Korporasi modern memisahkan pemilik perusahaan dari kendali atas perusahaan karena kendali perusahaan berada di tangan agen atau manajemen yang dikontrak oleh pemilik untuk menjalankan perusahaan (Berle dan Means 1932). Namun demikian, pemisahan kepemilikan dan kendali atas perusahaan tersebut menimbulkan masalah karena adanya kesenjangan informasi, perbedaan tujuan antara pemilik dan agen, dan tidak adanya kontrak yang sempurna, yang kemudian memunculkan biaya keagenan (Jensen dan Meckling 1976). Tata kelola yang baik menjadi kunci utama dalam menekan biaya keagenan yang muncul karena perbedaan tujuan manajemen dan pemegang saham karena tata kelola adalah cara bagaimana memastikan investor mendapatkan imbal hasil investasi (Shleifer dan Vishny 1997). Penelitian Chen dan Liu (2013) menunjukkan bahwa investor memberikan imbalan lebih bagi manajer yang melakukan upaya untuk mengurangi kesenjangan informasi.
Teori dan bukti empiris mengenai dampak tata kelola perusahaan terhadap nilai perusahaan telah banyak tersedia, misalnya Hart (1995), Gompers, Ishii, dan Matrick (2003), Lemmon dan Lins (2003), Chen dan Liu (2013), Saona dan San Martín (2016), dan Schmidt dan Fahlenbrach (2017). Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa tata kelola yang baik dapat meningkatkan nilai perusahaan. Claessens dan Yurtoglu (2013) berpendapat bahwa tata kelola perusahaan yang baik dapat meningkatkan nilai perusahaan karena tata kelola yang baik akan menjadikan manajemen lebih efisien, sehingga pengalokasian aset dan kebijakan tenaga kerjanya menjadi lebih baik. Hubungan positif antara tata kelola dan kinerja ini juga terbukti pada industri perbankan, misalnya penelitian empiris Aebi, Sabato, dan Schmid (2012) yang menemukan bahwa bank yang memiliki tata kelola yang baik memiliki kinerja yang lebih baik dari pada bank yang tidak memiliki tata kelola yang baik pada saat krisis keuangan 2007/2008.
Secara tidak langsung, penelitian ini menunjukkan bahwa tata kelola bank memiliki peran yang sangat penting untuk stabilitas industri perbankan pada masa krisis.
Sementara itu, bukti empiris untuk pengaruh tata kelola dan pengambilan risiko perusahaan ditunjukkan oleh penelitian John, Litov, dan Yeung (2008), yang membuktikan bahwa tata kelola yang baik dapat mengurangi pengambilan risiko perusahaan. Untuk kasus industri perbankan, hubungan tata kelola dan risiko bank, yang merupakan ukuran dari stabilitas keuangan, ditunjukkan oleh penelitian Leaven dan Levine (2009), bahwa dalam studi empirisnya menemukan bahwa struktur kepemilikan bank mempengaruhi pengambilan risiko.
8 Struktur kepemilikan dalam penelitian ini dijadikan ukuran tata kelola. Proksi tersebut mengacu pada pendapat Shleifer dan Vishny (1997), bahwa salah satu cara untuk menyatukan hak kendali dan hak arus kas investor luar adalah dengan mengonsentrasikan kepemilikan perusahaan ke satu pihak. Kepemilikan yang terkonsentrasi ini akan menjadi sebuah alat kendali, berupa pengawasan, insiders sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa kebijakan perusahaan yang dilakukan oleh insiders diarahkan untuk pemegang saham. Dengan demikian, konsentrasi kepemilikan tersebut menjadi sebuah alat tata kelola perusahaan. Maka hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
H1: Kualitas tata kelola perusahaan meningkatkan stabilitas keuangan.
(Mishkin 1999). Mempertegas hal ini, Caminal dan Matutes (2002)
Ada dua argumen besar yang saling bertentangan mengenai hubungan hubungan persaingan dengan stabilitas. Yang pertama adalah hipotesis kerentanan persaingan, di mana persaingan yang lebih ketat dalam sistem perbankan akan menyebabkan kerapuhan keuangan yang lebih besar. Penelitian teoritis Marcus (1984), Chan, Greenbaum, dan Thakor (1986), da Keeley (1990), menunjukkan bahwa persaingan mendorong bank untuk melakukan strategi pengambilan risiko karena kontraksi franchise value. Peneliti lain berpendapat bahwa jumlah bank yang lebih sedikit di dalam sistem perbankan akan membuat mereka lebih mudah untuk diawasi, sehingga mengurangi instabilitas sistem keuangan (Allen dan Gale 2000). Namun, Boyd dan De Nicolo (2005), dalam karya teoretis mereka, berpendapat bahwa sistem perbankan terkonsentrasi membuat mereka memiliki kekuatan pasar yang lebih besar, yang memungkinkan mereka untuk meningkatkan suku bunga yang akhirnya mendorong debitor untuk meminjam lebih banyak demi menutup biaya modal yang lebih tinggi. Akibatnya, ini akan meningkatkan probabilitas default bank. Semakin sedikit jumlah bank dalam sistem perbankan mungkin memang lebih mudah untuk diawasi. Namun, lebih sedikit jumlah bank juga berarti mereka menjadi bank yang lebih besar, yang menjadikan mereka bank yang too big too fail (TBTF). Namun, bank TBTF sering menerima subsidi implisit dari pemerintah ketika mereka dalam kesulitan (Mishkin 1999). Mempertegas hal ini, Caminal dan Matutes (2002) berpendapat bahwa jumlah bank yang sedikit di dalam sistem perbankan berimplikasi pada penjatahan kredit yang lebih besar oleh masing-masing bank, yang akan mengarah pada probabilitas default yang lebih tinggi. Argumen kelompok ini menyiratkan hipotesis hubungan persaingan dengan stabilitas, yaitu tingkat persaingan yang lebih tinggi mengarah pada sistem keuangan yang lebih stabil.
9 Terkait hubungan antara kompetisi bank dan stabilitas keuangan, Soedarmono, Machrouh, dan Tarazi (2011), Soedarmono, Machrouh, dan Tarazi (2013), and Fu, Lin, dan Molyneux (2014) memberikan bukti empiris yang kuat bahwa persaingan yang lebih ketat mengarah pada stabilitas keuangan yang lebih buruk. Temuan ini menyimpulkan bahwa di Asia hipotesis persaingan-instabilitas terbukti. Untuk khusus kasus perbankan Indonesia, Yusgiantoro, Soedarmono, dan Tarazi (2019) juga menemukan hasil yang sama, bahwa kompetisis mengarah ke instabilitas keuangan. Berdasarkan temuan-temuan empiris tersebut, maka hipotesis kedua yang diajukan adalah:
H2: Tingkat kompetisi pasar yang tinggi akan menurunkan stabilitas keuangan.
Beberapa penelitian menyelidiki interaksi antara tata kelola dan persaingan pada perusahaan non-keuangan dan mendukung hipotesis substitusi, bahwa persaingan menggantikan fungsi tata kelola perusahaan (Giroud dan Mueller 2011, Tian dan Twite 2011, Grullon dan Michaely 2012). Oleh karena itu, ketika tingkat kompetisi pasar industri perbankan tinggi, maka pengaruh positif dari tata kelola bank pada stabilitas keuangan akan berkurang karena kompetisi adalah pengganti dari mekanisme tata kelola perusahaan. Oleh karena itu, hipotesis terakhir yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
H3: Dampak positif tata kelola bank pada stabilitas keuangan akan melemah jika tingkat persaingan pasar di industri perbankan semakin tinggi.
10