• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kampanye Kedua Kritik Mutlak

Dalam dokumen marx engels keluarga suci (Halaman 113-122)

KRITIK KRITIS DALAM PERSON HERR BRUNO

2) Kampanye Kedua Kritik Mutlak

a) Hinrichs No. 2. Kritik dan Feuerbach. Pengutukan Filsafat

Sebagai hasil kampanyenya yang pertama, Kritik Mutlak dapat memandang filsafat sebagai telah dibahas dan mengistilahkannya secara langsung sebagai sekutu Massa.

Para filsuf ditakdirkan untuk memenuhi hasrat-hasrat hati Massa. Dan Massa itu menginginkan konsep-konsep sederhana agar tiada punya sangkut-paut apapun dengan hal-ikhwal itu sendiri – semboyan-semboyan, sehingga menyelesaikan segala sesuatu dari awal, kalimat-kalimat yang dengannya Kritik dapat dibereskan.

Dan Filsafat memenuhi kerinduan Massa itu!

meledak dalam kekerasan Pythian terhadap filsafat. Karya Feuerbach, Philosophy of the Future merupakan kancah tersembunyi yang asapnya mengilhami kepala Kritik Mutlak yang dimabokkan-kemenangan.35

Karya Feuerbach dibaca dalam bulan Maret. Hasil pembacaan itu dan sekaligus kaidah dari kesungguhannya, yang dengannya itu dilakukan adalah Tulisan No.2 terhadap Profesor Hinrichs.

Di dalam tulisan ini Kritik Mutlak, yang tidak pernah membebaskan dirinya dari cara Hegelian dalam memandang segala sesuatu, menyerbu deruji-deruji besi dan dinding-dinding penjaranya. Konsep seder-hana itu, terminologi itu, seluruh cara berpikir filsafat, yah, seluruh filsafat, ditolak dengan kemuakan. Sebagai gantinya kita tiba-tiba menemukan “kekayaan sesungguhnya dari hubungan-hubungan manusia, isi yang tak- terhingga dari sejarah, makna manusia,” dsb. “Misteri sistem itu” dinyatakan “terungkap.”

Lalu, siapakah yang mengungkapkan misteri dari sistem itu? Feuerbach. Siapakah yang memusnahkan dialektika konsep-konsep, peperangan para dewa yang hanya diketahui oleh para filsuf? Feuerbach. Siapa yang menggantikan omong-kosong lama dan kesadaran-diri yang tak-terbatas, memang benar bukan arti-penting dari manusia –seakan- akan manusia memiliki suatu arti-penting lain daripada menjadi manusia– kecuali “Manusia?” “Feuerbach,” dan “hanya Feuerbach seorang.” Dan ia telah melakukan lebih dari itu. Lama sebelum ia menyingkirkan kategori-kategori yang sekarang dipunyai “Kritik – kekayaan sesungguhnya dari hubungan-hubungan manusia, isi tak- terhingga dari sejarah, perjuangan sejarah, perjuangan massa terhadap roh,” dsb.

Sekali manusia itu dipahami sebagai esensi, dasar dari semua aktivitas dan situasi-situasi manusia, hanya Kriktik yang dapat menciptakan kategori-kategori baru dan mengubah manusia sendiri menjadi suatu kategori dan menjadi azas dari serangkaian penuh kategori-kategori sebagaimana yang dilakukannya sekarang. Memang benar bahwa dalam melakukan itu ia menginjakkan kaki di atas satu-satunya jalan keselamatan yang tersisa bagi ketidak-kemanusiaan yang diteror dan difitnah secara teologi. Sejarah tidak berbuat apapun, ia tidak memiliki kekayaan yang tak-terhingga, ia tidak melakukan peperangan- peperangan. Ia adalah manusia, manusia yang benar-benar hidup, yang

melakukan semua itu, yang memiliki dan yang berjuang; sejarah bukan seseorang yang berdiri sendiri, yang menggunakan manuusia sebagai suatu alat/cara bagi tujuan-tujuan khusus-nya sendiri; sejarah adalah tidak lain dan tidak bukan hanya aktivitas manusia yang mengejar tujuan- tujuannya. Jika Kritik Mutlak, setelah argumen-argumen yang diilhami Feuerbach masih dengan bebas menyajikan sampah lama dalam suatu bentuk baru pada waktu bersamaan menyerangnya sebagai sampah serba- Padat –yang sama-sekali tak berhak dilakukannya karena ia tidak pernah menggerakkan jari-tangannya untuk menghapuskan filsafat—kenyataan itu saja sudah cukup untuk mengungkap misteri Kritik itu dan menilai kepandiran Kritis yang dengannya ia mengatakan pada Profesor Hinrichs yang kepayahannya pernah begitu berjasa padanya:

“Kerusakan itu bagi mereka yang tidak menjalani perkembangan apapun dan oleh karenanya tidak dapat mengubah diri mereka sendiri bahkan kalau mereka menginginkannya; dan kalau sampai sejauh itu, azas baru itu – tetapi tidak! Yang baru tidak dapat dijadikan suatu kalimat, pergantian-pergantian ucapan terpisah tidak dapat dipinjam darinya.”

Kesombongan-kesombongan Kritik Mutlak atas Profesor Hinrichs, bahwa ia telah memecahkan misteri dari ilmu-ilmu fakultas.Apakah ia telah memecahkan misteri filsafat, yurisprudensi, politik, kedokteran, ekonomi politik dan sebagainya? Sama sekali tidak! Ia telah, ini boleh dicatat, ia telah menunjukkan di dalam Die Gute Sache der Freiheit, bahwa ilmu pengetahuan sebagai suatu sumber kehidupan, dan ilmu- pengetahuan bebas, kebebasan pengajaran dan anggaran-anggaran fakultas saling berkontradiksi.

Seandainya Kritik Mutlak itu jujur, ia tentunya mengakui dari mana ia mendapatkan pencerahan yang didalihkannya mengenai Misteri Filsafat. Betapapun, adalah suatu hal yang baik bahwa ia tidak meletakkan ke dalam mulut Feuerbach segala omong-kosong seperti kalimat-kalimat yang disalah-mengerti dan didistorsi yang telah dipinjam darinya, sebagaimana yang dilakukannya dengan orang-orang lain. Sepintas-lintas, adalah tipikal bagi sudut-pandang teologi Kritik Mutlak, bahwa selagi para filistin Jerman kini mulai memahami Feuerbach dan menerima kesimpulan-kesimpulannya, ia tidak mampu menangkap secara tepat atau menggunakannya secara selayaknya satu kalimat tunggal pun.

Kritik telah maju dengan sungguh-sungguh jika dibandingkan dengan prestasi-prestasi kampanye pertama ketika ia menentukan perjuangan Massa itu terhadap Spirit sebagai tujuan semua sejarah hingga sekarang; ketika ia menyatakan “Massa itu” adalah ketiadaan semurninya dari kesengsaraan; ketika ia menyebutkan “Massa itu” semurninya dan sederhananya Materi dan mengontraskan Spirit itu seperti kebenaran dengan Materi. Kalau begitu, bukankah Kritik Mutlak itu Kristiani- Jerman sejati? Sesudah kontradiksi lama antara spiritualisme dan materialisme telah disudahi di semua pihak dan ditanggulangi untuk selamanya oleh Feuerbach, Kritik kembali menjadikannya suatu dogma dasar dalam bentuknya yang paling buruk dan memberikan kemenangan pada spirit Kritiani-Jerman.

Akhirnya, ia mesti dipandang sebagai suatu perkembangan dari misteri yang terkandung dalam kampanye pertama Kritik, yang kini mengidentifikasikan kontradiksi antara spirit dan massa itu dengan kontradiksi antara Kritik dan Massa. Kemudian ia akan mulai mengidentifikasi dirinya sendiri dengan Kritik pada umumnya dan oleh karenanya menyatakan dirinya sebagai Spirit Itu, yang Mutlak, dan yang Kekal, dan Massa itu, sebaliknya, sebagai terbatas, kasar, brutal, mati dan inorganik – karena itulah yang dipahami Kritik dengan materi.

Betapa luar-biasa besar kekayaan sejarah karena dihabiskan oleh sikap kemanusiaan pada Herr Bauer!

b) Masalah Yahudi No.2.

Penemuan-penemuan Kritis mengenai Sosialisme, Yurisprudensi dan Politik (Nasionalitas)

Kaum Yahudi material yang serba-padat dikhotbahi doktrin Kristiani mengenai kebebasan Roh, kebebasan dalam teori, kebebasan spiritualistik yang membayangkan dirinya bebas sekalipun terbelenggu, yang rohnya puas dengan ide itu dan malu-malu karena sesuatu jenis keberadaan yang serba-padat.

“Kaum Yahudi diemansipasikan hingga batas kemajuan mereka dalam teori, mereka itu bebas

sebatas mereka menginginkan kebebasan itu.”36

Dari proposisi itu orang dapat segera mengukur jurang kritis yang memisahkan komunisme dan sosialisme yang duniawi, yang serba-padat

dari sosialisme Mutlak. Proposisi pertama dari sosialisme duniawi menolak emansipasi dalam teori semata sebagai sebuah ilusi dan untuk kebebasan sesungguhnya ia menuntut kecuali kehendak idealistik, kondisi-kondisi material yang nyata sekali. Betapa rendahnya Massa itu dalam perbandingan dengan Kritik keramat, Massa yang memandang gejolak-gejolak material, gejolak-gejolak praktis diharuskan untuk memenangkan waktu dan cara/alat yang bahkan diperlukan untuk berurusan dengan “teori!”

Mari kita tinggalkan sosialisme spiritual sejenak untuk “politik!” Herr Riesser berargumentasi terhadap Bruno Bauer bahwa negara- nya (yaitu, negara Kritis) mesti meniadakan kaum Yahudi dan kaum Kristiani. Herr Riesser benar. Karena Herr Bauer mengacaukan emansipasi manusia dengan emansipasi politik, karena negara dapat bereaksi terhadap unsur-unsur yang merugikan –dan Kekristianian dan Judaisme dipandang sebagai unsur-unsur khianat di dalam Die Judenfrage— hanya dengan pengusiran paksa person-person yang mewakili mereka (Teror, misalnya, ingin menyingkirkan penimbunan gandum dengan menebas leher [guillotining] para penimbun), Herr Bauer menghendaki kaum Yahudi dan kaum Kristiani digantung di negara Kritis-nya. Setelah mengacaukan emansipasi politik dengan emansipasi manusia, ia mesti berkanjang dan mengacaukan alat-alat politik emansipasi dengan alat-alat manusia. Tetapi, begitu Kritik Mutlak mendengar arti tertentu deduksi-deduksinya dirumus-kan, ia memberikan jawaban-jawaban yang pernah diberikan oleh Schelling pada lawan-lawannya, yang menggantikan pikiran-pikiran sesungguhnya untuk frase-frasenya:

“Para lawan Kritik adalah lawan-lawannya karena mereka tidak hanya mengukurnya dengan tolok-ukur mereka yang dogmatik tetapi memandangnya sebagai dogmatik itu sendiri”: mereka menentang kritik karena ia tidak mau mengakui perbedaan-perbedaan, definisi-definisi dan penghindaran-penghindaran mereka yang dogmatik.”

Memang, ia mengambil suatu sikap dogmatik terhadap Kritik Mutlak, seperti terhadap Herr Schelling, untuk mengatributkan padanya arti-penting, pikiran dan pandangan-pandangan yang sesungguhnya, yang tertentu. Agar mengakomodasi dan membuktikan pada Herr Riesser kemanusiaannya, “Kritik, namun memutuskan untuk mengambil jalan

perbedaan-perbedaan, definisi-definisi, dan untuk tepatnya, penghindaran dogmatik.”

Demikianlah kita membaca:

“Seandainya aku dalam karya itu (Die Judenfrage) mempunyai keinginan atau hak untuk melampaui

kritik, semestinya (!) aku berbicara (!) bukannya mengenai negara tetapi mengenai masyarakat,

yang tidak meniadakan siapapun kecuali yang darinya hanya mereka-mereka meniadakan diri mereka sendiri yang tidak ingin ambil-bagian dalam perkembangannya.”

Di sini Kritik Mutlak membuat suatu perbedaan dogmatik di antara apa yang semestinya dilakukannya jika ia tidak melakukan yang sebaliknya dan yang secara aktual dilakukannya. Ia menjelaskan kesempitan Die Juderfrage-nya dengan penghindaran-penghindaran dogmatik dengan/karena mempunyai keinginan dan mempunyai hak yang melarangnya melampaui kritik. Apa? Kritik semestinya “melampaui kritik.” Pengertian yang sungguh padat ini terjadi pada Kritik Mutlak karena keharusan dogmatik untuk, di satu pihak, menandaskan konsepsinya mengenai masalah Yahudi sebagai mutlak, sebagai Kritik, dan, di pihak lain, mengakui suatu konsepsi yang lebih komprehensif.

Misteri dari tidak-dipunyainya keinginan dan ketiadaan haknya kemudian akan diungkapkan sebagai dogma Kritis yang menurutnya semua keterbatasan yang tampak dari Kritik adalah tidak lain dan tidak bukan keharusan adaptasi-adaptasi pada daya-daya pemahaman Massa. Ia tidak mempunyai kehendak! Ia tidak mempunyai hak untuk melampaui konsepsinya yang sempit mengenai masalah Yahudi! Tetapi apakah yang dilakukannya seandainya ia mempunyai kehendak itu atau hak itu? Ia akan memberikan suatu definisi dogmatik. Ia akan berbicara tentang masyarakat gantinya tentang negara dalam arti bahwa kalau negara itu mengusir mereka-mereka yang tidak ingin ambil bagian dalam perkembangannya, “orang-orang seperti itu mengucilkan diri mereka sendiri” dari masyarakat!

Masyarakat berkelakuan sama eksklusifnya seperti negara, hanya dalam suatu bentuk yang lebih sopan; ia tidak melempar anda keluar, tetapi membuatnya begitu tidak mengenakkan bagi anda sehingga anda keluar atas kehendak sendiri.

siapapun yang puas dengan tuntutan-tuntutan dan perintah-perintah- nya dan perkembangan-nya.Di dalam kesempurnaannya itu ia bahkan menutup matanya dan menyatakan kontradiksi-kontradiksi yang sesungguhnya adalah kontradiksi-kontradiksi non-politik yang tidak mengganggunya. Di samping itu Kritik Mutlak sendiri telah berargumentasi bahwa negara hanya meniadakan kaum Yahudi karena dan sejauh kaum Yahudi meniadakan negara dan karenanya meniadakan diri-mereka sendiri dari negara itu. Jika hubungan-hubungan ini mempunyai suatu bentuk yang lebih sopan, yang lebih munafik dan lebih pintar di dalam “masyarakat Kritis” yang hanya membuktikan bahwa “masyarakat Kritis” adalah lebih munafik dan kurang berkembang di dalam strukturnya.

Mari kita mengikuti Kritik Mutlak lebih dalam di dalam “perbedaan- perbedaan dogmatik” dan “definisi-definisi”-nya, untuk tepatnya, dalam “penghindaran-penghindaran”-nya.

Herr Riesser, misalnya, menuntut dari sang pengritik “agar ia membedakan yang termasuk pada bidang hukum” dari “yang di luarnya.” “Sang Pengritik” jengkel pada kekurang-ajaran tuntutan “yuridisial” ini.

“Sejauh ini,” tukasnya, “baik perasaan maupun hati-nurani telah, betapapun,” mengintervensi hukum melengkapinya, dan, karena kualitasnya berdasarkan “bentuknya yang dogmatik,” dan tidak, oleh karenanya, atas “hakekatnya” yang dogmatik?) “selalu mesti melengkapinya.”

Sang Pengritik lupa bahwa hukum, sebaliknya, membedakan dirinya secara jelas sekali dari perasaan dan hati-nurani, bahwa perbedaan ini didasarkan atas hakekat hukum yang berat-sebelah maupun atas bentuknya yang dogmatik, bahwa ia bahkan salah satu dari dogma-dogma utama dari hukum; bahwa, akhirnya penerapan praktis dari perbedaan itu adalah juga puncak perkembangan hukum seperti pemisahan religi dari semua isi duniawi menjadikannya religi abstrak, religi mutlak. Kenyataan bahwa perasaan dan hati-nurani mengintervensi hukum merupakan alasan secukupnya bagi sang Pengritik untuk berbicara tentang perasaan dan hati-nurani ketika itu merupakan suatu urusan hukum dan dogmatika-dogmatika teologi ketika itu suatu urusan dogmatika-dogmatika yuridisial.

Definisi-definisi dan perbedaan-perbedaan Kritik Mutlak telah mempersiapkan kita secukupnya untuk mendengarkan penemuan- penemuannya yang terakhir tentang masyarakat dan hukum.

“Bentuk dunia yang sedang disiapkan Kritik dan pikiran dari padanya yang ia bahkan lebih dulu

siapkan bukan sekedar bentuk legal, tetapi [awaslah, pembaca] suatu bentuk masyarakat yang

mengenainya inilah [sesedikit ini?] yang dapat dikatakan: siapapun yang tidak memberikan sumbangannya pada pembentukannya dan tidak hidup dengan perasaan dan hati-nuraninya di dalamnya, tidak merasa betah di dalamnya dan tidak dapat mengambil bagian di dalam sejarahnya.”

Bentuk dunia yang dipersiapkan Kritik tidak ditentukan sebagai semata-mata legal, tetapi sosial. Definisi ini dapat ditafsirkan dengan dua cara. Kalimat yang dikutib itu dapat dinyatakan sebagai “tidak le- gal tetapi sosial” atau “tidak sekedar legal, tetapi juga sosial.”

Mari kita membahas isinya menurut apa yang kita baca, dimulai dengan yang pertama. Pada awalnya, Kritik Mutlak mendefinisikan bentuk dunia baru secara berbeda dari negara sebagai masyarakat. Sekarang ia mendefinisikan kata-benda masyarakat dengan kata-sifat sosial. Jika Herr Hinrichs tiga kali diberi “kata sosial” secara berkontras dengan kata politik, maka Herr Riesser kini diberi masyarakat sosial secara berkontras dengan kata legal. Jika penjelasan-penjelasan Kritis bagi Herr Hinrichs sampai pada perumusan sosial + sosial + sosial = 3 a, Kritik Mutlak beralih dari kampanyenya yang kedua dari tambahan pada pergandaan dan Herr Riesser dirujuk pada masyarakat yang dilipat- gandakan oleh dirinya sendiri, masyarakat pada tingkat kedua, masyarakat sosial == a2. Untuk melengkapkan deduksi-deduksinya

mengenai masyarakat maka semua yang kini mesti dilakukan Kritik Mutlak adalah beralih pada fraksi-fraksi, untuk menarik/mendapatkan akar (pangkat) 2 masyarakat, dan begitu sete-rusnya.

Jika, sebaliknya, kita mengambil yang kedua: yang “tidak sekedar legal tetapi juga sosial,” bentuk hibrida dunia tidak lain dan tidak bukan adalah bentuk dunia yang ada dewasa ini, bentuk dunia dari masyarakat sekarang. Sungguh suatu mukjijat Kritis yang besar, yang terhormat bahwa Kritik dalam pemikiran pra-dunia hanyalah sedang menyiapkan keberadaan bentuk dunia masa-depan yang sudah ada sekarang. Tetapi betapapun adanya dengan tidak sekedar legal tetapi juga masyarakat sosial Kritik untuk sementara waktu tidak bisa berbicara lebih banyak

mengenainya daripada fabula docet37 pene-rapan moral itu. Mereka yang

tidak percaya akan masyarakat itu dengan perasaan dan hati-nurani mereka tidak akan merasa betah di dalamnya. Pada akhirnya, tiada yang akan hidup di dalam masyarakat itu kecuali perasaan semurninya dan hati-nurani semurninya, yaitu, Spirit itu, Kritik dan para pendukungnya. Massa akan dikucilkan darinya dengan satu atau lain cara sehingga masyarakat serba-padat itu akan tinggal di luar masyarakat sosial.

Singkat kata, masyarakat ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah surga Kritis yang darinya dunia sesungguhnya itu dikucilkan sebagai neraka tidak-Kritis. Dalam pemikiran semurninya, Kritik Mutlak sedang menyiapkan bentuk dunia yang berubah-rupa dari antitesis antara Massa dan Roh.

Dari pedalaman-pedalaman Kritis yang sama seperti penjelasan- penjelasan mengenai masyarakat ini datangnya penjelasan-penjelasan yang diterima Herr Riesser mengenai nasib bangsa-bangsa

Hasrat kaum Yahudi akan emansipasi dan hasrat negara-negara Kristiani untuk mengklasifikasi kaum Yahudi dalam skema pemerintahan mereka –seakan-akan kaum Yahudi sudah lama sebelumnya telah diklasifikasi dalam skema-skema pemerintahan Kristiani!—membawa Kritik Mutlak pada ramalan-ramalan (nubuat- nubuat) mengenai pembusukan nasionalitas-nasionalitas. Lihatlah bagaimana lewat jalan-memutar yang rumit Kritik Mutklak itu sampai pada gerakan historik sekarang –dengan jalan-memutar teologi. Kata- kata mencerahkan berikut dari sabda-dewa (oracle) menunjukkan pada kita hasil-hasil besar yang dicapai Kritik dengan cara ini:

“Hari-depan semua nasionalitas – adalah – sangat – suram!”

Tetapi, demi untuk Kritik, biarlah hari-depan nasionalitas- nasionalitas itu sesuram adanya. Hal yang mendasar sudah jelas: masa- depan itu adalah pekerjaan Kritik.

“Nasib,” demikian diserukannya, “dapat memutuskan sebagaimana yang dikehendakinya: kita sekarang mengetahui bahwa itu adalah pekerjaan kita.”

Sebagaimana Tuhan membiarkan pada ciptaan-nya, manusia, kehendaknya sendiri, demikian pula Kritik memberikan pada nasib, yang adalah ciptaannya, kehendak-nya sendiri. Kritik, yang membuat nasib,

adalah, seperti Tuhan, maha-kuasa. Bahkan “perlawanan,” yang ia “dapatkan di luar dirinya sendiri,” adalah pekerjaannya, “Kritik membuat lawannya. Kejengkelan serba-padat” terhadapnya, oleh karenanya , hanyalah “berbahaya” bagi “Massa itu “sendiri.

Tetapi, apabila Kritik, seperti Tuhan, adalah maha-kuasa, maka ia juga maha-bijaksana seperti Tuhan dan mampu memadukan kemaha- kuasaannya dengan kebebasan, kehendak dan atribut-atribut alamiah individu-individu manusia.

“Ia tidak akan menjadi kekuatan pembuat sejarah apabila ia tidak mempunyai efek menjadikan masing-masingnya apa yang dikehendakinya dan menunjukkan secara tidak-dapat-dibatalkan pada masing-masingnya pendirian yang bersesuaian dengan sifat kehendaknya.”

Leibnitz tidak akan dapat memberikan penyajian yang lebih menggembirakan mengenai keserasian yang sudah-terbentuk antara kemaha-kuasaan Tuhan dan kebebasan manusia dan atribut-atribut alamiah manusia.

Jika Kritik tampak berbenturan dengan psikologi dengan tidak membedakan antara kehendak untuk menjadi sesuatu dan kemampuan untuk menjadi sesuatu, mestilah diingat bahwa terdapat dasar-dasar menentukan untuk menyatakan suatu perbedaan seperti itu dogmatik.

Mari kita membajakan diri kita untuk kampanye ketiga! Mari kita sekali lagi mengingat bahwa “Kritik membuat lawan-nya!” Tetapi bagaimana ia dapat menjadikan lawannya “Kalimat itu” jika ia bukan pedagang/penjual kalimat?

Dalam dokumen marx engels keluarga suci (Halaman 113-122)