• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakter dan simbolisasi warna

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 28-40)

5. Warna Kuarter

2.8.3 Karakter dan simbolisasi warna

Mempelajari nirmana berguna untuk melatih kepekaan artistik dan melatih keterampilan teknis kesenirupaan. Di samping itu juga untuk memperkuat pemahaman tentang bahasa rupa yang di antaranya mengenai bahasa rupa warna.

Berikut ini dijelaskan tentang bahasa rupa warna berupa karakter dan simbolisasi warna. Karakter warna ini berlaku untuk warna-warna murni (warna pelangi). Jika warna-warna itu telah berubah menjadi lebih muda, tua, atau menjadi redup, karakternya pun akan berubah.

a. Kuning

Warna kuning berasosiasi pada sinar matahari, bahkan pada mataharinya sendiri, yang menunjukkan keadaan terang dan hangat. Kuning mempunyai karakter terang, gembira, ramah, supel, riang, cerah, hangat. Kuning melambangkan kecerahan, kehidupan, kemenangan, kegembirapn, kemeriahan, kecermerlangan, peringatan, dan humor. Kuning cerah adalah warna emosional yang menggerakkan energi dan keceriaan, kejayaan, dan keindahan. Kuning emas melambangkan keagungan, kemewahan, kejayaan, kemegahan, kemuliaan, dan kekuatan. Kuning sutera adalah warna marah, sehingga tidak populer. Kuning tua dan kuning kehijau-hijauan mengasosiasikan sakit, penakut, iri, cemburu, bohong, dan luka. Bendera kuning kadang-kadang digunakan pada kapal karantina, atau rumah sakit. Pada masyarakat barat Kristen warna kuning digunakan dalam gereja-gereja, pada mahkota suci Yesus, Maria, hiasan altar dan sebagainya untuk melambangkan keagungan.

Warna kuning juga digunakan pada upacara-upacara agama Hindu dan Budha sebagai lambang keagungan.

b. Jingga/Oranye

Warna jingga (orange) berasosiasi pada awan jingga atau juga buah jeruk jingga (orange). Awan jingga terlihat pada pagi hari sebelum matahari terbit,

menggambarkan gelap malam menuju terbit matahari, sehingga melambangkan kemerdekaan, anugerah, kehangatan. Awan jingga juga terlihat pada senja menjelang malam, mengingatkan sebentar lagi akan gelap malam, sehingga melambangkan bahaya. Warna jingga mempunyai karakter dorongan, semangat, merdeka, anugerah, tapi juga bahaya. Warna ini melambangkan kemerdekaan, penganugerahan, kehangatan, keseimbangan, tetapi juga lambang bahaya. Jingga menimbulkan sakit kepala, dapat memengaruhi sistem syaraf, dapat menggetarkan jiwa, menimbulkan nafsu makan. Lampu traficlight pada bagian yang berwarna merah jingga menandakan bahaya.

Pakaian pemadam kebakaran umumnya merah jingga. Jingga merupakan warna paling menyolok (terlihat lebih dulu dari pada warna lain) sehingga banyak digunakan sebagai pakaian para petugas di keramaian. Pesawat terbang dengan warna jingga akan terlihat menyolok di langit biru. Warna ini mengingatkan orang pada buah orange sehingga akan menambah rasa manis jika untuk warna makanan. Jingga dapat menimbulkan kesan murah, dalam arti harga, sehingga banyak digunakan sebagai warna pengumuman penjualan obral.

c. Merah

Warna merah bisa berasosiasi pada darah, api, juga panas. Karakternya kuat, cepat, enerjik, semangat, gairah, marah, berani, bahaya, positif, agresif, merangsang, dan panas. Merah merupakan simbol umum dari sifat nafsu primitif, marah, berani, perselisihan, bahaya, perang, seks, kekejaman, bahaya, dan kesadisan. Dibanding warna lain, merah adalah warna paling kuat dan

enerjik. Warna ini bersifat menaklukkan, ekspansif, dan dominan (berkuasa).

Merah adalah positif, agresif dan enerjik warna pertama yang digunakan pada seni primitif maupun klasik. Warna ini paling populer pada wanita. Api merupakan lambang keberanian, kekuatan, kemarahan. Darah merupakan lambang perang, kekejaman, kesadisan. Merah dipakai dalam tanda stop, lampu merah, lampu rem, peralatan pemadam kebakaran, dan pintu keluar tanda bahaya. Merah dapat meningkatkan tekanan darah, juga detak jantung.

Namun, jika merahnya adalah merah muda (rose), warna ini memiliki arti kesehatan, kebugaran, keharuman bunga rose.

d. Ungu

Ungu sering disamakan dengan violet, tetapi ungu ini lebih tepat disamakan dengan purpel, karena warna tersebut cenderung kemerahan. Sedangkan violet cenderung kebiruan. Ungu memiliki watak keangkuhan, kebesaran, dan kekayaan. Ungu merupakan percampuran antara merah dan biru sehingga juga membawa atribut-atribut dari kedua warna tersebut. Merah adalah lambang keberanian, kejantanan. Biru melambangkan aristocratic, keningratan, kebangsawanan, spiritualistis, sehingga ungu adalah warna raja, yang memang digemari raja-raja kuno. Permata banyak dipajang dengan warna ini untuk memperoleh kesan tersebut. Ungu adalah lambang kebesaran, kejayaan, keningratan, kebangsawanan, kebijaksanaan, pencerahan. Jubah ungu melambangkan kewibawaan, dan ketinggian derajat. Namun ungu juga melambangkan kekejarnan, arogansi, duka cita, dan keeksotisan. Untuk cat

ruangan anak-anak, warna ungu dapat meningkatkan imajinasi, sedangkan untuk ruang kerja dapat meningkatkan inspirasi.

e. Violet

Violet (lembayung) warna yang lebih dekat dengan biru. Sesungguhnya antara violet dan biru terdapat warna indigo. Watak warna violet adalah dingin, negatif, diam. Violet hampir sama dengan biru, tetapi lebih menekan dan lebih meriah. Warna ini memiliki watak melankoli, kesusahan, kesedihan, belasungkawa, bahkan bencana.

f. Biru

Warna biru mempunyai asosiasi pada air, laut, langit, dan di Barat pada es.

Biru mempunyai watak dingin, pasif, melankoli, sayu, sendu, sedih, tenang, berkesan jauh, mendalam, tak terhingga, tetapi cerah. Karena dihubungkan dengan langit, yakni tempat tinggal para dewa, Yang Mahatinggi, surga, kahyangan, biru melambangkan keagungan, keyakinan, keteguhan iman, kesetiaan, kebenaran, kemurahan hati, kecerdasan, perdamaian, stabilitas, keharmonian, kesatuan, kepercayaan, dan keamanan. Lambang PBB menggunakan warna biru sebagai simbol perdamaian. Kaum gereja menghubungkan biru dengan pengharapan. Biru juga melambangkan aristokrasi, darah bangsawan, darah ningrat, darah biru. Biru dapat menenangkan jiwa, mengurangi nafsu makan.

g. Hijau

Warna hijau berasosiasi pada hijaunya alam, tumbuh-tumbuhan, sesuatu yang'hidup dan berkembang. Hijau mempunyai watak segar, muda, hidup, tumbuh, dan beberapa watak lainnya yang hampir sama dengan warna biru.

Dibanding warna-warna lain, warna hijau relatif lebih netral pengaruh emosinya, sehingga cocok untuk .istirahat. Hijau sebagai pusat spektrum menghadirkan keseimbangan yang sempurna dan sebagai sumber kehidupan.

Hijau melambangkan kesuburan, kesetiaan, keabadian, kebangkitan, kesegaran, kemudaan, keremajaan, keyakinan, kepercayaan, keimanan, pengharapan, kesanggupan, keperawanan, kementahan/belum pengalaman, kealamian, Iingkungan, keseimbangan, kenangan, dan kelar-

asan. Di Jawa, keraton-keraton banyak menggunakan warna hijau dengan pernik-pernik merah dan kuning. Masjid-masjid banyak menggunakan warna hijau sebagai Iambang keimanan.

h. Putih

Putih warna paling terang. Putih berasosiasi pada salju di dunia Barat. Adapun di Indonesia, warna ini berasosiasi pada sinar putih berkilauan, kain kafan, sehingga dapat menakutkan pada anak-anak. Putih mempunyai watak positif, merangsang, cerah, tegas, mengalah. Warna ini melambangkan cahaya, kesucian, kemurnian, kekanak-kanakan, kejujuran, ketulusan, kedamaian, ketenteraman, kebenaran, kesopanan, keadaan tak bersalah, kehalusan.

kelembutan, kewanitaan, kebersihan, simpel, kehormatan. Di Barat, putih sebagai kostum pengantin wanita sebagai lambang kesucian, tapi juga simbol

peletakan senjata dan tanda menyerah. Bendera putih juga Iambang perdamaian.

i. Hitam

Hitam adalah warna tergelap. Warna ini berasosiasi dengan kegelapan malam, kesengsaraan, bencana, perkabungan, kebodohan, misteri, ketiadaan, dan keputusasaan. Watak atau karakter warna ini adalah menekan, tegas, mendalam, dan "depresive." Hitam melambangkan kesedihan, malapetaka, kesuraman, kemurungan, kegelapan, bahkan kematian, teror, kejahatan, keburukan ilmu sihir, kedurjanaan, kesalahan, kekejaman, kebusukan, rahasia, ketakutan, seksualitas, ketidak bahagiaan, penyesalan yang mendalam, amarah, duka cita.

Ketakutan anak-anak pada kegelapan sangat membekas dan terbawa sampai dewasa dalam endapan bawah sadar. Banyak istilah yang berkaitan warna hitam, seperti the black hands, the black flag of piracy (bendera hitam bajak laut), black Friday, "Iembah hitam”, "bisnis hitam", dan lain-Iain. Akan tetapi, hitam juga melambangkan kekuatan, formalitas, dan keanggunan (elegance).

Hitam memang misterius, karena hitam yang berdiri sendiri memiliki watak-watak buruk, tetapi jika dikombinasi dengan wara-warna Iain, hitam akan berubah total wataknya. Sebagai latar belakang warna, hitam berasosiasi dengan kuat, tajam, formal, bijaksana. Hitam dipergunakan bersama-sama putih mempunyai makna kemanusiaan, resolusi, tenang, sopan, keadaan mendalam, dan kebijaksanaan. Jaksa dan hakim di persidangan memakai toga hitam dengan dasi putih sebagai lambang kebijaksaan. Terdapat istilah "hitam

manis" karena hitam setelah dikombinasi warna lain menjadi manis. Banyak kendaraan roda dua berwarna hitam dengan hiasan warna-warna yang tampak manis, dan ternyata paling banyak diminati.

j. Abu-abu

Abu-abu adalah warna paling netral, tidak adanya kehidupan yang spesifik.

Abu-abu berasosiasi dengan suasana suram, mendung, ketiadaan sinar matahari secara langsung. Warna ini ada di antara putih dan hitam, sehingga berkesan ragu-ragu. Karenanya, wataknya pun di antara hitam dan putih. Pengaruh emosinya berkurang dari putih, tetapi terbebas dari tekanan berat warna hitam, sehingga wataknya Iebih menyenangkan, walau masih membawa watak-watak warna putih dan hitam. Putih cocok untuk latar belakang semua warna, terutama untuk warna-warna pokok merah, biru, kuning. Warna ini menyimbolkan ketenangan, kebijaksanaan, kerendahhatian, keberanian untuk mengalah, turun tahta, suasana keiabu, dan keragu-raguan.

k. Coklat

Warna coklat berasosiasi dengan tanah, warna tanah, atau warna natural.

Karakter warna coklat adalah kedekatan hati, sopan, arif, bijaksana, hemat, hormat. tetapi sedikit terasa kurang bersih atau tidak cemerlang karena warna ini berasal dari percampuran beberapa warna seperti halnya warna tersier.

Warna coklat melambangkan kesopanan, kearifan, kebijaksanaan, kehormatan.

2.9 Tipografi

Tipografi dalam konteks keilmuan saat ini sudah mengalami perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat. Terlebih lagi setelah

ditemukannya komputer dengan perangkat lunaknya. Penemuan ini sungguh lompatan yang sangat luar biasa bukan saja bagi perkembangan desain dan pernik-perniknya, tapi juga bagi tipografi sebagai seni yang mandiri maupun sebagai entitas yang menjadi bagian dari orkestra besar yang disebut komunikasi.

Lewat tipografi, sebuah ide atau gagasan bisa terwujud lebih nyata serta komunikatif dan kekuatannya sama dengan gambar atau ilustrasi pada saat ini.

Bukan hanya itu, tipografi yang dulunya hanya tampil secara kaku, kini tampil dengan penuh gaya yang direka-reka sedemikian rupa untuk memberi kesan keindahan yang bukan sekedar estetis tapi tetap berkonsep serta mampu untuk tetap memberikan informasi dalam ranah komunikasi.

Secara definisi, yang dimaksud tipografi adalah seni dalam memilih, menyusun, dan mengatur tata letak huruf dan jenis huruf untuk keperluan pencetakan maupun reproduksi (Maharsi, 2013). Dikatakan pula tipografi adalah seni memilih jenis huruf dari sekian banyak jumlah huruf yang tersedia untuk digabungkan dengan jenis huruf yang berbeda serta menggabungkan sejumlah kata dalam ruang yang tersedia. Lebih lanjut, tipografi dikatakan baik jika menarik, terbaca dan menciptakan gaya serta karakter. Dalam definisi tersebut tipografi dipahami dalam kaitannya dengan kegiatan proses setting untuk keperluan proses produksi cetak mencetak. Jadi lebih kepada mengatur huruf-huruf yang telah dipilih tersebut dalam tata letak untuk keperluan cetak dan di samping itu tipografi harus memiliki gaya serta karakter. Lebih jauh dari pendapat tersebut dikatakan bahwa tipografi sebagai tata huruf yang merupakan unsur dalam karya desain yang mendukung terciptanya kesesuaian antara konsep dan

komposisi karya. Pendapat ini lebih menekankan pada aspek tipografi dalam kaitannya dengan desain dan jika berkenaan dengan desain berarti memperhatikan adanya hasil karya yang sesuai dengan konsepnya. Artinya bahwa tipografi yang tervisual harus selaras dengan konsep pokok yang diembannya.

Jenis huruf yang telah ada, menata huruf-huruf dalam keterpaduan harmonis yang sesuai dengan konsep yang diusungnya. Dan yang terpenting adalah berkomunikasi kepada audiens tentang apapun melalui bahasa gambar huruf yang estetis, menarik dan komunikatif dengan berbagai sinergi aspek-aspek yang mendukung dan terkait dengannya. Sehingga sebetulnya cakupan tipografi saat ini sudah sangat luas. Bukan saja sebatas pada memilih huruf saja, tapi juga bagaimana mencipta huruf yang inovatif baik itu sebagai huruf mandiri ataupun kesatuan huruf yang utuh dari A sampai Z. Bagaimana proses kreatif dari penciptaan huruf-huruf tersebut baik secara konsep, estetika dan keselarasannya dalam aspek komunikasi yang menyatu dengan konsep utamanya. Juga bukan sebatas pada menata huruf saja, tapi juga memadupadankan secara estetis dengan karakter-karakter huruf yang lain dalam kesatuan komunikasi yang selaras dan harmoni jika dilihat secara utuh dan keseluruhan.

Menurut David Jury tipografi lebih dipahami sebagai disiplin ilmu yang definisinya terkait dengan perkembangan zaman. David menyatakan bahwa secara tradisional, tipografi dihubungkan dengan desain dan lebih khusus lagi dengan industri cetak. Tapi karena perkembangan teknologi yang berkembang secara global dan memberi kemudahan dalam akses maka tipografi menjadi lebih sering digunakan untuk merujuk kepada tatanan (pengaturan) materi tertulis apapun dan

tidak lagi terbatas hanya kepada hasil kerja seorang tipografer, sehingga dengan demikian pada saat ini menurut David, setiap orang adalah seorang tipografer.

2.10 Pelestarian

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (Eko, 2006:88), pelestarin berasal dari kata dasar lestari,yang artinya adalah tetap selama-lamanya tidak berubah.

Kemudian, dalam kaidah penggunaan bahasa Indonesia, penggunaan awalan ke- dan akhiran –an, maka yang dimaksud pelestarian adalah upaya untuk membuat sesuatu tetap selama-lamanya tidak berubah dan dapat didefinisikan sebagai upaya untuk mempertahankan sesuatu agar tetap sebagaimana adanya. Merujuk pada pelestarian dalam kamus bahasa Indonesia, maka kesimpulan dari pelestarian adalah upaya untuk mempertahankan agar sejarah budaya lokal majapahit tetap sebagaimana adanya.

2.11 Kebudayaan

Menurut Liliweri (2002:10) Kebudayaan merupakan satu unit interpretasi, ingatan, dan makna yang ada di dalam manusia dan bukan sekedar dalam kata kata. ia meliputi kepercayaan, nilai-nilai, dan norma, semua ini merupakan langkah awal dimana kita merasa berbeda dalam satu wacana.

2.12 3D Modeling

Menurut Nalwan dalam Prayudi & Aprizal (2004:35), Pemodelan adalah membentuk suatu benda atau obyek. Membuat dan mendesain obyek tersebut sehingga terlihat seperti hidup. Sesuai dengan obyek dan basisnya, proses ini secara keseluruhan dikerjakan di komputer. Melalui konsep dan proses desain,

keseluruhan obyek bisa diperlihatkan secara 3 dimensi, sehingga banyak yang menyebut hasil ini sebagai pemodelan 3D.

Ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan bila membangun model obyek, kesemuanya memberi kontribusi pada kualitas akhir. Hal-hal tersebut meliputi metoda untuk mendapatkan atau membuat data yang mendeskripsikan obyek, tujuan dari model, tingkat kerumitan, perhitungan biaya, kesesuaian dan kenyamanan, serta kemudahan manipulasi model.

Ada beberapa metode yang digunakan untuk pemodelan 3D. Metode pemodelan obyek disesuaikan dengan kebutuhannya seperti dengan nurbs dan polygon ataupun subdivision. Modeling polygon merupakan bentuk segitiga dan segi empat yang menentukan area dari permukaan sebuah karakter. Setiap polygon menentukan sebuah bidang datar dengan meletakkan sebuah jajaran polygon sehingga kita bisa menciptakan bentuk-bentuk permukaan. Untuk mendapatkan permukaan yang halus, dibutuhkan banyak bidang polygon. Bila hanya digunakan sedikit polygon, maka object yang didapatkan akan terbagi menjadi pecahan-pecahan polygon. Sedangkan modeling dengan nurbs (non-uniform rational bezier spline) adalah metode paling populer untuk membangun sebuah model organik. Hal ini dikarenakan kurva pada nurbs dapat dibentuk dengan hanya tiga titik saja. Dibandingkan dengan kurva polygon yang membutuhkan banyak titik (verteks) metode ini lebih memudahkan untuk dkontrol. Satu titik CV (control vertex) dapat mengendalikan satu area untuk proses tekstur (Fleming,1999).

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 28-40)

Dokumen terkait