Stakeholder theory mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat bagi stakeholdernya. Stakeholder yang dimaksud meliputi pemegang saham, kreditur, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis, dan pihak lain.
Dengan demikian, dukungan yang diberikan oleh stakeholder tersebut akan berpengaruh terhadap keberadaan suatu perusahaan (Apriwandi dan Pratama 2014). Menurut Arifin, dkk (2012) alasan yang mendorong perusahaan perlu memperhatikan kepentingan stakeholder, yaitu:
1. Isu lingkungan melibatkan berbagai kepentingan berbagai kelompok dalam masyarakat yang dapat mengganggu kualitas hidup mereka.
2. Dalam era globalisasi telah mendorong produk-produk yang diperdagangkan harus bersahabat dengan lingkungan.
3. Para investor dalam menanamkan modalnya cenderung untuk memilih perusahaan yang memiliki dan mengembangkan kebijakan dan program lingkungan.
4. LSM dan pencinta lingkungan makin vokal dalam mengkritik perusahaan-perusahaan yang kurang peduli terhadap lingkungan.
Good Corporate Governance
Pedoman umum Good Corporate Governance Indonesia menyatakan bahwa tujuan pelaksanaan good corporate governance adalah mendorong timbulnya kesadaran dan tanggung jawab perusahaan pada masyarakat dan lingkungan sekitarnya (Rustiarini 2011). Gagasan utama GCG atau tatakelola perusahaan yang baik adalah mewujudkan tanggung jawab sosial (CSR). Pelaku CSR sebaiknya tidak memisahkan aktifitas CSR dengan GCG, karena keduanya merupakan satu kesatuan, dan bukan merupakan penyatuan dari beberapa bagian yang terpisahkan. Tanggung jawab sosial berorientasi kepada pada stakeholders hal ini sejalan dengan salah satu prinsip utama GCG yaitu responsibility.
Pengungkapan (disclosure) terhadap aspek social, ethical, environmental dan sustanability sekarang ini menjadi suatu cara bagi perusahaan untuk
mengkomunikasikan bentuk akuntabilitas kepada para stakeholder (Cahyaningsih dan Martina 2011).
Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan mengungkapkan praktik tanggung jawab sosial agar bentuk kontribusi yang telah dilakukan oleh perusahaan tersebut dapat diketahui oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Pengungkapan tanggung jawab sosial atau sering disebut corporate social reporting adalah proses pengkomunikasian efek-efek sosial dan lingkungan atas tindakan-tindakan ekonomi perusahaan pada kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat dan pada masyarakat secara keseluruhan (Cahyaningsih dan Martina 2011). Pengungkapan tanggung jawab sosial ini juga terdapat dalam keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) No. kep-38/PM/1996 peraturan No. VIII.G.2 tentang Laporan Tahunan. Peraturan ini berisi mengenai kebebasan bagi perusahaan untuk memberikan penjelasan umum mengenai perusahaan, selama hal tersebut tidak menyesatkan dan bertentangan dengan informasi yang disajikan dalam bagian lainnya. Penjelasan umum tersebut dapat berisi uraian mengenai keterlibatan perusahaan dalam kegiatan pelayanan masyarakat, program kemasyarakatan, amal, atau bakti sosial lainnya, serta uraian mengenai program perusahaan dalam rangka pengembangan SDM (Murwaningsari 2010).
Perumusan Hipotesis
Pengaruh Dewan Komisaris Independen terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial
Dewan komisaris independen dianggap sebagai mekanisme pengendalian intern tertinggi, yang bertanggung jawab untuk memonitor tindakan manajemen puncak (Nurkhin 2010). Jumlah dewan komisaris independen harus dapat menjamin agar mekanisme pengawasan berjalan secara efektif dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Penelitian Haniffa dan Coke (2002) dalam Cahyaningsih dan Martina (2011) menemukan bahwa apabila jumlah dewan komisaris independen semakin dominan, hal ini dapat memberikan power kepada
dewan komisaris untuk menekan manajemen meningkatkan kualitas pengungkapan perusahaan.
Dalam penelitian sebelumnya yaitu yang dilakukan oleh Badjuri (2011) diperoleh bahwa dewan komisaris independen berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial. Hal ini menunjukkan bahwa dengan jumlah dewan komisaris independen yang tinggi maka akan meningkatkan luas pengungkapan CSR pada perusahaan karena semakin besar monitor yang akan diberikan oleh dewan komisaris independen. Adapun peneliti lain yaitu Nurkhin (2010) diperoleh bahwa dewan komisaris independen juga berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial. Berdasarkan uraian di tersebut, maka dirumuskan hipotesis:
H1 : Dewan komisaris independen berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial
Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial
Menurut Cahyaningsih dan Martina (2011) kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham perusahaan yang dimiliki oleh instansi atau lembaga. Anggraini (2006) menyatakan bahwa tuntutan terhadap perusahaan untuk memberikan informasi yang transparan, organisasi yang akuntabel serta tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) memaksa perusahaan untuk memberikan informasi mengenai aktivitas sosialnya. Dengan demikian penjelasan di atas memberikan pemahaman bahwa dengan tingkat kepemilikan institusional yang semakin tinggi akan meningkatkan tingkat pengawasan terhadap manajemen. Pengungkapan CSR adalah salah satu aktivitas perusahaan yang dimonitor oleh pemilik saham institusi (Badjuri 2011).
Murwaningsari (2010) meneliti tentang penguruh kepemilikan institusional terhadap pengungkapan tangung jawab sosial dan didapatkan hasil yaitu kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap pengungkapan CSR.
Cahyaningsih dan Martina (2011) juga meneliti tentang pengaruh kepemilikan institusional terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial dan diperoleh hasil bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap pengungkapan
tanggung jawab sosial. Berdasarkan uraian di tersebut, maka dirumuskan hipotesis:
H2 : Kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial
Pengaruh Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan
Kinerja keuangan suatu perusahaan merupakan faktor acuan investor dalam membeli saham. Para investor melakukan analisis pada suatu perusahaan dengan melihat rasio keuangan sebagai alat evaluasi investasi (Widyanti 2010).
Rakhiemah dan Agustia (2009) mengemukakan bahwa investor mempertimbangkan informasi CSR yang diungkapkan dalam laporan tahunan perusahaan, sehingga dalam pengambilan keputusan investor tidak semata-mata mendasarkan pada informasi laba saja. Semakin luas informasi yang disampaikan kepada stakeholder maka akan semakin memperbanyak informasi yang diterima mengenai perusahaan. Hal ini akan menimbulkan kepercayaan stakeholder kepada perusahaan. Kepercayaan ini ditunjukkan stakeholder dengan diterimanya produk – produk perusahaan sehingga akan meningkatkan laba dan ROE perusahaan (Kurnianto 2011). Perusahaan yang mengungkapkan CSR lebih banyak maka kinerja keuangan perusahaan cenderung lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang tidak mengungkapkan CSR (Chung et al. 2008) dalam (Wijayanti, dkk 2011).
Dalam penelitianWijayanti, dkk (2011)ya ng meneliti tentang pengaruh CSR terhadap kinerja perusahaan diperoleh CSR berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan dan Kurnianto (2011) juga menguji hal yang sama diperoleh bahwa tanggung jawab sosial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. Berdasarkan uraian tersebut, maka dirumuskan hipotesis:
H3 : Pengungkapan tanggung jawab sosial berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan
Model Penelitian
Penelitian ini menguji dua model yaitu:
Model I
Model II
METODA PENELITIAN