BAB II KAJIAN TEORETIS DAN PRAKTIK EMPIRIS
B. Kajian Terhadap Asas/Prinsip yang Terkait
1. Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
Asas-asas dalam pembentukan peraturan negara yang baik (beginselen van behoorlijke regelgeving) terbagi atas asas-asas yang formal dan yang material. 70 Asas-asas yang formal meliputi:
a. asas tujuan yang jelas (beginsel van duidelijke doelstelling); b. asas organ/lembaga yang tepat (beginsel van het juiste orgaan); c. asas perlunya pengaturan (het noodzakelijkheids beginsel);
d. asas dapatnya dilaksanakan (het beginsel van uitvoerbaarheid); dan e. asas konsensus (het beginsel van consensus).
Adapun asas-asas yang material meliputi asas tentang terminologi dan sistematika yang benar; asas tentang dapat dikenali; asas perlakuan yang sama dalam hukum; asas kepastian hukum; dan asas pelaksanaan hukum sesuai keadaan individual.
70I.C. van der Vlies, Het wetsbegrip en beginselen van behoorlijke regelgeving, ’s-Gravenhage: Vuga 1984 hal 186 seperti dikutip oleh A. Hamid S. Attamimi dalam Maria Farida Indrati, S., Ilmu Perundang-undangan 1, Jenis, Fungsi, dan Materi Muatan, Jakarta: Kanisius, 2007, hal. 253-254.
Di dalam pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia yang patut, adalah sebagai berikut71:
a. cita Hukum Indonesia, yang tidak lain adalah Pancasila yang berlaku sebagai “bintang pemandu”;
b. asas negara berdasar atas hukum yang menempatkan undang-undang sebagai alat pengaturan yang khas berada dalam keutamaan hukum, dan asas pemerintahan berdasar sistem konstitusi yang menempatkan undang-undang sebagai dasar dan batas penyelenggaraan kegiatan-kegiatan Pemerintahan; dan
c. Asas-asas lainnya, yaitu asas-asas negara berdasar atas hukum yang menempatkan undang-undang sebagai alat pengaturan yang khas berada dalam keutamaan hukum dan asas-asas pemerintahan berdasar sistem konstitusi yang menempatkan undang-undang sebagai dasar dan batas penyelenggaraan kegiatan-kegiatan pemerintahan.
Asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang patut meliputi juga asas tujuan yang jelas; asas perlunya pengaturan; asas organ/lembaga dan materi muatan yang tepat; asas dapatnya dilaksanakan; asas dapatnya dikenali; asas perlakuan yang sama dalam hukum; asas kepastian hukum; dan asas pelaksanaan hukum sesuai keadaan individual.
Apabila mengikuti pembagian mengenai adanya asas yang formal dan asas yang material, A. Hamid S. Attamini membagi asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang patut tersebut sebagai:72
a. Asas-asas formal, dengan perincian: 1) asas tujuan yang jelas;
2) asas perlunya pengaturan; 3) asas organ/lembaga yang tepat; 71Ibid., hal. 254-256.
4) asas materi muatan yang tepat; 5) asas dapatnya dilaksanakan; dan 6) asas dapatnya dikenali;
b. Asas-asas material, dengan perincian:
1) asas sesuai dengan cita hukum indonesia dan norma fundamental negara;
2) asas sesuai dengan hukum dasar negara;
3) asas sesuai dengan prinsip-prinsip negara berdasar atas hukum; dan
4) asas sesuai dengan prinsip-prinsip pemerintahan berdasar sistem konstitusi.
Asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik dirumuskan juga dalam Pasal 5 dan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang selanjutnya diubah menjadi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (UU tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan) sebagai berikut:
a. Pasal 5 menyatakan bahwa dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik yang meliputi:
1) kejelasan tujuan;
2) kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; 3) kesesuaian antara jenis dan materi muatan; 4) dapat dilaksanakan;
5) kedayagunaan dan kehasilgunaan; 6) kejelasan rumusan; dan
7) keterbukaan.
b. Pasal 6 menyatakan bahwa materi muatan Peraturan Perundang-undangan mengandung asas, sebagai berikut:
1) pengayoman; 2) kemanusiaan;
3) kebangsaan; 4) kekeluargaan; 5) kenusantaraan;
6) Bhinneka Tunggal Ika; 7) keadilan;
8) kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; 9) ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau
10) keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.
Selain asas-asas tersebut, berdasarkan Pasal 6 ayat (1) UU tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, peraturan perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum peraturan perundang-undangan yang bersangkutan.
2. Asas-Asas Umum Penyelenggaraan Lalu Lintas
Penyelenggaraan LLAJ harus berlandaskan kepada asas-asas sebagai berikut:
1. Asas Kepastian Hukum
Asas ini menjelaskan bahwa pengaturan penyelenggaraan LLAJ harus dilaksanakan untuk menciptakan ketertiban dan keamanan dalam masyarakat melalui jaminan kepastian hukum.
2. Asas transparan
Asas ini menjelaskan bahwa penyelenggaraan LLAJ harus dilaksanakan dengan keterbukaan kepada masyarakat luas dalam memperoleh informasi yang benar, jelas, dan jujur sehingga masyarakat mempunyai kesempatan berpartisipasi bagi pengembangan LLAJ.
3. Asas akuntabel
Asas ini menjelaskan bahwa penyelenggaraan LLAJ harus dapat dipertanggungjawabkan.
4. Asas berkelanjutan
Asas ini menjelaskan bahwa penyelenggaraan LLAJ harus dilaksanakan dengan penjaminan kualitas fungsi lingkungan melalui
pengaturan persyaratan teknis laik kendaraan dan rencana umum pembangunan serta pengembangan jaringan LLAJ.
5. Asas partisipatif
Asas ini menjelaskan bahwa penyelenggaraan LLAJ harus memuat pengaturan tentang peran serta masyarakat dalam proses penyusunan kebijakan, pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan, penanganan kecelakaan, dan pelaporan atas peristiwa yang terkait dengan LLAJ.
6. Asas bermanfaat
Asas ini menjelaskan bahwa penyelenggaraan LLAJ harus dapat memberikan nilai tambah sebesar-besarnya dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
7. Asas efisien dan efektif
Asas ini menjelaskan bahwa penyelenggaraan LLAJ harus dilaksanakan oleh setiap pembina pada jenjang pemerintahan secara berdaya guna dan berhasil guna.
8. Asas seimbang
Asas ini menjelaskan bahwa penyelenggaraan LLAJ harus dilaksanakan atas dasar keseimbangan antara sarana dan prasarana serta pemenuhan hak dan kewajiban pengguna jasa dan penyelenggara.
9. Asas terpadu
Asas ini menjelaskan bahwa penyelenggaraan LLAJ harus dilakukan dengan mengutamakan keserasian dan kesalingbergantungan kewenangan dan tanggung jawab antar instansi pembina.
10. Asas mandiri
Asas ini menjelaskan bahwa penyelenggaraan LLAJ dilaksanakan melalui pengembangan dan pemberdayaan sumber daya nasional. 11. Asas keamanan dan keselamatan
Asas ini menjelaskan bahwa penyelenggaraan LLAJharus menciptakan suatu keadaan terbebasnya orang, barang, dan/atau kendaraan dari gangguan melawan hukum dan/atau rasa takut
dalam berlalu lintas serta terhindarnya setiap orang dari resiko kecelakaan selama berlalu lintas yang disebabkan oleh manusia, kendaraan, jalan dan/atau lingkungan.
12. Asas kesetaraan
Asas ini menjelaskan bahwa penyelenggaraan LLAJ harus harus dapat memberikan pelayanan yang merata kepada segenap lapisan masyarakat dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat.
13. Asas keadilan
Asas ini menjelaskan bahwa penyelenggaraan LLAJ harus memberikan perlakuan yang sama terhadap semua pihak dan tidak mengarah kepada pemberian keuntungan terhadap pihak tertentu dengan cara atau alasan apapun.
14. Asas Futuristis atau Visioner
Asas ini menjelaskan bahwa penyelenggaraan LLAJ tidak hanya dibuat untuk mengatasi suatu peristiwa di masa kini tetapi harus dapat menjangkau perkembangan di masa depan.
15. Asas Pengawasan Politik
Asas ini menjelaskan bahwa DPR RI memiliki kewenangan melakukan pengawasan terhadap kebijakan pemerintah khususnya dalam penyelenggaraan LLAJ yang didasarkan pada fungsi DPR RI dalam UUD NRI Tahun 1945.
C. Kajian terhadap Praktik Penyelenggaraan, Kondisi yang Ada,