• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

K. Kandungan Oranik Substrat

Nilai kadungan organik substrat pada stasiun penelitian berkisar antara 0,58 – 0,67 %. Nilai tertinggi berada pada stasiun I sebesar 0,67, yang merupakan daerah kontrol (mangrove). Tingginya kandungan organik substrat pada stasiun I disebabkan karena pada stasiun I substrat dasarnya berupa lumpur, sehingga tingginya kandungan substrat organik tergantung dari banyaknya jumlah senyawa organik yang masuk ke badan perairan, sedangkan kandungan organik yang rendah berada pada stasiun III sebesar 0,58 %, yang substratnya berupa pasir. Rendahnya kandungan substrat pada stasiun tersebut disebabkan karena sedikitnya jumlah senyawa organik yang masuk kedalam badan perairan. Secara keseluruhan nilai kandungan organik substrat yang didapatkan dari ketiga stasiun penelitian tergolong sangat rendah. Hutapea (2006, hlm: 37) menjelaskan bahwa kriteria tinggi rendahnya kandungan organik substrat berdasarkan persentase sebagai berikut, jika < 1% (sangat rendah); 1% - 2% (rendah); 2,01% - 3% (sedang); 3,01% - 5% (tinggi); 5,01% (sangat tinggi).

Substrat dasar suatu perairan merupakan faktor yang penting bagi kehidupan hewan makrozoobenthos yaitu sebagai habitat hewan tersebut. Masing-masing spesies mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda terhadap substrat dan kandungan bahan organik substrat (Barnes & Mann, 1994, hlm: 13). Adanya perbedaan yang tinggi karena kondisi lingkungan yang tenang yang memungkinkan pengendapan sedimen lumpur yang diikuti oleh akumulasi bahan-bahan organik dasar perairan, sedangkan sedimen yang kasar memiliki kandungan bahan organik yang lebih rendah karena partikel yang lebih halus tidak dapat mengendap. Kehadiran spesies dalam suatu komunitas makrozoobenthos didukung oleh kandungan organik yang tinggi, akan tetapi belum tentu menjamin kelimpahan makrozoobenthos tersebut, karena tipe substrat ikut menentukan (Welch, 1980, hlm: 57).

3.7 Nilai Analisis Korelasi Pearson Metode Komputerisasi SPSS Ver 16.00

Berdasarkan pengukuran faktor fisik kimia perairan yang telah dilakukan pada setiap stasiun penelitian yang dikorelasikan dengan Indeks Diversitas Shannon-Wienner maka diperoleh indeks korelasi seperti pada tabel 3.6:

Tabel 3.7 Nilai Korelasi Keanekaragaman Makrozoobenthos dengan Faktor Fisik Kimia Perairan

Suhu Salinitas Penetrasi Intensitas pH DO BOD

K. Oksigen TDS TSS K. Substrat Organik H' -0,922 -0,922 -0,996 +0,105 -0,922 +0,990 -0,922 +0,995 -0,889 -0,435 +0,977 Keterangan:

Nilai + = Arah Korelasi Searah Nilai - = Arah Korelasi Berlawanan

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa uji Analisis Korelasi Pearson antara beberapa faktor fisik kimia perairan berbeda tingkat Korelasinya dengan Indeks keanekaragaman Makrozoobenthos.

Suhu memiliki tingkat hubungan yang sangat kuat dan berkorelasi berlawanan dengan Indeks Keanekaragaman (H’) makrozoobenthos, dimana suhu suatu perairan

tinggi akan meningkatnya aktivitas respirasi organisme. Menurut Barus (2004, hlm: 48) menjelaskan bahwa berdasarkan hukum Van’t Hoffs kenaikan suhu sebesar 10 o

C (hanya pada kisaran suhu yang masih di tolerir) akan meningkatnya laju metabolisme dari organisme sebesar 2-3 kali lipat, akibat meningkatnya laju metabolisme akan menyebabkan konsumsi oksigen akan meningkat.

Salinitas memiliki tingkat hubungan yang sangat kuat dan berkorelasi berlawanan dengan Indeks Keanekaragaman (H’) makrozoobenthos, dimana tinggi rendahnya salinitas pada suatu perairan sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia yang menghasilkan limbah sehingga berdampak pada peningkatan kadar salinitas air. Nontji (1993, hlm: 59-60), menjelaskan bahwa sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan, aliran sungai. Perairan estuaria atau daerah sekitar kuala dapat mempunyai stuktur salinitas yang kompleks, karena selain merupakan pertemuan antara air tawar yang relatif ringan dan air laut yang lebih berat, juga pengadukkan air sangat menentukan. Perairan dengan stratifikasi salinitas yang sangat kuat, terjadi dimana air tawar merupakan lapisan tipis di permukaan sedangkan di bawahnya terdapat air laut.

Penetrasi cahaya memiliki tingkat hubungan yang sangat kuat dan berkorelasi berlawanan dengan Indeks Keanekaragaman (H’) makrozoobenthos, dimana semakin rendah penetrasi cahaya maka semakin tinggi kekeruhan terjadi, sehingga akan mempengaruhi keberadaan makrozoobenthos.

pH memiliki tingkat hubungan yang sangat kuat dan berkorelasi berlawanan dengan Indeks Keanekaragaman (H’) makrozoobenthos, dimana nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air pada umumnya terdapat antara 7 sampasi 8,5. Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun yang sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi. Disamping itu pH yang sangat rendah akan meyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam terutama ion Aluminium (Barus, 2004, hlm: 61).

BOD5 memiliki tingkat hubungan yang sangat kuat dan berkorelasi berlawanan dengan Indeks Keanekaragaman (H’) makrozoobenthos, dimana aliran air

berpengaruh terhadap kelarutan udara dan garam-garam dalam air sehingga secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kehidupan organisme air khususnya makrozoobenthos. Wardhana (2004, hlm: 93) menyatakan bahwa peristiwa penguraian bahan buangan organik melalui proses oksidasi oleh mikroorganisme di dalam air lingkungan adalah proses alamiah yang mudah terjadi apabila air lingkungan mengandung oksigen yang cukup.

DO dan kejenuhan oksigen memiliki tingkat hubungan yang sangat kuat dan berkorelasi searah dengan Indeks Keanekaragaman (H’) makrozoobenthos, dimana semakin tinggi nilai DO dan kejenuhan oksigen, tingkat keanekaragaman benthos juga tinggi. Kejenuhan oksigen berpengaruh terhadap kelangsungan hidup biota air termasuk makrozoobenthos, sebab semakin tinggi nilai kejenuhan oksigen (mendekati 100%) pada kisaran suhu tertentu berarti kandungan oksigen terlarut mendekati maksimum, dengan demikian makrozoobenthos melakukan fungsi fisiologis dan biologisnya dengan baik. Fluktuasi kadar oksigen terlarut dalam air sangat menentukan kehidupan hewan air (Suin, 2002, hlm: 58-59). Hewan maupun tumbuhan air memerlukan oksigen untuk proses respirasi dan kelangsungan hidupnya (Soegianto, 2005, hlm: 95).

Kadar organik substrat memiliki tingkat hubungan yang sangat kuat dan berkorelasi searah dengan Indeks Keanekaragaman (H’) makrozoobenthos, dimana keberadaan senyawa organik akan mempengaruhi tingkat keanekaragaman makrozoobenthos, semakin tinggi nilai kandungan organik substrat maka keanekaragaman makrozoobenthos juga tinggi, tinggi rendah nilai kandungan substrat organik di pengaruhi oleh nilai BOD5, Kehadiran spesies dalam suatu komunitas makrozoobenthos didukung oleh kandungan organik yang tinggi, akan tetapi belum tentu menjamin kelimpahan makrozoobenthos tersebut, karena tipe substrat ikut menentukan (Welch, 1980, hlm: 57).

TDS memiliki tingkat hubungan yang sangat kuat dan berkorelasi berlawanan dengan Indeks Keanekaragaman (H’) makrozoobenthos, dimana kandungan senyawa prganik yang tinggi akan menimbulkan gangguan terhadap organisme air khususnya

BAB 4

Dokumen terkait