• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAPASITAS PENANGKAPAN JARING INSANG DAN KARAKTERISTIK SUMBERDAYA IKAN

4.1. Kapasitas Penangkapan 1. Karakteristik Perikanan

Danau Laut Tawar memiliki area pengelolaan perairan umum yang cukup potensial. Kegiatan penangkapan ikan dengan alat tangkap di Danau Laut Tawar pada tahun 2012 tercatat sebanyak 562 unit, terdiri dari 5 jenis alat tangkap. Katagori alat tangkap yaitu jaring insang tetap, pancing, bubu, perangkap, dan jala tebar. Alat tangkap yang dominan adalah jaring insang, pancing dan bubu. Dari ketiga alat tangkap tersebut yang paling dominan adalah jaring insang tercatat 318 unit (Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh, 2012). Beberapa jenis jaring insang yang umumnya dioperasikan nelayan Danau Laut Tawar dengan sebutan alat tangkap sesuai dengan sasaran atau target tangkapannya, yaitu antaralain: jaring berukuran mata jaring (mesh size) 5/8 - 3/4 inci dikenal dengan nama “jaring depik”, jaring insang berukuran mata jaring 1,0 - 1,5 inci dikenal dengan sebutan “jaring kawan”, jaring insang berukuran mata jaring 2,0 – 3,5 inci dikenal dengan nama “jaring jaher” dan jaring berukuran mata 4,0 - 4,5 inci dikenal dengan “jaring bawal”. Nelayan jaring insang di Danau Laut Tawar mengoperasikan alat tangkapnya di sepanjang perairan Danau Laut Tawar, yaitu umumnya disekitar One-one, Renggali, Mangaya, Pademun, Lelabu, Toweran, Loyang koro, Pesangan, Putri Pukes, Kalalengkio, Bintang, Gegarang, Kalatililis, Klitu, Telpam.

Sarana untuk mengoperasikan alat tangkap jaring insang, nelayan di Danau Laut Tawar menggunakan perahu dengan hanya menggunakan dayung dan sebagian menggunakan tenaga penggerak mesin berkekuatan 5 PK (Gambar 1). Tenaga mesin

disesuaikan dengan ukuran volume perahu untuk memudahkan operasi dan menjangkau lokasi penangkapan yang lebih jauh. Perahu yang digunakan umumnya berukuran panjang berkisar antara 5,0 -5,5 meter dan lebar antara 0,5 – 7,4 meter.

Gambar 4.1. Perahu jaring insang tanpa mesin dan perahu menggunakan mesin Dalam pengoperasian jaring insang, beberapa metode yang dilakukan nelayan di

Danau Laut Tawar antaralain: pertama adalah metode “merawon”. Penangkapan ikan

cara merawon dilakukan pada malam hari dengan menggunakan bantuan cahaya lampu petromak yaitu memanfaatkan gerombolan ikan yang tertarik oleh cahaya lampu petromak baik langsung maupun tidak langsung. Dalam pengoperasiannya, gerombolan ikan target tangkapan yang sudah terkumpul di bawah cahaya lampu pada area penangkapan kemudian diarahkan agar menabrak rentangan jaring yang sudah siap terpasang dengan cara perahu melaju bolak balik melewati di atas jaring yang terpasang sehingga gerombolan ikan dapat terjerat. Metode merawon ini dilakukan untuk menangkap ikan depik atau eas sebagai sasaran penangkapan. Ukuran jaring yang digunakan dalam metode merawon ini dalamnya (lebar jaring) mencapai sekitar 20 meter.

Kedua adalah metode yang dikenal dengan istilah “gerlok”. Cara penangkapan

dengan gerlok, ikan-ikan di arahkan ke jaring yang sudah terpasang dengan cara dioprak-oprak menggunakan batang bambu sehingga ikan terusik atau merasa takut oleh bunyi dari bambu, nelayan berupaya mengarahkan ikan-ikan berenang mengarah pada jaring insang yang sudah terpasang untuk kemudian ikan-ikan dapat terjerat. Metode gerlok ini dapat dilakukan pada malam dan siang hari dan umumnnya dilakukan untuk menangkap ikan mujair.

Metode ketiga merupakan metode yang umum dilakukan nelayan jaring insang

di Danau Laut Tawar, yaitu dengan cara “dedem”. Cara dedem ini adalah memasang

jaring pada sore hari kemudian mengangakat kembali jaring pada pagi hari. Jaring dibiarkan terpasang atau terendam di kolom air selama satu malam. Dengan cara penangkapan ini umumnya dilakukan pada jaring depik, jaring kawan, jaring mujair dan jaring bawal.

Selama penelitian, dijumpai alat tangkap jaring insang mempunyai dimensi yang relatif beragam. Umumnya alat tangkap jaring depik mempunyai mata jaring (mesh size) berukuran ¾ inci dan 5/8 inci. Untuk satu pis jaring berdimensi panjang berkisar 15 – 70 meter, lebar jaring berkisar 1-20 meter dan jumlah pis yang operasikan umumnya mencapai 1 – 40 pis. Jaring jaher mata jaring (mesh size) 2 inci, 2,5 inci, 2,75 inci 3 inci dan 3,5 inci. Panjang jaring berkisar berkisar antara 20-60 meter, lebar jaring berkisar antara 0,6 – 7 meter. Jumlah pis jaring yang digunakan umumnya berkisar 1- 35 pis. Jaring kawan berukuran (mesh size) 1 inci, 1 1/4 inci, 1 ¾ inci dan 1,5 inci. Dimensi jaring panjang berkisar 15 – 30 meter dan lebar jaring berkisar 0,5 – 06 meter. Jumlah pis yang dioperasikan umumnya mencapai 2 – 12 pis.

Selama periode 12 tahun untuk melihat pola efisiensi dari ke empat alat tangkap tersebut. alat tangkap ini dipilih karena karena kelengkapan dan urut waktu. Hasil dari analisis kapasitas penangkapan menunjukkan bahwa jaring insang (gill net) dan alat tangkap lainnya menghasilkan skor efisiensi paling tinggi yaitu rata-rata 1,00. Sementara nilai efisiensi untuk dua alat angkap bubu dan pancing masing-masing rata-rata 0,84 dan 0,22 (Tabel 4.1). Rendahnya efisiensi kedua alat tangkap tersebut diduga bahwa sumberdaya ikan yang menjadi target tangkapan sudah sangat terbatas sehingga efektifitas dari kedua alat tangkap tersebut dalam memperoleh hasilkan tangkapan relatif rendah. Produktivitas alat tangkap sangat berpengaruh pula terhadap efisiensi penangapan. Diduga bubu dan pancing produktivitas nnya relatif lebih rendah dibanding alat tangkap jaring insang dan alat tangkap lainnya. Untuk mencapai efisiensi yang optimal maka output yang dihasilkan semestinya untuk unit bubu sebesar 19% dan output unit pancing 365% lebih besar dari produksi aktual.

Tabel 4.1. Efisiensi produksi, input dan potensi improvement.

Alat tangkap Aktual Target

Potensial inprovement (%)

Score Prod Trip Prod Trip output

Jaring insang 1 269.0 38714 269.0 38714 0

bubu 0.839 62.8 12136 74.8 12136 19

pancing 0.215 35.9 24780 167.2 24780 365

lainnya 1 58.2 9860 58.2 9860 0

Analisis dilakukan berdasarkan periode tahun 2001 hingga 2012. Model yang digunakan dalam analisis efisiensi bersiifat variable return to scale (VRS). Pengukuran kapasitas berlebih dapat dilakukan dalam jangka panjang. Hasil dari analisis DEA menunjukkan pada tahun 2006, 2007 dan tahun 2011 memiliki angka efisiensi =1,00 sehingga dapat dijadikan tahun acuan, sedangkan tahun lainnya diperbandingkan secara relatif terhadap tahun tersebut (Gambar 4.2). Dari gambar tersebut memperlihatkan bahwa trajektori paling efisien terjadi pada tahun 2006, 2007 dan 2011. Sedangkan trajektori paling tidak efisien terjadi pada tahun 2012. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada tahun 2012 hanya mampu mensuport sekitar 21% dari input yang ada untuk mencapai kapasitas optimum. Penurunan efisiensi yang tajam terjadi tahun 2004 dan 2012 disebabkan dari penurunan produksi dibanding tahun sebelumnya, sementara pada tahun 2012 telah terjadi peningkatan effort dari tahun sebelumnya.

Gambar 4.2. Trajektori efisiensi perikanan di Danau Laut Tawar

Sejak tahun 2005 respon nelayan cenderung bersifat ekspansi effort (trip) dalam melakukan penangkapan ikan. Selama tahun 2005 terjadi peningkatan effort yang sangat drastis yaitu mencapai 200%. Peningkatan effort tersebut menyebabkan produksi meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Penurunan effort kembali

terjadi tahun 2006 hingga 72% dari tahun sebelummnya dan sebaliknnya produksi mengalami sedikit peningkatan 7,8% (menjadi 578,3 ton), proforsi peningkatan hasil tangkapan pada tahun 2006 menyebabkan tahun tersebut tingkat efisiensinya menjadi tinggi (optimal) dan diikuti tahun berikutnnya 2007 dan tahun 2011.

Tabel 4.2. Kapasitas berlebih perikanan di perairan Danau Laut Tawar

Input aktual Input target Kapasitas berlebih

DMU / Upaya API Upaya API Upaya API

Tahun (trip) (unit) (trip) (unit) (trip) % (unit) %

2001 77998 651 57816 306 -20182 -25.88 -345.00 -53.00 2002 71287 651 57816 306 -13471 -18.90 -345.00 -53.00 2003 71287 651 57816 306 -13471 -18.90 -345.00 -53.00 2004 71287 651 57816 306 -13471 -18.90 -345.00 -53.00 2005 213840 810 57816 306 -156024 -72.96 -504.00 -62.22 2006 57816 306 57816 306 0 0.00 0.00 0.00 2007 57816 337 57816 306 0 0.00 -31.00 -9.20 2008 88968 337 57816 306 -31152 -35.01 -31.00 -9.20 2009 80256 301 57816 301 -22440 -27.96 0.00 0.00 2010 80256 301 57816 301 -22440 -27.96 0.00 0.00 2011 38249 254 38249 254 0 0.00 0.00 0.00 2012 57391 562 57391 306 0 0.00 -256.00 -45.55

Hasil analisis DEA menunjukkan potensi peningkatan input yang bersifat negatif. Kondisi potensi input tersebut memberikan suatu indikasi excess capacity perikanan sehingga diperlukan kebijakan pengurangan kapasitas untuk menghasilkan efisiensi dalam melakukan pengelolaan perikanan di Danau Laut Tawar. Secara keseluruhan dibutuhkan kebijakan pengurangan rata-rata alat tangkap upaya sekitar 20,5% trip dan 30,0% unit API untuk mencapai pemanfaatan kapasitas yang optimal.

Hasil tangkapan total (actual catch) dan nilai kemampuan tangkap (potential catch) pada kurun waktu tahun 2001 – 2012 yang merupakan hasil dari perhitungan matematik (Gambar 4.3). Nilai tangkapan potensial dalam kurun waktu 2001 – 2012 relatif tidak terjadi fluktuatif, penurunan terjadi pada tahun 2011, berikutnya tahun 2012 menigkat kembali secara signifikan dengan nilai produksi potensial sebesar 577,8 ton. Kejadian ini menyebabkan nilai CU (efisiensi) kecil (0,20) jika dibandingkan tahun yang lainnya (Gambar 4.3).

Gambar 4.3. Produksi aktual dan produksi potensial (ton) perikanan di Danau Laut Tawar tahun 2001-20012.

Excess capacity merupakan perbandingan relatif antara tingkat tangkapan potensial (maksimal) terhadap hasil tangkapan aktual. Perhitungan nilai excess fishing capacity perikanan di Danau Laut Tawar dihitung secara matematis (Gambar 4.4). Nilai

excess fishing capacity terbesar terjadi pada tahun 2012 sebesar 455 ton. Hal ini

menunjukkan bahwa tingkat eksploitasi penangkapan ikan di danau Laut Tawar pada

tahun 2012 kecil yaitu 21% terhadap hasil tangkapan potensial.

Gambar 4.4. Grafik excess fishing capacity pemanfaatan perikanan di Danau Laut Tawar, Aceh Tengah 2001-2012

Efisiensi Teknis

Analisis efisiensi antar alat tangkap yang sejenis terhadap jaring insang dihitung dengan pendekatan single output (total tangkapan). Penilaian kapasitas penangkapan berdasarkan data oprasional penangkapan jaring insang yang melakukan penangkapan ikan di Danau Laut Tawar. Berdasarkan penghitungan DEA terhadap unit jaring insang

3/4” dan 5/8” yang disebut dengan jaring depik selama penelitian (Maret hingga

penghitungan terhadap dugaan tingkat pemanfaatan atau tingkat efisiensi unit jaring depik pada Maret diperoleh rata-rata 0,53. Artinya, rata-rata input optimal yang digunakan adalah sekitar 53% dari rata-rata produksi aktual selama alat tangkap beroperasi. Pada Mei pemanfaatan kapasitas jaring depik dengan tingkat efisiensi paling tinggi dibandingkan bulan lainnya yaitu sebesar 0,73 sementara April dan Agustus diperoleh dengan nilai efisiensi yang sama yaitu sebesar 0,71. Nilai efisiensi yang optimal dutunjukkan oleh beberapa unit jaring depik dengan nilai efisiensi (TE) mencapai 1,00.

Pada Maret dari jumlah sampel (22 unit) yang dianalisis, terdapat 23%-nya berada pada efisiensi yang optimal dan beberapa unit jaring lainnya (70%) tidak optimal. Dari unit jaring yang tidak optimal 50% -nya dengan nilai efisiensi sebesar <0,50. Pada Mei dari 14 unit jaring depik, terdapat 43%-nya mencapai nalai efisiensi dengan skor 1,00 atau optimal dan 21%-nya unit jaring depik mencapai nilai efisiensi <0,50 (jauh dari optimal). Sementara pada Agustus dari 27 unit jaring sampel, sebanyak 52%-nya berada pada tingkat yang optimal yaitu dengan skor efisiensi sebesar 1,00, sedangkan beberapa unit lainnya (48%) nilai efisisiensi berada pada tingkat yang tidak optimal.

Berdasarkan tingkat pemanfaatan variabel input (VIU) yaitu terhadap input panjang jaring, lebar jaring dan jumlah set (pis) dalam setiap unit jaring depik diperoleh nilai rata-rata berkisar 0,86 – 0,98. Dari nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa secara umum dalam pemanfaatan ketiga variabel input tersebut sebagian besar berada pada tingkat pemanfaatan yang efisien yang ditandai oleh sebagian besar unit jaring pencapaian nilai pemanfaatan variable input (VIU) =1,0 (Gambar 4.6).

Hasil dari analisis menunjukkan bahwa unit jaring depik dalam pemanfaatan variabel input (panjang jaring, lebar jaring, jumlah set (pis) jaring) secara konsisten menghasilkan skor efisiensi yang relatif tinggi. Pada kondisi variabel penangkapan ikan dengan jaring depik di Danau Laut Tawar sebagian besar telah memanfaatkan input variabel dengan efisien. Dalam hal ini, panjang jaring, lebar jaring dan jumlah set (pis) jaring merupakan variabel yang dapat dijadikan variabel pengendalian kapasitas. Efisiensi unit jaring depik dapat ditingkatkan efisiensinya pada Agustus misalnya dapat dilakukan dengan mengurangi secara keseluruhan rata-rata panjang jaring 60%, lebar jaring rata-rata 69% dan jumlah set (pis) sebesar 30%.

Gambar 4.6. Distribusi pemanfaatan variable input (VIU) unit jaring depik 4.1.2. Kapasitas Penangkapan Jaring Mujaher

Penghitungan kapasitas penangkapan terhadap unit jaring insang 2,0 inci – 3,5 inci yang disebut dengan jaring mujaher berlangsung Maret–Agustus 2013. Hasil penghitungan menunjukkan bahwa dugaan tingkat pemanfaatan kapasitas atau tingkat efisiensi unit jaring jaher pada Maret, Juli dan Agustus masing-masing bernilai rata-rata 0,72, 0,44 dan 0,61. Dari nilai-nilai tersebut, menunjukkan bahwa unit-unit alat tangkap jaring jaher pada Maret, Juli dan Agustus masing-masing hanya mampu men-support

sekitar 52%, 44% dan 61% dari sumberdayanya untuk mencapai kapasitas optimum atau rata-rata input optimal yang digunakan adalah masing-masing sekitar 53% pada Maret, 44% Juli dan 61% dari rata-rata produksi variabel selama alat tangkap beroperasi. Pada Agustus nilai efisiensinya lebih tinggi dibandingkan Maret dan Juli. (Gambar 4.7).

Pada Maret, dari 14 sampel unit jaring jaher diperoleh sebanyak 36% efisien (nilai efisiensi = 1,00) dan beberapa unit jaring lainnya (64%) tidak efisien. Pada Juli dari 21 unit jaring jaher sebanyak 19% efisien dan sebanyak 81% tidak efisien Sedangkan pada Agustus dari 16 unit jaring jaher yang dianalisis, sebanyak 44% berada pada tingkat yang optimal (efisien) yaitu dengan skor efisiensi sebesar 1,00, sementara beberapa unit lainnya (56%) tidak efisien.

Gambar 4.7. Distribusi efisiensi unit jaring jaher

Berdasarkan tingkat pemanfaatan variabel input (VIU) yaitu terhadap input panjang jaring, lebar jaring dan jumlah set (pis) unit jaring jaher dalam setiap unit jaring

jaher diperoleh nilai rata-rata berkisar 0,83 – 0,98. Dari nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa secara umum dalam pemanfaatan ketiga variable input yaitu jumlah set jaring sebagian besar berada pada tingkat pemanfaatan yang efisien (pemanfaatan variable pencapaian input =1,0) (Gambar 4.8).

Perbaikan efisiensi unit-jaring yang tidak efisien secara keseluruhan yaitu dengan mengurangi rata-rata panjang jaring 83%, lebar jaring rata-rata 6% dan jumlah set (pis) sebesar 9%.

Gambar 4.8. Distribusi pemanfaatan variable input (VIU) unit jaring mujaher 4.1.3. Efisiensi Jaring Kawan

Selain pada jaring depik dan jaher, pengukuran kapasitas penangkapan dilakukan pula terhadap jaring insang 1,0 – 1,5 inci yang dikenal oleh masyarakat nelayan setempat dengan nama “jaring kawan”. Dari hasil penghitungan, distribusi nilai pemanfaatan kapasitas penangkapan (CU) unit jaring kawan (31 unit) diperoleh skor rata-rata sebesar 0,52. Dengan kata lain unit alat tangkap tersebut hanya mampu

men-support sekitar 52% dari sumberdayanya untuk mencapai kapasitas optimum.

Distribusi perolehan nilai efisiensi unit jaring kawan ditunjukkan pada Gambar 4.9.

Dari hasil perhitungan DEA, nilai efisiensi unit jaring kawan yang mencapai nilai optimal (CU=1,00) diperoleh sebanyak 19%. Beberapa unit jaring kawan (81%) tidak efisien. Beberapa unit jaring 11ariable jauh dari efisien yang ditunjukkan oleh capaian nilai efisiensi <0,50. Berdasarkan tingkat pemanfaatan variabel input (VIU) unit jaring kawan diperoleh nilai rata-rata VIU >0,90. Secara umum unit jaring kawan dalam pemanfaatan 11ariable input sebagian besar berada pada tingkat pemanfaatan yang efisien yang ditandai oleh sebagian besar pencapaian nilai VIU =1,0 (Gambar 4.10).

Gambar 4.10. Tingkat pemanfaatan variable input (VIU) unit jaring kawan. 4.1.4. Pembahasan

Secara umum kapasitas penangkapan ikan di danau Laut tawar bervariasi setiap

bulannya. Perubahan tersebut secara temporal didasarkan pada bulan-bulan dimana

banyak tertangkap ikan-ikan target tangkapan. Faktor utama yang mempengaruhi perubahan lokasi penangkapan baik secara spasial maupun temporal adalah ruaya ikan (baik untuk kepentingan makan, pembesaran, proses reproduksi, lingkungan oseanografi

perairan). Pengaturan musim target penangkapan merupakan salahsatu instrument

pengendalian input penangkapan.

Hasil penelitian mengindikasikan bahwa nelayan yang telah berpengalaman dalam operasi penangkapan ikan, tidak selalu mencapai tingkat efisiensi yang diharapkan. Dalam konteks tersebut, variasi produktivitas akan muncul walaupun nelayan menggunakan teknologi penangkapan yang sama untuk ekploitasi sumberdaya ikan di daerah penangkapan yang sama dan pada musim yang sama. Ini disebabkan produksi ikan pada hakekatnya merupakan sebuah perpaduan dari sebuah faktor internal yang dapat dikendalikan maupun faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan. Faktor

eksternal mencakup sumberdaya ikan, musim, arus. Sedangkan faktor internal berkaitan dengan kapabilitas manajerial dalam usaha penangkapan ikan diantarannya mencakup tingkat penguasaan teknologi penangkapan. Nelayan dikatakan melakukan penangkapan secara efisien jika produksi ikan yang diperoleh pada saat penangkapan mendekati potensi maksimum.

Hasil dari analisis kapasitas penangkapan secara tahunan, menunjukkan bahwa jaring insang dan jaring lainnya (termasuk jermal) menghasilkan skor efisiensi paling tinggi berada pada kondisi efisien. Sementara untuk dua alat angkap yang lain yaitu bubu dan pancing masing masing skor efisiensi 0,83 dan pancing 0,21.

Nilai efisiensi perikanan di danau Laut Tawar secara keseluruhan relatif berfluktuasi sejak tahun 2001 hingga 2012. Pada tahun 2005 terjadi peningkatan efisiensi yang tajam yaitu dengan nilai efisiensi sebesar 93% jika dibanding dengan tingkat efisiensi pada tahun sebelumnnya. Pada tahun 2006 hingga tahun 2011 efisiensi cenderung meningkat dan mencapai optimal karena proporsi peningkatan produksi lebih besar dibanding proporsi peningkatan upaya dan unit penangkapan ikan. Pada tahun 2012 nilai efisiensi sangat rendah karena terjadi penuruna produksi juga diikuti oleh peningkatan upaya dan jumlah unit penangkapan ikan dibandingkan tahun 2011. Namum peningkitan effort tersebut tidak sebanding dengan hasil tangkapan yang diperoleh. Selain itu pada tahun 2012 diduga dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan bahan pokok yang merupakan dampak dari meningkatnya harga BBM. Dalam situasi meningkatnnya kebutuhan bahan pokok, nelayan merespon dengan melakukan ekspansi upaya dalam melakukan penangkapan ikan namun sebaliknnya produksi hasil tangkapan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnnya. Menyebabkan tahun tersebut tingkat efisiensinya menjadi rendah (jauh dari optimal). Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan perikanan di Danau Laut Tawar sudah mengalami excess capacity dalam jangka panjang yang ditandai juga dengan nilai efisiensi sebagian besar kurang <1,00. Pembatasan intensitas operasi penangkapan

dapat dilakukan agar perikanan yang efisien dapat dihasilkan. Oleh karena itu, solusi

melalui regulasi mengurangi inputan (trip) yang berlebih terutama pada bulan-bulan tidak musim ikan dan pada bulan dimana ikan sedang pemijahan. Menurut Metzner (2005), pada jangka pendek kebijakan pengendalian input produksi seperti pembatasan jumlah unit kapal akan mengurangi hasil tangkapan aktual, tetapi dalam jangka panjang

akan memberikan pengaruh berupa peningkatan kapasitas penangkapan. Le Floc’h dan

Boude (1998) dan Whitmars (1998) dalam Muldoon (2009) menyebutkan bahwa

teknologi adalah penyebab utama terhadap perubahan excess fishing capacity yang berdampak pada perikanan skala tradisional maupun industri. Inovasi dalam pembaharuan sumberdaya ikan telah diakui sebagai dampak berlebih baik positif maupun negatif. Sehingga diperlukan pengurangan baik dalam hal jumlah unit atau pengaturan waktu tangkap serta penyesuaian tingkat teknologi agar diperoleh tingkat pemanfaatan yang optimal.

Uji model DEA untuk menghasilkan angka efisiensi sebagai 13indikator13 penilaian kapasitas penangkapan. DEA dapat digunakan untuk menghitung perbaikan angka efisiensi, secara prinsip adalah dengan mengurangi input atau menambah output (Cooper et al., 2004). Untuk menganalisis efisiensi dilakukan dengan membandingkan efisiensi antar unit alat tangkap yang sejenis yang aktif beroperasi. Unit alat tangkap yang dianggap efisien secara penuh (fully efficient) adalah kapal yang mempunyai skor efisiensi sebesar 1,00 atau 100 persen, pada kondisi tersebut, seluruh input dimanfaatkan penuh atau tidak terdapat potensi peningkatan input yang digunakan.

Perbandingan relatif tingkat pemanfaatan kapasitas (CU) penangkapan jaring depik, pada bulan April, Mei, Juli dan Agustus sebagian besar unit jaring dalam memanfaatkan input yang digunakan untuk usaha menangkap ikan telah efisien yang ditandai oleh nilai efisiensi teknis (TE) mencapai 1,00. Sementara pada bulan Maret sebagian unit jaring berada pada kondisi yang 13ariable jauh dari optimal. Nilai efisiensi teknis pada bulan April, Mei, Juli dan Agustus masing-masing nilai efisiensinya rata-rata 0,71, 0,73, 0,60 dan 0,71. Sementara rata-rata nilai efisiensi pada bulan Maret bernilai paling redah dibandingkan bulan lainnya yaitu sebesar 0,53. Rendahnya nilai efisiesi yang terjadi pada bulan Maret sangat dipengaruhi oleh sebagian besar (50%) unit armada nilai efisiensinya <0,50 yaitu berkisar antara 0,05 – 0,40. Dari kisaran nilai tersebut tentu saja nilai efisiensi jauh dari optimal. Indikator efisiensi yang optimal adalah skor efisiensi sebesar 1,00. Umumnya hasil tangkapan mulai menurun seiring berakhirnya bulan musim ikan. Namun diduga jumlah upaya tidak dikurangi pada periode tidak musim ikan sehingga terjadi kelebihan upaya penangkapan. Kelebihan upaya penangkapan menyebabkan tingkat kapasitas unit

dikendalikan maka produksi perikanan jaring insang sebenarnya mampu ditingkatkan mencapai produksi yang optimal. Misal berdasarkan hasil analisis single output yang sesuai kapasitas perikanan jaring depik pada Maret, April, Mei, Juli dan Agustus masing-masing adalah 89%, 41% 37%, 67% dan 41% lebih besar dari produksi 14ariab. Sehingga berdasarkan pendekatan tersebut (Maret, April, Mei, Juli dan Agustus) masing masing mengurangi kapasitas sebesar 47%, 29%, 27%, 47% dan 29% akan memungkinkan output saat ini diproduksi optimal secara ekonomi.

Dari sisi pendekatan jaring jaher pada Maret Juli dan Agustus masing-masing nilai efisiensinya rata-rata 0,72, 0,44 dan 0,61 artinya pada bulan-bulan tersebut jaring jaher hanya mampu mensuport 72%, 44% dan 61% dari sumerdayannya untuk mencapai kapasitas yang optimum. Sedangkan jaring kawan secara keseluruhan nilai efisiensi teknis rata-rata 0,52 atau hanya mampu mensuport 52% dari sumberdaya yang ada selama unit jaring beroperasi. Dari nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa tingkat input yang ada saat ini sudah melebihi kapasitas yang seharusnya. Sehingga secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan perlunya intervensi pengurangan input untuk alat tangkap di Perairan Danau Laut Tawar. Faktor-faktor yang menyebabkan penurunan efisiensi harus dikendalikan. Disamping pengendalian upaya penangkapan (effort), faktor-faktor seperti pengendalian kondisi pencemaran di perairan Danau Laut Tawar dan sekitarnya mungkin akan membantu meningkatkan efisiensi perikanan ke pengelolaan yang lestari.

Tingkat pemanfaatan input variabel (VIU) jaring depik dapat diukur berdasarkan rasio dari penggunaan input optimal (target) dengan input 14ariab (observasi). Input optimal merupakan input yang digunakan pada kondisi efisien teknis. Berdasarkan tingkat pemanfaatan input variable, unit jaring depik menunjukkan bahwa pada bulan Maret telah terjadi surplus penggunaan input sehingga perlu mengurangi input tersebut (Fare et al. 1994). Untuk meningkatkan efisiensi kapasitas penangkapan jaring depik , jaring jaher dan jaring kawan secara teknis dapat memperbaiki nilai efisiensi penangkapan pada bulan-bulan tidak musim ikan melalui pengurangan intensitas penangkapan dan mengurangi input 14 panjang dan lebar jaring dan jumlah pis yang menjadi instrument dalam pengendalian kapasitas penangkapan jaring insang. Ukuran unit jaring yg lebih besar dapat menjangkau daerah penangkapan yang lebih

Dokumen terkait