• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.3.4.4 Kalimat B Pada Lagu “TUHAN ALLAH BESERTA ENGKAU”

Kalimat B terdiri dari sepasang frase anteseden (b) pada birama 9-12 dan

frase konsekuen (b’) pada birama 13-16. Kalimat tanya (frase anteseden) pada kalimat B diulang dengan variasi sebagai jawaban (frase konsekuen) sehingga

kodenya adalah B (b, b’).

4.3.4.5 Analisis Motif Kalimat B Frase Anteseden (b)

Motif 1 dan 2 pada kalimat B merupakan variasi dari motif dasar dengan perbedaan

ritmis. Motif 2 merupakan sekuens naik dari motif 1 pada kalimat B. sekuens naik

adalah motif yang diulang pada tingkat nada yang lebih tinggi (Prier, 1996:28).

Pengolahan motif jenis ini bertujuan untuk meningkatkan ketegangan sebelum

masuk pada akhir lagu yaitu frase konsekuen kalimat B.

menjadi

motif 1 kalimat B motif 2 kalimat B

4.3.4.6 Analisis Motif Kalimat B Frase Konsekuen (b’)

Motif 3 frase konsekuen (b’) kalimat B merupakan pengulangan harariah dari motif 1 pada kalimat B. Ulangan harariah bermaksud mengintensipkan suatu

kesan. Atau ulangannya bermaksud untuk menegaskan suatu pesan (Prier,

1996:27). Notasi motif 3 kalimat B menunjukkan bahwa pada motif tersebut

menjadi

motif 1 kalimat B motif 3 kalimat B

Tidak ada perbedaan syair pada kedua motif ini, sehingga maksud pengolahan motif

ini sudah pasti; yaitu untuk menegaskan pesan pada lagu. Sedangkan motif 4 pada

kalimat B merupakan variasi dari motif 1 kalimat A.

4.3.4.7 Analisis Kadens Lagu “TUHAN ALLAH BESERTA ENGKAU”

Menurut Herwin (1998:6), Kadens berasal dari bahasa latin “cadere” yang

artinya jatuh. Di dalam musik, kadens merupakan sejenis fungtuasi dan untuk

mencapai efeknya menggunakan rangkaian akord-akord tertentu pada tepat tertentu

dalam struktur musik. Kadens biasanya (tempatnya) ditandai dengan tanda istirahat

(pause), nada panjang atau nada-nada tinggi pada titik kadens tersebut.

Berikut adalah struktur harmoni lagu “TUHAN ALLAH BESERTA ENGKAU” I V I IV IV I

Tuhan Allah beserta engkau sampai bertemu kembali;

I V I IV I IV I

Kasih Kristus mengawali, Tuhan Allah beserta engkau!

I IV I V

I IV I V I

Sampai bertemu, bertemu; Tuhan Allah beserta engkau!

Pada akhir frase anteseden kalimat A, pergerakan akord menggunakan

kadens plagal. Kadens plagal merupakan pergerakan akor IV-I (Sinaga, 2016:62).

Begitu juga dengan frase konsekuen kalimat A yang diakhiri dengan akor

subdominan (IV) dan akor tonika (I) sehingga kalimat A lagu “Tuhan Allah Beserta

Engkau” diakhiri dengan kadens plagal. Sedangkan akhir frase anteseden kalimat B menggunakan kadens setengah untuk mempertegas frase tanya. Kadens autentik

setengah (half) adalah pergerakan akor I-V dimana pergerakan akor ini sebagai

penanda sebuah frase tanya, memiliki kesan yang mengambang/belum selesai

(Sinaga, 2016:62), sebelum diakhiri dengan kadens autentik pada akhir frase

konsekuen kalimat B. Kadens autentik tidak sempurna adalah pergerakan akor V-I

(Sinaga, 2016:62).

Berdasarkan hasil pembahasan mengenai pilihan lagu serta prosesnya dan

analisis bentuk lagu, dapat diketahui bahwa secara umum lagu dalam Kidung

Penghiburan terdiri dari dua bagian (kalimat A dan kalimat B) dengan berbagai

kemungkinan urutan kalimat. Masing-masing kalimat tersusun dari dua frase yakni

frase anteseden dan frase konsekuen. Frase anteseden atau kalimat tanya adalah

bagian awal kalimat yang berhenti dengan nada mengambang, umumnya

menggnakan akor dominan (V) atau kadens setengah (half cadence). Frase

anteseden umumnya menggunakan pengolahan motif jenis sekuens naik,

(augmentation of the value) yang bertujuan untuk menciptakan suatu peningkatan

ketegangan. Frase konsekuen atau kalimat jawab adalah kelanjutan dari kalimat

jawab dan berhenti dengan titik. Kadens autentik (authentic cadence) atau akor

tonika (I) umum digunakan. Apabila frase anteseden menggunakan sekuens naik,

maka frase konsekuen umumnya menggunakan pengolahan motif jenis sekuens

turun untuk mengendurkan ketegangan yang tercipta pada frase anteseden.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa lagu-lagu yang berada

dalam Kidung Penghiburan umumnya terdiri dari dua bagian dengan berbagai

macam kemungkinan pola. Hal ini membuat lagu-lagu yang berada dalam Kidung

Penghiburan memiliki struktur bentuk lagu yang sama dengan lagu lainnya yang

sering dibawakan/dinyanyikan dalam peribadatan umat Kristiani. Penelitian

terdahulu yang pernah membahas mengenai analisis bentuk lagu untuk ibadah

minggu adalah Wijoyo (2014) yang membahas bahwa dari sampel lagu yang

diambil yaitu lagu “Ku Dibri Kuasa” merupakan lagu dengan bentuk tiga bagian

yaitu A, A’ B, dan C, sedangkan lagu “Allah Roh Kudus” adalah lagu dengan bentuk dua bagian yang polanya adalah A, A’, dan B. Penelitian lain oleh Saputra (2016) menjabarkan bahwa lagu “Jangan Aku Dilalui” merupakan lagu bentuk dua bagian dengan pola A (a a’), B (a a’), sedangkan lagu “Berkati Persembahanku” dan “Bapa, Antarlah Kami” masing-masing adalah lagu bentuk satu bagian A (a a’) Selanjutnya bahasan mengenai pola kadens yang dipakai pada lagu-lagu

dalam Kidung Penghiburan, kadens yang dipakai pada kalimat pertanyaan antara

lain; Kadens setengah (authentic half cadences), kadens plagal (plagal cadences),

kemunculannya paling sering dari sampel lagu yang diambil. Kadens setengah

adalah pergerakan akor I-V dimana pergerakan ini sebagai penanda sebuah frase

tanya, memiliki kesan yang mengambang/belum selesai (Sinaga, 2016:62). Hal ini

diperkuat dengan pendapat Prier (1996:2) yang menjabarkan bahwa kalimat

pertanyaan biasanya berheti dengan nada yang mengambang, maka dapat dikatakan

berhenti disini dengan ‘koma’. Kesannya disini: belum selesai, dinantikan bahwa musik dilanjutkan. Sehingga tepat bila kadens setengah kerap digunakan dalam

kalimat pertanyaan

Lalu pada kadens yang digunakan pada kalimat jawaban dapat berupa;

kadens autentik (authentic cadences) dan kadens plagal (plagal cadences). Kadens

autentik adalah jenis kadens yang paling sering ditemukan pada frase konsekuen

dari sampel lagu yang telah diambil. Kadens autentik adalah pergerakan akor V-I

(Sinaga, 2016:62). Peran kadens autentik adalah sebagai balasan dari kalimat

pertanyaan sekaligus penanda bahwa kalimat sudah selesai tetap terjaga. Hal ini

sesuai dengan pernyataan Prier (1996:2) yang menyatakan bahwa kalimat jawaban

disebut ‘jawaban’ atau ‘kalimat belakang’ karena ia melanjutkan ‘pertanyaan’ dan berhenti dengan ‘titik’.

136 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebagaimana dijelaskan

dalam bab 4, proses pemilihan lagu untuk ibadah penghiburan di GKI Indramayu

dilakukan secara otoritas oleh pemimpin peribadatan dengan cara menentukan tema

khotbah terlebih dahulu sebelum menentukan lagu yang akan dinyanyikan dalam

satu rangkaian peribadatan. Dari serangkaian proses pemilihan lagu, diambil empat

lagu yang akan dianalisis dengan judul sebagai berikut; “Pintu Gerbang

Terbukalah” (Kidung Penghiburan no.1) karya Silas J.Vail dan syair oleh L. Baxter,

“Jalan Hidup Tak Selalu” (Kidung Penghiburan no.14) karya I.H. Meredith dengan syair yang ditulis syair oleh Flora Kirkland, “Makin Dekat, Tuhan” (Kidung

penghiburan no.22) karya Lowell Mason dan syair oleh Sarah F. Adams dan lagu

terakhir yang berjudul “Tuhan Allah Beserta Engkau” (Kidung Penghiburan no.46)

karya William G. Tomer dan syair oleh Jeremiah Rankin.

Masing-masing dari lagu yang telah dipilih melalui proses pemilihan lagu

merupakan lagu dengan bentuk dua bagian (bagian A dan bagian B) dimana tiap

bagiannya terdiri dari frase anteseden dan frase konsekuen dengan urutan frase dan

bentuk pengolahan motif yang berbeda-beda. Lagu Pintu Gebang Terbukalah

(a x), B (b y), Makin Dekat Tuhan memiliki pola A (a a’), B (b a’), dan Tuhan Allah Beserta Engkau memiliki pola A (a a’), B (b b’).

5.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil dari hasil penelitian serta pembahasan, maka

penulis memberikan saran sebagai berikut:

5.2.1 Saran yang dapat diberikan bagi pemimpin peribadatan atau yang pihak

yang bertanggung jawab dalam proses pemilihan lagu pada ibadah penghiburan

agar mempertahankan keefektifan dari proses pemilihan lagu sehingga jemaat akan

merasa nyaman dan target yang ingin dicapai dalam pemberian renungan mengenai

DAFTAR PUSTAKA

Arabica, F. G. K. 2015. Analisis Lagu Dan Makna Syair Karya Grup Band Be

Seven Steady Semarang. Skripsi. UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG.

Astra, R. D. 2015. Analisis Bentuk Dan Struktur Lagu Fantasia On Themes From

La Traviata Karya Francisco Tarrega. Skripsi. UNIVERSITAS NEGERI

YOGYAKARTA.

Atmosudirjo, Prayudi. 1980. Pengambilan Keputusan. Jakarta : Ghalia Indonesia. Banoe, Pono. 2003. Kamus Musik. Yogyakarta: Kanisius.

Briggs, Lauren. 1985. Penghiburan Yang Menguatkan. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.

Chaplin, CP. 2000. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: P.T Raja Grafindo Persada Christiana, W. 2014. Ilmu Bentuk Analisa Musik Sebagai Landasan Dalam Proses

Penciptaan Musik. Awilaras, 1(2), 25–35.

Davis, Gordon B. 1999. Sistem Informasi Manajemen Bagian II Struktur dan

Pengembangannya. Jakarta : Pustaka Bianaman Pressindo.

Destiana, E. 2016. Analisis Bentuk dan Struktur Lagu Stambul Baju Biru Karya

Hardiman. Pedagogia ISSN, 5(2), 209–214.

Djalal, Nachrowi. 2004. Teknik Pengambilan Keputusan. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia

Ekaningrum, P. 2015. The Analysis Of Meanings And Forms In The A.T.

Mahmud’s Song Lyrics. Harmonia: Journal of Arts Research and Education,

15(1), 9–15. https://doi.org/10.15294/harmonia.v15i1.3691

Fatkhurrohman, A., & Suharto, S. 2017. Bentuk Musik Dan Fungsi Kesenian

Jamjaneng Grup “Sekar Arum” Di Desa Panjer Kabupaten Kebumen.

Jurnal Seni Musik, 6(1).

Firmansyah, F. 2015. Bentuk Dan Struktur Musik Batanghari Sembilan. Jurnal Ekspresi Seni, 17(1), 83–102.

Gunawan, Imam. 2013. Metode Penelitian Kualitatif : Teori dan Praktik, Jakarta: PT Rineka Cipta

Harmony, Feritrio, 2011. Analisis Struktur Bentuk Musik Dan Pesan Syair Kidung

Limpung Kabupaten Batang. Skripsi. UNIVERSITAS NEGERI

SEMARANG.

Harwanto, D. C., & Sunarto. 2018. Bentuk dan Struktur Kesenian Kentrung di

Jepara. Resital, 19(1), 35–45.

Hidayatullah, P. 2015. Musik Adaptasi Dangdut Madura. Resital, 16(1), 1–14. Hunt, Gladys. 1987. Pandangan Kristen Tentang Kematian. Jakarta: BPK

Gunung Mulia.

Jamalus. 1988. Pengajaran Musik Melalui Pengalaman Musik. Jakarta. Depdikbud.

Jatmiko, E. M. 2015. Struktur Bentuk Komposisi Dan Akulturasi Musik Terbang

Biola Sabdo Rahayu Desa Pekiringan, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal. Catharsis, 4(1), 8–14.

Joseph, Wagiman. 2007. Teori Musik I. Semarang: Sendratasik

Karyawanto, H. Y. 2018. Bentuk Lagu Dan Ambitus Nada Pada Orkestrasi Mars

Unesa. VIRTUOSO (Jurnal Pengkajian Dan Penciptaan Musik), 1(1), 8–14.

Kautzar, A. 2017. Karakteristik Musik Melayu : Studi Kasus Lagu Melati

Karangan. Resital, 18(2), 88–94.

Latuny, C. N. 2017. Tunjuitam Kumpul Keluarga Sebagai Pendampingan Dan

Konseling Kedukaan. Skripsi. UNIVERSITAS KRISTEN SATYA

WACANA SALATIGA.

Liandra, D., Toruan, J. L., & Yensharti. (2016). Analisis Lagu Petang Lah Petang. E-Jurnal Sendratasik Fbs Universitas Negeri Padang, 5(1), 12–18.

Mahanani, A. 2014. Peran Pujian Dan Penyembahan Dalam Ibadah Kebaktian

Kebangunan Roh Terhadap Jemaatnya Di Gereja GBI Keluarga Allah Surakarta. Skripsi. INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA.

Marampa’, A.T. 1983. Mengenal Toraja. Toraja: PT Sulo.

Maryanto, Ermest. 2004. Kamus Liturgi Sederhana. Yogyakarta: Kanisius. Miller, Hugh. 1991. An Introduction To Music. New York City: Harper Collins

Publisher.

Moeliono, Anton M. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mundandar, T. I. 2015. Bungoeng Jeumpa Lagu Daerah Aceh (Kajian Bentuk

Lagu Dan Makna Syair). APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan, 1(7).

Nasution. 2003. Metode Research. Jakarta : PT Bumi Aksara.

Nirwanto, B. 2015. Musik Hadroh Nurul Ikhwan Di Kabupaten Pemalang :

Kajian Aransemen Dan Analisis. Skripsi. UNIVERSITAS NEGERI

SEMARANG.

Oktari, S., Wimbrayardi, & Syeilendra. 2017. Analisis Musikologis Lagu

Dallideu. E-Jurnal Sendratasik, 6(1), 16–25.

Ottman, Robert W. 1961. Elementary Harmony: Theory and Practice. New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

Pasila, D. 2017. Badong Sebagai Penghiburan Atas Dukcita Dalam Upacara

Rambu Solo’ Masyarakat Kristen Lameme. Skripsi. UNIVERSITAS

KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA.

Permadi, W. 2014. Analisis Bentuk Lagu Dan Nilai-Nilai Pendidikan Moral

Dalam Sekar Rare Di Bali. Skripsi. UNIVERSITAS NEGERI

YOGYAKARTA.

Prier, KE, Sj. 1996. Ilmu Bentuk Musik. Yogyakarta: PML. Prier, KE, Sj. 1999. Musik Gereja. Yogyakarta: Kanisius

Purwadarminta, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Roziqin, M. K., & Sarjoko, M. 2018. Karya Musik “ Overture Ul- Daul ” Dalam

Tinjauan Variasi Melodi. Jurnal Solah, 8(1), 1–12.

Ruswanto, Y., & Adimurti, J. T. 2017. Church music inculturation by way of an

experiment of arrangement of Dolo-Dolo mass ordinarium accompaniment- composed by Mateus Weruin for woodwind quintet. Harmonia: Journal of

Arts Research and Education, 17(52), 23–30. https://doi.org/10.15294/harmonia.v17i1.8467

Saputra, Oktafian Harys. 2016. Analisis Bentuk dan Makna Syair Lagu Gereja

Kristen dalam Buku Nyanyian Pujian di Gereja Baptis Indonesia Wanamukti Semarang. Jurnal Seni Musik.

Sektian, J. A. S. 2016. Analisis Bentuk Dan Struktur Lagu Jeux D’eau Karya

Maurice Ravel. Skripsi. UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA.

Septiyan, D. D. 2017. Komunitas Musik Hardcore Straight Edge Di Kabupaten

Batang ( Kajian Tentang Analisis Bentuk Musik Dan Aktivitasnya ), 2(1),

Siahaan, Rohani. 2012. Memahami Nyanyian Jemaat Sebagai Sentral Musik

Gereja Apa dan Bagaimana?. Jurnal Jaffray 10 (2). 157-165.

Sinaga, Syahrul S. 2016. Harmoni Dasar Teori dan Implikasi dalam Lagu. Cetakan Terbatas.

Stoner, James A.F., & Freeman, Edward (eds). 1996. Manajemen Jilid I, terj. Alexander Sindoro, Jakarta: PT Prahallindo.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung. Summerfield, M. 2017. The “ Subject Supposed to Expect ”: Expectation ,

Detection and the Enjoyment of Music Analysis. International Journal of

Zizek Students, 11(3).

Surlia, S. J. 2016. Kajian Psiko-Teologis Tentang Musik Dalam Ibadah Minggu

Di Jemaat Gkmi Salatiga. Skripsi. UNIVERSITAS KRISTEN SATYA

WACANA SALATIGA.

Suryanto, L. K. D. 2014. Pengaruh Musik Iringan Ibadah Impresif Terhadap

Jumlah Jemaat GKI Gejayan Yogyakarta. Skripsi. UNIVERSITAS

NEGERI YOGYAKARTA.

Syafiq, Muhammad. 2003. Ensiklopedia Musik Klasik. Yogyakarta: AdiCita Tanudjaja, Royandi. 2012. Musik Dalam Ibadah. Jakarta: Grafika KreasIndo Virginia, F., Mering, A., & Indrapraja, D. K. 2016. Analisis Musik Vokal Talimaa’

Suku Dayak Kayaan Medalaam Kapuas Hulu. Jurnal Pendidikan Dan

Pembelajaran, 5(4), 1–12.

Wicaksono, Herwin. 1998. Ilmu Bentuk Musik Dasar. Yogyakarta: Institut Keguruan dan Pendidikan.

Widya, U. R. S. 2018. Analisis Musik Iringan Tari Langkah Jepin Penghibur

Pengantin Di Pontianak Kalimantan Barat. Skripsi. UNIVERSITAS

TANJUNGPURA PONTIANAK.

Wijayanto, B., Simatupang, G. R. L. L., & Ganap, V. 2015. Strategi Musikal

dalam Ritual Pujian dan Penyembahan Gereja Kristen Kharismatik. Resital,

16(3), 125–140.

Wijoyo, K. 2014. Analisis Bentuk Dan Fungsi Musik Pujian Dan Penyembahan

Dalam Ibadah Minggu Di GBI Gajah Mada Semarang. Jurnal Seni Musik,

3(1), 1–7.

Wilson, Dickson. 1992. The Story of Christian Music. England: Lion Music Publishing.

Yusuf, M. 2015. Realisasi Nyanyian Dari Buku Ende Dan Kidung Jemaat

Yamuger Dalam Ibadah Minggu Pada Tiga Gereja HKBP Di Sumatera Utara. Skripsi. UNIVERSITAS SUMATERA UTARA.

Zahardi, L., Toruan, J. L., & Lubis, E. 2017. Analisis Lagu Bunda Ciptaan Melly

Goeslaw. E-Jurnal Sendratasik, 6(1), 1–7.

1998. Ensiklopedi Nasional Indonesia. Jakarta: PT.Cipta Adi Pustaka.

Tambahan koleksi pribadi milik GKI Indramayu:

HUT 135th GKI INDRAMAYU oleh Tim Penyusun Buku. 1993. Indramayu.

Kidung Penghiburan oleh Badan Pekerja Majelis Sinode Am Gereja Kristen Indonesia. 1992. Sinode Am GKI:Jakarta.

143

SURAT IJIN PENELITIAN DAN KETERANGAN TELAH

PEDOMAN OBSERVASI

Dalam pengamatan (observasi) yang dilakukan adalah mengambil sampel lagu

dari buku Kidung Penghiburan serta mengamati proses pemilihan lagu, meliputi:

A. Tujuan

Untuk memperoleh data dan informasi mengenai kondisi fisik dan non fisik dari

lokasi penelitian mengenai proses pemilihan lagu dan pengambilan sampel lagu di

GKI Indramayu

No Aspek yang diamati Data yang diamati Sudah Belum 1

2

3

4

Lokasi gedung gereja

Kondisi lingkungan gereja

Proses pemilihan lagu dalam ibadah

penghiburan

Bentuk lagu

-Profil gereja beserta letak geografis

-Kondisi lingkungan sekitar

-Akses menuju gedung gereja

-Contoh liturgi yang telah ada

-Notasi asli dari buku Kidung Penghiburan

PEDOMAN WAWANCARA

1. PENDETA GKI INDRAMAYU (PDT. MARKUS HADINATA).

A. Tujuan

Untuk mengetahui proses pemilihan lagu serta hasil sampel lagu dari

Kidung Penghiburan yang sudah dipilih

B. Pertanyaan panduan:

a. Identitas Diri

1) Nama :

2) Tempat, Tanggal Lahir :

3) Jabatan :

4) Pekerjaan :

5) Alamat :

6) Pendidikan Terakhir:

b. Pertanyaan Penelitian :

1) Sudah berapa lama Bapak menjabat sebagai Pendeta di Gereja Kristen

Indonesia Indramayu?

2) Apakah sebelum menjabat di Gereja Kristen Indonesia Indramayu,

Bapak terlebih dahulu pernah menjabat di Gereja lainnya?

3) Dimanakah letak geografis GKI Indramayu?

4) Bagaimana sejarah dan profil singkat GKI Indramayu?

6) Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara GKI dengan Gereja

lainnya di Indonesia?

7) Apakah yang menjadi perbedaan antara GKI dengan Gereja lainnya

dari segi nyanyian pujian?

8) Menurut Bapak, ada berapa jenis aliran musik yang digunakan untuk

ibadah umat Kristiani di Indonesia?

9) Ada berapa kategori jenis ibadah di GKI Indramayu dan apa saja

jenisnya?

10) Apa definisi ibadah penghiburan?

11) Apa yang membedakan ibadah penghiburan dengan ibadah lainnya?

12) Apakah ada perbedaan antara lagu yang dipakai di dalam ibadah

umum dengan ibadah khusus?

13) Apa karakteristik nyanyian yang terdapat di dalam Kidung

Penghiburan? Serta bagaimana buku Kidung Penghiburan dapat

terbentuk?

14) Apakah ada kemungkinan bahwa lagu dalam Kidung Penghiburan juga

dipakai di ibadah lain?

15) Bagaimana proses pemilihan lagu dalam Kidung Penghiburan ketika

satu rangkaian Ibadah Penghiburan dilakukan?

16) Apakah proses pemilihan lagu untuk Ibadah Penghiburan memiliki

perbedaan dengan proses pemilihan lagu untuk Ibadah kategori

17) Apakah ada patokan tertentu dalam pemilihan lagu untuk ibadah

penghiburan? Serta tolong jelaskan.

18) Apakah ada perbedaan proses pemilihan lagu untuk ibadah

penghiburan dari awal Bapak memimpin hingga sekarang?

19) Apakah pernah terjadi perubahan lagu secara mendadak ketika di

lapangan?

20) Lagu apa saja dari Kidung Penghiburan yang paling sering

dinyanyikan di dalam ibadah penghiburan?

21) Bagaimana suasana Ibadah Penghiburan ketika nyanyian dalam kidung

penghiburan dinyanyikan secara bersama-sama? Apakah lagu di dalam

kidung penghiburan dapat mempengaruhi suasana?

22) Bila nyanyian yang digunakan di dalam Ibadah Penghiburan dapat

mempengaruhi suasana, menurut Anda, mengapa hal tersebut dapat

PANDUAN DOKUMENTASI

No Dokumen yang

diperlukan

Rincian Dokumen Sudah Belum

1 2 3 4 5 6 Rekaman hasil wawancara

Foto lokasi penelitian

Buku nyanyian kidung penghiburan

Data sejarah serta profil GKI Indramayu

Data majelis jemaat

Data anggota jemaat

-Wawancara dengan Pdt. Markus

Hadinata

-Foto bangunan tampak luar

-sampel lagu dari kidung penghiburan yang sudah dipilih

-data resmi berupa catatan atau buku sejarah

-data dan jumlah majelis jemaat secara keseluruhan

-data dan jumlah anggota jemaat secara keseluruhan beserta pengurangan dan penambahan jumlah anggota dalam dua tahun terakhir

TRANSKRIP WAWANCARA

1. PENDETA GKI INDRAMAYU

NARASUMBER I

Nama : Pdt. Markus Hadinata

Tempat, Tanggal Lahir : Kudus, 30 Juni 1983

Jabatan : Ketua umum majelis jemaat GKI Indramayu / Pendeta

Pekerjaan : Pendeta

Alamat : Jl. Cimanuk No. 23/G

Pendidikan Terakhir : S1 Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana

PEWAWANCARA : Sudah berapa lama Bapak menjabat sebagai Pendeta di

Gereja Kristen Indonesia Indramayu?

NARASUMBER : Sejak 9 November 2015.

PEWAWANCARA : Lalu apakah sebelum menjabat di Gereja Kristen Indonesia

Indramayu, Bapak terlebih dahulu pernah menjabat di Gereja

lainnya?

NARASUMBER : Belum pernah,

PEWAWANCARA : Kalau letak geografis GKI Indramayu persisnya ada dimana?

NARASUMBER : Pusat Kota. Alamatnya di Jl.Cimanuk No.73G Indramayu

PEWAWANCARA :Bisa sedikit diceritakan pak mengenai bagaimana sejarah dan

NARASUMBER : Pada tanggal 13 Desember 1858, ada orang Tionghoa

bernama Ang Boen Swie menerima baptisan setelah

sebelumnya tergerak untuk membaca Alkitab dan setelahnya

percaya pada Tuhan Yesus.

PEWAWANCARA : Mengenai jumlah anggota nih pak, sekarang ada berapa total

jumlah anggota jemaat di GKI Indramayu?

NARASUMBER : Kurang lebih 425 sudah termasuk anggota anak, remaja,

pemuda, dewasa, dan lansia. Kalau dengan Pos Jemaat dan

Bakal Jemaat (gereja anggota) berjumlah kurang lebih 600

anggota.

PEWAWANCARA : Lalu bila dibandingkan, apakah terdapat perbedaan yang

signifikan antara GKI dengan Gereja lainnya di Indonesia?

NARASUMBER : Di Indonesia terdapat banyak sekali denominasi Gereja. GKI

termasuk gereja denominasi aliran mainstream yaitu gereja

reformasi. Gereja lain yang memiliki aliran yang sama dengan

GKI yaitu GKJ, GKP, HKBP. Kalau gereja dengan aliran lain

yaitu Katholik yang tentu saja satu, memiliki pusat di Vatikan,

yang lain ada Gereja Pantekosta di Indonesia, Gereja Advent,

Gereja Bethel, Gereja Bethani yang memiliki aliran karismatik

atau pentakosta baru, Gereja Baptis, Gereja Bala Keselamatan,

Gereja Metodis dari Inggris, donmesti bersaudara, ada

Uniknya gereja reformasi adalah bila kita membaca sejarah, di

abad ke-16 awal, ada Martin Luther, dan Calvin. Yang

berusaha menuliskan kembali ajaran gereja sesuai Alkitab.

Keunikan gereja Reformasi adalah kembali ke Alkitab. Dan

bagaimana dia menata kehidupannya terus-menerus dengan

semboyan ecclesia reformata, ecclesia semper reformanda

yang memiliki arti Gereja reformasi adalah gereja yang

terus-menerus diperbaharui dari segi Teologi, Tradisi, aturan Gereja

terus-menerus diperbaharui mengikuti perkembangan jaman

supaya tetap relevan.

PEWAWANCARA : Itu tadi dari segi perbedaan umum ya pak, nah kalau dari segi

nyanyian pujian, apakah yang menjadi perbedaan antara GKI

dengan Gereja lainnya?

NARASUMBER : Gereja GKI mempunyai tiga buku yang ditetapkan oleh

sinode menjadi buku nyanyian dalam ibadah-ibadah yaitu

Nyanyikanlah Kidung Baru (NKB) yang diterbitkan oleh GKI,

Kidung Jemaat (KJ) terbitan YAMUGER (Yayasan Musik

Gereja), yang satu lagi adalah Pelengkap Kidung Jemaat

(PKJ), buku PKJ ini dalam rangka meresponi ada lagu-lagu

rohani populer. Jadi nuansa PKJ lebih ke bagaimana

memfasilitasi jemaat yang mungkin rindu menyayikan

Masuk Rumahnya” yang mirip rohani populer. Dari segi notasinya juga.

PEWAWANCARA : Menurut Bapak, ada berapa jenis aliran musik yang

digunakan untuk ibadah umat Kristiani di Indonesia?

NARASUMBER : Di Indonesia ada macam-macam, gereja Kharismatik lebih ke

aliran musik rohani populer dengan nada yang simpel, dengan

teks dari Alkitab biasanya yang sederhana juga, yang

diulang-ulang pengucapannya, kemudian ada lagu Himne, nah di

Kidung Jemaat ada banyak lagu-lagu himne. Cirinya adalah

berbait-bait dengan susunan yang sama, yang biasanya empat

baris, atau bisa juga ada yang lebih, tetapi punya struktur

melodi yang diulang-ulang, tapi juga punya ciri khas yaitu teks

atau syairnya punya kandungan makna teologis yang dalam.

Kemudian ada juga corak-corak seperti di NKB atau PKJ

nuansa daerah, seperti Batak, atau juga nuansa dari Tiongkok

Dokumen terkait