• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bio-economic Gordon – Schaefer untuk menjawab pertanyaan yang mendasar dalam pengelolaan sumberdaya ikan, yaitu bagaimana memanfaatkan sumberdaya ikan, sehingga menghasilkan manfaat ekonomi yang tinggi bagi pengguna, namun kelestariannya tetap terjaga.

2.3. Kapasitas Perikanan Tangkap

2.3.1. Konsep Kapasitas Perikanan

Kapasitas perikanan merupakan hal penting yang selama ini kurang mendapatkan perhatian dari pengelola kebijakan disektor perikanan berkaitan dengan problem eksternalitas dalam perikanan dan tentu saja pembangunan perikanan yang berkelanjutan. Pada tahun 1999, FAO melalui komite

perikanannya mengemukakan program internasional untuk mengurangi kapasitas perikanan di seluruh dunia melalui International Plan of Action for the

Management of Fishing Capacity. Program ini dikomunikasikan berdasarkan hasil penelitian bahwa dari 60 persen perikanan utama dunia, 16 persen diantaranya telah mengalami over fishing, 6 persen mengalami kepunahan dan hanya 3 persen yang mengalami recovery namun dengan intensitas yang lambat (FAO diacu dalam Färe 1999). Inisiasi FAO ini mengundang perhatian yang intens dari pihak pemerintah dan lembaga internasional untuk mengawali penelitian yang

mendalam terhadap sumberdaya perikanan melalui estimasi dan penilaian kapasitas perikanan dunia.

Dalam rencana aksi FAO tersebut, konsep kapasitas dalam perikanan dapat digambarkan sebagai tingkat perolehan penangkapan pada suatu periode tertentu tidak hanya didasarkan pada ukuran dan komposisi armada penangkapan,

melainkan juga kondisi sumberdaya, faktor ekonomi seperti pasar dan harga serta teknologi yang digunakan. Artinya diperlukan suatu estimasi dan penilaian sumberdaya perikanan sebelum ditetapkan apakah suatu wilayah boleh dilakukan penagkapan dan berapa kapasitas yang dibutuhkan oleh wilayah penangkapan itu. Lebih jauh Terry (1993) diacu dalam Ward (2002) mengemukakan bahwa

kapasitas dalam perikanan diartikan dalam dua basis yaitu basis ekonomi dan basis tehnis. Kedua basis ini didasarkan pada limit, bilamana limit tersebut dilewati maka over fishing akan dialami. Basis ekonomi adalah Maksimum Economic Sustainable Yield (MESY) dan basis tehnis adalah level input dan output. Fauzi A dan S Anna (2002) mengemukakan bahwa, dari perspektif teknologi, kapasitas diartikan sebagai seberapa besar jumlah ikan yang dapat ditangkap dengan sejumlah input tertentu (aktifitas armada dan stok ikan itu sendiri). Dalam perspektif ekonomi, kapasitas perikanan tangkap atau bisa juga disebut efisiensi, pada dasarnya adalah merupakan fungsi dari input dan output.

Kirkley dan Squires diacu dalam Fauzi A dan S Anna (2002)

mengemukakan bahwa kapasitas perikanan adalah stok kapital maksimum dalam perikanan yang dapat dipergunakan secara penuh pada kondisi efisien maksimum secara tehnis pada waktu dan kondisi pasar tertentu. Stok kapital dapat berupa alat tangkap dan sumberdaya manusia. Kedua-duanya merupakan manifestasi dari upaya (effort). Dengan demikian konsep dari kapasitas perikanan ini dapat juga disebut sebagai tingkat upaya yang tersedia (available fishing effort).

Dari uraian tersebut di atas dapat dikatakan bahwa secara implisit, konsep kapasitas perikanan membahas efisiensi sumberdaya perikanan, dimana inefisiensi terjadi manakala jumlah input yang digunakan atau jumlah output yang dihasilkan terlalu berlebihan yang pada akhirnya dapat menyebabkan sumberdaya perikanan mengalami degradasi.

2.3.2. Pengukuran Efisiensi Kapasitas Perikanan

Pengukuran kapasitas perikanan pada dasarnya adalah unik dan kompleks, karena kita akan berhadapan dengan stock-flow dari teknologi produksi, dimana input diaplikasikan pada sumberdaya dapat pulih untuk memproduksi flow dari output. Dalam konteks ini kita akan berhadapan dengan multiple stock, multiple species dan karakteristik stock yang fugitive (Greboval dan Munro, Kirkley dan Squires, FAO diacu dalam Fauzi A 2002).

Ada beberapa metode pengukuran yang dapat digunakan dalam menilai kapasitas perikanan, diantaranya ada dua pendekatan non parametrik yang sering

digunakan, yaitu metode peak to peak dari Klein dan teknik Data Envelope Analysis (DEA) yang dikembangkan pertama kali oleh Charnes, Cooper dan Rhodes (1978) yang dikenal dengan metode CCR. Metode peak to peak merupakan indeksasi dimana satu periode penggunaan penuh dijadikan basis dalam indeksasi untuk menemukan pola pada periode sebelum atau sesudahnya (Ward, 2001). Fauzi A dan Anna S (2002) mengemukakan bahwa metode peak to peak sangat cocok apabila digunakan pada data yang ekstrim, misalnya pada kondisi data yang hanya terbatas pada alat tangkap dan jumlah kapal. Metode terakhir adalah teknik Data Envelope Analysis (DEA). Teknik ini dilakukan melalui pemograman matematis untuk melakukan baik maksimisasi output dengan kendala sejumlah input, maupun minimisasi input dengan kendala sejumlah output. (Ward 2001). Korhumen et al, diacu dalam Fauzi A dan Anna (2002) mengemukakan bahwa DEA merupakan pengukuran efisiensi yang bersifat bebas nilai karena didasarkan pada data yang tersedia tanpa harus

mempertimbangkan penilaian (judgement) dari pengambil keputusan. Salah satu keistimewaan dari teknik DEA adalah bahwa teknik ini dapat bekerja dengan keterbatasan data. Hal ini sesuai dengan kondisi field research untuk beberapa daerah tertentu yang tidak memiliki data base yang cukup.

Dalam Fauzi A (2005) dikemukakan bahwa pengukuran efisiensi pada dasarnya merupakan rasio antara output dan input, atau :

input output Efisiensi =

Pengukuran efisiensi ini menjadi tidak tepat apabila kita berhadapan dengan data multiple inputs dan multiple outputs yang berkaitan dengan sumberdaya, aktifitas dan lingkungan yang berbeda, meskipun pengukuran

efisiensi yang menyangkut multiple input dan multiple output dapat diatasi dengan menggunakan pengukuran efisiensi relatif yang dibobot sebagaimana dapat

... ... 2 2 1 1 2 2 1 1 + + + + = j j j j x v x v y w y w j unit dari Efisiensi ... (2.24) dimana : 1

w = pembobotan untuk output 1

j

y1 = jumlah output 1 dari unit j

1

v = pembobotan untuk input 1

j

x1 = jumlah input 1 ke unit jp

namun pengukuran tersebut tetap memiliki keterbatasan berupa sulitnya

menentukan bobot yang seimbang untuk input dan output. Keterbatasan tersebut kemudian dijembatani oleh Model DEA, dimana pada pemodelan ini efisiensi tidak semata-mata diukur dari rasio output dengan input melainkan juga memasukkan faktor pembobotan dari setiap output dan input yang digunakan. Oleh karena itu didalam Model DEA, efisiensi diartikan sebagai target untuk mencapai efisiensi yang maksimum dengan kendala relatif efisiensi seluruh unit tidak boleh melebihi 100 persen. Secara matematis efisiensi dalam Model DEA merupakan solusi dari persamaan :

= k kj k i ij i m m m y v y w E max ... (2.25) dengan kendala : 1 ≤

k kj k i ij i m m y v y w

untuk setiap unit ke j

ε

k i v w ,

Pemecahan masalah pemrograman matematis di atas akan menghasilkan nilai yang maksimum, sekaligus nilai bobot ( dan v) yang mengarah ke efisiensi. Jadi jika nilai menuju atau sama dengan 1, unit ke-m tersebut dikatakan efisien relatif terhadap yang lain. Sebaliknya, jika nilai lebih kecil dari 1, unit lain

m

dikatakan lebih efisien, relatif terhadap unit m, meskipun pembobotan dipilih untuk memaksimisasi unit m.

2.3.3. Kelebihan dan Kelemahan Model DEA

Odek (2000) mengemukakan bahwa : Kelebihan dari teknik DEA adalah kemampuannya untuk memberikan best performance secara relatif dari unit – unit pengambil keputusan dengan menggunakan data yang sangat sederhana. Beberapa kekuatan dari teknik ini adalah :

a. Teknik DEA dapat mengadopsi multiple input dan multiple output

b. Teknik ini tidak membutuhkan asumsi dari bentuk fungsional antara input dan output

c. Para unit-unit pengambil keputusan (DMUn) secara langsung dibandingkan antara satu unit dengan unit lainnya

d. Sejumlah input atau sejumlah output boleh memiliki satuan yang berbeda.

Adapun kelemahan dari teknik ini adalah :

a. Jika ditemukan nilai ekstrim seperti tingkat pengukuran yang salah (measurement errors) dapat menyebabkan permasalahan yang signifikan b. Teknik DEA merupakan estimator yang baik untuk nilai-nilai relatif dari

efisiensi dan kurang baik untuk nilai-nilai yang absolut dari efisiensi

c. Teknik DEA adalah teknik non parametrik sehingga susah untuk uji hipotesis secara statistik (statistical hypothesis test).

Berangkat dari kelebihan dan kelemahan tersebut, teknik ini telah digunakan secara luas mengingat teknik ini dapat dilakukan dengan keterbatasan data. Dalam perkembangannya, teknik ini dikembangkan lebih lanjut oleh Charnes, Cooper dan Rhodes (1978) atau dikenal dengan Model CCR – DEA Teknik ini menghitung nilai relatif efisiensi dengan asumsi constant return to scale (CRS). Artinya jika input dinaikkan dua kali lipat maka output juga akan bertambah dua kali, sehingga model ini sangat linier. Model yang sangat linier ini tidak selalu tepat bila diaplikasikan pada aktifitas produksi yang mengalami

non-constant return to scale. Beberapa fungsi produksi seperti produksi perikanan bersifat decreasing return to scale. Fauzi A (2005) mengemukakan bahwa untuk mengatasi masalah tersebut, Model CCR-DEA ini kemudian dikembangkan oleh Banker, Charnes dan Cooper (1984) atau dikenal dengan Model BCC – DEA dengan pendekatan asumsi variabel return to scale (VRS). Model ini

memungkinkan kita untuk menganalisis efisiensi bagi aktifitas ekonomi sektor perikanan, baik yang menyangkut tujuan minimisasi input maupun maksimisasi output.

Dokumen terkait