BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG NOVEL DAN MORAL
2.3 Definisi Moral
2.3.3 Karakter Moral Masyarakat Jepang
Kepribadian terdiri atas pengetahuan, perasaan, dorongan naluri, dan karakter. Pengetahuan merupakan seluruh penggambaran, persepsi dan apersepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi. Perasaan merupakan kesadaran manusia yang
bersifat subjektif. Dorongan naluri (drive) ada tujuh macam yaitu, 1) dorongan mempertahankan hidup, 2) dorongan seks, 3) dorongan mencari makan, 4) dorongan bergaul dan berinteraksi dengan sesama, 5) dorongan tingkah laku bersama, 6) dorongan berbakti, 7) dorongan keindahan dalam arti keindahan bentuk, warna, suara, atau gerak. Sementara itu, karakter (seikaku) merujuk pada merujuk pada suatu hal yang berbeda dengan yang lain sehingga menjadi ciri penting.
Dengan mengetahui persamaan karakter pada suatu kelompok individu pada umumnya dapat menjadi gambaran umum karakter kelompok masyarakat tersebut.
http://ejournal.undip.ac.id/index.php/kiryoku
2. Prinsip Bushidou
Etika moral yang terkandung dalam bushido menurut Suryohadiprodjo dalam http://ejornal.undip.ac.id/index.php/kiryouku (1982:49), meliputi kejujuran (makoto 真), keberanian (yu 湯), kebajikan atau murah hati (jin 陣), kesopanan atau hormat (rei 例), keadilan/kesungguhan atau integritas (gi 儀), kehormatan atau martabat (meiyo 名誉) dan kesetiaan (chungi 中ん儀).
Kejujuran (Makoto 真) adalah tentang bersikap jujur kepada diri sendiri sebagaimana kepada orang lain. Artinya, bertingkah laku yang benar secara moral dan selalu melakukan hal-hal dengan kemampuan terbaik.
Seorang samurai senantiasa bersikap jujur dan tulus, berkata dan memberikan informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran.
Menurut Nitobe (dalam Sipahutar 2007:30), kejujuran adalah sifat yang wajib dimiliki oleh samurai. Jika seseorang memiliki sifat jujur dan berjalan diatas jalan lurus, dapat dipastikan bahwa ia seorang yang pemberani. Berani tidak saja
mengacu kepada keberanian dalam berperang tetapi juga berani menghadapi berbagai cobaan hidup.
Keberanian/Yu 湯 merupakan kemampuan untuk mengatasi setiap keadaan dengan keberanian dan keyakinan. Keberanian ini dapat dilihat dari sikap orang Jepang dalam mempertahankan kelompoknya. Untuk dapat membela kebenaran, diperlukan rasa keberanian dan keteguhan hati. Seorang samurai tidak dibenarkan ragu-ragu dalam melaksanakan tugasnya, jika seorang samurai ragu-ragu dalam melaksanakan suatu hal akan membuat mereka menjadi terlihat tidak mempunyai pendirian dalam mengambil keputusan ataupun dalam melaksanakan tugas.
Dalam ajaran konfusionisme, keberanian itu adalah melakukan hal yang dianggap benar. Namun keberanian itu juga dibedakan antara berani karena membela atau mempertahankan prinsip kebenaran dengan keberanian yang ada pada tingkah laku kejahatan (Napitupulu, 2007:21).
Kebajikan/Jin 人 merupakan gabungan antara kasih sayang dan kemurahan hati. Prinsip ini terjalin dengan Gi dan menghindarkan samurai dari penggunanaan keahlian mereka dengan congkak atau untuk mendominasi.
Menurut Sipahutar (2007:31), rasa kasih sayang dimiliki oleh samurai tidak jauh berbeda dengan yang dimiliki rakyat biasa, tetapi pada seorang samurai harus didukung oleh kekuatan untuk membela dan melindungi.
Kesopanan/Rei 例 adalah hal yang berkenan dengan kesopanan dan prilaku yang pantas kepada orang lain. Prinsip ini berarti menghormati semua orang.
Menurut Napitupulu (2008:22), mengatakan bahwa di Jepang penghayatan musik merdu dan sajak-sajak indah merupakan kurikulum pendidikan untuk membangun perasaan dan jiwa lembut, yang kemudian akan menggugah
penghayatan terhadap penderitaan orang lain. Kerendahan hati untuk memahami orang lain adalah akar dari sikap sopan santun.
Keadilan/Gi 儀 merupakan kemampuan untuk membuat keputusan yang benar dengan keyakinan moral dan untuk bersikap adil serta sama kepada semua orang tanpa memperdulikan warna kulit, ras, gender ataupun usia.
Kehormatan/ Meiyo 名誉 dicapai dengan sikap positif dalam berpikir dan hanya akan mengikuti perilaku yang tepat. Selain itu, kehormatan merupakan implikasi dari satu kesadaran hidup akan martabat individu yang berharga.
Menurut Sipahutar (2007:32), seorang samurai yang lahir dan dibesarkan dengan nilai-nilai kewajiban dan keistimewaan profesi mereka, sadar benar bahwa kehormatan adalah kemuliaan pribadi yang mewarnai jiwa mereka. Didalam bahasa Jepang ada istilah seperti na (nama), memoku (wajah), dan guaibun (pendengaran).
Istilah ini bisa diterjemahkan sebagai reputasi atau nama baik seseorang. Nama baik adalah bagian non-fisik yang tidak kelihatan dari manusia, tetapi dapat dirasakan.
Kalau hal ini tidak dijaga, maka reputasi bisa jatuh dan memberikan kesan yang baik bagi orang lain.
Kesetiaan/ Chungi 中 ん 儀 merupakan dasar dari semua prinsip, tanpa dedikasi dan kesetiaan pada tugas yang sedang dikerjakan dan kepada sesama, seseorang tak dapat berharap akan mencapai hasil yang diinginkan.
Sedangkan didalam konfusionisme makna kesetiaan menjadi bernuansa moral, nilai moral yang yang terkandung didalamnya meliputi nilai moral sosial, ynag mendasarkan ajarannya dengan adanya hubungan antara anak dengan orang tua, kaka dengan adik, antara sesame, terhadap pejabat pemerintah, dan terhadap kaisar Napitupulu (2008:23).
3. Harmoni (Wa)
Dalam hubungan kemasyarakatannya, bangsa Jepang lebih mengutamakan interaksi sosial dan kebersamaan dalam kelompok, hal ini terkait dengan nilai budaya harmoni (wa) yang dianut dalam masyarakat. Dalam hidup bermasyarakat, msyarakat Jepang sangat memperhatikan 調 和 (chouwa), yaitu keselarasan, keseimbangan, keserasian, harmoni, dan keharmonisan dalam bermasyarakat.
4. Konsep Uchi Sotou
Kesadaran sebagai anggota dalam kelompok yang kuat menjadi latar munculnya konsep Uchi Soto. Konsep Uchi Soto ini membagi kelompok berdasarkan, 1) apakah seseorang merupakan anggota kelompok atau bukan; 2) baru pertama kali bertemu atau sudah lama kenal; atau 3) apakah orang tersebut secara usia dan kepangkatan berada di atas atau bawah pembicara. Hal-hal tersebut menentukan sikap dan ragam bahasa yang digunakan oleh orang Jepang.
5. Omoiyari
Omoiyari mengacu pada sikap empati dan ketulusan tanpa mengharapkan balasan dari pihak penerima. Omoiyari ditunjukkan dengan kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Omoiyari bisa berarti membantu mewujudkan mimpi dan keinginan orang lain. Omoiyari bagi masyarakat Jepang merupakan bentuk kesiapan untuk memberikan apa yang dibutuhkan orang lain (loyal) dan mencegah perbuatan yang dapat merugikan orang lain (Obunsha, 1991:159)
6. Amae
Amae berarti sikap ketergantungan terhadap orang lain. Hal ini berhubungan dengan konsep omoiyari karena dalam pemikiran masyarakat Jepang seseorang yang melakukan omoiyari memerlukan orang yang bergantung padanya, demikian pula sebaliknya. Nilai budaya Amae ini tidak berkonotasi negatif , yang mengajarkan masyarakat Jepang untuk tidak mandiri. Pengertian konsep amae ini mempunyai sikap menganggap orang lain selalu memiliki niat baik dan tulus, sehingga akan selalu siap membantu kapan saja dibutuhkan.
7. On
On berarti rasa hutang budi. Dengan prinsip on, seseorang akan merasa berutang setiap kali orang lain berbuat baik padanya. Dalam semua pemakaiannya on mengandung arti suatu beban, suatu hutang, sesuatu yang harus dipikul seseorang dengan sebaik mungkin mencakup hutang seseorang dari yang paling besar sampai yang paling terkecil sekalipun yang harus dibayar (Benedict, 1982:105).
8. Gimu
Gimu berarti kewajiban. Jika seseorang menerima on, maka orang tersebut akan berkewajiban untuk membayarnya yang disebut gimu. Gimu menurut Benedict (1982:122) adalah pembayaran-pembayaran tanpa batas atau tanpa syarat atas hutang yang telah diterima dari si pemberi on. On yang diterima dengan pembayaran kembali secara gimu sama sekali tidak bisa dihindari oleh setiap orang
Jepang. Namun karena tidak ada ketentuan mengenai bentuk, cara dan waktu pembayarannya, maka seseorang merasa keberatan menerima on dengan resiko gimu ini. Artinya ada rasa terpaksa dan keengganan dalam melakukan pembayaran terhadap on yang diterima, karena gimu adalah suatu kewajiban moral yang mengikat.
9. Giri
Giri adalah kebaikan. Dengan prinsip giri, seseorang akan membantu temannya atau keluarganya semampunya. Sedangkan giri menurut benedict (1982:125) adalah kebaikan yang diberikan kepada orang lain, tetapi terkadang giri menimbulkan beban yang sangat besar kepada penerimanya, merupakan kewajiban yang dibayar dengan tepat sama dengan kebaikkan yang diterima, yang memiliki batas waktu pembayarannya. Giri akan muncul jika seseorang menerima on atau budi baik seseorang yang kita terima.
10. Ninjou
Ninjo adalah rasa kasih sayang. Dan prinsip ninjo, mengajarkan rasa empati terhadap sesama dan lingkungannya. Dengan prinsip ini, seseorang akan merasa semua manusia adalah satu dan sama, di bawah perbedaan yang telah diatur oleh karma dan berkewajiban untuk menjaga kelestarian lingkunagan. Kemudian Ninjo merupakan suatu perbuatan yang tidak menuntut balas, atau benar-benar tulus dari dalam hati dan tidak melibatkan menjadi on. Ninjo merupakan perasaan kemanusiaan dan semua orang jepang mempercayai bahwa perasaan cinta, kasih sayang, belas kasihan dan simpati merupakan perasaan yang paling penting dalam
menjaga hubungan dengan sesama manusia, yang merupakan perasaan dari hati terdalam dan tidak dibuat-buat karena adanya perasaan kemanusiaan itu sendiri sehingga menyebabkan munculnya suatu kebaikan. Orang jepang selalu mengukur sesuatu atau berusaha mempertimbangkan segala sesuatu berdasarkan perasaan manusiawi.
11. Aimai Hyougen
Aimai Hyougen adalah pengungkapan maksud pembicara secara samar-samar. Masyarakat Jepang acap kali menggunakan ungkapan tidak langsung (enkyouku) dalam mengemukakan maksudnya. Bahkan tidak hanya ungkapan tidak langsung saja, melainkan ada juga yang mengungkapkan hal berkebalikan dengan harapan lawan bicara memahami maksud sebenarnya. Komunikasi seperti ini membutuhkan rasa saling pengertian satu sama lain.