Pelaporan hasil
C. Kajian Tekno-Ekonomi Pemanfaatan Tangki Portable
Kajian tekno-ekonomi bertujuan untuk menganalisis tingkat kelayakan penggunaan tangki
portable sebagai media penampung biogas. Kajian dilakukan dengan cara menghitung biaya investasi
pembangkit biogas tipe india 9 m3 ditambah investasi tangki portable dan pompa manual termodifikasi, serta menghitung biaya per-unit output biogas dalam kurun waktu tertentu. Adapun dalam kajian ekonomi ini, dilakukan beberapa pengasumsian variable biaya. Pada kajian tekno-ekonomi ini diasumsikan bahwa unit digester yang dibangun berada langsung di peternakan dan dioprasikan langsung oleh pemilik, sehingga upah tenaga kerja dan feses sebagai bahan baku bukan merupakan variabel biaya yang masuk dalam perhitungan usaha ini. Hal ini juga berlaku pada unit kompor yang juga tidak termasuk dalam variabel biaya, karena sudah langsung dimiliki peternak. Disamping itu, dalam proses produksi biogas tidak dilakukan pengapuran (untuk meningkatkan nilai
33 pH dalam digester) maka dari itu, pengapuran juga tidak dimasukkan sebagai variabel biaya perhitungan. Asumsi lain yang digunakan adalah pada tingkat output energi (efisiensi), didalam perhitungan ini diasumsikan bahwa tingkat efisiensi (output energi) yang dihasilkan dianggap konstan atau tidak mengalami penurunan dari tahun ke tahun (sampai umur ekonomisnya habis).
Tabel 13. Perhitungan biaya per satuan output energi biogas ditambah unit tangki portable
1 Biaya pembuatan digester (Rp) 7.095.715
Umur ekonomis 10 tahun
Annuity factor (20%) 0,2385
ACC digester (Rp) 1.692.328,03
2 Biaya pembuatan gas holder Ferosemen (Rp) 3036.000
Umur ekonomi 10 tahun
Annuity factor (20%) 0,2385
ACC gas holder Ferosemen (Rp) 724.086
3 Biaya Pembuatan Pompa Manual (Rp) 128.700
Umur ekonomis 3 tahun
Annuity factor (20%) 0,4747
ACC pompa (Rp) 61.093
4 Biaya pembuatan tangki portable (Rp) 616.000
Umur ekonomis 2 tahun
Annuity factor (20%) 0,6545
ACC tangki portable (Rp) 403.172
5 Perlengkapan tambahan (Rp) 361.000
Umur ekonomis 5 tahun
Annuity factor (20%) 0,3344
ACC perlengkapan (Rp) 120.718
6 Biaya perbaikan tahunan (Rp) 219.240
7 Biaya pengurasan tahunan (2 tahun sekali) (Rp) 222.070 8 Biaya pengecatan gas holder(2 tahun sekali) (Rp) 66.000
9 Produksi gas ahunan 1552,5 m3
10 Output energi (efisiensi 60%) 4.657.500 kkal
11 Biaya per-unit output (Rp/kkal) 0,7533
Tujuan perhitungan analisis investasi pembangkit biogas tipe India 9 m3 ini adalah untuk mencari nilai/ biaya per-unit output biogas yang diproduksi. Selain itu juga mencari nilai/biaya per-unit output setelah ditambahkan unit tangki portable dan pompa manual. Melalui hasil perhitungan dan mengacu pada survei harga bahan terbaru, didapatkan biaya per-unit output biogas sebesar Rp 0.6537/kkal. Dan jika ditambahkan investasi berupa tangki portable dan pompa manual, maka akan ada kenaikan biaya per-unit output biogas menjadi Rp 0,7533/kkal. Adapun untuk melihat posisi effisiensi alat dari segi ekonomi, maka kinerja pembangkit biogas dibandingkan dengan biaya per-unit output gas elpiji, dengan mengasumsikan bahwa penggunaan gas elpiji berada pada tingkat effisiensi yang sama, yaitu sebesar 60%.
34 Tabel 14. Perhitungan biaya per-unit output energi gas elpiji (menggunakan tabung gas 3 kg)
1 Harga kompor gas (Rp) 75.000
Umur ekonomis 5 tahun
Annuity factor (20%) 0,3344
ACC kompor gas (Rp) 25.000
2 Harga tabung gas 3 kg 100.000
Umur ekonomis 3 tahun
Annuity factor (20%) 0,4747
ACC tabung gas (Rp) 47.470
3 Konsumsi gas
Harga gas (Rp/kg) 5.333
kg/ hari 0,43
kg/ tahun 156,95
Biaya (Rp/tahun) 885.001,35
4 Output energi (effisiensi 60%)
156,95 kg x 11.254,61 kkal/kg x 0.6 1.059.846,63 kkal
5 Biaya per-unit output (Rp/kkal) 0,9034
Berdasarkan perhitungan biaya per-unit output energi gas elpiji (menggunakan tabung gas 3 kg) didapatkan bahwa, biaya per-unit output gas elpiji sebesar Rp 0,9034 /kkal. Lebih besar Rp 0,1501 /kkal daripada biaya per-unit output biogas ditingkat output energi yang sama, yaitu 60 %. Melalui tabel dibawah dapat dilihat beberapa tingkat biaya per-unit output biogas dengan beberapa tingkat efisiensi output energi.
Tabel 15. Hubungan tingkat efisiensi output energi dengan biaya per-unit output biogas
No Tingkat efisiensi output energi (%) Biaya per-unit output (Rp/kkal)
1 60 0,7533 2 50 0,9040 3 40 1,1300 4 30 1,5067 5 20 2,2600 6 10 4,5200
Melalui tabel diatas dapat dilihat bahwa, semakin menurunnya tingkat efisiensi output energi, akan membuat biaya per-unit output biogas semakin tinggi. Penurunan efisiensi dapat terjadi Karena penurunan nilai ekonomis perangkat pembangkit biogas dari tahun ketahun. Jadi, umur ekonomis yang semakin menurun maka akan membuat biaya per-unit output biogas naik dan berada diatas nilai biaya per-unit output gas elpiji. Dapat dilihat pada tabel diatas bahwa jika pada tingkat effisiensi dibawah 50% biaya per-unit output energi biogas tidak kompetitif lagi terhadap gas elpiji.
35 Tabel 16. Hubungan umur ekonomis digester dan gas holder dengan biaya per satuan unit output
energi
No. Umur ekonomis digester dan gas holder (tahun)
Biaya per satuan unit output energi (Rp/kkal) 1. 10 0.7533 2. 9 0.7742 3. 8 0.8014 4. 7 0.8380 5. 6 0.8886 6. 5 0.9620
Selain itu dilakukan pula uji sensitifitas terhadap biaya per satuan unit output energi. Uji sensitifitas dilakukan dengan memperhitungkan perubahan umur ekonomis digester dan gas holder. Semakin pendek umur ekonomis digester dan gas holder akan menyebabkan meningkatnya biaya per satuan unit output energi. Hubungan umur ekonomis digester dan gas holder terhadap kenaikan biaya per satuan unit output energi dapat dilihat dengan jelas pada Tabel 16. Dari tabel diatas menunjukkan bahwa jika umur ekonomis dari unit digester dan gas holder turun hingga dibawah 5 tahun, maka penggunaan biogas tidak lagi kompetitif terhadap gas LPG. Untuk itu dalam pelaksanaannya, perlu dilakukan perawatan berkala pada digester dan gas holder sehingga umur ekonomisnya tidak turun dan tidak berakibat pada naiknya biaya per satuan output energi biogas. Perawatan berkala ini juga berlaku pada alat yang lain, karena pada dasarnya penurunan umur ekonomis pada setiap alat akan membuat terjadinya kenaikan biaya persatuan unit output energinya.
36
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain:
1. Pompa manual termodifikasi mampu menghasilkan tekanan 10 Psi pada tangki portable dengan 3180-3200 kali pemompaan.
2. Tangki portable hasil modifikasi dari ban karet berdiameter 900 mm dan diameter dalamnya sebesar 508 mm, memiliki volume penampungan maksimal sebesar 2.03 m3 pada tekanan maksimal yang bisa diterima sebesar 10 Psi.
3. Pada 2 kali uji penyimpanan tangki di ruang tertutup selama satu minggu menunjukkan penurunan tekanan tangki yang sama yaitu sebesar 1 Psi. Dimana penurunan terjadi pada waktu yang hampir bersamaan. Hal ini menunjukkan penurunan tekanan tangki terjadi bukan dikarenakan pengaruh suhu lingkungan sekitar tangki namun dikarenakan masih bisa lolosnya biogas melalui pentil tabung yang terhubung dengan katup pressure gauge.
4. Tangki portable yang terisi penuh dengan volume penampungan sebesar 2.03 m3 dapat digunakan untuk mendidihkan 3,58 liter air.
5. Menurut teori penghitungan nilai biaya per unit output energi biogas adalah sebesar Rp 0.6537/kkal. Penambahan unit tangki portable dan pompa manual termodifikasi maka akan menambah biaya menjadi Rp 0.7533/kkal.
6. Pada tingkat efiisiensi yang sama sebesar 60%, maka secara teori penghitungan nilai biaya per unit output energi biogas sebesar Rp 0.7533/kkal, sedangkan biaya per satuan output energi gas elpiji sebesar Rp 0.9034/kkal. Berarti pada tingkat efisiensi yang sama maka biaya persatuan output energi biogas lebih murah Rp 0.1501/kkal.
7. Hasil perhitungan analisis sensitifitas pada variabel efisiensi output biogas menunjukan bahwa pada tingkat effisiensi dibawah 50% biaya per-unit output energi biogas tidak kompetitif terhadap gas LPG. Selain itu, penurunan umur ekonomis pada unit digester dan gas holder mengakibatkan kenaikan biaya per satuan unit output energi biogas. Jika umur ekonomis digester dan gas holder kurang dari 6 tahun, maka biaya per satuan unit output biogas tidak kompetitif terhadap gas LPG.
B. Saran
1. Kemampuan penyimpanan tangki portable masih kecil dan tidak mampu menerima tekanan lebih dari 10 Psi. Maka diperlukan penelitian lanjutan agar dapat merancang tangki yang memiliki kemampuan simpan yang besar dan juga mampu menerima tekanan yang lebih tinggi, namun tetap memakai bahan yang tahan terhadap sifat negatif dari komponen penyusun biogas.
2. Melakukan studi tekno-ekonomi dengan melibatkan komponen biaya tenaga kerja dan bahan-bahan tambahan-bahan produksi biogas.
37