BAB II. DESKRIPSI INDONESIA DALAM PENERAPAN ASEAN
2.2. Kapabilitas Indonesia dalam Keamanan Non Tradisional
Kondisi keamanan suatu negara berkaitan erat dengan kemampuan atau kapabilitas negara tersebut dalam mencegah, maupun menangani kasus-kasus ancaman keamanan yang terjadi. Indonesia sendiri memiliki berbagai kasus yang termasuk dalam kategori keamanan non tradisional yaitu ancaman keamanan yang membahayakan keselamatan manusia sebagai warga negara. Ancaman itu dapat diminimalisir atau dicegah dengan keberadaan peraturan dan pelaksanaan aturan yang baik. Berikut adalah data yang menggambarkan bagaimana keberadaan peraturan dan badan-badan yang terkait keamanan non tradisional di Indonesia :
2.2.1. Terorisme
Terdapat beberapa undang-undang yang mengatur tentang tindakan terorisme, antara lain Undang-undang nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-undang. Perpu tersebut
lahir sebagai reaksi terhadap serangkaian kasus peledakan bom yang terjadi di Indonesia. Kemudian, pada tahun 2003 Perpu tersebut disahkan menjadi undang-undang agar memiliki kekuatan hukum yang berlaku permanen.
Pada tahun 2013 muncul undang-undang nomor nomor 9 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. Undang-undang tersebut lahir sebagai konsekuensi terhadap ratifikasi
International Convention For The Suppressionof The Financing Of Terrorism
1999 yang disahkan undang-undang Republik Indonesia Nomor 6 tahun 2006 Tentang Pengesahan International Convention For The Suppression Of The
Financing Of Terrorism, 1999 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan
Terorisme, 1999).
Undang-undang lain adalah Undang-undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 2006 tentang Pengesahan International Convention For The Suppression Of
Terrorist Bombings, 1997 (Konvensi Internasional Pemberantasan Pengeboman
Oleh Teroris, 1997). Kemudian, Undang-undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 2012 tentang Pengesahan ASEAN Convention On Counter Terrorism (Konvensi ASEAN Mengenai Pemberantasan Terorisme). Selanjutnya, Undang-undang Republik Indonesia nomor 10 tahun 2014 tentang Pengesahan
International Convention For The Suppression Of Acts Of Nuclear Terrorism
(Konvensi Internasional Penanggulangan Tindakan Terorisme Nuklir).
Terdapat pula badan yang dibentuk untuk melaksanakan penanggulangan tindak pidana terorisme. Berdasarkan rekomendasi Komisi I DPR dan assessment
terhadap dinamika terorisme, maka pada tanggal 16 Juli 2010 Presiden Republik Indonesia menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.72
2.2.2. Narkoba.
Acuan dalam kasus narkoba berada pada Undang-undang Republik Indonesia nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan juga undang-undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika. Ada pula undang-undang yang merupakan ratifikasi perjanjian internasional, yaitu Undang-Undang nomor 8 tahun 1976 tentang Pengesahan Konvensi Tunggal Narkotika 1961 beserta Protokol Tahun 1972 yang Mengubahnya, Undang-undang nomor 7 tahun 1997 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Illicit Traffic in
Narcotic Drugs and Psychotropic Substances, 1988 (Konvensi Perserikatan
Bangsa-Bangsa tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika, 1988) dan juga Undang-undang nomor 8 tahun 1996 tentang Pengesahan Convention on Psychotropic Substances 1971 (Konvensi Psikotropika 1971).
Selain undang-undang, terdapat peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 44 Tahun 2010 tentang Prekursor, peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan dan peraturan pemerintah
Republik Indonesia nomor 40 tahun 2013 tentang Pelaksanaan Undang-Undang nomor 35 tahun 2009 Tentang Narkotika.
Selain undang-undang ada juga Badan Narkotika Nasional atau BNN sendiri dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2002 tentang Badan Narkotika Nasional.73 Terbitnya Undang-Undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika menjadikan BNN sebagai lembaga pemerintah nonkementerian yang berkedudukan di bawah Presiden dan bertanggung jawab kepada Presiden.74 BNN sendiri secara kelembagaan memiliki perwakilan di tingkat provinsi dan kabupaten.75
2.2.3. Perdagangan dan Penyelundupan Manusia
Undang-undang nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang menjadi dasar hukum tentang tindak pidana perdagangan orang di Indonesia. Terdapat undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Undang-undang nomor 7 tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention On The Elimination Of All Forms Of
Discrimination Against Women), Undang-Undang Republik Indonesia nomor 35
tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang turut menjadi dasar hukum pencegahan dan penanggulangan tindak pidana perdagangan orang di Indonesia.
73
Lihat: 74
Lihat : Pasal 64 Undang-Undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. 75
Terdapat juga Undang-undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 2009 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Transnational Organized
Crime (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Menentang Tindak Pidana
Transnasional yang Terorganisasi), undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2009 tentang Pengesahan Protocol To Prevent, Suppress And Punish
Trafficking In Persons, Especially Women And Children, Supplementing The United Nations Convention Against Transnational Organized Crime (Protokol
Untuk Mencegah, Menindak, Dan Menghukum Perdagangan Orang, Terutama Perempuan Dan Anak-Anak, Melengkapi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Menentang Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisasi).
Kemudian ada juga undang-undang Republik Indonesia nomor 15 tahun 2009 tentang Pengesahan Protocol Against The Smuggling Of Migrants By Land,
Sea And Air, Supplementing The United Nations Convention Against Transnational Organized Crime (Protokol Menentang Penyelundupan Migran
Melalui Darat, Laut, Dan Udara, Melengkapi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Menentang Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisasi). Hingga undang-undang Republik Indonesia nomor 10 Tahun 2012 tentang Pengesahan
Optional Protocol To The Convention On The Rights Of The Child On The Sale Of Children, Child Prostitution And Child Pornography (Protokol Opsional
Konvensi Hak-Hak Anak Mengenai Penjualan Anak, Prostitusi Anak, Dan Pornografi Anak)
2.2.4. Penyelundupan Senjata Api
Terdapat undang-undang yang sudah berlaku lama di Indonesia, yaitu Undang-undang 1948 No. 8 (8/1948) tentang Pendaftaran dan Pemberian Izin Pemakaian Senjata Api. Kemudian diubah undang-undang darurat Republik Indonesia nomor 12 tahun 1951 tentang Mengubah "Ordonnantietijdelijke
Bijzondere Strafbepalingen" (Stbl. 1948 nomor 17) dan undang-undang Republik
Indonesia Dahulu nomor 8 tahun 1948. Undang-undang tersebut menjadi landasan bagi peredaran senjata api di Indonesia dan mengatur tentang perizinan kepemilikan, pengawasan kepemilikan serta penggunaan senjata api.
Pelaksanaan pemberian izin, kepemilikan dan penggunaan senjata api dilakukan oleh kepolisian Republik Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan pasal 15 ayat 2 undang-undang nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang salah satu poinnya berbunyi “memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata api, bahan peledak, dan senjata tajam.”76
2.2.5. Cybercrimes
Kejahatan dengan menggunakan jaringan berdasarkan data yang telah dipaparkan sebelumnya sangat banyak terjadi di Indonesia. Kapabilitas Indonesia dalam mengatur tindakan yang menggunakan jaringan ini terdapat pada undang-undang Republik Indonesia nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Undang-undang tersebut menempatkan Bab VII dengan 11 pasal yaitu pasal 27 sampai dengan 37 yang khusus membahas tentang perbuatan yang
76
dilarang dalam penggunaan jaringan di Indonesia. Akan tetapi, dalam bab perbuatan yang dilarang ini tidak secara jelas menyebutkan istilah cybercrime atau kejahatan siber.
Selain undang-undang no 11 tahun 2008, penanganan cybercrimes di Indonesia juga dilakukan oleh lembaga negara. Lembaga yang bertanggung jawab dalam proses pencegahan dan penanggulangan kejahatan siber ini adalah kepolisian negara Republik Indonesia dan juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik. Hal tersebut disebutkan dalam pasal 43 dalam bagian tentang penyidikan.
2.2.6. Bencana
Pemerintah mengeluarkan undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Undang-undang tersebut mengatur tentang bencana dalam kategori bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial.77
77
Lihat: Pasal 1 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Selain dengan undang-undang, penanggulangan bencana juga diatur dalam peraturan pemerintah nomor 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, peraturan pemerintah nomor 22 tahun 2008 tentang Pendanaan Dan Pengelolaan Bantuan Bencana, dan peraturan pemerintah nomor 23 tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga Internasional dan Lembaga Asing Nonpemerintah dalam Penanggulangan Bencana.
Pelaksanaan penanggulangan bencana sendiri di Indonesia dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana di tingkat nasional dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah di tingkat daerah. Keberadaan badan tersebut diatur dalam undang-undang nomor 24 tahun 2007 dan juga peraturan pemerintah nomor 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.