• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan penelusuran kepustakaan ternyata penelitian tentang tradisi kelisanan baralek gadang pada upacara perkawinan adat sumando dan kajian tentang nilai-nilai kearifan lokal tradisi lisan baralek gadang pada upacara perkawinan adat sumando pesisir Sibolga belum pernah diteliti. Akan tetapi banyak hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini. Dikatakan relevan karena masing-masing penelitian membahas tentang kajian tradisi lisan baik itu makna, ragam bahasa, maupun leksikon yang digunakan dalam proses pernikahan. Oleh karena ada persamaan kajian penelitian dengan penelitian terdahulu, yang membedakannya adalah daerah tempat penelitian. Maka di bawah ini dijelaskan beberapa hasil penelitian yang relevan dengan upacara perkawinan adat adalah sebagai berikut:

Penelitian yang dilakukan oleh Amri (2011) yang berjudul Tradisi lisan Upacara Perkawinan Adat Tapanuli Selatan: Pemahaman Leksikon Remaja di Padang Sidempuan, hasil dari penelitian ini adalah bahwa sampai sekarang ini masyarakat Sidempuan masih tetap melaksanakan adat istiadat tersebut, namun ada sedikit pergeseran diakibatkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah faktor finansial dan efektifitas waktu. Ini dapat dilihat dari kebiasaan masyarakat Sidempuan dalam menyelenggarakan pesta pernikahan yang dulunya bisa sampai memakan waktu sampai tujuh hari dan sekarang cenderung hanya satu hari. Kesemuanya itu dipengaruhi oleh faktor diatas.

Selanjut dari hasil penelitian ini dijelaskan bahwa pada masyarakat Sidempuan khususnya remaja sekarang ini sudah sangat jarang yang mau belajar dan bertanya tentang adat istiadat, salah satunya yaitu adat perkawinan. Akibatnya

banyak kosa kata yang sekarang tidak lagi digunakan para remaja dikarenakan para remaja tidak memahi maksud dari diselenggarakannya proses tersebut. Karena hal diatas maka para remaja juga tidak pahan akan makna yang terkandung di setiap tahapan-tahapan prosesi pernikahan adat Sidempuan tersebut. Penelitian selanjutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Herlina (2007) dengan judul penelitian Makna Antar Persona Dalam Teks Upacara Perkawinan Pada Masyarakat Karo. Pada penelitian ini peneliti memfokuskan penelitiannya pada makna antar persona pada perkawinan masyarakat Karo dengan menggunakan teori LFS.

Penelitian Tumanggor (2011) yang bertajuk Ragam Bahasa Dalam Upacara Adat Perkawinan Masyarakat Pakpak. kajian utama dari penelitian ini adalah ragam bahasa Pakpak dalam upacara adat perkawinan, meliputi pemilihan kata, frasa, penggunaan ungkapan dan satuan estetis bahasa berupa umpama „pantun‟ dan kata sapaan pada upacara perkawinan. Dengan demikian ragam bahasa Pakpak dalam upacara adat perkawinan masyarakat Pakpak adalah variasi penggunaan bahasa yang melahirkan adanya corak pembedaan dalam ungkapan-ungkapan kebahasaan.

Penelitian selanjutnya oleh Karo (2007) dengan judul penelitian Sirkumstan Dalam Teks Perkawinan Masyarakat Karo. Penelitian ini difokuskan pada makna teks ertembe-tembe pedalan emas dan mereken telah-telah pada upacara perkawinan masayarakat Karo. Ertembe-tembe pedalan emas merupakan musyawarah pihak laki-laki dan perempuan dalam hal penyerahan mas kawin, dan semuanya itu dilakukan dalam bentuk dialog, yang diwakili perwakilan pihak

laki-laki dan perempuan sementara mereken telah-telah adalah kata-kata nasehat kepada pihak pengantin laki-laki dan perempuan.

Penelitian Sianipar (2002) yang berjudul Keterkaitan Antara Peran Penutur dan Ragam Bahasa Dalam Upacara Adat Perkawinan Batak Toba Di Medan suatu kajian Sosiolinguistik. Penelitian ini difoukuskan pada keterkaitan peran penutur dari masing-masing komponen dengan variasi yang berlangsung dalam kegiatan upacara adat perkawinan, khususnya masalah Sinamot, atau mahar.

Dengan kata lain pelaksanaan upacara adat jika diperhatikan secara seksama memiliki perbedaan dalam pemilihan diksi yang di dalamnya termasuk kata, frasa, ungkapan, penggunaan umpasa demikian juga dengan kata sapaan.

Selanjunya penelitian Henelia (2008) dengan judul penelitian „Prosodi

Pantun Melayu (dalam Acara Perkawinan Adat Melayu Deli‟). Dalam penelitian ini peneliti khusus mengkaji prosedi pantun Melayu dalam acara perkawinan adat Melayu Deli dan memiliki kesimpulan bahwa pada umumnya masyarakat Melayu sering menggunakan pantun untuk mengutarakan pikirannya. Biasanya pada masing pantun terdiri dari unsur-unsur kalimat, di mana pada masing-masing baris memiliki nama tersendiri dan mempunyai nada yang berbeda-beda pada masing-masing bait dan baris. Dalam penelitian ini, berdasarkan pola pantun dalam mengarak laki-laki pada upacara perkawinan adat Melayu memiliki frekuensi yang sama antara tuturan frekuensi sampiran dengan tuturan frekuensi isi. Sementara tuturan durasi isi untuk tuturan vokal lebih panjang pengucapannya dari tuturan vokal pada durasi sampiran.

Adapun penelelitian yang relevan dengan teori semiotik sosial Halliday adalah dua penelitian berikut.

1.Penelitian selanjutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Herlina (2007) dengan judul penelitian Makna Antar Persona Dalam Teks Upacara Perkawinan Pada Masyarakat Karo. Pada penelitian ini peneliti memfokuskan penelitiannya pada makna antar persona pada perkawinan masyarakat Karo dengan menggunakan teori LFS.

2. Penelitian selanjutnya oleh Karo (2007) dengan judul penelitian

Sirkumstan Dalam Teks Perkawinan Masyarakat Karo. Penelitian ini difokuskan pada makna teks ertembe-tembe pedalan emas dan mereken telah-telah pada upacara perkawinan masayarakat Karo. Ertembe-tembe pedalan emas merupakan musyawarah pihak laki-laki dan perempuan dalam hal penyerahan mas kawin, dan semuanya itu dilakukan dalam bentuk dialog, yang diwakili perwakilan pihak laki-laki dan perempuan sementara mereken telah-telah adalah kata-kata nasehat kepada pihak pengantin laki-laki dan perempuan.

Kontribusi penelitian-penelitian di atas adalah pada 3 hal yaitu pada tataran teoritis dalam memanfaatkan teori LSF untuk menemukan makna-makna semiotik yang terkandung pada teks upacara perkawinan adat, dan bagaimana teks tersebut disampaikan berdasarkan konteks sosial yang meliputi konteks situasi dan konteks budaya. Pada penelitian di atas data penelitian yang digunakan oleh peneliti yakni sama-sama memanfaatkan sumber data perkawinan adat. Selanjutnya pada tataran metode, peneliti dalam penelitian memanfaatkan metode kualitatif dan metode tradisi lisan. Peneliti menggunakan metode tersebut dengan tujuan untuk mendapatkan pemahaman yang sifatnya umum mengenai perkawinan adat terhadap kenyataan sosial dari perspektif partisipan.

Dokumen terkait