BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4
2.2.4. Kandungan Bahan Kimia 13
Air mempunyai sifat melarutkan bahan kimia. Air rumus nyaadalah H2O + X, dimana X merupakan zat-zat yang dihasilkan airr buangan oleh aktivitas manusi selama beberapa tahun. Dengn bertambahnya aktifitas manusia, maka faktor X tersebut dalam air akan bertambah dan merupakan masalah. Faktor X merupakan zat-zat kimia yang mudah larut dalam air dan dapat menimbulkan toksisitas dan berbgai reaksi kimia.dan berbagai reaksi kimia.
Tujun utama untuk mengetahui konsentrasi logham dalam lingkungan perairan adalah:
a. mengetahui konsentrasi logam yang tinggi dalam hewaan air, baik ikan lairlaut maupun air tawar yang dapat digunakan sebagai pedomaan untuk mencegaah terjadiny toksisitrasi kronis maupun akut pada orang yang memakannya.
b. Mengetahui konsetrasi logam untuk memonitorr kualitas air yang mungkin digunakan sebagai irigasi ataupun air minum yang akhirnya berakibat buruk bagi orang yang mengkonsumsinya.
Karena itu suatu pencemaran logam dalam lingkungan perairan perlu diperhatikan secara serius, mengingat akan timbulnya akibat buruk bagi keseimbangan lingkungan hidup (Damayanti.2014).
2.3 Proses Pengolahan Air Bersih
Air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang diperoleh dari berbagai sumber, tergantung pada sumber daerah tertentu. Kondisi air setiap daerah berbeda-beda. Proses pengelolahan air bersih adalah suatu proses penjernihan air agar dapat digunakan sebagai air minum dan kebutuhan lainnya.
2.3.1 Sumber Air Dan Bendungan
Sumber air baku adalah air permukaan sungai yang diambil melalui bendungan dengan panjang 25 m (sesuai lebar sungai ) dan tinggi 4m. pada sisi kanan bendunga dibuat sekat (channel) beberapa salura penyebab yang lebarnya 2m dilengkapi dengan pintu pengatur ketinggian air masuk ke intake. Gambar Sumber air dan bendungan tampak seperti gambar 2.1
Gambar : 2.1 Sumber air dan bendungan 2.3.2 Intakel Channel (saluran air masuk)
Bangunan ini merupakan saluran bercabag dua yang di lengkapi dengan bar screen (saringan kasar) yang berfungsin mencegah masuknya kotoran-kotoran yang terbawa arus sungai. Masing-masing saluran dilengkap dengan pintu ketiggian air (slice gate ) dan penggerakan elektromotor. Pemeriksaan maupun pembersihan saringan dilakukan secara period vdik dan manual untuk menjaga kesetabilan air masuk. Gambar intake channel tampak seperti gambar 2.2
Gambar: 2.2 intake channel
2.3.3 Saringan Kasar ( Bar Screen )
Memisahkan padatan kasar yang terikut seperti sampah plastik, kayu dan daun (budiyono.2013). Gambar Saringan Kasar (Bar Screnn) Tampak seperti gambar 2.3
Gambar : 2.3 Saringan Kasar (Bar Screnn) 2.3.4 Raw Water Tank (RWT) / Bak Pengendap
Bangunan Raw Water Tank (bak pengendap) dibangun setelah intake yang terdiri dari 2 unit (empat sel). Setiap unit berdimensi 23,3 m x 20 m, tinggi 5m yang dilengkapi dengan dua buah inlegate, dua buah out sluice gate,dan pintu bilas dua buah berfungsi sebagai tempat pengendapan lumpur, pasir dan lain-lain yang bersifat sedimen. Tiap sel dalam raw water tank dibersihkan sekali dalam empat bulan. Hal ini dilakukan agar proses pengelolahan air terus berjalan, karena pada saat melakukan pembersihan, sel raw water tank ditutup, sehingga air baku dari intake tidak dapat masuk. Di raw water tank ini terjadi penginjeksian klorin yang disebut pre chlorination. Pre chlorination berfungsi mengksidasi zat-zat organik, anorganik dan mengendalikan pertumbuhan lumut (alga) dan membunuh spora dan lumut, jamur dan juga menghilangkan polutan – polutan lainnya. Dosis klorin yang diberikan adalah 2-3 g/m3, tergantung turbidity air, Gambar Raw Water Tank/Bak (budiyono.2013). Pengendapan tampat seperti gambar 2.f4
Gambar:2.4 Raw Water Tank (RWT) / Bak Pengendap
2.3.5 Raw Water Pump (RWP)
Air yang berasal dari raw water pump (pompa air baku) berfungsi untuk water memompakan air dari RWT ke clarifier. Raw Water Pump ini terjadi dari beberapa unit pompa yang berfungsi untuk memompakan air menuju clarifier yang berbeda-beda. Raw Pump terdiri dari 16 unit pompa umpan, kapasitas rata-rata pompa 110-160/detik dengan total head 18 m dengan memakai nomor AC dengan rata-rata nominal daya 75 KW. Sedangkan yang baru ada tiga pompa namun yang beroperasi 2 unit, 1 unit stand by dengan kapasitas 5501/detik. Adapun unit-unit tersebut adalah:
a) Unit I memiliki 3 buah pompa yang memompakan air menuju clarifier I b) Unit II memiliki 3 buah pompa yag memompakan air menuju clarifier II c) Unit III memiliki 4 buah pompa yang memompakan air menuju clarifier III d) Unit IV memiliki 3 buah pompa yang memompakan air menuju clarifieri IV e) Unit V memiliki 3 buah pompa yang memompakan air menuju vlarifier V f) Unit VI memiliki 3 buah pompa yang memompakan air menuju clarifier VI Gambar raw water pump/pompa air baku pada gambar 2.5
Gambar : 2.5 Raw Water Pump/ Pompaa Air Baku 2.3.6 Clarifier
Air yang dipompa Raw Water Pump masuk ke Clarifier (bangunan untuk proses penjernihan air ) melalui pipa inlet yang secara bersamaan terjadi penyuntikan bahan kougulan Poly Aluminium Chlorida (PAC) dengan kebutuhan rata-rata 20-40 gr/ m3 air. Clarifier yang berfungsi sebagai tempat terjadinya kougulasi, terdiri dari 4 unit dan dilengkapi dengan agiator (pengaduk lambat) dan fungsinya. Kapasitas masing masing unit adalah 400 liter/det namun kapasitas tersebut yang mencakupi
380 liter/det, untuk keseluruhannya kapasitas air yang masuk adalah 2500-2600
liter/det, dan sesuai dengan fungsinya disini terjadi proses pembentukan dan pengendapan flok serta pemisahan flok-flok tersebut dari air bersih. Agitator pada setiap unit menggunakan motor AC dengan daya nominal 7,5 KW. Setiap unit clarifier memiliki 5 bagian utama, yaitu:
a) Primery Reaction Zone b) Secondary Reaction Zone c) Return Flock Zone
d) Clarification Zone e) Cocentration
Air yang masuk ke clarifier melalui pipa masuk (inlet) menuju daerah reaksi pertama (Primery Reaction Zone) proses kougulasi lalu daerah kedua ( secindary reaction Zone) pada kedua bagian tersebut air berikatan dengan bahan kougulasi di sertai dengan pengandukan oleh agiator, sehingga partikel-partikel lumpur membentuk flok atau gumpalan. Flok-flok tadi dengan ukuran partikel lebih besar kan berkurang jumlahnya, proses ini disebut flokulasi akibat adanya pengandukan air yang dimana air akan bergerak menuju daerah pembentukan flok (return flock zone), pada bagian ini terdapat penahan (settler) yang menahan flok yang masi melayang-layang dala air sehingga kelama-lamaan flok-flok tersebut menggumpal pada penahan dan akhirnya tertahan. Setelah melalui daerah pembentukan flok, air yang jernih masuk ke daerah penjernihan (Clarification Zone ). Kemudian menuju penyaringan (Filter) sedangkan flok yang lebih besar mengendap secara gravitasi ke daerah pengendapan (Concertractor) pada dasar clarifier yang selanjutnya akan dibuang ke lagoon sesuai dengan tingkat ketebalannya. Gambar Clarifier tampak pada 2.6
2.3.7 Filter
penyaringan flok-flok sangat ringan yang tidak bertahan (lolo) dari claridfier.
Filter yang dipakai di IPA Minum Sunggal adalah sistem penyaringan permukaan (surface fikter). Media filter tersebut berjumblah 38 unit yng prosesnya berlangsung secara paralel yang menggunakan saringan jenis cepat (Rapid Sand Filter ) berupa pasir siliki dengan menggunakan motor AC nominal daya 0.75 KW. Filter ini berfungsi menyaring trubidy melalui pelekatan pada media filter. Dimensi tiap fiter yaitu 8.25 m x 4 m x 6.25 m. tinggi maksimum permukaan air adalah 5.05 meter dan tebal media filter 114 cm dengan susunan lapisan sebgai berikut :
1. Pasir kwarsa, diameter 0,5 mm - 1,5 mmdengan ketebalan 61 cm 2. Pasir kwarsa, diameter 1,8 mm - 2,0 mm dengan ketebaln 15 cm 3. Kerikil halus, diameter 4,75 mm - 63 mm dengan ketebalan 8 cm 4. Kerikil sedang, diameter 6.3 mm - 10 mm dengan ketebalan 7,5 5. Kerikil sedang, diameter 10 mm - 20 mm dengan ketebalan 7,5 cm 6. Kerikil kasar, duameter 20mm – 40 mm dengan ketebalan 20 cm
Dalam jangka waktu tertentu, filter ini harus dibersihkan dari kotorn atau endapan yang dapat menggangu proses penyaringan dengan menggunakan elektromotor. Proses pembersihan (back wash) bertujuan untuk mengoptimalkan kembali fungsi filter. Banyaknya air yag dibutuhkan untuk back wash dalam satu buah filter adalah sekitar 200 – 300 m3 dan back wash dilalukan setiap 1 x 24-72 jam, tergantung pada lancar atau tidaknya penyaringan. Air hasil back wash dibuang ke lagoon (budiyono.2013). Gambar filter tampak 2.7
gambar : 2.7 Filter
2.3.8 Finishing Water Pump (FWP)
Reservoir yaitu bangunan beton yang berdimensi panjang 50m, lebar 40 m, tinggi 7 m berfungsi untuk menampung air minum (air olahan ) setelah melewati media filter. IPA Sunggal mempunyai 3 buah reservoir, terdiri dari R1 dan R2 dengan kapasitas total ke 3 reservoir adala 21000m3 reservoir berfungsi sebagai wadah tempat penampungan air hasil olahn (yang telah selesai di proses). Air reservoir di buhiklor (post chlorination ) yang bertujuan untuk membunuh mikroorganisme patogen. Penambahan larutan soda ash diperlakukan untuk penetralis Ph jika diperlukan, Apa bila pH menurun ketika penambahan koagulan PAC (budiyono.2013). Gambarr reservoir tampak seperti pada 2.8
Gambar : 2.8 Reservoir
2.3.9 Finishing Water Pump ( FWP)
Finish Water Pump (FWP) IPA Sunggal berjumlah 14 unit dengan kapasitas 100 – 150 l/detik yang berfungsi untuk mendistribusikan air bersih dari reservoir instalsi ke cabang-cabang melalui pipa-pipa transmisi yang kebeberapa jalir yaitu:
a. Untuk jalur 1 dialirkan menggunakan 1 pompa dengan kapasitas 300 – 400 L/detik dan 1 pompa lagi sebagai cadangan apabila pompa sedang dalam perbaikan.
b. Untuk jalur 2 dialirkan menggunakan 3 pompa dengan kapasitas 300 – 400 L/detik
c. Untuk jalur 3dialirkan menggunakan 3 pompa dengan kapasitas 300 – 400 L/detik
d. Untuk jalur 4 dialirkan menggunakan 3 pompa dengan kapasitas 300 – 400 L/detik
e. Untuk jalur 5 dialirkan 2 pompa dengan kapasitas 300 – 400 L/detik dan 1 pompa lagi sebagai cadangan apabila pompa sedang dalam perbaikan.
f. Untuk jalur 6 dan 7 dialirkan 1 pomp dengan kapasitas 550 L/detik dan 2 pompa lagi sebagai cadangan apabila pompa sedang dalam perbaikan. Gambar Finish Water Pump 2.9
Gambar : 2.9 Finish Water Pump
Hasil dari olahan dapat di distribusikan apabila memenuhi syarat kualitas air yang diuji di laboratorium sesuai dengan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia NO. 429/MENKES/PER/IV/2010 yang meliputi aspek fisika, kimia dan mikrobiologi (budiyono.2013). Gambar finish water pump tampak seperti pada 2.10 2.3.10 Sluge Lagoon
Air buangan (limbah cair) dari masing-masing unit pengelolahan dialirkan ke laagoon untuk diolah kembali melalui serangkai sedimentasi, kemudian air olahan disalurkan ke RWT untuk diperoleh kembali. Prinsip telah diterapkan sejak tahun 2002 di IPA Sunggal dengan kapasitas 96000 m3 ( berukuran 80m x 40m x 3m ).
Lagoon memiliki 3 sel. Sel pertama berfungsi sebagai tempat lumpur.jika lumpur telah penuh didalam sel, maka lumpur akan di keruk secara berkala dan di angkat keatas pinggiran sel, yang nantinya diangkut oleh petugas dinas kebersihan setiapa 1-2 tahun sekali. Manfaat lumpur adalah untuk menimbun tanah sekitar Lagoon. Air dari sel pertama ini akan dialirkan ke sel berikutnya yang di filtrasi dengan batu koral. Air dari sel pertama ini akan dialirkan ke sel berikutnya yang di filtrasi dengan batu koral. Air dari sel kedua ini filtrasi lagi dengan batu koral ke sel berikutnya ( sel 3). Dari sel ke 3, air Lagoon tersebut akan dialirkan kembali ke intake (budiyono.2013). Gambar lagoon tanpak seperti pada 2.10
Gambar : 2.10 Lagoon
2.4 Besi (Fe) Dan Tembaga 2.4.1 Besi
Besi adalah satu elemen kimiawi yang dapat ditemui pada hampir setiap tempat dibumi, pada semua lapisan geologis dan semua badn air. Pada umumnya, besi yang ada didalam air dapat bersifat:
1. Terlarut sebagai Fe2+ (ferro) atau Fe3+ (ferri)
2. Tesuspensi sebagai butir koloidal (diameter <1 ) atau lebih besar, seperti Fe2O3, FeO, FeOOH, Fe(OH)3 dan sebagainya.
3. Tergabung dengan zat organik atu zat padat yang anorganik (seperti tanah liat).
Pada air permukaan jarang ditemukan kadar Fe lebih besar dri 1mg/L, tetapi didalam air tanah kadar Fe dapat jauh lebih tinggi. Konsentrasi Fe yang tinggi ini dapat dirasakan dan dapat menodai kain dan dapur (Seprinto,p.,2016)
Pada air yang tidak mengandung oksigen (O2), seperti seringkali air tanah, besi berda sebagai Fe2+ yang cukup dapat terlrut, sedangkan pada air sungai yang mangalir dan terjadi aerasi, Fe2+ teroksidasi menjadi Fe3+ ; Fe3+ sulit larut pada pH 6-8 (kelarutan hanya di bawah beberapa ), bahkan dapt menjadi ferihidroksida Fe(OH)3, atau salah satu jenis oksidasi yang merupakan zat padat dan bisa mengendap. Demikian dalam air sungai, besi berda sebagai Fe2+, Fe3+ terlarut dan Fe3+ dalam bentuk senyawa organis berupa koloid. (Alaert.1984)
2.4.2 Dampak Besi (Fe)
besi atau ferum adalah logam berwarna putih keperakan, liat dan dapat di bentuk. Di alam didapat sebagai hematit. Didalam air minum Fe menimbulkan rasa, warna (kuning), pengendapan pada dinding pipa, pertumbuhan bakteri besi dan kekeruhan. Besi dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan hemoglobin. Banyak
nya Fe di dlam tubuh dikendalikan pada fase absorpsi. Tubuh manusia tidak dapat mengekskresikan Fe. Karenanya mereka yang sering mendapat transfusi darah, warna kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe.
Sekalipun Fe diperlukaan oleh tubuh, tetapi dalam dosis besar dapat merusak dinding usus. Kematian seringkali disebabkan oleh rusaknya dinding usus ini. Debu Fe juga dapat diakumulasi didalam alveoli, dan menyebabkan berkurangnya fungsi paru-paru. (Slamet.2013)
2.4.3. Tembaga (Cu)
Tembaga merupakan komponen penting pada tanaman dan hewan. Tubuh manusia mengandung tembaga pada tingkat sekitar 1,4-2,1 mg per kg massa tubuh.
Tembaga yang telah diberikan dengan protein mebentuk metallo-protein. Metallo-protein bentukan dari tembaga memiliki banyak fungsi dalam transport elektronbiologis dan transportasi oksigen, proses yang mengeksploitasi interkonversi Cu (I) dan Cu (II). Tembaga juga merupakan komponene protein lain yang terkait dengan pengelolahan oksigen.(Sumbono.2016)
Pada perairan alami, kadar tembaga biasanya <0,02 mg/liter. Air tanah dapat mengandung tembaga sekitar 12 mg/liter, Pada perairan laut, kadar tembaga berkisar antara 0,001-0,025 mg/liter, Kadar tembaga maksimum pada air minum adalah 0,1 mg/liter. (Effendi.2003)
2.4.4. Dampak Tembaga (Cu)
Tembaga atau cooper (Cu) merupakan logam berat yang dijumpai pada perairan alami dan merupakan unsur yang esensial bagi tumbuhan dan hewan. Pada tumbuhan, termaksut algae, tembaga berperan sebagai penyusun plastocyanin yang berfungsi dalam transpor elektron dalam proses fotosintesis. Garam-garam tembaga divalen, misalnya tembaga klorida, tembaga sulfat, dan tembaga nitrat, bersifat sangat mudah larut dalam air, sedangkan tembaga karbonat, tembaga hidroksida, dan tembaga sulfida bersifat tidak mudah larut dalam air. Tembaga yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan pada hati. (Effendi.2003)
2.4.5. Spektrofotometri
Spektofotometri merupakan suatu metode analisa yang didsarkan pada pengukuran serapan sinar monokromtis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau krisi difraksi detektor fototube, spektrofotometri juga dapat dibayangkan sebagai suatu perpanjangan dari penilikan visual yaknik, mengenai penyerapan energi cahaya oleh spesies kimia memungkinkan kecermatan yang lebih besar dalam pencirian dan pengkuran kuantitatif. Dalam penggunaan dewasa ini, istilah sprktrometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu sistem kimia itu sebagai fungsi dari panjang gelombang radiasi, demikian pula pengukuran peyerapan yang menyendiri pada suatu panjang gelombang tertentu.(Day,1998) 2.4.6. Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)
SSA adalah suatu alat analisa untuk penentuan unsur-unsur logam dan metaloid yang berdasarkan pada penyerapan radiasi oleh atom-atom bebas tersebut.
Berbagai unsur dapar ditentukan dengan alat ini mulai dari analisa runutan(trace element) sampai dengan analisa komponen utama. Alat ini sangat spesifik dimana batas deteksinya sangat rendah, dari satu larutan contoh dapat ditentukan langsung unsur lain tanpa pemisahan terlebih dahulu dan output data dapat dibaca langsung yang sangat ekonomis. Dalam laboraturium alat ini telah banyak membantu penyederhanaan prosedur dan efektivitas waktu, terutama dalam analisa logam-logam berat (Tarigan.1990)
Spektrofotometer serapan atom ditemukan oleh Walsh dan Alkemande dan Melatz pada awal sampai pertengahan tahun 1950an. Spektrofotometer serapan atom merupakan teknik yang dapat digunakan untuk mengindetifikasi unsur logam pada variasi sample yag luas, pengaplikasiannya digunakan untuk mengidentifikasi unsur pada biologikal, lingkungan, makanan dan sample geologikal (settle.1997)
2.4.7 Prinsip dasar spektrofotometer serapan atom (SSA)
prinsip dasar spektrofotometer serapan atom adalah tubrukan radiasi (cahaya) dengan panjang gelombang spesifik ke atom yang sebelumnya telah berada pada
tingkat energi dasar (ground-state atom). Atom tersebut akan menyerap radiasi ini dan akan timbul transisi ke tingkat energi yang ebih tinggi. Intensitas dari transisi tersebut berhubungan dengan konsentrasi awal atom pada tingkat energi dasar.
(harmita.2006)
Hukum Bouguer (Lambert) : jika suatu sinar radiasi monokromatik (yaitu radiasi dari satu panjang gelombang tunggal) diarahkan melewati medium, diketahui bahwa setiap lapisan menyerap bagian yang sama dari radiasi atau tiap lapisan mengurangi tenaga radiasi sinar dengan bagian yang sama (khopkar.2008).
Hukum Beer : intensitas cahaya monokromatik berkurang secara eksponensial dengan bertambahnya konsetrasi zat penyerap secara linier (Day.1998).
Hukum Lambert-Beer menyatakan bahwa intensitas yang diteruskan oleh larutan zat penyerapan berbanding lurus dengan tebal dan konsentrasi larutan (Rohman.2007)
Peralatan spektrofotomoeter serapan atom terdiri dari enam komponen utama:
sumber radiasi (cahaya), nebulizer, sistem pemasukan sampel (sampel introduction system), monokromator, sistem detektor dan mesin pembaca. Gambar spektrofotometri serapan atom 2.1
Gambar : 2.11 Spektrofotometri Serapan Atom A. Sumber cahaya
Sumber cahaya yang biasa digunakan adalah sumber cahaya garis, yaitu lampu katoda rongga atau hallow cathode lamp (HCL) dan electrodeless discharge lamp (EDL). HCL merupakan sumber garis, dimana setiap logam baru atau unsur yang akan didentifikasi membutuhkan lampu terpish. Beberapa lampu disediakan dalam
unsur ganda seperti Ca-Mg dan Cr-Fe-Ni, dimana katoda dibuat dalam dua atau tiga logam dengan sifat yang mirip.
Hallow cathode lamp merupakan lampu yang ditutupin gelas diisi dengn gas inert, biasanya neon, argon atau terkadang helium, pada tekanan 1-5 torr yang diberikan antara anode (positif) dan katode (negatif) adalah 500 V dimana arus sekitar 2 sampai 30 ma. Gas pengisi terionisasi pada anode, dan ion positif terbentuk dan dipercepat dengan adanya muatan pada katode negatif.
Ion tersebut lalu memburuk atau menyerang katode, menyebabkan ion logam terlepas dari katoda. Tabrakan lebih lanjut akan merangsang atom logam dan ion logam yang tereksitasi memproduksi spektrum spesifik dari logam yang diinginkan ketika logam tersebut kembali pada tingkat energi dasar atau groundstate. Lampu katoda ini berfungsi sebagai sumber cahaya untuk memberikan energi sehingga unsur logam yang diuji akan mudah terkitasi. Katode pada lampu ini dibuat dari logam yang sama dengan unsur yang dianalisi (settel.1997)
B. Nebulizer
Pada spektrofotometer serapan atom nyala, sampel biasanya dimasukkan ke dalam nyala api sampai menjadi aerosol halus. Bahan bakar yang biasanya digunakan dalam SSA nyala adalah udara-asetilen (udara merupakan oksidan dan asetilan adalah bahan bakar) dan nitrous oksid-asetilen (nitrous okside adalah oksidan dan asetilen merupakan bahan bakar) tujuan dari nyala api tersebut adalah memecah molekul menjadi atom. Udara-asetilen (2500 0K) dapat digunakan secara efektif untuk 40 sampai 50 unsur dalam tabel periodik. Sisa 10 sampai 20 unsur dalam tabel periodik membutuhkan nyala api yang lebih panas menggunakan nyala api nitrous oksid-asetilen (3200 0k). Api panjang dan tipis merupakan nyala yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil sensitifitas yang maksimum (settle,1997) Waddah contoh
Kebanyakan spektrofotometer melibatkan larutan, dan dengan demikian kebanyakan wadah contoh merupakan sel untuk menempatkan cairan di dalam sinar dari spektrofotometer. Sel harus memancarkan energi radiasi dalam daerah spektral
yang penting, maka sel gelas melayani dalam daerah tampak, kuarsa atau gelas berkadar silikat yang istimewa tinggi dan garam bantuan dalam inframerah.
Sel-sel yang lebih baik mempunyai permukaan optik yang lebih datar. Sel harus diisi sedemikian rupa hingga berkas cahaya lewat larutan dengan seluruh meniskus di atas sinar. Sel biasanya ditahan dalam kedudukan oleh perencanaan kinetik dari pemegang atau penjepit pegas, yang menjamin menempatannya dalam kedudukan yang dapat direproduksi di dalam bagian gerbang alat.
C. Monokhromator
Ini merupakan peralatan optika untuk mengisolasi dari sumber kontinu suatu berkas radiasi dengan kemurnian spektral yang tinggi dari panjang gelombang apapun yang dikehendaki. Unsur-unsur vterpenting sebuah monokhromator adalah sistem celah dan unsur dispersif. Radiasi dar sumber difokuskan ke celah masuk, kemudian dikumpulkan oleh sebuah lensa atau cermin sehingga sinar paralel jatuh pada unsur dispersi, yang merupakan suatu prisma atau suatu kisi difraksi. Dengan pemutaran secara mekanik prisma atau kisi, bermacam-macambagian spektrum yang dihasilkan oleh unsur dispresif difokuskan ke celah luar, yang dari sini melalui suatu jalan optik selanjutnya, menjumpai contohnya.
D. Detektor
Dalam detaktor untuk suatu spektrofotometer, kita mengharapkan kepekaan tinggi di dalam daerah spektral yang penting, tanggap linear untuk tenaga radiasi, waktu tanggap yang cepat, dapat dipengaruhi oleh amplikasi, dan tingkat stabilitas tinggi atau tingkat “derau” rendah, meskipun dalam praktek adalah perlu untuk diperoleh kompromi di antara faktor-faktor ini. Kepekaan lebih tinggi misalnya dapat dibeli hanya atas biaya dari derau yang meningkatkan.
Sejumlah spektrofotometer memberi kemungkinan untuk pertukaran detektor agar dapat dipertahankan suatu tanggapan yang baik terhadap jangkauan panjang gelombang yang luas. Kepekaan yang diperbesar dari detektor ini memungkinkan penggunaan lebar celah yang lebih sempit dalam monokhomator dan dengan demikian penguraian yang lebih baik dari struktur halus spektral (Day. 1998)
E. Rekorder
Rekorder merupakan suatu alat petunjuk atau dapat juga di artikan sebagai sistem pencatat hasil. Pencatatan hasil dilakukan dengan suatu alat yang telah terkalibrasi untuk pembacaan dapat berupa angka atau berupa kurva dari suatu rekorder yang menggambarkan absorbansi atau intensitas emisi (Sudjadi.2007)
2.4.8. Jenis-jenis gangguan
Gangguan yang mungkin terjadi pada analisis spektrofotometer serapan atom adalah gangguan seperti gangguan kimia, fisika dan spektra.
A. Gangguan Kimia
Gangguan kimia biasanya memperkecil populasi tom pada level energi terendah.
Gangguan uap terjadi karena terbentuknya senyawa seperti oksida atau klorida atau karena terbentuknya ion. Gangguan lainnya yaitu terjadi karena senyawa yang sukar menguap atau sukar terdisosiasi dalam nyala. Hal ini terjadi pada nyala ketika pelarut menguap meninggalkan partikel-partikel padat ( Harmita, 2006).
Gangguan uap terjadi karena terbentuknya senyawa seperti oksida atau klorida atau karena terbentuknya ion. Gangguan lainnya yaitu terjadi karena senyawa yang sukar menguap atau sukar terdisosiasi dalam nyala. Hal ini terjadi pada nyala ketika pelarut menguap meninggalkan partikel-partikel padat ( Harmita, 2006).