HASIL DAN PEMBAHASAN
E. kamerunicus betina
Hasil pengamatan dan sidik ragam jumlah E. kamerunicus betina yang terperangkap dalam botol yang berisi kairomon sintetik disajikan pada Tabel 2 dan Lampiran 17-30.
Tabel 2 menunjukan bahwa perlakuan konsentrasi kairomon berpengaruh nyata terhadap jumlah E. kamerunicus betina yang terperangkap pada pengamatan 6-20 hari setelah pemasangan perangkap (hsp), sedangkan perlakuan jumlah perangkap dan interaksi antara konsentrasi kairomon dan jumlah perangkap tidak berpengaruh nyata. Hal ini kemungkinan dapat terjadi karena jumlah bunga betina (5,94 tandan/ha) dan jantan (8,69 tandan/ha) yang sedang mekar di lapangan tinggi (Lampiran 35 dan 39), sehingga tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah perangkap karena kumbang lebih tertarik terhadap aroma yang dikeluarkan oleh bunga betina dan jantan yang sedang mekar. Apriniarti (2011) menyatakan bahwa kumbang E. kamerunicus menunjukkan ketertarikan pada bunga jantan dengan tingkat kemekaran 100%.
Tabel 2 menunjukkan rataan tertinggi (124,63 ekor) E. kamerunicus betina yang terperangkap pada perlakuan 1,0 ml (K2) pengamatan 6 hsp dan terendah pada
tertinggi terdapat pada pengamatan 6 hsp dan kemudian fluktuatif hingga 28 hsp. Retno (2014) menyatakan bahwa perbedaan persentase ketertarikan serangga terhadap tumbuhan dipengaruhi oleh senyawa-senyawa volatil (cepat menguap) yang disekresikan oleh tumbuhan tersebut.
Tabel 2. Jumlah E. kamerunicus betina yang terperangkap kairomon sintetik Pengamatan Jumlah Perangkap Konsentrasi Rataan K0 K1 K2 K3 2 hsp J1 0,00 12,50 110,25 53,00 43,94 J2 0,00 37,75 46,75 45,00 32,38 Rataan 0,00 25,13 78,50 49,00 4 hsp J1 0,00 60,75 159,75 6,00 56,63 J2 1,50 70,25 18,75 169,25 64,94 Rataan 0,75 65,50 89,25 87,63 6 hsp J1 0,00 3,50 72,00 24,00 24,88 J2 0,00 22,50 177,25 38,00 59,44 Rataan 0,00 13,00b 124,63a 31,00b 8 hsp J1 0,00 8,75 37,50 20,25 16,63 J2 0,00 7,25 63,50 76,00 36,69 Rataan 0,00b 8,00b 50,50a 48,13a 10 hsp J1 0,00 25,25 42,50 11,00 19,69
J2 0,00 41,50 120,50 62,50 56,13 Rataan 0,00b 33,38a 81,50a 36,75a 12 hsp J1 0,00 10,25 66,25 8,00 21,13
J2 0,00 21,50 62,25 60,50 36,06 Rataan 0,00b 15,88ab 64,25a
34,25ab 14 hsp J1 0,00 4,50 11,75 4,50 5,19
J2 0,00 5,50 24,50 8,50 9,63 Rataan 0,00b 5,00ab 18,13a
6,50ab 16 hsp J1 0,00 1,00 5,25 19,75 6,50
J2 0,00 7,75 51,00 13,00 17,94 Rataan 0,00b 4,38ab 28,13a 16,38a 18 hsp J1 0,00 0,75 4,50 18,75 6,00 J2 0,00 7,00 45,00 12,00 16,00 Rataan 0,00b 3,88b 24,75a 15,38a 20 hsp J1 0,00 0,00 3,25 0,75 0,81 J2 0,00 4,00 2,00 0,50 6,69 Rataan 0,00b 2,00b 2,63ab 0,63a 22 hsp J1 0,00 0,00 6,50 0,50 1,75
Rataan 0,00 0,13 4,00 4,00 24 hsp J1 0,00 0,00 1,25 0,50 0,44 J2 0,00 0,00 5,00 13,75 4,69 Rataan 0,00 0,00 3,13 7,13 26 hsp J1 0,00 0,00 0,25 0,00 0,06 J2 0,00 0,00 0,75 0,50 0,31 Rataan 0,00 0,00 0,50 0,25 28 hsp J1 0,00 0,00 0,00 1,00 0,25 J2 0,00 0,00 0,00 0,75 0,19 Rataan 0,00 0,00 0,00 0,88
Keterangan : Angka-angka yang tidak diikuti oleh huruf pada baris dan kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5%.
Berdasarkan pengamatan populasi E. kamerunicus/ha jantan dan betina yang terperangkap oleh kairomon sintetik maka dapat dibuat grafik perbandingannya (Lampiran 32).
Gambar 6. Grafik perbandingan kumbang E. kamerunicus jantan dan betina yang terperangkap kairomon sintetik pengamatan 2-28 hsp.
Gambar 6 menunjukkan bahwa jumlah E. kamerunicus jantan yang terperangkap (1435 ekor) dengan rataan (102,50 ekor), E. kamerunicus betina yang
0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 2 hsp 4 hsp 6 hsp 8 hsp 10 hsp 12 hsp 14 hsp 16 hsp 18 hsp 20 hsp 22 hsp 24 hsp 26 hsp 28 hsp Betina Jantan
kamerunicus jantan dan betina yang terperangkap kairomon sintetik pengamatan 2-28 hsp yaitu sebesar 1:6,04.
Gambar 6 menunjukkan bahwa nisbah kelamin kumbang jantan dan betina yang tertangkap (1:6,04). Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Harumi (2011) yang menyatakan bahwa nisbah kelamin kumbang E. kamerunicus jantan dan betina pada bulan Juli, Oktober dan November rata-rata 1:4. Hal ini kemungkinan terjadi akibat perbedaan waktu pengamatan dan jumlah imago kumbang betina yang mampu bertahan hidup cukup tinggi sehingga mengalami peningkatan populasi yang lebih banyak. Selain itu, siklus hidup betina lebih lama. Hasil penelitian Sholehana (2010) menunjukkan bahwa lama hidup imago betina (14-25 hari) lebih lama dibandingkan imago jantan (10-20 hari) sehingga keberadaan kumbang betina lebih banyak dibanding jantan di lapangan.
Grafik perbandingan jantan dan betina yang tertangkap kairomon sintetik menunjukkan bahwa jumlah rataan E. kamerunicus jantan berfluktuasi hingga pengamatan 18 hsp dan menurun pada pengamatan 20-28 hsp. Jumlah rataan E. kamerunicus betina yang tertangkap berfluktuasi hingga pengamatan 12 hsp dan menurun pada pengamatan 14-28 hsp. Hal ini terjadi karena senyawa kairomon makin berkurang untuk menarik serangga sehingga jumlah imago yang tertangkap semakin menurun dimana kairomon mengalami penguapan dengan cepat yang didukung oleh suhu yang optimal namun curah hujan dan kelembaban serta jumlah bunga jantan dan betina yang sedang mekar berfluktuasi (Lampiran 35 dan 39). Apriniarti (2011) menyatakan E. kamerunicus tertarik dengan senyawa volatil yang dihasilkan oleh bunga pada fase anthesis dan senyawa ini mudah menguap.
Hasil pengamatan dan sidik ragam populasi E. kamerunicus/ha pada spikelet bunga jantan menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi kairomon, jumlah perangkap/ha dan interaksi antara konsentrasi kairomon dengan jumlah perangkap/ha tidak berpengaruh nyata pada taraf α = 5% terhadap populasi E. kamerunicus/ha (Lampiran 33-36). Untuk mengetahui perlakuan yang berbeda nyata maka dilakukan Uji Jarak Duncan (Tabel 3).
Tabel 3. Populasi E. kamerunicus/ha pada spikelet bunga jantan
Jumlah Perangkap Konsentrasi Rataan
K0 K1 K2 K3
J1 14245,06 33605,63 13934,63 23082,95 21217,07 J2 41626,00 17185,65 60207,00 12211,90 32807,64 Rataan 27935,53 25395,64 37070,82 17647,43
Keterangan : J1 (jumlah perangkap 1/ha), J2 (jumlah perangkap 2/ha), K0 (kontrol), K1 (konsentrasi 0,5 ml), K2 (konsentrasi 1 ml), K3 (konsentrasi 1,5 ml) Tabel 3 menunjukkan bahwa rataan antar perlakuan sangat berbeda tetapi diuji tidak menunjukkan perbedaan seperti perlakuan J1K1 (jumlah perangkap 1 buah dan konsentrasi 0,5 ml) 33605,63 ekor dengan J2K2 (jumlah perangkap 2 buah dan konsentrasi 1 ml) 17185,65 ekor. Hal ini kemungkinan terjadi karena populasi E. kamerunicus pada spikelet tinggi yaitu 864395,23 ekor (Lampiran 36), sehingga dengan perbedaan 16419,98 ekor pada perlakuan belum menunjukkan perbedaan yang nyata.
Total populasi E. kamerunicus pada spikelet bunga jantan adalah 864395,23 ekor sehingga populasi per hektar adalah 27012,35 ekor (Lampiran 36) dengan jumlah
D, E, F di atas jumlah minimal yang harus ada di lapangan. Susanto et al. (2007) menyatakan bahwa tingkat produktivitas kelapa sawit sangat dipengaruhi jumlah tandan bunga jantan yang tergantung pada penyerbukan serangga. Penyerbukan yang optimal dibutuhkan kumbang sebanyak 20.000 ekor per hektar. Prasetyo dan Susanto (2012) menyatakan untuk membentuk nilai fruit set kelapa sawit di atas 75% diperlukan bunga jantan anthesis minimal 3 tandan bunga/ha.
Perlakuan konsentrasi kairomon, jumlah perangkap/ha dan interaksi antara konsentrasi kairomon dan jumlah perangkap/ha tidak berpengaruh nyata terhadap populasi E. kamerunicus/ha pada spikelet bunga jantan karena jumlah bunga jantan yang sedang mekar/ha tinggi. Pengukuran populasi dengan menggunakan teknik pengambilan sampel melalui spikelet kurang efektif karena sampel tandan yang diamati memiliki tingkat kemekaran yang berbeda yaitu ≥50%. Rahayu (2009) menyatakan bahwa E. kamerunicus menunjukkan ketertarikan lebih terhadap bunga jantan kelapa sawit dengan tingkat kemekaran 100%. Bunga jantan dengan tingkat kemekaran 100% memiliki komposisi kompleks dan senyawa volatil yang tinggi. Purba et al. (2010) menyatakan bahwa jumlah bunga jantan yang sedang mekar mempengaruhi populasi E. kamerunicus di lapangan.
Populasi E. kamerunicus/ha pada bunga betina kelapa sawit dengan perangkap kuning berperekat
Hasil pengamatan dan sidik ragam populasi E. kamerunicus/ha pada bunga betina dengan perangkap kuning menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi kairomon, jumlah perangkap/ha dan interaksi antara konsentrasi kairomon dengan jumlah perangkap/ha pada taraf α = 5% tidak berpengaruh nyata terhadap populasi E. kamerunicus/ha (Lampiran 37-40). Untuk mengetahui perlakuan yang berbeda
Tabel 4. Populasi E. kamerunicus/ha pada bunga betina dengan perangkap kuning berperekat
Jumlah Perangkap Konsentrasi Rataan
K0 K1 K2 K3
J1 4603,42 230,17 1463,17 1380,00 1919,19 J2 2324,50 268,17 877,67 3745,25 1803,90 Rataan 3463,96 249,17 1170,42 2562,63
Keterangan : J1 (jumlah perangkap 1/ha), J2 (jumlah perangkap 2/ha), K0 (kontrol), K1 (konsentrasi 0,5 ml), K2 (konsentrasi 1 ml), K3 (konsentrasi 1,5 ml) Tabel 4 menunjukkan bahwa rataan antar perlakuan sangat berbeda tetapi diuji tidak menunjukkan perbedaan seperti perlakuan J1K1 (jumlah perangkap 1 buah dan konsentrasi 0,5 ml) 1463,17 ekor dengan J2K2 (jumlah perangkap 2 buah dan konsentrasi 1 ml) 877,67 ekor. Hal ini kemungkinan terjadi karena populasi E. kamerunicus pada spikelet tinggi yaitu 59569,34 ekor (Lampiran 40), sehingga dengan perbedaan 585,5 ekor pada perlakuan belum menunjukkan perbedaan yang nyata.
Total populasi E. kamerunicus/ha pada bunga betina dengan perangkap kuning bereperekat adalah 59569,34 ekor sehingga populasi per hektar adalah 1861,54 ekor (Lampiran 39). Hal ini menunjukan bahwa jumlah E. kamerunicus pada bunga betina tergolong tinggi. Prasetyo dan Susanto (2012) menyatakan bahwa dengan perangkap berukuran 2 x 30 cm², rerata jumlah kumbang E. kamerunicus yang terperangkap di Sumatera Utara selama 24 jam adalah 124 ekor.
Perlakuan konsentrasi kairomon, jumlah perangkap/ha dan interaksi antara konsentrasi kairomon dan jumlah perangkap/ha tidak berpengaruh nyata terhadap populasi E. kamerunicus/ha pada bunga betina dengan perangkap kuning berperekat
terhadap pemilihan bunga betina.
Efisiensi perangkap kairomon sintetik
Berdasarkan hasil pengamatan jumlah E. kamerunicus yang terperangkap kairomon sintetik 2-28 hsp, populasi E. kamerunicus pada bunga jantan dan bunga betina, maka diperoleh data efisiensi perangkap kairomon sintetik yang dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Efisiensi perangkap kairomon sintetik Perlakuan Rataan E. kamerunicus/ha Nilai efisiensi Perangkap kairomon Bunga jantan Bunga betina J1K1 143,00 33605,63 230,17 0,4234% J2K1 253,50 17185,65 268,17 13765% J1K2 615,50 13934,63 146,17 39697% J2K2 731,75 60207,00 877,67 12344% J1K3 190,00 23082,95 1380,00 0,7859% J2K3 592,50 12211,90 3745,25 37554%
Nilai efisiensi perangkap J1K1 (0,4230%) artinya jika perangkap kairomon J1K1 dapat menangkap E. kamerunicus sebanyak 143,00 ekor/ha, maka jumlah populasi E. kamerunicus di lapangan adalah 33806,15 ekor/ha. Nilai efisiensi perangkap J2K1 (1,4524%) artinya jika perangkap kairomon J2K1 dapat menangkap E. kamerunicus sebanyak 253,50 ekor/ha, maka jumlah populasi E. kamerunicus di lapangan adalah 17453,87 ekor/ha.
Nilai efisiensi perangkap J1K2 (3,9973%) artinya jika perangkap kairomon J1K2 dapat menangkap E. kamerunicus sebanyak 615,50 ekor/ha, maka jumlah populasi E. kamerunicus di lapangan adalah 15397,89 ekor/ha. Nilai efisiensi perangkap J2K2 (1,1967%) artinya jika perangkap kairomon J2K2 dapat menangkap E. kamerunicus sebanyak 731,75 ekor/ha, maka jumlah populasi E. kamerunicus di lapangan adalah 61147,32 ekor/ha.
Nilai efisiensi perangkap J1K3 (0,7767%) artinya jika perangkap kairomon J1K3 dapat menangkap E. kamerunicus sebanyak 190,00 ekor/ha, maka jumlah populasi E. kamerunicus di lapangan adalah 24462,47 ekor/ha. Nilai efisiensi perangkap J2K3 (3,7131%) artinya jika perangkap kairomon J1K3 dapat menangkap E. kamerunicus sebanyak 592,50 ekor/ha, maka jumlah populasi E. kamerunicus di lapangan adalah 15957,02 ekor/ha.
Perangkap yang diberi perlakuan J2K2 (jumlah perangkap 2 buah dan konsentrasi 1 ml) merupakan perangkap terbaik jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya dalam memperkirakan populasi E. kamerunicus di lapangan. Hal ini dapat terjadi karena jumlah tangkapan kumbang tertinggi baik jantan dan betina terdapat pada perlakuan J2K2 (jumlah perangkap 2 buah dan konsentrasi 1 ml). Nilai efisiensi perangkap J2K2 (1,1967%) kemungkinan tidak mengganggu populasi kumbang E. kamerunicus di lapangan akibat banyaknya jumlah tangkapan yang dapat menurunkan populasi kumbang untuk penyerbukan bunga kelapa sawit.
Data Pendukung
Tabel 6. Data jumlah E. kamerunicus, suhu, curah hujan dan kelembaban nisbi Pengamatan Jumlah E. kamerunicus Curah Hujan (mm) Suhu (°C) Kelembaban nisbi (%) 2 hsp 1411,00 22,00 25,60 69,50 4 hsp 2253,00 45,25 25,15 37,00 6 hsp 1578,00 29,00 25,60 38,50 8 hsp 955,00 0,00 25,20 40,50 10 hsp 1364,00 18,00 25,53 27,50 12 hsp 1171,00 21,00 25,55 57,00
24 hsp 97,00 0,00 25,90 69,50 26 hsp 8,00 1,00 24,98 41,50
28 hsp 10,00 0,50 26,45 70,50
Rataan 722,36 11,66 25,67 53,18 Keterangan: Nilai dalam tabel merupakan nilai rata-rata setiap unsur cuaca
Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson diperoleh nilai korelasi jumlah E. kamerunicus yang terperangkap kairomon sintetik terhadap curah hujan yaitu 0,89897, suhu -0,49398 dan kelembaban nisbi -0,47503 (Tabel 6).
Jumlah E. kamerunicus yang terperangkap kairomon sintetik terhadap curah hujan berkorelasi positif, dengan rataan sebesar 11,66 mm/bulan. Pada pengamatan 4 hsp jumlah kumbang yang terperangkap sebesar 2253,00 ekor dengan curah hujan 45,35 mm yang merupakan curah hujan tertinggi selama pengamatan. Hal ini menunjukkan bahwa kumbang banyak terperangkap saat curah hujan tinggi karena aktifitas kumbang terganggu dalam menyerbuki bunga. Harumi (2011) menyatakan bahwa kumbang E. kamerunicus dapat bertahan saat curah hujan tinggi, tetapi lebih aktif pada saat kering. Suhu dan kelembaban berkorelasi negatif terhadap jumlah kumbang. Hal ini sesuai dengan penelitian kurniawan (2010) yang menyatakan bahwa populasi E. kamerunicus tidak berkorelasi dengan suhu dan kelembaban.