkan al-Qur‟an, yaitu:
a. Menafsirkan berbeda dengan berdakwah atau berceramah berkaitan dengan tafsir al-Qur‟an.
49Alfurqon,“Kaidah Kualifikasi Intelektual Mufasir dan Urgensinya”, Jurnal Mutawatir, (Vol.1, No.2, tahun 2005), hlm. 222.
44
Seseorang yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas, bukan berarti terlarang untuk menyampaikan uraian tafsir. Selama uraian yang dikemukakan berdasarkan pemahaman para ahli tafsir yang telah memenuhi syarat-syarat diatas maka hal itu diperbolehkan untuk mendakwahkannya. Tetapi apabila berdiri untuk mengemukakan pendapatnya dalam bidang tafsir, maka apa yang dilakukannya tidak dibenarkan. Karena besar kemungkinan akan terjerumus ke dalam kesalahan yang menyesatkan.b. Faktor- faktor yang mengakibatkan kekeliruan dalam menafsirkan antara lain diakibatkan karena: pertama, subjektivitas mufasir. Kedua, kekeliruan dalam menerapkan metode atau kaidah. Ketiga, tidak memperhatikan konteks, baik asbab nuzul, hubungan antar ayat, maupun kondisi sosial masyarakat. Keempat, kedangkalan pengetahuan tentang materi uraian ayat. Kelima, kedangkalan ilmu alat dan tidak memperhatikan siapa pembicara dan terhadap siapa pembicaraan ditujukan.50
2. Ulama Hadis
Dalam bidang ilmu hadis ulama bertugas untuk menekuni secara detail tugas-tugas yang terkait dengan
50
Muhammad Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur‟an: Fungsi dan
Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1998), hlm.
45
penyebaran maupun pemahaman hadis agar hadis-hadis tersebut dapat tersebar ke tengah masyarakat. Pada zaman Nabi, hadis diterima dan mudah diamalkan masyarakat dan hingga Nabi wafat maka tugas mulia ini dialihkan kepada ulama untuk membimbing masyarakat ke jalan yang benar. Untuk dapat melakukan tugas tersebut dibutuhkan penguasaan luas dan detail mengenai studi hadis, seperti dalam bidang riwayah dan dirayah, mampu membedakan dengan benar hadis yang shahih, hasan, dlaif, serta maudlu‟, mampu mengetahui yang mu‟talif dan mukhtalifnya, memahami secara mendalam tentang asbab al-wurud, dan mampu menguasai minimal 1000 hadis baik sanad, matan maupun perawinya.51Untuk mendapatkan suatu kebenaran dalam bidang hadis diperlukan beberapa ilmu, sehingga ilmu hadis merupakan kumpulan beberapa ilmu yang multidisiplin. Maka dari itu, kemudian ilmu hadis dapat berkembang beragam seperti ilmu rijal al-hadis, ilmu tashif wa al-ta‟rif, ilmu talfiq al-hadis, ilmu jarh wa ta‟dil yang mengupas secara mendalam tentang kriteria perawi yang adil dan dhabit sehingga dapat diketahui ke-tsiqat-an agar hadis
51
Erfan Soebahar, Aktualisasi Hadis Nabi di Era Teknologi
46
yang tersebar di masyarakat bisa dipastikan kebenarannya berasal dari Rasulullah SAW.523. Ulama Fiqh
Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW telah berhenti dengan wafatnya beliau. Sementara itu di sisi lain, masalah-masalah kehidupan manusia terus muncul dan beragam. Kemungkinan juga terjadi problematika yang secara khusus belum ada hukumnya, karena tidak diatur secara rinci dan jelas di dalam nash (al-Qur‟an maupun Sunnah). Dalam keadaan seperti itu, Allah memberikan kebebasan manusia untuk menggunakan akal pikirnya. Berusaha dengan sungguh-sungguh menemukan hukum mengenai suatu kasus yang belum disebutkan jelas hukumnya. Usaha menemukan suatu hukum dalam istilah fiqh disebut ijtihad, dan orang yang melakukan itu disebut mujtahid.
Banyak persyaratan yang harus dimiliki oleh seorang mujtahid baik dari segi keilmuan maupun dalam hal ranah yang diperbolehkan untuk berijtihad. Hal ini perlu agar tidak terjadi penafsiran yang melenceng dari aturan syariat. Masalah ijtihad bukan masalah mau dan tidak mau, tetapi lebih bersifat akademis, mampu atau tidak mampu. Sebab untuk kegiatan ini diperlukan
52M. Abdurrahman dan Elan Sumarna, Metode Kritik Hadis, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 16.
47
beberapa kriteria sebagai jaminan hasil sebuah pemikiran yang benar-benar otoritatif.53Sedangkan menurut Nasrun Rusli yang mengutip pendapat al-Syaukani, syarat yang harus dimiliki mujtahid adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui al-Qur‟an dan Sunnah terutama yang berhubungan dengan hukum.
b. Mengetahui ijma‟ sehingga tidak mengeluarkan fatwa yang berbeda.
c. Mengetahui ilmu bahasa Arab dan ushul fiqh. Ushul fiqh sangat pokok untuk diketahui karena mujtahid akan merespon persoalan-persoalan yang muncul.
d. Mengetahui ushul fiqh, ilmu ini penting karena membahas dasar-dasar serta hal-hal yang berkaitan dengan ijtihad.
e. Mengetahui nash-mansukh sehingga tidak berfatwa atau berpendapat berdasarkan dalil yang sudah mansukh.54
Dari sekian persyaratan yang diajukan di atas,
ada beberapa hal yang secara umum harus selalu ada
sebagai persyaratan seorang mujtahid yaitu pertama,
penguasaan bahasa Arab karena sumber hukum Islam
53Nurasiah,“Nuansa Realitas dalam Perumusan Kualifikasi Mujtahid dan Mufti”, Jurnal Miqot, (Vol. XXXIII No. 2, Juli-Desember 2009), hlm. 191.
54Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 200), hlm. 102.