• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PENGAMATAN DAN PENATALAKSANAAN

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kanker Payudara .1 Definisi

Kanker adalah kelompok penyakit, akibat sel tubuh berkembang, berubah, dan menduplikasi diri di luar kendali. Biasanya, nama kanker diberikan berdasarkan bagian tubuh dimana kanker pertama kali tumbuh. Jadi, kanker payudara merujuk pada pertumbuhan serta perkembangbiakan sel abnormal yang muncul pada jaringan payudara.

Satu kelompok sel akan membelah secara cepat dan membentuk benjolan atau massa jaringan ekstra, massa ini disebut tumor. Tumor dapat bersifat ganas (malignant, cancerous) atau jinak (benign, non-cancerous). Tumor yang bersifat ganas akan menyusup dan menghancurkan jaringan tubuh yang sehat. Satu kelompok sel dalam sebuah tumor juga dapat pecah dan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Sel yang menyebar dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain disebut metastases.

Istilah kanker payudara merujuk pada tumor ganas yang telah berkembang dari sel-sel yang ada di dalam payudara. Payudara secara umum terdiri dari dua tipe jaringan, yaitu jaringan glandular (kelenjar) dan jaringan stromal (penopang). Jaringan kelenjar mencakup kelenjar susu dan saluran susu. Sedangkan jaringan penopang meliputi jaringan lemak dan jaringan serat konektif. Payudara juga dibentuk oleh jaringan limfatic, sebuah jaringan yang berisi sistem kekebalan yang bertugas mengeluarkan cairan dan kotoran selular.

Amalia Pratiwi : Laporan Praktek Kerja Profesi Farmasi Rumah Sakit DI RSUP. H. Adam Malik Medan, 2009.

Kanker bisa terjadi dari berbagai jaringan dalam berbagai organ. Sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangbiakannya, sel-sel kanker membentuk suatu massa dari jaringan ganas yang menyusup ke jaringan di dekatnya dan bisa menyebar (metastasis) ke seluruh tubuh. Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi.

2.1.2 Patofisologi

Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan bahan genetik sel yang memancing sel menjadi ganas. Perubahan bahan genetik sel ini disebabkan oleh suatu agen yang disebut karsinogen, yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi (penyinaran) atau sinar matahari. Tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap karsinogen. Kelainan genetik sel atau bahan lainnya yang disebut

promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap karsinogen. Bahkan gangguan

fisik menahunpun bisa membuat sel menjadi lebih peka untuk mengalami keganasan.

Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh promosi. Karena itu diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan (gabungan dari sel yang peka dan suatu karsinogen). Dalam suatu proses dimana sebuah sel normal menjadi sebuah sel ganas, pada akhirnya DNA dari sel tersebut akan mengalami perubahan. Perubahan dalam bahan genetik sel sering sulit ditemukan, tetapi terjadinya kanker terkadang dapat diketahui dari adanya suatu perubahan ukuran atau bentuk dari satu kromosom tertentu (http://id.wikipedia.org/wiki/Kanker payudara).

Amalia Pratiwi : Laporan Praktek Kerja Profesi Farmasi Rumah Sakit DI RSUP. H. Adam Malik Medan, 2009. 2.1.3 Penyebab dan Faktor Resiko

Penyebab pasti kanker payudara tidak diketahui. Meskipun demikian, hasil riset telah mengidentifikasi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko pada individu tertentu, yang meliputi:

a. keluarga yang memiliki riwayat penyakit serupa b. usia yang makin bertambah

c. tidak memiliki anak

d. kehamilan pertama pada usia di atas 35 tahun

e. periode menstruasi yang lebih lama (menstruasi pertama lebih awal atau menopause lebih lambat)

Berdasarkan faktor risiko di atas, riwayat keluarga serta usia menjadi faktor terpenting. Riwayat keluarga yang pernah mengalami kanker payudara meningkatkan resiko berkembangnya penyakit ini. Faktor genetik hanya berdampak 5-10% dari terjadinya kanker payudara dan ini menunjukkan bahwa faktor risiko lainnya memainkan peranan penting.

Studi juga mengevaluasi peranan faktor gaya hidup dalam perkembangan kanker payudara yang meliputi pestisida, konsumsi alkohol, kegemukan, asupan lemak serta kurangnya olah fisik (Tim Penanggulangan dan Pelayanan kanker Payudara Terpadu, 2002).

2.1.4 Gejala Klinis

Gejala klinis kanker payudara dapat berupa:

a. benjolan pada payudara umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri. Benjolan itu mula-mula kecil, makin lama makin besar, lalu melekat pada

Amalia Pratiwi : Laporan Praktek Kerja Profesi Farmasi Rumah Sakit DI RSUP. H. Adam Malik Medan, 2009.

kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau pada puting susu.

b. kulit atau puting susu menjadi tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah muda atau kecoklat-coklatan sampai menjadi oedema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk (peau d'orange), mengkerut, atau timbul borok (ulkus) pada payudara. Borok itu makin lama makin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan seluruh payudara, sering berbau busuk, dan mudah berdarah.

c. pendarahan pada puting susu.

d. rasa sakit atau nyeri pada umumnya baru timbul kalau tumor sudah besar, sudah timbul borok, atau kalau sudah terjadi metastasis ke tulang-tulang. kemudian timbul pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, bengkak (edema) pada lengan, dan penyebaran kanker ke seluruh tubuh (Handoyo, 1990).

Kanker payudara lanjut sangat mudah dikenali dengan mengetahui kriteria sebagai berikut:

a. terdapat edema luas pada kulit payudara (lebih 1/3 luas kulit payudara) b. adanya nodul satelit pada kulit payudara

c. kanker payudara jenis mastitis karsinimatosa d. terdapat nodul supraklavikula

e. adanya edema lengan f. adanya metastase jauh

g. serta terdapat dua dari tanda-tanda locally advanced, yaitu ulserasi kulit, edema kulit, kulit terfiksasi pada dinding toraks, kelenjar getah bening

Amalia Pratiwi : Laporan Praktek Kerja Profesi Farmasi Rumah Sakit DI RSUP. H. Adam Malik Medan, 2009.

aksila berdiameter lebih 2,5 cm, dan kelenjar getah bening aksila melekat satu sama lain

2.1.5 Diagnosis dan Skrining

Sejumlah studi memperlihatkan bahwa deteksi kanker payudara dan terapi dini dapat meningkatkan harapan hidup dan memberikan pilihan terapi lebih banyak pada pasien. Diperkirakan 95% wanita yang terdiagnosis pada tahap awal kanker payudara dapat bertahan hidup lebih dari lima tahun setelah diagnosis sehingga banyak dokter yang merekomendasikan agar para wanita menjalani

sadari (periksa payudara sendiri) di rumah secara rutin dan menyarankan

dilakukan pemeriksaan rutin untuk mendeteksi benjolan pada payudara. Pada umumnya, kanker payudara dideteksi oleh penderita sendiri dan biasanya berupa benjolan yang keras dan kecil. Pada banyak kasus benjolan ini tidak sakit, tapi beberapa wanita mengalami kanker yang menimbulkan rasa sakit.

Selain tes fisik, mamografi dan USG khusus payudara disarankan untuk mendeteksi adanya kelainan pada wanita berusia lanjut dan wanita berisiko tinggi kanker payudara, sebelum terjadi kanker. Jika benjolan bisa teraba atau kelainan terdeteksi saat mamografi, biopsi perlu dilakukan untuk mendapatkan contoh jaringan guna dilakukan tes di bawah mikroskop dan meneliti kemungkinan adanya tumor.

2.1.6 Penatalaksanaan Kanker Payudara

Penatalaksanaan kanker payudara dilakukan dengan serangkaian pengobatan meliputi pembedahan, kemoterapi, terapi hormon, terapi radiasi dan yang terbaru adalah terapi imunologi (antibodi). Pengobatan ini ditujukan untuk memusnahkan sel-sel kanker atau untuk membatasi perkembangan penyakit serta

Amalia Pratiwi : Laporan Praktek Kerja Profesi Farmasi Rumah Sakit DI RSUP. H. Adam Malik Medan, 2009.

menghilangkan gejala-gejalanya. Keberagaman jenis terapi ini mengharuskan terapi dilakukan secara individual.

a. Pembedahan

Tumor primer biasanya dihilangkan dengan pembedahan. Prosedur pembedahan yang dilakukan pada pasien kanker payudara tergantung pada tahapan penyakit, jenis tumor, umur dan kondisi kesehatan pasien secara umum. Ahli bedah dapat mengangkat tumor (lumpectomy), mengangkat sebagian payudara yang mengandung sel kanker atau pengangkatan seluruh payudara (mastectomy). Untuk meningkatkan harapan hidup, pembedahan biasanya diikuti dengan terapi tambahan seperti radiasi, hormon atau kemoterapi.

b. Terapi Radiasi

Kanker payudara yang ditemukan dalam stadium dini mempunyai prognosis yang baik sehingga penemuan lesi dini merupakan tujuan utama pemeriksaan radidiagnostik. Terapi radiasi dilakukan dengan sinar-X dengan intensitas tinggi untuk membunuh sel-sel kanker yang tidak terangkat saat pembedahan. Pemeriksaan radiologi yang direkomendasikan adalah USG payudara dan mammografi.

c. Kemoterapi

Kemoterapi mempunyai tujuan akhir yaitu penyembuhan pasien dan untuk jangka panjang berupa perpanjangan hidup yang bebas dari penyakit. Penyembuhan memerlukan penumpasan setiap sel kanker. Kemoterapi digunakan baik pada tahap awal ataupun tahap lanjut penyakit. Kemoterapi digunakan jika kanker sudah menyebar dan tidak dapat disembuhkan dengan pembedahan.

Amalia Pratiwi : Laporan Praktek Kerja Profesi Farmasi Rumah Sakit DI RSUP. H. Adam Malik Medan, 2009.

Kemoterapi juga digunakan sebagai alat bantu tindakan bedah dan radiasi. Obat kemoterapi bisa digunakan secara tunggal atau dikombinasikan.

2.1.7 Prosedur Terapi

a. Penentuan terapinya tergantung pada stadium TNM, jenis tumor, status hormonal (premenopause/menopause)

b. Pelaksanaan prosedur terapi dibedakan pada:

i. Kanker payudara pada stadium 0 . Terapi definitif pada T0 berdasarkan pada hasil pemeriksaan biopsy yang dilakukan, lokasi didasarkan pada hasil pemeriksaan radiologi

ii. Kanker payudara stadium dini/operabel dilakukan mastektomi radikal, modified mastektomi radikal. Dilakukan juga terapi adjuvan, yaitu kemoterapi, radiasi

iii. Kanker payudara locally advanced dilakukan dengan dua cara yaitu operasi lokal lanjut dan inoperabel lokal lanjut.

iv. Kanker payudara stadium lanjut. Prinsip pelaksanaan terapi pada stadium adalah terapi paliatif. Dapat dilakuakn terapi sistemik yang merupakan terapi primer (kemoterapi dan hormonal terapi) serta terapi lokoregional (radiasi dan bedah) apabila diperlukan (Tim Penanggulangan & Pelayanan kanker payudara, 2003).

2.2 Anemia

Dokumen terkait