• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORETIS ..................................................................... 12-30

C. Karakter Keberagamaan Masyarakat

1. Pengertian Karakter

Istilah Karakter dalam Ngainum Naim berasal dari bahasa Yunani, Karasso

yang artinya “to mark” atau menandai dan memfokuskan pengaplikasian nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku sehingga orang yang berperilaku tidak baik dikatakan berkarakter buruk.39

Menurut terminologi Islam, karakter disamakan dengan Khuluq (bentuk tunggal dari akhlaq). Akhlak adalah kondisi batiniyah dan lahiriyah manusia. Kata akhlak berasal dari kata Khalaqa (خلق) yang berarti perangai, tabiat, adat istiadat.40

Karakter menurut Furqon Hidayatulloh adalah kualitas yang menunjukan kekuatan mental dan moral atau akhlak dan budi pekerti seorang individu yang membedakan dengan individu lainnya.41 Abdullah Munir juga menambahkan bahwa karakter adalah sebuah kesatuan dari pola pikiran, sikap, ataupun tindakan yang melekat pada diri seseorang yang sudah tertanam sangat kuat dan sulit untuk dihilangkan.42

Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa karakter adalah landasan seseorang dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menjadikan seseorang mempunyai ciri khas tersendiri dan

38

Arief Afandi , Islam Demokrasi Atas Bawah Polemik Strategi Perjuangan Umat Model Gus Dur dan Amin Rais, (Cet. III, Yogyakarta; Pustaka Pelajar 1997), h. 20.

39

Ngainum Naim, Character Building (Jogjakarta; Ar-Ruzz Media, 2012), h. 51. 40

Munawwir AF, Kamus Al Bisri: Arab-Indonesia, h. 158. 41

Furqon Hidayatulloh, Pendidikan Karakter; Membangun Peradaaban Bangsa. (Surakarta; Yunna Pustaka, 2010)..h 17.

42

Abdulloh Munir, Pendidikan Karakter; Membangun Karakter Anak Sejak dari Rumah. (Yogyakarta; Pedagogia, 2010), h. 3.

membedakan dirinya dengan orang lain. Kepribadian seseorang dapat dibentuk melalui penanaman nilai-nilai karakter yang dilakukan secara terus-menerus akan memberikan landasan bagi mereka untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan nilai baik dan buruk yang dianut oleh masyarakat.

2. Keberagamaan

Agama terdiri atas dua kata, yaitu a berarti tidak dan gama berarti pergi. Agama menurut bahasa berarti tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi turun temurun.43 Pendapat lain agama adalah suatu undang-undang/peraturan Tuhan yang diperuntukkan bagi setiap manusia yang berakal, untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak.44

Agama dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan religion. Kata sifatnya adalah religious sehingga berarti bersifat keagamaan.45 Kata religious berasal dari bahasa Latin religare yang mempunyai beberapa arti, yaitu mengumpulkan, membaca dan mengikat.46

Menurut bahasa Arab, agama disebut dengan menggunakan kata “Din”,

terutama dalam ilmu keislaman, sehingga istilah ini banyak disebut dalam khazanah keilmuan dan budaya Islam. Kata Din (agama) memiliki banyak pengertian :

a. Agama (Din) memiliki arti jalan hidup yang benar dan lurus. b. Murni dan bebas dari segala perbuatan syirik.

c. Pedoman hidup satu satunya yang sah dan benar.

43

Jalaluddin, Psikologi Agama, h. 10 44

Bustanuddin Agus, Agama dan Fenomena Sosial; Buku Ajar Sosiologi Agama, (Jakarta; UI Press, 2010), h. 29.

45

Peter Salim, The Contemporary English-Indonesian Dictionary, (Jakarta; Modern English Press, 2002), h. 1793.

46

d. Manusia diperintahkan untuk mematuhi ajaran Din (agama) secara konsisten.47 Kata beragama dan keagamaan dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah menganut atau memeluk agama, beribadah atau taat kepada agama atau lebih kongkretnya kata beragama dan keagamaan diartikan sebagai memeluk atau taat menjalankan ajaran agama yang dianut.48

Menurut Harun Nasution, agama adalah suatu sistem kepercayaan dan tingkah laku yang berasal dari suatu kekuatan yang ghaib. Menurut Al-Syahrastani, agama adalah kekuatan dan kepatuhan yang terkadang biasa diartikan sebagai pembalasan dan perhitungan (amal perbuatan di akhirat).49

Menurut Jalaluddin tentang sikap keberagamaan, yaitu:

"Merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorong untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya terhadap agama, sikap keberagamaan tersebut boleh adanya konsisten antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur efektif dan perilaku terhadap agama sebagai unsur

konatif.”50

Definisi keberagamaan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan definisi religiusitas, yang merupakan satu kesatuan unsur-unsur yang komprehensif, yang menjadikan seseorang disebut sebagai orang beragama (being religious), dan bukan sekedar mengaku mempunyai agama (having religion). Religiusitas meliputi pengetahuan agama, keyakinan agama, pengamalan ritual agama, pengalaman agama, perilaku (moralitas) agama, dan sikap sosial keagamaan.

47

Alfatun Mukhtar, Tunduk pada Allah, Fungsi dan Peran Agama dalam Kehidupan Manusia. (Cet I; Jakarta; Khazanah Baru, 2001). h. 24.

48

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta ; Balai Pustaka; 2007). h.12.

49

YatiminAbdullah, Studi Islam Kontemporer. (Jakarta ; Amzah, 2004) h. 5. 50

Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Agama; Sebuah Pengantar (Jakarta; Mizan Pustaka, 2013), h.29.

Berdasarkan uraian di atas, sikap keberagamaan adalah suatu keadaan diri seseorang yang dalam melakukan aktivitasnya selalu bertautan dengan agamanya. Sekaligus dalam hal ini pula dirinya sebagai hamba yang mempercayai Tuhannya, berusaha agar dapat merealisasikan atau mempraktekkan setiap ajaran agamanya atas dasar iman yang ada dalam batinnya.

Berdasarkan berbagai pendapat yang telah disampaikan oleh para ahli, maka keberagamaan merupakan kesalehan seseorang dalam mengaplikasikan tuntunan agama yang di yakini dalam kehidupan sehari-hari.

Yusuf Al Qardhowy menyatakan bahwa keberagamaan dalam agama Islam memiliki dimensi yang secara garis besar dibagi 3 yaitu:

a. Aqidah

Aqidah secara etiomologi yaitu kepercayaan, sedangkan secara terminologi disamakan dengan keimanan, yang menunjukkan pada seberapa tingkat keyakinan seseorang terhadap kebenaran ajaran-ajaran agamanya yang bersifat fundamental. b. Ibadah atau Praktek Agama (Syari'ah)

Ibadah atau praktek agama atau syariah merupakan peraturan peraturan yang mengatur hubungan langsung seorang muslim dengan Khaliknya dan sesama manusia, yang menunjukan seberapa patuh tingkat ketaatan seorang muslim dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual keagamaan yang diperintahkan dan dianjurkan, baik yang menyangkut ibadah (ritual) dalam arti khusus maupun dalam arti yang luas yang merupakan media komunikasi langsung dan integral serta sarana konsultasi antara Kholik dan mahluk-Nya. Ibadah juga merupakan perwujudan dari sikap keberagamaan seseorang dalam kehidupan.51

51

Budiharjo, Dakwah dan Pengentasan Kemiskinan. (Yogyakarta; Sumbangsih Press, 2007). h . 634.

c. Akhlak

Kata akhlak secara etimologi adalah tabiat, budi pekerti, kebiasaan atau adat, keperwiraan, kesatriaan, kejantanan dan kemarahan". Sedangkan menurut Imam Al Ghazali yang merupakan definisi secara terminologi adalah "sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbutan-perbuatan yang dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan".52

Dimensi keagamaan diatas kemudian tercermin kedalam Sikap keagamaan seseorang dalam kehidupan keseharianya, sikap keagamaan merupakan suatu keadaan dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaannya terhadap agama. Sikap keagamaan tersebut oleh adanya konsistensinya antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur kognitif, perasaan terhadap agama sebagai unsur efektif dan perilaku terhadap agama sebagai unsur konatif. Jadi, sikap keagamaan merupakan integrasi secara kompleks antara pengetahuan agama serta tindak keagamaan dalam diri seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa sikap keagamaan menyangkut atau berhubungan erat dengan gejala kejiwaan.53

3. Masyarakat

Masyarakat berasal dari kata Arab yaitu Musyarak (مشرك - gnay (كراش م لا

bermakna ikut serta, berpartisipasi atau masyarakat yang saling bergaul.54 Masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup bersama dalam suatu periode waktu tertentu, mendiami suatu daerah, dan akhirnya mulai mengatur diri mereka sendiri menjadi

52

Budiharjo, Dakwah dan Pengentasan Kemiskinan, h . 635. 53

Jalaluddin. Psikologi Agama. (Jakarta; PT Raja Grafindo Persada, 2007). h. 259. 54

suatu unit sosial yang berbeda dari kelompok-kelompok lain. Anggota masyarakat menganut suatu kebudayaan, kebudayaan dan masyarakat tidak mungkin hidup terpisah satu sama lain karena dalam sekelompok masyarakat akan terdapat suatu kebudayaan. 55

Berdasarkan definisi tersebut, bahwa yang dimaksud dengan keberagamaan masyarakat adalah sifat-sifat agama yang tertanam dalam diri pribadi sekelompok manusia yang menetap di suatu daerah yang kemudian diimplementasikan dalam keseharian mereka demi mewujudkan kehidupan sosial yang berlandaskan pada nilai luhur ajaran agama.

Dokumen terkait