• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

Uraian dalam sub bab ini membahas tentang teori-teori yang mendukung dan hasil penelitian yang relevan.

1. Teori-teori yang Mendukung a. Kecemasan

1) Definisi kecemasan

Beberapa ahli memiliki defenisi kecemasan yang hampir sama. Ramaiah (2003: 6), berpendapat bahwa kecemasan adalah hasil dari proses psikologi dan fisiologi yang ada dalam tubuh manusia. Kecemasan berbeda dengan rasa takut meskipun ada kaitannya. Kecemasan menunjukkan reaksi terhadap bahaya yang memperingatkan orang—secara naluri— bahwa ada bahaya dan orang tersebut mungkin akan kehilangan kendali dalam situasi itu. Rasa takut biasanya dirasakan sebentar saja, sedangkan kecemasan akan terasa lebih lama.

Schwartz (dalam Annisa dan Ifdil, 2016: 94) mengemukakan kecemasan merupakan suatu keadaan emosional negatif yang ditandai dengan tanda-tanda ketegangan somatik, seperti jantung berdetak, berkeringat, dan sering sulit bernafas. Kecemasan berasal dari kata Latin

10

dengan rasa takut, tapi dengan fokus kurang spesifik. Sedangkan ketakutan biasanya respon terhadap beberapa ancaman langsung, kecemasan ditandai oleh kekhawatiran tentang bahaya yang terletak di masa depan.

Sementara itu, Freud (dalam Feist dkk., 2017: 36) mendefinisikan kecemasan sebagai keadaan afektif yang dirasa tidak menyenangkan disertai dengan sensasi fisik yang memperingatkan seseorang pada bahaya yang akan datang. Kecemasan adalah sesuatu perasaan yang tidak menyenangkan yang sulit dipastikan, tetapi terasa.

Dari beberapa pendapat ahli di atas, definisi kecemasan yaitu suatu keadaan afektif yang dirasa tidak menyenangkan disertai sensasi fisik seperti jantung berdetak, berkeringat, atau sulit bernafas yang memperingatkan orang –secara naluri – pada bahaya yang akan datang. 2) Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan

Menurut Ramaiah (2003: 11), faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan, yaitu:

a) Lingkungan atau sekitar tempat tinggal dapat mempengaruhi cara berpikir dengan orang lain. Hal ini bisa disebabkan misalkan pengalaman bersama keluarga, sahabat, rekan kerja, dan lain-lain. Kecemasan wajar timbul jika merasa tidak aman pada suatu lingkungan.

b) Emosi yang ditekan. Kecemasan bisa terjadi jika seseorang tidak mampu menemukan jalan keluar untuk perasaan yang dialami

11

dalam suatu hubungan personal. Ini terjadi jika marah atau frustasi dalam jangka waktu yang sangat lama.

c) Sebab-sebab fisik, seperti pikiran dan tubuh saling berinteraksi satu dengan yang lain dan dapat menyebabkan timbulnya kecemasan. Ini biasa terlihat misalnya seperti kondisi saat hamil, semasa remaja, atau sewaktu pulih dari suatu penyakit. Selama kondisi-kondisi ini terjadi, perubahan-perubahan lazim muncul dan ini dapat menyebabkan timbulnya kecemasan.

d) Keturunan, sekalipun gangguan emosi ada yang ditemukan dalam keluarga-keluarga tertentu, ini bukan merupakan penyebab penting dari kecemasan.

Dari faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan. Faktor lingkungan dapat disebabkan oleh karena perasaan tidak aman yang diterima dari lingkungan sekitar, faktor emosi yang ditekan yaitu terjadi jika seseorang tidak mampu menemukan jalan keluar untuk perasaan dalam suatu hubungan personal, faktor sebab-sebab fisik yaitu ketika pikiran dan tubuh saling berinteraksi dan dapat menimbulkan kecemasan, serta faktor keturunan yaitu gangguan emosi pada keluarga.

12 3) Dampak dari kecemasan

Ramaiah (2003: 9) berpendapat, kecemasan biasanya menyebabkan dua macam akibat, yaitu:

a) Kepanikan yang amat sangat, oleh karena itu gagal berfungsi secara normal atau menyesuaikan diri pada situasi.

b) Gagal mengetahui terlebih dulu bahayanya dan mengambil tindakan pencegahan yang kurang.

Dari pendapat ahli di atas diketahui bahwa kecemasan dapat menyebabkan kepanikan yang berlebihan dan gagal mengetahui bahaya yang terjadi sehingga mengambil pencegahan yang keliru. 4) Tanda dan gangguan kecemasan pada umumnya

Ramaiah (2003: 27) mengemukakan ada berbagai gejala kecemasan yang menahun. Gejala-gejala yang paling lazim, yaitu:

a) Rasa gugup, jengkel, tegang, dan panik. Rasa cemas berkepanjangan dapat menyebabkan tidak dapat tidur dan selama siang hari mudah merasa lelah.

b) Sakit kepala, ditandai dengan ketegangan otot, khususnya di kepala, di daerah tengkuk dan di tulang punggung, mungkin menyebabkan sakit kepala atau denyut-denyut yang mengakibatkan rasa sakit. Rasa sakit mungkin terjadi di belakang kepala, di atasnya, atau di sebelah depan.

c) Gemetaran. Sekujur tubuh gemetaran, khususnya di bagian lengan dan tangan.

13

d) Aktivitas sistem otonomik yang meningkat. Fungsi-fungsi tubuh seperti pernafasan, pencernaan makanan, denyut jantung, dan sebagainya dinamakan “fungsi otonomik” karena berfungsi secara mandiri, tanpa pengaruh dari luar. Kecemasan dapat meningkatkan aktivitas sistem otonomik ini oleh karena itu menyebabkan keringat bercucuran (khususnya di telapak tangan), serta memanas dan memerahnya wajah. Kadang-kadang mulut menjadi makin kering atau air liur makin banyak di mulut.

Dari pendapat ahli di atas diketahui bahwa tanda dan gejala gangguan kecemasan pada umumnya dapat dirasakan oleh fisik, yaitu seperti sakit kepala, tegang, gemetaran, dan keringat.

5) Aspek-Aspek Kecemasan

Colhun dan Acocella (dalam Sobur, 2003: 70) menyebutkan, terdapat tiga aspek yang merupakan aspek-aspek kecemasan, yaitu:

a) Aspek emosional, yaitu komponen kecemasan yang berkaitan dengan persepsi individu terhadap pengaruh psikologis dari kecemasan, seperti perasaan keprihatinan, ketegangan, sedih, mencela diri sendiri atau orang lain.

b) Aspek kognitif, yaitu ketakutan atau kekhawatiran yang berpengaruh terhadap kemampuan berpikir jernih sehingga mengganggu dalam memecahkan masalah dan mengatasi tuntutan lingkungan sekitar.

14

c) Aspek fisiologis, yaitu reaksi yang ditampilkan oleh tubuh terhadap sumber ketakutan atau kekhawatiran. Reaksi ini berkaitan dengan sistem saraf yang mengendalikan berbagasi otot dan kelenjar tubuh sehingga menghasilkan reaksi dalam bentuk jantung berdetak lebih keras, nafas yang lebih cepat, tekanan darah meningkat.

Berdasarkan pendapat ahli di atas, maka diketahui bahwa ada tiga aspek kecemasan, yaitu emosi, kognitif, dan fisik. Pada penelitian ini, peneliti melakukan penelitian secara khusus pada aspek emosi. Hal ini dikarenakan pentingnya kecerdasan emosi dimulai sejak dini. Emosi yang buruk akan mengakibatkan prestasi belajar yang kurang baik pada siswa.

6) Tingkat kecemasan

Stuart (dalam Annisa dan Ifdil, 2016: 97) berpendapat bahwa ada 4 tingkat ansietas, yaitu:

a) Ansietas ringan.

Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari yang menyebabkan individu menjadi waspada dan tanggapannya terhadap sesuatu lebih luas. Ansietas ini umum dialami oleh seseorang dan dapat memotivasi belajar serta menghasilkan kreativitas.

b) Ansietas sedang

Ansietas sedang memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting. Ansietas ini mempersempit tanggapan individu

15

terhadap sesuatu. Oleh karena itu, individu tidak mengalami perhatian yang selektif dan dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.

c) Ansietas berat

Ansietas berat mengurangi tanggapan atau pendapat individu terhadap sesuatu, akibatnya individu berfokus pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta tidak memikirkan hal yang lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Individu dengan ansietas berat perlu banyak arahan untuk berfokus pada area lain. d) Tingkat panik

Tingkat ini berhubungan dengan terkejut, ketakutan, dan teror. Hal yang rinci terpecah dari proporsinya karena individu kehilangan kendali. Individu yang mengalami kepanikan tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Kepanikan dapat mencakup disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional.

Dari pendapat ahli di atas diketahui adanya empat tingkat ansietas, yaitu ansietas ringan, sedang, berat, dan tingkat panik. Ansietas ringan menyebabkan individu menjadi waspada, ansietas sedang mempersempit lapang persepsi individu, ansietas berat

16

mengurangi lapang persepsi individu, dan tingkat panik dapat menimbulkan persepsi yang menyimpang.

b. Emosi

1) Definisi Emosi

Goleman (2009: 411) mengemukakan emosi merujuk pada perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sementara itu, Albin (1986: 11) mengatakan emosi yaitu perasaan yang kita alami yang biasa kita sebut dengan berbagai nama seperti sedih, gembira, kecewa, semangat, marah, benci, dan cinta. Sebutan yang kita beri pada perasaan tertentu akan mempengaruhi bagaimana kita berpikir dan bertindak tentang perasaan itu. Reber dan Reber (dalam Kumara dkk., 2018: 5) menuturkan emosi di kalangan psikologi biasa didefinisikan sebagai pola reaksi kompleks yang melibatkan unsur pengalaman, perilaku, dan perubahan fisiologis.

Berdasarkan definisi beberapa ahli tersebut, maka emosi adalah perasaan dan pikiran-pikiran khas yang kita alami yang mempengaruhi tindakan dan pikiran kita tentang perasaan tersebut yang melibatkan unsur pengalaman, perilaku, dan perubahan fisiologis.

17 2) Pengaturan Emosi

Pengaturan emosi selama masa kanak-kanak menurut Elisenberg (dalam Santrock, 2007: 9), yaitu:

a) Berasal dari sumber daya eksternal ke internal. Bayi sepenuhnya tergantung dari sumber daya eksternal –orangtua- untuk pengaturan emosinya. Semakin bertambah usia, anak semakin dapat mengatur emosi mereka secara mandiri.

b) Strategi kognitif. Strategi kognitif untuk pengaturan emosi seperti; berpikir positif tentang sesuatu, penghindaran kognitif, dan pengalihan atau pemfokusan atensi seiring berkembangnya pertambahan usia.

c) Rangsangan emosi. Seiring dengan kedewasaan, seorang anak semakin mampu mengontrol emosinya.

d) Memilih dan mengatur konteks dan hubungan. Seiring bertambahnya usia, anak akan dapat memilih dan mengatur situasi dan hubungan sosial sehingga mengurangi emosi negatif.

e) Coping terhadap stres. Dengan bertambahnya usia anak, anak-anak akan lebih mampu untuk mengembangkan strategi coping stres yang lebih baik.

Dari pendapat ahli di atas, dapat diketahui, pengaturan emosi selama masa kanak-kanak yaitu berasal dari sumber daya eksternal ke internal, strategi kognitif, rangsangan emosi, memilih dan mengatur konteks dan hubungan, dan coping terhadap stres.

18 3) Fungsi Emosi

Coleman dan Hammen (dalam Hude, 2006: 24) menyebutkan ada empat fungsi emosi dalam kehidupan manusia, yaitu:

a) Sebagai pembangkit energi

Tanpa emosi, manusia tidak sadar sebab hidup berarti merasa, mengalami, bereaksi, dan bertindak. Dengan emosi, manusia membangkitkan dan memobilisasi energi yang dimiliki.

b) Sebagai pembawa informasi

Keadaan diri sendiri dapat diketahui melalui emosi yang sedang dialami. Misalnya perasaan bahagia ketika memperoleh sesuatu yang disenangi.

c) Sebagai komunikasi intrapersonal dan interpersonal

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa emosi dapat dipahami secara universal. Misalkan dalam retorika, diketahui bahwa pembicara menyertakan seluruh emosi agar dipandang lebih hidup dan meyakinkan.

d) Sebagai informasi tentang keberhasilan yang dicapai

Ketika mendambakan kesehatan yang prima, kondisi badan yang sehat menandakan bahwa sesuatu yang didambakan berhasil. Dari pendapat ahli di atas didapatkan bahwa ada empat fungsi dalam kehidupan manusia yaitu sebagai pembangkit energi, sebagai pembawa informasi, sebagai komunikasi intrapersonal dan

19

interpersonal, dan sebagai informasi tentang keberhasilan yang dicapai.

4) Ciri khas penampilan emosi anak

Ciri khas penampilan emosi anak, yaitu: (Hurlock, 2010: 216) a) Emosi yang kuat

Anak kecil bereaksi dengan intensitas yang sama, baik terhadap situasi yang remeh atau serius.

b) Emosi sering kali tampak

Anak-anak seringkali memperlihatkan emosi mereka meningkat dan menemukan bahwa ledakan emosi mengakibatkan hukuman, sehingga mereka belajar untuk mengendalikan emosi.

c) Emosi bersifat sementara

Dengan meningkatnya usia anak, emosi mereka menjadi lebih stabil.

d) Reaksi mencerminkan individualitas

Semua bayi yang baru lahir pola reaksinya sama. Secara bertahap, dengan adanya pengaruh faktor belajar dan lingkungan, perilaku yang menyertai bermacam-macam emosi semakin diindividualisasikan.

e) Emosi berubah kekuatannya

Semakin bertambah usia anak, di usia tertentu emosi yang sangat kuat berkurang kekuatannya, sedang emosi yang tadinya lemah bertambah kuat. Emosi dapat diketahui melalui gejala perilaku.

20

Anak-anak memperlihatkan emosi mereka melalui kegelisahan, melamun, menangis, kesukaran bicara, dan tingkah yang gugup seperti menggigit kuku atau mengisap jempol.

Dari pendapat ahli di atas, diketahui ada 4 ciri khas penampilan emosi anak, yaitu emosi yang kuat, emosi sering kali tampak, reaksi mencerminkan individualitas, dan emosi berubah kekuatannya. 5) Indikator Kecemasan Aspek Emosi

Calhoun dan Acocella (dalam Safaria dan Saputra, 2009: 55) mengatakan bahwa reaksi emosional pada aspek kecemasan yaitu:

a) Perasaan keprihatinan

Perasaan keprihatinan yaitu perasaan sedih hati yang mendalam (karena usahanya gagal, mendapat kesulitan, mengingat akan nasibnya, dsb.) (Poerwadarminta, 2006: 911).

b) Ketegangan

Ketegangan yaitu hal (keadaan) tegang; pertentangan yang keras (Poerwadarminta, 2006: 1226). Ketegangan bisa merujuk pada ciri seperti panik, kaget, dan terkejut

c) Sedih

Menurut Goleman kesedihan yaitu berupa: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, depresi berat (Goleman, 2009: 411). Pedih yaitu diartikan sebagai rasa sakit, seperti luka dicuci dengan sublimat. Sementara itu, sedih yaitu bersusah hati, muram yaitu tidak terlihat bergembira, dan

21

melankolis yaitu keadaan murung, lamban, sayu, sedih, serta muram (Poerwadarminta, 2006).

d) Mencela diri sendiri atau orang lain

Mencela berarti pernyataan yang mengatakan buruk dan kurang baik, atau mengkritik (Poerwadarminta, 2006: 222).

Dari pendapat beberapa ahli di atas diketahui ada empat indikator kecemasan aspek emosi, yaitu perasaan keprihatinan, ketegangan, sedih, dan mencela diri sendiri atau orang lain.

c. Perkembangan

1) Pengertian Perkembangan

Perkembangan adalah suatu hal yang berkaitan dengan perubahan kualitatif dan kuantitatif dan juga dapat didefinisikan sebagai deretan progresif dari perubahan yang teratur dan koheren. Progresif menandai bahwa perubahannya terarah dan maju, sedangkan teratur dan koheren menunjukkan adanya hubungan antara perubahan yang sudah terjadi atau yang akan mengikuti (Hurlock, 2010: 23). Sementara itu menurut Yusuf (2011: 2) perkembangan yaitu proses perubahan kualitatif yang mengacu pada fungsi organ-organ jasmaniah atau penyempurnaan fungsi psikologis dan yang berlangsung sepanjang kehidupan manusia. Dari pendapat ahli di atas, diketahui bahwa perkembangan yaitu suatu perubahan baik kualitatif maupun kuantitatif. Perubahan tersebut mengacu pada pematangan fungsi-fungsi jasmaniah dan psikologis.

22

2) Perubahan yang Penting dalam Perkembangan Emosi Kanak-kanak Madya dan Akhir

Perubahan yang penting dalam perkembangan emosi kanak-kanak madya dan akhir menurut Kuebli, Wintre, dan Vallance (dalam Santrock, 2007: 18), yaitu:

a) Peningkatan kemampuan untuk memahami emosi lebih kompleks, misalnya kebanggaan dan rasa malu (Kuebli dalam Santrock, 2007: 18).

b) Peningkatan pemahaman bahwa mungkin saja seseorang mengalami lebih dari satu emosi dalam situasi tertentu.

c) Peningkatan kecenderungan untuk lebih mempertimbangkan kejadian-kejadian yang menyebabkan reaksi-reaksi tertentu.

d) Peningkatan kemampuan untuk menekan atau menutupi reaksi emosional yang negatif.

e) Penggunaan strategi personal untuk mengalihkan perasaan tertentu. 2. Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian pertama yaitu penelitian yang dilakukan Lindo dkk. (2016), dengan judul “Gambaran Tingkat Kecemasan pada Anak yang Mengalami Kekerasan di Sekolah Dasar di Kecamatan Malalayang Kota Manado”. Variabel-variabel yang diteliti dalam penelitian ini yaitu kecemasan, anak, dan kekerasan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tingkat kecemasan pada anak yang mengalami kekerasan di Sekolah Dasar (SD) di

23

Kecamatan Malalayang Kota Manado. Untuk mengetahui bagaimana tingkat kecemasan pada anak yang mengalami kekerasan di 6 SD di Kecamatan Malalayang Kota Manado, peneliti membagi tingkat kecemasan menjadi 4 tingkatan, yaitu kecemasan normal, kecemasan ringan, kecemasan sedang, dan kecemasan berat. Hasilnya didapatkan bahwa anak usia sekolah yang mengalami kekerasan paling banyak berada dalam kondisi kecemasan normal, yaitu sebanyak 246 anak (78,09%).

Penelitian relevan yang kedua yaitu penelitian yang dilakukan oleh Supriyadi (2016), dengan judul “Penyusunan Skala Kecemasan Aspek Emosi Siswa Kelas IV SD”. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun skala kecemasan aspek emosi yang akan digunakan oleh guru untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan aspek emosi yang dialami oleh siswa, khususnya bagi siswa kelas IV SD. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu research and development yang dikembangkan oleh Borg dan Gall. Subjek pada penelitian ini yaitu siswa kelas IV di SD Negeri Puren. Penelitian ini dibatasi sampai uji coba produk lapangan terbatas untuk mengetahui kualitas skala kecemasan aspek emosi yang telah disusun peneliti. Hasil dari penelitian ini yaitu skala kecemasan aspek emosi untuk siswa kelas IV SD yang memperoleh rerata skor 3,82 dengan kualitas sangat layak.

Penelitian relevan yang ketiga yaitu penelitian yang dilakukan oleh Karakaya dkk. (2016), dengan judul “Analysis of Primary School Student’s

24

yang diteliti dalam penelitian ini adalah jenis kelamin, tingkat kelas, tingkat pembelajaran sains, tingkat pendidikan ibu, dan tingkat pendidikan ayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variabel mana yang mempengaruhi kecemasan siswa dalam pelajaran sains. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan sains pada siswa berada pada tingkat rata-rata. Di sisi lain, analisis menunjukkan bahwa kecemasan belajar sains tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, tetapi berpengaruh pada tingkat pembelajaran sains, tingkat pendidikan ibu, dan tingkat pendidikan ayah.

Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut yang membahas terkait kecemasan dan emosi pada anak, maka peneliti mencoba untuk melakukan penelitian yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Peneliti akan mensurvei kecemasan aspek emosi yang dilakukan oleh siswa Sekolah Dasar Negeri yang ada di Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada penelitian ini, peneliti membuat literatur map mengenai kerangka kesesuaian atau relevansi penelitian sebagai berikut:

25

Bagan 2.1 Literatur Map

Dokumen terkait