• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kajian yang Dilakukan PT Muara Wisesa Samudra

Dalam dokumen PENDAHULUAN. Bab Latar Belakang (Halaman 31-37)

Sesuai dengan Persetujuan Prinsip Reklamasi oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 1291/-1.794.2 tertanggal 21 September 2012, PT Muara Wisesa Samudra pada saat ini telah dan sedang menyiapkan berbagai kajian untuk mendukung pelaksanaan reklamasi, diantaranya :

1) Conceptual Design Pulau G oleh Royal Haskoning Indonesia (September 2012). Kajian yang dilakukan mengidentifikasi batas area reklamasi, kriteria desain hidraulik, kriteria desain geoteknik, desain hidraulik, desain geoteknik, dan metodologi konstruksi pada tataran konseptual. Hasil conceptual design Pulau G dijelaskan dalam Sub-Bab 2.1.4.3 yang selanjutnya menjadi informasi rencana kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka reklamasi Pulau G. Sebagian data dan informasi tentang kondisi hidrooseanografi yang dijadikan dasar penetapan kondisi batas (boundary condition) desain Pulau G diuraikan pada Sub-Bab 2.2.

2) Kajian Hidrodinamika dan Hidrologi Kawasan Perairan Pluit Utara PT Muara Wisesa Samudra oleh LAPI ITB (Januari 2012).

Lingkup kajian hidrodinamika dan hidrologi adalah : - Review data yang ada dan yang diperlukan.

Peta batimetri berdasarkan referensi (datum) LWS (Lowest Water Spring), yaitu 60 cm di bawah muka air rata-rata atau LWS = MSL - 60 cm. Datum tersebut sama dengan datum Peil Kapuk Naga 1995-1998. Batimetri Pluit Utara hingga kedalaman 10 m adalah landai.

Data hidroseanografi berupa pasang surut, angin, gelombang, arus, sedimentasi dan abrasi, elevasi muka air yang dipengaruhi oleh storm surge, peningkatan elevasi muka air akibat perubahan iklim, dan variasi musiman (seasonal variation).

- Analisis data hidraulik dan hidrologi

- Merencanakan layout bentuk reklamasi berdasarkan faktor kendala jalur pipa gas, sirkulasi air pendingin dan air panas yang masuk dan keluar PLTU/PLTGU Muara Karang, dampak terhadap banjir berupa peningkatan elevasi muka air, dan pelabuhan perikanan dan penyeberangan Muara Angke.

- Melakukan simulasi hidrodinamika, gelombang, dan dispersi termal oleh outlet PLTU Muara Karang.

Simulasi dilakukan melalui :

- Model hidrodinamika untuk simulasi sirkulasi arus dan elevasi muka air. Sebagai syarat batas adalah fluktuasi muka air akibat pasang surut dan input debit dari kali dan saluran drainase yang bermuara ke kawasan domain model.

Rencana Reklamasi Pulau G II - 21 - Model dispersi termal (suhu) akibat pembuangan air panas sisa pendingin PLTU/PLTGU

Muara Karang. - Model sedimentasi.

Hasil Pemodelan Hidrodinamika :

- Untuk dapat menjaga operasi sistem pendingin PLTU/PLTGU Muara Karang perlu pemisahan aliran intake berupa air dingin dan outlet berupa air panas. Outlet PLTU Muara Karang dialirkan melalui kawasan Pantai Mutiara, sedang outlet PLTGU Muara Karang dipisahkan melalui batas pemisah antara intake dengan lahan reklamasi.

- Guna menjaga kelancaran aliran Kali Karang dan Kali Angke dibangun kanal lateral selebar 300 m dan kanal vertikal selebar 300 m, dimana lebar kanal juga difungsikan untuk lalu lintas kapal ke pelabuhan Muara Angke.

- Untuk menjaga keamanan pipa gas direncanakan jarak kaki tepi reklamasi sekitar 25 m dari pipa.

- Reklamasi di Pluit Utara tidak mempengaruhi elevasi muka air, dimana pada keadaan normal elevasi muka air setelah reklamasi tidak mengalami kenaikan dibandingkan kondisi eksisting. Pada saat kondisi banjir kenaikan muka air hanya terjadi saat surut, pada saat pasang tidak terjadi kenaikan muka air.

- Reklamasi dapat membantu menurunkan dampak air panas dari outlet PLTU/PLTGU Muara Karang terhadap intake-nya. Pada kondisi eksisting, suhu air pada intake adalah sebesar 30,2oC dan setelah reklamasi terjadi penurunan suhu menjadi 29,4oC.

- Reklamasi akan mengurangi sedimentasi pada intake PLTU/PLTGU Muara Karang. Pada kondisi eksisting, kenaikan dasar laut pada intake adalah sebesar 0,15 m per tahun, setelah reklamasi kenaikan dasar laut sekitar 0,01 m per tahun.

- Reklamasi dapat berfungsi sebagai pemecah gelombang (break water) bagi dermaga perikanan Muara Karang dan Muara Angke.

Hasil kajian hidrodinamika dan hidrologi merupakan bagian dari prakiraan dampak oleh reklamasi Pulau G

3) Survey Batimetri oleh Fugro GEOS’ International, UK, 2012.

Survey batimetri yang dilakukan oleh PT Muara Wisesa Samudra sekaligus untuk mendeteksi lokasi pipa gas PT Nusantara Regas.

Survey batimetri meliputi :

- Areal survey seluas 500 Ha untuk Pulau G (Gambar 2.13) dan 1.000 Ha untuk Pulau F dan Pulau G (Gambar 2.14) dengan rentang kedalaman antara 2 m dan 10 m.

- Survey batimetri menggunakan peralatan single beam echo sounder.

- Track lines direncanakan tegak lurus terhadap garis pantai dengan jarak 25 m.

- Survey dengan menggunakan pinger untuk mendeteksi lokasi jaringan pipa bawah laut pada areal survey melalui cross-sections setiap 50 m.

- Pemasangan benchmarks (BM) secara tepat.

- Pemasangan tidal gauge records untuk menetapkan MSL lokal.

- Data secara horizontal merujuk benchmark Bakosurtanal dan WGS 84. - Data tercatat pada chart datum berdasarkan MSL dari data pasang surut. - Pencatatan kedalaman digunakan untuk membuat peta kontur berinterval 0,5 m.

- Pencatatan fasilitas yang ada di sepanjang pantai dan di dalam area survey, misalnya rambu navigasi, jetty, pelabuhan, dan lainnya.

Gambar 2.13

Wilayah Survey Batimetri untuk Pulau G

Gambar 2.14

Wilayah Survey Batimetri untuk Pulau F dan Pulau G Hasil survey batimetri tertera pada Sub-Bab 2.2.

Pulau G Pulau F Pulau G Pulau F

Rencana Reklamasi Pulau G II - 23 4) Geotechnical Survey for Pluit City Land Development PT Muara Wisesa Samudra oleh PT

Pratama Widya Foundation and Engineering Services, Juli 2012.

Survey geoteknik dilakukan untuk memperoleh data tentang kondisi soil dan engineering properties berdasarkan pengamatan visual, in-situ testing, seperti pengukuran Standard Penetration Test (SPT), uji laboratorium terhadap undisturbed dan disturbed samples, dan lainnya.

Pemboran menggunakan metode wash boring, di mana uji SPT dilakukan untuk interval 2,0 m dan pengumpulan undisturbed samples pada setiap borehole. Untuk lapisan batuan (rock) digunakan metode core boring.

Selain SPT juga dilakukan uji Cone Penetration Test (CPT), Cone Penetration Test with U (CPTU), dan In-situ Vane Shear Test.

Analisis laboratorium meliputi :

Tabel 2.3

Analisis Laboratorium Geoteknik

No. Uji Laboratorium Standard

1. INDEX PROPERTIES

a. Water Content Test ASTM D.2216

b. Grainsize Analysis & Hydrometer Test ASTM D.422 - 72

c. Specific Gravity Test ASTM D.854 - 858

d. Density Test ASTM D.29 - 71

e. Atterberg Limit Test ASTM D.423 - 424

2. ENGINEERING PROPERTIES

a. Consolidation Test ASTM D.2345

b. Triaxial UU (Unconsolidated Undrained) ASTM D.2850

c. Triaxial CU (Consolidated Undrained) ASTM D.4767

d. Unconfined Compression Test ASTM D.2166

e. Direct Shear Test ASTM D.3080

Gambar 2.15 dan Gambar 2.16 menunjukkan layout borehole dan CPT dalam survey geoteknik. Ringkasan hasil survey geoteknik dijelaskan sebagai berikut :

Kondisi sub-surface pada seabed didominasi oleh very soft soil/mud (stratum-3) hingga rentang kedalaman 6 m - 10 m pada berbagai lokasi yang berbeda. Medium stiff to stiff clay (stratum-3a) terdapat di bawah stratum-3 dengan NSPT berkisar antara 7 – 37. Pada beberapa lokasi tidak terdapat stratum 3a.

Stratum 3/3-a dilapisi oleh dense to very dense gravelly sand, sand, SP, dan low plastic sandy silt, ML hingga kedalaman 24,0 – 25,0 m (stratum-2). Kapasitas peralatan CPT dapat mencapai bagian atas stratum-2, yaitu 11,0 hingga 15,0 m Seabed Level (SL). Di bawah stratum-2 dijumpai stiff hingga hard stiff clay, CH, dan clayey silt, MH hingga akhir pemboran pada kedalaman 40 m.

Keterangan : CPT CPTu Deep Boring

Gambar 2.15 Lay-out Borehole dan CPT

Pulau G

Rencana Reklamasi Pulau G II - 25 Gambar 2.16

Hasil survey geoteknik akan digunakan dalam Detail Engineering Design (DED), dimana diantaranya untuk analisis potensi settlement pada lahan yang terbangun di Pulau G.

Dalam dokumen PENDAHULUAN. Bab Latar Belakang (Halaman 31-37)

Dokumen terkait