H. Definisi Operasional
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1) Kandungan Rodamin B
Di Indonesia, sejak dahulu orang banyak menggunakan pewarna makanan tradisional yang berasal dari bahan alami, misalnya kunyit untuk warna kuning, daun suji untuk warna hijau dan daun jambu untuk warna merah. Pewarna alami ini aman dikonsumsi namun mempunyai kelemahan, yakni ketersediaannya terbatas dan warnanya tidak homogen sehingga tidak cocok digunakan untuk industri makanan dan minuman.
Penggunaan bahan alami untuk produk massal akan meningkatkan biaya produksi menjadi lebih mahal dan lebih sulit karena sifat pewarna alami tidak homogen sehingga sulit menghasilkan warna yang stabil. Kemajuan teknologi pangan pangan memungkinkan zat pewarna dibuat secara sintetis. Dalam jumlah yang sedikit, suatu zat kimia bisa memberi warna yang stabil pada produk pangan. Dengan demikian produsen bisa menggunakan lebih banyak pilihan warna untuk menarik perhatian konsumen.
Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No.239/Menkes/Per/V/85 menetapkan 30 zat pewarna berbahaya. Rodamin B termasuk salah satu zat pewarna yang dinyatakan sebagai zat pewarna berbahaya dan dilarang digunakan pada produk pangan (Syah et al. 2005). Namun demikian, penyalahgunaan Rodamin B sebagai zat pewarna pada makanan masih sering terjadi di lapangan dan diberitakan di beberapa Media Masa.
Penambahan zat pewarna Rodamin B pada makanan terbukti mengganggu kesehatan, misalnya mempunyai efek racun, berisiko merusak organ tubuh dan berpotensi memicu penyakit kanker. Oleh karena itu Rodamin B dinyatakan sebagai pewarna berbahaya dan dilarang penggunannya pada bahan makanan. Pemerintah sendiri telah mengatur penggunaan zat pewarna dalam makanan. Namun demikian masih banyak produsen makanan, terutama pengusaha kecil, yang menggunakan zat-zat pewarna yang dilarang dan berbahaya bagi kesehatan, misalnya pewarna untuk tekstil atau cat yang pada umumnya mempunyai warna yang lebih cerah, lebih stabil dalam penyimpanan, harganya lebih murah dan
produsen pangan belum menyadari bahaya dari pewarna-pewarna tersebut (Yuliarti, 2007)
Penelitian zat pewarna sintetis Rodamin B pada sambal botol yang diperdagangkan di Pasar Modern Kota Kendari khususnya pada Hypermart dan Mall Mandonga Kota Kendari dilakukan karena banyaknya zat pewarna yang digunakan sebagai bahan tambahan pangan baik yang diizinkan maupun yang tidak diizinkan. Menurut Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 Tentang bahan tambahan makanan bahwa tidak semua zat yang digunakan merupakan zat pewarna yang diizinkan.
Penelitian secara kualitatif yang dilakukan di Laboratorium Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi dan Industri Pertanian Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara menggunakan metode fenilhidrasin dan diperoleh hasil bahwa semua sampel sambal botol yang diambil pada Hypermart dan Mall Mandonga Kota Kendari tidak mengandung pewarna sintetis Rodamin B.
Hasil uji laboratorium tersebut telah dilakukan terhadap 7 sampel sambal botol dan tidak ditemukan adanya sampel yang mengandung Rodamin B yang ditandai dengan tidak terdapat perubahan warna sampel menjadi warna indikator adanya Rodamin B yaitu warna ungu. Dalam hal ini semua sampel yang dianalisis dinyatakan negatif tidak mengandung Rodamin B. Hal ini menunjukkan bahwa sambal botol yang diperdagangkan di Pasar ModernKota Kendari khususnya pada Hypermart dan Mall Mandonga, aman dari zat pewarna sintetis Rodamin B yang dilarang penggunaanya terhadap makanan.
Hypermart dan Mall Mandonga Kota Kendari adalah pasar Modern di Kota Kendari yang sangat digemari oleh konsumen, rata-rata konsumen
berkunjung ke pasar ini untuk melakukan aktivitasnya dalam hal pembelian barang dan jasa khususnya bahan makanan untuk keperluan sehari-hari. Dengan tidak ditemukannya zat pewarna sintetis Rodamin B pada salah satu produk yang diperjual belikan memungkinkan masyarakat untuk terus melakukan pembelian produk yang berkelanjutan. Dengan demikian dampak postif akan sangat dirasakan oleh masyarakat khususnya pada makanan yang akan dikonsumsi.
Rodamin B adalah bahan kimia yang digunakan sebagai bahan pewarna dasar dalam tekstil.Pada awalnya zat ini digunakan untuk kegiatan histologi dan sekarang berkembang untuk berbagai keperluan yang berhubungan dengan sifatnya dapat berfluorensi dalam sinar matahari.Rumus Molekul dari Rodamin B adalah C28H31N2O3Cl dengan berat molekul sebesar 479.000. Zat yang sangat dilarang penggunaannya dalam makanan ini berbentuk kristal hijau atau serbuk ungu kemerah merahan, sangat larut dalam air yang akan menghasilkan warna merah kebiru-biruan dan berfluorensi kuat. Rodamin B juga merupakan zat yang larut dalam alkohol, HCl, dan NaOH, selain dalam air. Di dalam laboratorium, zat tersebut digunakan sebagai pereaksi untuk identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg, dan Th dan titik leburnya pada suhu 165oC (Subandi,1999).
Di dalam Rodamin B sendiri terdapat ikatan dengan klorin (Cl) yang dimana senyawa klorin ini merupakan senyawa anorganik yang reaktif dan juga berbahaya.Reaksi untuk mengikat ion klorin disebut sebagai sintesis zat warna. Disini dapat digunakan Reaksi Frield Crafts untuk mensintesis
zat warna seperti triarilmetana dan xentana. Reaksi antara ftalat anhidrida dengan resorsinol dengan keberadaan seng klorida menghasilkan fluoresein. Apabila resorsinol diganti dengan N-N dietilaminofenol, reaksi ini akan menghasilkan Rodamin B.
Selain terdapat ikatan Rodamin B dengan klorin terdapat juga ikatan konjugasi. Ikatan konjugasi dari Rodamin B inilah yang menyebabkan Rodamin B bewarna merah. Ditemukannya bahaya yang sama antara Rodamin B dan Klorin membuat adanya kesimpulan bahwa atom klorin yang ada pada Rodamin B yang menyebabkan terjadinya efek toksik bila masuk ke dalam tubuh manusia. Atom Cl yang ada sendiri adalah termasuk dalam golongan halogen, dan sifat halogen yang berada dalam senyawa organik akan menyebabkan toksik dan karsinogen.
Penggunaan Rodamin B dalam produk pangan dilarang karena bersifat karsinogenik kuat, dapat mengakibatkan gangguan fungsi hati hingga kanker hati (Syah, et al., 2005). Beberapa sifat berbahaya dari Rodamin B seperti menyebabkan iritasi bila terkena mata, menyebabkan kulit iritasi dan kemerahan bila terkena kulit hampir mirip dengan sifat dari klorin yang seperti disebutkan di atas berikatan dalam struktur Rodamin B. Penyebab lain senyawa ini begitu berbahaya jika dikonsumsi adalah senyawa tersebut adalah senyawa yang radikal. Senyawa radikal adalah senyawa yang tidak stabil. Dalam struktur Rodamin B di ketahui mengandung klorin (senyawa halogen), sifat halogen mudah bereaksi atau memiliki reaktivitas yang tinggi maka dengan demikian senyawa tersebut
karena merupakan senyawa yang radikal akan berusaha mencapai kestabilan dalam tubuh dengan berikatan dengan senyawa-senyawa dalam tubuh kita sehingga pada akhirnya akan memicu penyakit kanker pada manusia.
Klorin sendiri pada suhu ruang berbentuk sebagai gas. Sifat dasar klorin sendiri adalah gas beracun yang menimbulkan iritasi sistem pernafasan, efek toksik klorin berasal dari kekuatan mengoksidasinya. Bila klorin dihirup pada konsentrasi di atas 30 ppm, klorin mulai bereaksi dengan air dan sel-sel yang berubah menjadi asam klorida (HCl) dan asam hipoklorit (HClO). Ketika digunakan pada tingkat tertentu untuk desinfeksi air, meskipun reaksi klorin dengan air sendiri tidak mewakili bahaya utama bagi kesehatan manusia, bahan- bahan lain yang hadir dalam air dapat menghasilkan disinfeksi produk sampingan yang dapat merusak kesehatan manusia. Klorin yang digunakan sebagai bahan disinfektan yang digunakan dalam kolam renang pun berbahaya, jika terkena akan menyebabkan iritasi pada mata dan kulit manusia. Bahaya jangka pendek diantaranya adalah mual, muntah, sakit perut, dan tekanan darah rendah. Sedangkan bahaya jangka panjangnya adalah penyakit kanker.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Rompas (2014) yang melakukan identifikasi zat pewarna Rodamin B pada saos tomat bakso tusuk di Sekolah Dasar Kota Manado.Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat simpulkan bahwa saos tomat bakso tusuk yang dijual oleh pedagang bakso tusuk di Sekolah Dasar tidak
terdapat zat pewarna Rodamin B melalui uji kualitatif di Laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri (BARISTAN) Kota Manado dengan menggunakan Metode Kromatografi Kertas.