• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

3. Kajian Model Pembelajaran Learning Cycle 5E

a. Pengertian Model Pembelajaran Learning Cycle 5E

Model pembelajaran siklus (learning cycle) pertama kali diperkenalkan oleh Robert Karplus dalam Science Curriculum Improvement Study/SCIS (Made Wena, 2009: 170). Pembelajaran siklus merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan kontruktivis. Model pembelajaran learning cycle pada awalnya terdiri atas tiga tahap yaitu: eksplorasi (exploration), pengenalan konsep (concept introduction), dan penerapan konsep (concept application). Robert Karplus dan Herbert Their (Bybee Rodger W , 2006:7) juga menyebutkan tiga tahap siklus belajar SCIS adalah exploration, invention, dan discovery. Menurut Lawson (Rodger W. Bybee , 2006:7) istilah yang digunakan dalam siklus belajar sudah dimodifikasi. Istilah yang dimodifikasi menjadi exploration, term introduction, dan concept application. Meskipun terdapat perubahan, namun pada dasarnya konseptual siklus belajar masih tetap sama.

Menurut Bybee Rodger W (2006:8) pada pertengahan tahun 1980-an BSCS menghasilkan sebuah inovasi yaitu BSCS 5E yang dikenal sebagai model pembelajaran learning cycle 5E. Model BSCS terdiri dari lima tahap yaitu engagement, exploration, explanation, elaboration, dan evaluation. Dari kelima tahapan tersebut terdapat tiga tahap yang setara dengan tahapan siklus belajar SCIS. Berikut ini adalah

30

perbedaan tahap siklus belajar SCIS dan siklus belajar BSCS (Bybee Rodger W, 2006: 8).

Tabel 1. Perbedaan tahap siklus belajar SCIS dan siklus belajar BSCS

SCIS Model BSCS 5E Instructional Model

Engagement (New Phase)

Exploration Exploration (Adapted from SCIS) Invention (Term Introduction) Explanation (Adapted from SCIS) Discovery (Concept Application) Elaboration (Adapted from SCIS)

Evaluation (New Phase)

Dalam penelitian ini siklus belajar yang digunakan adalah siklus belajar BSCS 5E yang merupakan penyempurnaan dari tahap siklus belajar SCIS. Tahap engagement dan tahap evaluation ditambahkan ke dalam siklus belajar BSCS 5E untuk menyempurnakan siklus belajar SCIS.

b. Tahap-Tahap Model Pembelajaran Learning Cycle 5E 1) Pembangkitan Minat (Engagement)

Tahap pembangkitan minat (engagement) merupakan tahap awal dari siklus belajar. Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dan keingintahuan siswa tentang topik yang akan diajarkan. Dengan demikian, siswa akan memberikan respons/jawaban, kemudian jawaban siswa tersebut dapat dijadikan pijakan oleh guru untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang pokok bahasan (Made Wena, 2009: 171).

Bybee Rodger W (2006: 8) menambahkan bahwa kegiatan pada tahap ini melibatkan siswa dengan mengaitkan materi terhadap pengalaman siswa. Siswa difokuskan pada sebuah objek, masalah,

31

situasi, atau peristiwa. Guru dapat mengajukan sebuah pertanyaan, mendefinisikan sebuah masalah ataupun menunjukkan sebuah peristiwa kepada siswa. Hal penting yang harus dicapai dalam tahap ini adalah timbulnya rasa ingin tahu siswa tentang tema atau topik yang akan dipelajari.

Guru dapat memulai tahap engagement dengan memberikan apersepsi dan penyampaian tujuan pembelajaran kepada siswa. Apersepsi dapat dilakukan dengan menunjukkan contoh peristiwa dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan topik bahasan yang dipelajari. Guru juga melakukan tanya jawab untuk menarik minat dan rasa keingintahuan siswa pada topik bahasan. Siswa dapat mengungkapkan apa yang sudah diketahui tentang topik bahasan dan dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang hal yang ingin diketahuinya. Penyampaian tujuan pembelajaran juga dilakukan pada tahap ini untuk menarik minat dan rasa keingintahuan siswa.

2) Eksplorasi (Exploration)

Pada tahap eksplorasi dibentuk kelompok-kelompok kecil antara 2-4 siswa. Dalam tahap ini siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru. Dalam kelompok ini siswa didorong untuk menguji hipotesis dan atau membuat hipotesis baru, mencoba alternatif pemecahannya dengan teman sekelompok, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide atau pendapat yang berkembang dalam diskusi. Pada tahap ini

32

guru berperan sebagai fasilitator dan motivator (Made Wena, 2009: 171). Guru siap dengan berbagai pertanyaan guna membantu siswa baik secara individual maupun kelompok.

Bybee Rodger W (2006:9) menyatakan the aim of exploration activities is to establish experiences that teachers and students can use later to formally introduce and discuss concepts, processes, or skills. Tujuan dari kegiatan eksplorasi adalah untuk membangun pengalaman yang selanjutnya dapat digunakan oleh guru dan siswa untuk mengenal dan mendiskusikan konsep, proses, atau ketrampilan. Selama kegiatan eksplorasi berlangsung, siswa mempunyai kesempatan untuk mengeksplorasi objek, peristiwa atau situasi. Siswa juga diberi kesempatan untuk menyelidiki benda, bahan dan situasi berdasarkan ide masing-masing siswa. Sebagai hasil dari keterlibatan mental dan fisik tersebut, para siswa dapat membentuk hubungan, mengamati pola, mengidentifikasi variabel,dan pertanyaan. Selanjutnya menurut Made Wena (2009: 171) pada tahap eksplorasi ini guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.

Pada tahap ini siswa dapat berdiskusi dan dapat berpikir secara bebas dengan kelompoknya. Siswa membangun sendiri pengetahuannya dengan melakukan percobaan. Beberapa keterampilan proses dapat diterapkan oleh siswa pada tahap ini yaitu, observasi, menafsirkan pengamatan, mengklasifikasi, memprediksi, dan berhipotesis.

33 3) Penjelasan (Explanation)

Dalam tahap penjelasan, guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu konsep dengan kalimat/pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi atas penjelasan siswa, dan saling mendengar secara kritis penjelasan antarsiswa atau guru (Made Wena, 2009: 172). Dengan adanya diskusi ini guru kemudian memberikan penjelasan tentang konsep yang dibahas dengan menggunakan penjelasan siswa sebagai dasarnya.

Bybee Rodger W (2006: 9) juga menambahkan bahwa dalam tahap ini guru mengarahkan siswa untuk memberikan penjelasan dari hasil eksplorasi mereka. Siswa harus mampu menjelaskan hasil dari kegiatan eksplorasi dengan kalimat sendiri. Kemudian guru memberikan penjelasan secara langsung, eksplisit, dan formal. Penjelasan dari siswa dijadikan dasar oleh guru untuk melakukan penjelasan dan mengembangkan penjelasan siswa. Hal ini dilakukan sekaligus untuk memberikan penguatan konsep bagi siswa. Kunci dari tahap ini adalah untuk menyajikan konsep, proses, ketrampilan singkat, sederhana, jelas, dan langsung bergerak ke tahap berikutnya.

Ketrampilan proses yang dapat diterapkan oleh siswa pada tahap ini yaitu mengkomunikasikan dan mengajukan pertanyaan. Siswa mengkomunikasikan hasil dari exploration dengan menggunakan hasil pengamatannya. Siswa mengajukan pertanyaan, baik pertanyaan untuk yang terkait dengan penjelasan siswa lain

34

maupun pertanyaan untuk guru. Penjelasan dari guru dalam tahap ini bersifat menyempurnakan, melengkapi, dan mengembangkan konsep yang sudah diperoleh siswa. Pada kegiatan yang berhubungan dengan percobaan, guru dapat memperdalam hubungan antar variabel dan kesimpulan yang diperoleh siswa. Hal ini diperlukan agar siswa dapat meningkatkan pemahaman konsep yang baru diperolehnya.

4) Elaborasi (Elaboration/Extention)

Pada tahap elaborasi siswa menerapkan konsep dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Siswa akan dapat belajar secara bermakna karena telah dapat menerapkan/mengaplikasikan konsep yang sudah dipelajarinya ke dalam situasi yang baru (Made Wena, 2009: 172). Jika tahap ini dirancang dengan baik oleh guru maka motivasi belajar siswa akan meningkat yang dapat mendorong peningkatan hasil belajar siswa.

Pendapat ini diperkuat oleh Bybee Rodger W (2006: 10) yang menyatakan tahap ini merupakan kesempatan untuk melibatkan siswa dalam situasi baru dan dalam masalah yang membutuhkan penjelasan yang identik atau mirip dengan konsep yang telah dipelajari. Generalisasi konsep, proses, dan keterampilan adalah tujuan utama dari tahap ini. Dalam tahap ini guru dapat memulai dengan mengajukan masalah baru yang memerlukan pengujian lewat eksplorasi dengan melakukan percobaan, pengamatan, pengumpulan data, analisis data sampai membuat kesimpulan.

35

Penerapan konsep yang sudah dipelajari siswa ke dalam situasi yang baru termasuk dalam salah satu ketrampilan proses sains yaitu menerapkan konsep atau prinsip. Siswa dapat menerapkan konsep yang sudah dipelajarinya dengan menjawab pertanyaan-pertanyan yang berkaitan dengan konsep yang sudah dipelajarinya namun dalam konteks atau situasi yang berbeda.

5) Evaluasi (Evaluation)

Pada tahap evaluasi, siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya. Guru dapat mengetahui pengetahuan atau pemahaman siswa dalam menerapkan konsep baru. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru sebagai bahan evaluasi tentang proses penerapan siklus belajar, dan melalui evaluasi diri siswa akan dapat mengetahui kekurangan atau kemajuan dalam proses pembelajaran yang sudah dilakukan (Made Wena, 2009: 172).

Pendapat tersebut juga sesuai dengan pendapat Bybee Rodger W (2006: 10) yang menyatakan bahwa this is the important opportunity for students to use the skills they have acquired and evaluate their understanding. Hal ini berarti bahwa pada fase ini merupakan kesempatan penting bagi siswa untuk menggunakan keterampilan yang mereka peroleh dan mengevaluasi pemahaman

36

mereka. Dalam tahap ini guru memberikan penilaian terhadap tingkat pemahaman masing-masing siswa.

Guru dapat melakukan tanya jawab tentang apa yang sudah diketahui siswa setelah pembelajaran selesai. Guru menanyakan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa pada waktu melakukan percobaan dan menemukan konsep. Guru juga dapat memberikan evaluasi berupa soal tertulis yang mencakup materi yang sudah diajarkan.

Perbedaan mendasar antara model pembelajaran learning cycle 5E dengan pembelajaran konvensional adalah guru lebih banyak bertanya daripada memberi tahu. Selain itu sesuai dengan pendapat Bybee Rodger W (2006: 10) prinsip dari model pembelajaran learning cycle 5E adalah teori psikologis yang menekankan pada urutan fase. Kelima tahapan siklus belajar 5E dapat digambarkan seperti dibawah ini :

Gambar 1. Skema tahap-tahap model pembelajaran learning cycle 5E Bybee Rodger W (2006: 10) menjelaskan aktivitas yang dilakukan oleh guru dan siswa pada setiap fase siklus belajar BSCS 5E secara lebih rinci yang dapat dilihat lampiran 1 halaman 86.

37

Berdasarkan tahapan dalam model pembelajaran learning cycle 5E seperti yang telah dipaparkan, dalam pembelajaran siswa tidak hanya mendengar keterangan dan penjelasan guru tetapi dapat berperan aktif untuk menggali, menganalisis, mengevaluasi pemahamannya terhadap konsep yang dipelajari. Siswa dapat menerapkan ketrerampilan-keterampilan proses sains dalam setiap tahap model pembelajaran learning cycle 5E. Keterampilan proses yang dapat diterapkan tersebut adalah melakukan pengamatan (observasi), menafsirkan pengamatan (interpretasi), mengelompokkan (klasifikasi), meramalkan (prediksi), mengkomunikasikan, berhipotesis, menerapkan konsep atau prinsip, dan mengajukan pertanyaan.

Dokumen terkait