METODOLOGI PENELITIAN
5.5 Kajian Elemen Lingkungan Integritas Fisik
Integritas Fisik mencakup tatanan lingkungan agar sistem penunjang kehidupan dibumi tetap terjamin dan sistem produktivitas, adaptabilitas, dan pemulihan tanah, air, udara dan seluruh kehidupan berkelanjutan (Kurniawati, 2015). Persepsi responden terhadap keadaan integritas fisik dapat dilihat pada Tabel 5.13
Tabel 5.13 Tabel indikator rata-rata Integritas Fisik
No Integritas Fisik Masyarakat lokal Wisatawan Rata-rata total Aksesibilitas
1
Akses dari penginapan di desa Situngkir ke Bandara Silangit mudah
3.7 2.85 3.28
2 Akses dari penginapan di desa
Situngkir ke pelabuhan mudah 3.7 3.65 3.68
3 Penginapan mudah dicari di desa
Situngkir 3.60 3.15 3.37
Terdapat kendaraan yang
Akses dari penginapan di desa Situngkir ke Bandara Silangit dianggap telah mudah bagi masyarakat, rata-rata 3.7. Namun bagi wisatawan, akses tersebut masih belum mudah, rata-rata 2.85 (Tabel 5.13). Pernyataan yang bertentangan ini dapat terjadi karena masyarakat telah mengetahui daerah sekitar Pangururan dan Bandara, sehingga akses dianggap mudah sedangkan bagi wisatawan yang tidak pernah menempuh jalan tersebut menganggap bahwa akses dari Bandara ke desa masih belum mudah dan asing. Kebiasaan adalah pola perilaku yang diperoleh karena sering terjadi pengulangan sehingga terjadi keteraturan pengenalan terhadap sesuatu (Merriam. W, 1983).
Akses dari penginapan ke pelabuhan telah dianggap mudah dan baik oleh masyarakat dan wisatawan, dengan nilai rata-rata 3.68 (Tabel 5.13). Melalui observasi langsung, jalur untuk ke penginapan di desa memang telah bagus dan mudah sebab jalan yang dilalui hanya memiliki satu jalur yang langsung menuju ke desa. Penginapan juga dianggap mudah dicari di desa Situngkir oleh masyarakat dan wisatawan, nilai rata-rata 3.37 (Tabel 5.13). Hal ini dapat terlihat secara langsung sebab terdapat banyak penginapan dan hotel di sepanjang pesisir Pantai Indah Situngkir dan Pasir Putih Parbaba (Gambar 5.16). Namun, masih belum banyak wisatawan yang menginap di penginapan yang tersedia desa Situngkir.
“Kami masih menginap di Simanindo. Lebih dekat ke pelabuhan dan fasilitas disana lebih terjamin. Makanan disana juga lebih bervariasi dibandingkan dengan makanan yang tersedia di sini”. (Narasumber:
Kenny, wisatawan).
Gambar 5.16 Penginapan di Pasir Putih Parbaba
Masih belum terdapat transportasi umum yang mengangkut wisatawan dari titik akses utama ke desa Situngkir (penilaian rata-rata 2.19). Untuk pengembangan desa wisata, transportasi khusus diperlukan agar masyarakat tahu keberadaan desa Situngkir. Selain transportasi khusus, rute perjalanan yang telah terencana juga dapat disediakan untuk wisatawan, seperti perjalanan melihat-lihat sekitaran desa yang masih asri dan penuh dengan kehidupan masyarakat sehari-hari yang masih tradisional (Zakaria dan Suprihardjo, 2014). Selain khusus, transportasi juga harus bersifat berkelanjutan dan mengurangi kadar karbon di udara. Salah satu alternatif yang dapat dijalankan adalah dengan menambahkan peyewaan / penyediaan transportasi kepada wisatawan berupa sepeda yang ramah lingkungan. Dengan demikian, desa wisata tetap terjaga emisi karbon transportasi dan dapat mempertahankan kelestariannya.
6.1. Kesimpulan
Sebagian keadaan fisik dari elemen lingkungan dari sustainable tourism yang dikaji pada kawasan kajian telah mendapat persepsi yang bagus baik oleh masyarakat setempat maupun wisatawan. Bangunan arsitektur yang terdapat di desa Situngkir yaitu deretan rumah adat batak dinilai unik dan baik oleh masyarakat dan wisatawan. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan yang terdapat di desa Situngkir masih tercermin dalam lingkungannya. Kualitas atraksi alam (Pasir Indah Situngkir dan Pasir Putih Parbaba) dan wahana buatan yang terdapat di desa Situngkir, serta keamanan desa juga dinilai telah bagus. Selain itu, kegiatan khusus yang diadakan tahunan di desa Situngkir, yaitu Festival Pasir Putih, juga telah banyak diketahui oleh wisatawan.
Selain itu, masyarakat juga menggunakan produk lokal dari hasil bercocok tanam di desa.
Namun, terdapat beberapa aspek yang masih kurang memadai, seperti:
perkampungan di desa masih dinilai kurang unik dan menonjol dibandingkan desa lainnya sehingga wisatawan jarang berkunjung ke desa dan hanya berkunjung ke Pasir Putih Parbaba / Pasir Indah Situngkir; kepuasan masyarakat dan pemerintah terhadap lingkungan fisik yang ada masih rendah sehingga saling menyalahkan antara pemerintah dan masyarakat dalam mengelola dan menggali potensi yang terdapat di desa. Selain itu, jumlah atraksi yang terdapat di desa Situngkir dianggap masih belum
pihak ketiga untuk mendatangkan wisatawan ke Danau toba juga masih belum cukup mengekspos nilai jual desa Situngkir.
Akses masuk dan jalan raya ke desa Situngkir sudah bagus, namun masih terdapat beberapa fakor esksisting terkait aksesibilitas yang belum memadai, seperti ketidaknyamanan toilet umum, kurangnya rambu-rambu dan papan penanda, serta tidak adanya jalur pejalan kaki, tempat duduk, tempat sampah, dan pusat informasi turis. Kajian pengelolaan Limbah dan Sumber Daya menunjukkan bahwa masih banyak perubahan terhadap pengelolaan lingkungan yang harus dilakukan. Belum terdapat sumber air alternative selain air danau toba. Air yang digunakan oleh masyarakat yaitu dari danau toba, sedangkan pembuangan limbah cair industri yang ada di desa juga dialirkan ke danau toba sehingga sumber air menjadi kotor dan juga mencemari air danau toba. Masyarakat juga belum mendapatkan pelatihan khusus dalam menjaga lingkungan yang berkelanjutan, namun masyarakat telah sadar akan pentingya keberlangsungan lingkungan di desa Situngkir. Selain itu, lahan yang terdapat di desa Situngkir masih belum memiliki zona pemanfaatan dan zona perlindungan, yang seharusnya terdapat di desa wisata.
Kajian integritas fisik elemen lingkungan dari sustainable tourism menunjukkan bahwa keterhubungan antara pelabuhan ke desa Situngkir telah bagus.
Namun, keterhubungan antara bandara Silangit dan tempat penginapan sudah mudah bagi masyarakat, tetapi masih kurang tanda yang menunjukkan arah ke desa Situngkir di sepanjang jalan sehingga wisatawan agak sulit menemukan jalur yang tepat.
6.2. Saran
Bangunan rumah adat yang terdapat di kawasan kajian perlu diadakan perbaikan tampilan untuk meningkatkan minat wisatawan dalam mempelajari nilai sejarah rumah adat sehingga dapat dijadikan sebagai daya tarik sosial. Kualitas atraksi alam, wahana buatan, dan festival tahunan yang telah bagus hendaknya dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Potensi yang terdapat di desa Situngkir lebih diketahui oleh masyarakat dan pemerintah yang menempat disana, jadi sebaiknya potensi tersebut didiskusikan dan digali bersama oleh masyarakat dan pemerintah untuk mencapai suatu kesepakatan dan menghindari terjadinya saling menyalahkan antara keduanya.
Pemerintah juga hendaknya mencari pihak ketiga, seperti praktisi atau akademisi, yang ahli dalam menyusun latar belakang yang menarik sehingga dapat digunakan sebagai daya jual desa Situngkir.
Tour operator juga disarankan untuk mengatur arus kapasitas wisatawan agar tour untuk wisatawan yang mengatur segala aktivitas wisatawan di desa. Hal ini dapat membatasi kegiatan yang dapat menghambat keberlanjutan desa Situngkir dan membatasi jumlah wisatawan. Diperlukan adanya atraksi lain yang ada di desa Situngkir, misalnya dengan atraksi sosial dan budaya yang terdapat disana. Selain itu, atraksi harus bersifat berkelanjutan, yaitu tidak merusak dan mengubah lingkungan alami yang terdapat di pantai maupun desa Situngkir. Masyarakat setempat sebagai pihak yang mengelola secara langsung objek wisata harus meninjau ulang fasilitas-fasilitas yang telah ada, seperti toilet umum, tempat duduk dan penginapan. Daerah
jalan utama juga seharusnya diperhatikan pemerintah, seperti jalur pejalan kaki yang sesuai dengan standar kenyamanan berjalan kaki, tempat duduk maupun tempat sampah yang tersedia setiap beberapa meter. Rumah adat yang terdapat di dekat atraksi alam juga dapat dimanfaatkan sebagai daerah penginapan / homestay sehingga dapat menimbulkan kesan tersendiri di desa Situngkir.
Proses pembuatan souvenir dapat dijadikan suatu daya tarik sosial yang dapat menarik minat wisatawan dan pada saat bersamaan dapat mendukung perekonomian lokal. Pengelolaan sampah perlu dilakukan di desa Situngkir, seperti mengelompokkan sampah menjadi sampah organik dan sampah non-organik. Hal ini akan memudahkan pengelolaannya yaitu, sampah organik dapat digunakan sebagai pupuk kompos untuk bercocok tanam serta digunakan sebagai pakan ternak, sedangkan sampah non-organik seperti plastic dan gelas dapat dijual ke pemulung dan dibuang dengan prosedur yang benar (bukan membakar seperti yang biasa dilakukan masyarakat).
Pemerintah harus segera menyediakan jalur pembuangan limbah yang sesuai dengan standar dan peraturan, serta menggalakan penerapannya di desa-desa di Danau Toba agar keberlanjutan lingkungan dapat terjaga. Limbah pariwisata dan perumahan seharusnya memiliki jalur sanitasi khusus seperti jalur limbah domestic / greywater, jalur septik tank / blackwater, dan jalur yang masih dapat diolah. Alternatif sumber daya air juga seharusnya digunakan lebih banyak dibanding dengan air danau toba, seperti sumber mata air pegunungan maupun sumber air bor (sumur). Adapun penggunaan sumber air langsung dari danau toba diperbolehkan apabila telah memiliki
Perlu dibuat suatu zona pemanfaatan dan zona perlindungan di desa Situngkir agar tidak terjadi banyak modifikasi terhadap atraksi sosial budaya dan atraksi alam yang telah ada disana untuk menjaga keasrian desa. Zona yang dilindungi merupakan zona yang tidak boleh dimodifikasi sama sekali dan harus dikonservasi baik alam dan keanekaragaman hayatinya agar tetap berkelanjutan, sedangkan zona pemanfaatan dirancang sedemikian sehingga baik atraksi alam maupun usaha wisata yang terdapat di desa Situngkir tertata dan bermanfaat secara spatial agar wisatawan nyaman dan tertarik untuk berkunjung. Perlu adanya pusat informasi turis dan transportasi khusus yang memberikan informasi dan mengangkut wisatawan ke desa Situngkir secara langsung sehingga pengunjung dapat merencanakan perjalanan ke desa wisata dengan lebih mudah dan nyaman. Transportasi khusus dan ramah lingkungan harus ada di desa Situngkir, seperti sepeda yang tidak mengeluarkan emisi karbon dioksida agar lingkungan tetap bersih dan berkelanjutan.
Penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan penerapan konsep sustainable tourism berbasis desa wisata pada desa Situngkir untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dan kualitas hidup yang ada di desa Situngkir. Penelitian juga diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menjalankan program desa wisata di desa Situngkir agar jumlah wisatawan meningkat. Peneliti merekomendasikan penelitian lebih lanjut mengenai penerapan konsep sustainable tourism yang berbasis desa wisata untuk meningkatkan elemen pariwisata lainnya yang terdapat di desa Situngkir, Pangururan.
Anindita, M. (2015). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kunjungan ke Kolam Renang Boja. Semarang: Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro.
Burkart, A. J., & Medlik, S. (1981). Tourism: past, present and future. Tourism:
past, present and future., (Ed. 2).
Burns, P. M., & Holden, A. (1995). Tourism: A new perspective. FT Prenticehall.
Calaforra J M and Fernández-Cortés Á 2006 Geotourism in Spain: resources and environmental management Geotourism (Oxford) pp 199-220
Cengiz, T., Ozkok, F., & Ayhan, C. K. (2011). Participation of the local community in the tourism development of Imbros (Gokceada). African Journal of Agricultural Research, 6(16), 3832-3840.
Choi, H. C., & Sirakaya, E. (2005). Measuring residents' attitude toward sustainable tourism:Development of sustainable tourism attitude scale. Journal of Travel Research, 43(4), 380–394.
Coban, S. (2012). The effects of the image of destination on tourist satisfaction and loyalty: The case of Cappadocia. European Journal of Social Sciences, 29(2), 222-232.
Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2017). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Sage publications.
Damanik, J., & Weber, H. F. (2006). Perencanaan Ekowisata dari Teori ke Aplikasi.
diterbitkan atas kerjasama Pusat Studi Pariwisata (PUSPAR) Universitas Gadjah Mada dan Penerbit Andi.
Denman, R. (2007). Sustainable Tourism Indicators and Destination Management Workshop, Kolašin, Montenegro.
Desiningrum, Dinie Ratri. (2010). Family’s Social Support and Psychological Well
Dewi, M. H. U. (2013). Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat Lokal Di Desa Wisata Jatiluwih Tabanan, Bali. Jurnal Kawistara, 3(2).
Dewi, M., & SD, Z. R. (2016). Kinerja Uptd dalam Pengelolaan Objek Wisata Candi Muara Takus Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar.
Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 3(2), 1-15.
Divinagracia, L. A., Divinagracia, M. R. G., & Divinagracia, D. G. (2012). Digital media-induced tourism: The case of nature-based tourism (NBT) at East Java, Indonesia. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 57, 85-94.
Eden, M., Falkheden, L., & Malbert, B. (2000). The built environment and sustainable development: Research meets practice in a Scandinavian context. Planning Theory and Practice, 1(2), 260–272.
Ginting N. (2016). How Self-efficacy Enhance Heritage Tourism in Medan Historical Corridor, Indonesia Procedia-Social and Behavioral Sciences, 234, 193-200. Crossref
Ginting, N., & Wahid, J. (2015). Exploring identity's aspect of continuity of urban heritage tourism. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 202, 234-241.
Goodall, B., & Ashworth, G. (Eds.). (2013). Marketing in the Tourism Industry (RLE Tourism): The promotion of destination regions. Routledge.
Goodland, R. (1995). The concept of environmental sustainability. Annual review of ecology and systematics, 26(1), 1-24
Gunawan, M. W. (2014). Fasilitas Edukasi Wisata Tanaman Hias di Surabaya.
eDimensi Arsitektur Petra, 2(1), 60-66.
Gunn, Clare A. (2002). Tourism Planning. New York City : Taylor and Francis.
Haans, A., & De Kort, Y. A. (2012). Light distribution in dynamic street lighting:
Two experimental studies on its effects on perceived safety, prospect, concealment, and escape. Journal of Environmental Psychology, 32(4),
342-Halim, H., & Halili, H. (2016). Studi Perubahan Garis Pantai dengan Pendekatan Penginderaan Jauh di Wilayah Pesisir Kecamatan Soropia. Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan), 1(1).
Hariyanto, O. I. B. (2016). Destinasi Wisata Budaya Dan Religi Di Cirebon.
Ecodemica, 4(2), 214-222.
Harwanto, S. (2014). Kajian Wisata Seni Budaya Batik Berwawasan Lingkungan di Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah (Doctoral dissertation, Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta).Hendra, K., &
Tendean, S. Perancangan Aplikasi Pengenalan Senjata dan Alat Musik Tradisional Menggunakan Teknologi Augmented Reality.
Holdren, J.P., Daily, G.C., Ehrlich, P.R., 1995. The meaning of sustainability:
biogeophysicalaspects. In: Munasingha, M., Shearer, W.(Eds.), Defining and Measuring Sustainability, The World Bank, Washington, D.C.
Ilker Etikan, Sulaiman Abubakar Musa, Rukayya Sunusi Alkassim. (2016).
Comparison of Convenience Sampling and Purposive Sampling. American Journal of Theoretical and Applied Statistics. Vol. 5, No. 1, pp. 1-4. doi:
10.11648/j.ajtas.20160501.11
Khalik, Wahyu. 2014. Kajian Keamanan dan Keamanan Wisatawan di Kawasan Pariwisata Kuta Lombok. Bali: Universitas Udayana
Kundu, Suman, & Kumar. (2012). Economic empowerment through rural tourism:
the case of Tarapith-a religious tourism destination in Birbhum District of West Bengal India. Geografia, Malaysia Journal of Society and Place, 8(7).
Kurniawati, R., & MM, M. (2013). Modul Pariwisata Berkelanjutan. Tersedia pada https://rinakurniawati. files. wordpress. com/2, 13(01).
Leh, F. C., & Hamzah, M. R. (2012). Homestay tourism and pro-poor tourism strategy in Banghuris Selangor, Malaysia. Elixir International Journal, 45, 7602-7610.
Lindberg, K., & Johnson, R. L. (1997). Modeling resident attitudes toward tourism.
Annals of Tourism Research, 24(2), 402–424.
Webster, Inc. (1983). Webster's ninth new collegiate dictionary. Merriam-Webster.
Millennium Ecosystem Assessment, 2005. Ecosystems and Human Well-being:
Synthesis. Island Press, Washington, DC.
Muhamad & Prima, A.G.. (2016).Indicators of Sustainable Tourism Development (STD), Sustainable Tourism Observatory (STO) Towards Sustainable Tourism Certification (STC) in Pulesari Village, Wonokerto, Turi District, Sleman Regency, Daerah Istimewa Yogyakarta. In Asia Tourism Forum 2016-the 12th Biennial Conference of Hospitality and Tourism Industry in Asia. Atlantis Press.
Negruşa, A. L., Toader, V., Sofică, A., Tutunea, M. F., & Rus, R. V. (2015).
Exploring gamification techniques and applications for sustainable tourism.
Sustainability, 7(8), 11160-11189.
Nuansya, A., & Sulistyani, A. (2017). Daya Tarik Wisata Budaya Festival Cian Cui Di Kota Selat Panjang Provinsi Riau. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, 4(2), 1-15.
Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 2-3
Panasiuk, A. (red.) (2011). Ekonomika turystyki i rekreacji. Wydawnictwo Naukowe PWN.
Pratama, A., & Octavia, D. (2017). Analisis Faktor Sustainable Tourism Pada Kota Bandung. eProceedings of Management, 3(2).
Priasukmana, Soetarso dan R. Mohamad Mulyadin. 2001. Pembangunan Desa Wisata : Pelaksanaan Undang-undang Otonomi Daerah. Info Sosial Ekonomi.
Prijadi, R., & Tarore, R. D. C. (2014). Pengaruh permukaan jalur pedestrian terhadap kepuasan & kenyamanan pejalan kaki di pusat kota Manado.
Media Matrasain, 11(1), 43-54.
Riyanto, A. H., & Riyanto, B. (2015). Analisis Peningkatan Pelayanan Stasiun Bogor Terhadap Kepuasan Pengguna Jasa Kereta Api dengan Metode Importance Performance Analysis (IPA). JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA, 11(4), 391-402.
Robins. (2001). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Alfabeta
Santri, A. (2009). Analisis Potensi Sektor Pariwisata untuk meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat Provinsi Bali.
Saputra, Hendra. 2017. “Pengaruh Harga dan Promosi terhadap Minat Konsumen(Studi Pada PT. Samuderanesia Tour and Travel Pekanbaru)” . JOM FISIP Vol. 4 No. 1. Riau: Universitas Riau
Shuhendry. 2004. Tesis: Abrasi Pantai di wilayah Pesisir Kota Bengkulu (Analisis Faktor Penyebab dan Konsep Penanggulangannya). Universitas Diponegoro, Semarang.
Simamora, R. K., & Sinaga, R. S. (2016). Peran Pemerintah Daerah dalam Pengembangan Pariwisata Alam dan Budaya di Kabupaten Tapanuli Utara.
JPPUMA: Jurnal Ilmu Pemerintahan dan Sosial Politik Universitas Medan Area, 4(1), 79-96.
Soemanto, R. B., & Soemanto, R. B. (2010). Sosiologi Pariwisata.
Sugiyono, M. P. K., & Kualitatif Dan, R. D. (2011). Bandung: Alfabeta.
Suparwoko. 2010. Pengembangan Ekonomi Kreatif Sebagai Penggerak Industri Pariwisata. Simponsium Nasional 2010: Menuju Purworejo Dinamis dan Kreatif.. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.
Tandafatu, M.C. (2016). Kajian Pola Tata Ruang Kampung Adat Bena di Desa Tiworiwu Kabupaten Ngada. (tesis s2)
Torres-Delgado, A., & Palomeque, F. L. (2014). Measuring sustainable tourism at the municipal level. Annals of Tourism Research, 49, 122-137.
United Nations Environment Programme (UNEP) and World Tourism Organisation (WTO). (2005). Making tourism more sustainable: A guide for
http://www.unep.org/publications/search/pub_details_s.asp?ID¼3566 Accessed 07.04.08.
Vitasurya, R., Pudianti, A., Purwaningsih, A., & Herawati, A. (2014). Model alternatif pengelolaan limbah sampah sebagai dampak aktivitas wisata di desa wisata Pentingsari, Yogyakarta. Prosiding SCAN, 5.
Wardi, I. N. (2011). Pengelolaan sampah berbasis sosial budaya: Upaya mengatasi masalah lingkungan di Bali. Bumi Lestari, 11(1), 167-177.
Wilson, S., Fesenmaier, D. R., Fesenmaier, J., & Van Es, J. C. (2001). Factors for success in rural tourism development. Journal of Travel research, 40(2), 132-138.
World Tourism Organization (UNWTO) (1995). Lo que todo gestor turístico debe saber. Guía práctica para el desarrollo y uso de indicadores de turismo sostenible. Madrid: UNWTO
Wray, M., Dredge, D., Cox, C., Buultjens, J., Hollick, M., Lee, D., ... & Lacroix, C. (2010). Sustainable regional tourism destinations: Best practice for management, development and marketing. CRC for Sustainable Tourism, Griffith University, Gold Coast.
Yoeti, O. A. (2008). Ekonomi pariwisata: Introduksi, informasi, dan implementasi.
Jakarta (ID): Kompas.
Yusuf, A. M. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan. Prenada Media.
Zakaria, F., & Suprihardjo, R. (2014). Konsep Pengembangan Kawasan Desa Wisata di Desa Bandungan Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan.
Jurnal Teknik ITS, 3(2), C245-C249.