• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kapan pasien dengan hemangioma perlu dirujuk?

Dalam dokumen Buku PKB IDAI Jaya XI oke (Halaman 75-79)

Tidak ada satupun terapi hemangioma yang dianggap sebagai terapi baku emas dan tidak terdapat panduan baku kapan terapi pembedahan harus dilakukan. Setiap keputusan terapi perlu mempertimbangkan kondisi klinis setiap individu.2 Namun demikian, pasien dengan hemangioma yang berpotensi

tinggi menimbulkan jaringan parut dan deformitas (lesi di ujung hidung, bibir, kelopak mata, dahi, kulit kepala), mengalami perdarahan berulang, ulserasi, atau hemangioma yang mengancam nyawa, perlu dirujuk segera ke dokter spesialis

Hemangioma

Lesi superfisial, kecil   Tidak progresif 

1. Lesi superfisial, stabil, 

namun:Kekhawatiran 

orangtua 

2. Pertimbangan estetik 

3. Pertimbangan usia anak (> 3 

th) 

1. Lesi berpotensi tinggi jaringan parut 

dan deformitas (lokasi di ujung hidung, 

bibir, kelopak mata, dahi, kulit kepala) 

2. Komplikasi(perdarahan, ulserasi, 

infeksi) 

3. Mengancam nyawa 

4. Hemangioma visera 

5. Proliferasi cepat 

6. Mengenai organ vital 

Observasi klinis 

Spesialis Anak 

Rujuk: 

1. Spesialis bedah (pembedahan) 

2. Spesialis hemato‐onkologi anak 

(skleroterapi, intralesi) 

3. Spesialis kulit (laser) 

Terapi konservatif: 

Oral ‐ Topikal 

Gagal terapi 

bedah.5 Hemangioma yang multipel (dugaan hemangioma visera), berproliferasi

cepat, dan mengenai organ vital perlu dirujuk ke dokter anak subspesialis hemato-onkologi. Pasien yang gagal dengan terapi konservatif juga perlu dirujuk. Terapi konservatif dengan obat oral atau topikal dapat dilakukan oleh dokter anak umum, yaitu pada lesi hemangioma yang superfisial, tidak progresif, tidak mengancam nyawa, dan tidak terletak pada area berisiko tinggi jaringan parut.

Simpulan

Hemangioma merupakan salah satu tumor jinak tersering pada anak. Perjalanan klinisnya bervariasi sehingga keputusan terapi yang dipilih dan kapan terapi dimulai perlu mempertimbangkan perjalanan alamiah hemangioma, kondisi klinis setiap individu, dan komplikasi yang terjadi. Sebagian besar kasus tidak memerlukan terapi apapun dan akan berinvolusi spontan sehingga tidak semua kasus hemangioma perlu dirujuk. Klinisi perlu mengetahui karakteristik lesi hemangioma yang berisiko tinggi dan mampu merujuk pada waktu yang tepat, dengan mempertimbangkan perjalanan alamiah hemangioma. Kasus hemangioma tipe superfisial tanpa komplikasi dapat diobservasi ketat atau diterapi konservatif denganobat topikal atau oral, dengan pilihan utama propranolol oral. Hemangioma visera, hemangioma yang progresif, mengalami komplikasi (ulserasi, infeksi, deformitas), berpotensi menimbulkan jaringan parut, atau mengancam nyawa, perlu dirujuk kepada spesialis anak hematologi- onkologi dan/atau spesialis bedah.

Daftar pustaka

1. Herzog CE. Benign vascular tumors. Dalam: Kliegman RM, Stanton BMD, St. Geme J, Schor NF, Behrman RE, penyunting. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi ke-19. Philadelphia: Elsevier Saunders;2011.h.1726.

2. Maguiness SM, Frieden IJ. Current management of infantile hemangiomas. Semin Cutan Med Surg. 2010;29:106-14.

3. Marler JJ, Mulliken JB. Current management of hemangiomas and vascular malformations. Clin Plastic Surg. 2005;32:99-116.

4. Metry DW. Ten lessons learned from a hemangioma clinic. Semin Plast Surg. 2006;20:157-62.

5. Zheng JW, Zhang L, Zhou Q, Mai HM, Wang YA, Fan XD, dkk. A practical guide to treatment of infantile hemangiomas of the head and neck. Int J Clin Exp Med. 2013;6:851-60.

6. Chang LC, Haggstrom AN, Drolet BA, Baselga E, Chamlin SL, Garzon MC, dkk. Growth characteristics of infantile hemangiomas: implications for management. Pediatrics. 2008;122:360-7.

7. Kunzi-Rapp K. Topical propranolol therapy for infantile hemangioma. Pediatr Dermatol. 2012;29:154-9.

8. Chen TS, Eichenfield LF, Friedlander SF. Infantile hemangiomas: an update on pathogenesis and therapy. Pediatrics. 2013;131:99-108.

9. Leonardi-Bee J, Batta K, O’Brien C, Bath-Hextall FJ. Interventions for infantile haemangiomas (strawberry birthmarks) of the skin. Cochrane Database Syst Rev. 2011;5:CD006545.

10. Hogeling M, Adams S, Wargon O. A randomized controlled trial of propranolol for infantile hemangiomas. Pediatrics. 2011;128:259-66.

11. Peridis S, Pilgrim G, Athanasopoulos I, Parpounas K. A meta-analysis on the effectiveness of propranolol for the treatment of infantile airway haemangiomas. Int J Pediatr Otorhinolaringol. 2011;75:455-60.

12. Brooks M. Medscape News: FDA OKs propranolol hydrochloride for infantile hemangioma. [Diperbarui: 17 Maret 2014; Diakses: 24 Maret 2014]; Diunduh dari: www.medscape.com/viewarticle/822115?nlid=51883_2046&src=wnl_edit_ medn_peds&uac=90420SY&spon=9

13. Drolet BA, Frommelt PC, Chamlin SL, Haggstrom A, Bauman NM, Chiu YE, dkk. Initiation and use of propranolol for infantile hemangioma: report of a consensus conference. Pediatrics. 2013;131:128-40.

Irfan Wahyudi

Tujuan:

1. Mengetahui indikasi bedah pada kasus undescended testis

(UDT)

2. Mengetahui evaluasi yang diperlukan pada pasien UDT yang akan menjalani pembedahan

3. Mengetahui perkembangan jenis pembedahan pada UDT 4. Mengetahui pemantauan pasca-operasi pada UDT

Pendahuluan

Testis janin terletak di dalam rongga abdomen hingga bulan ke-7 kehamilan. Setelah itu, testis mengalami penurunan dari lokasi awalnya di lateral dari ginjal mesonefros, berjalan melalui kanalis inguinalis ke dalam skrotum. Undescended testis (UDT) adalah kelainan proses penurunan testis ke dalam skrotum yang berakibat testis berada di proksimal dari skrotum. Testis berhenti pada salah satu lokasi penurunan testis, baik di dalam rongga abdomen, di daerah inguinal, ataupun pada proksimal skrotum (high scrotum).

Penggunaan istilah kriptorkismus sering dilakukan juga untuk menggantikan UDT, meskipun hal ini tidak terlalu tepat. Kriptorkismus (berasal dari bahasa Yunani kryptos yang berarti tersembunyi dan orchis yang berarti testis) mempunyai pengertian yang lebih luas. Selain mencakup UDT, kriptorkismus juga mencakup testis yang turun di luar jalur yang seharusnya (testis ektopik), dan testis yang tidak berkembang ataupun mengalami kematian (absent testis). Kriptorkismus merupakan kelainan kongenital tersering pada genitalia laki-laki, mencakup sekitar 1% dari anak laki-laki berusia 1 tahun.1-3

Berdasarkan pemeriksaan fisis, UDT dibagi menjadi teraba (palpable) yang mencakup 80% dari keseluruhan kasus, dan tidak teraba (non palpable) yang mencakup 20% kasus. Testis yang teraba dapat merupakan UDT yang sesungguhnya, testis ektopik, atau testis retraktil; sedangkan testis yang tidak teraba dapat merupakan testis yang terletak intra-abdomen, di inguinal, atau

absent testis. Pembagian UDT menjadi dua kelompok (teraba dan tidak teraba) merupakan hal yang sangat penting dan menentukan tata laksana kelainan ini.1,2

Dalam dokumen Buku PKB IDAI Jaya XI oke (Halaman 75-79)

Dokumen terkait