Berikut adalah adegan saat Nick berbicara dengan Barton yang sedang dikuasi oleh Loki. Nick sedang mengulur waktu agar Tesseract tidak jatuh ke tangan Loki. Hal itu di dukung oleh dialog yang ada antara Barton-Loki-Nick:
Barton :“Sir, director Fury is stalling. He means to bury us”
(Tuan, director Fury sedang mengulur waktu. Dia bermaksud mengubur kita) Gambar 4. 38 Nick dengan Barton dan Loki
Sumber: Film The Avengers
70
Universitas Kristen Petra
Fury: “Like the pharaoh of old”
(Seperti Firaun)
Melalui dialog tersebut nampak Nick membuat sebuah rencana untuk mengubur seluruh yang ada di dalam markas S.H.I.E.L.D bersama dengan ledakan energi yang tersisa dari lubang cacing yang dibuka oleh Loki. Ia rela mengorbankan seluruh orang yang ada didalam bangunan tersebut agar benda yang dia lindungi aman. Taktik yang digunakan Nick ini menunjukan karakter Nick Fury yang jahat dan licik yang rela mengorbankan nyawa anak buahnya. Pemimpin kulit hitam dengan karakter keji dan sadis juga tergambar dalam film Wanted (2008) dimana sang pemimpin menjebak dan mengorbankan anak buahnya demi mendapat keuntungan. Taktik Nick Fury ini terkesan tidak beradab karena rela mengorbankan anak buah nya demi sebuah misi. Hal ini semakin memperkuat stereotipe bahwa orang kulit hitam digambarkan sebagai orang yang tidak beradab (Guerrero, 1993, p. 123). Camera angle yang digunakan adalah medium long shot low angle dengan maksud memberikan view kepada penonton tentang apa yang terjadi disekitar (Naratama, 2004) dan memberikan efek kejam, angkuh pada karakter Nick (Pratista, 2008). Sosok kulit hitam digambarkan sebagai sosok yang kejam.
Nick sedang memberikan perintah kepada anak buahnya:
“The tesseract is with the hostile force. I want every living soul not working rescue, looking for that briefcase”
Gambar 4. 39 Nick memberikan instruksi Sumber: Film The Avengers
71
Universitas Kristen Petra
(Tesseract berada di tangan perampok, saya ingin setiap orang yang selamat tidak melakukan penyelamatan korban, tapi mencari box tersebut)
Melalui kode dialog diatas lagi-lagi ia digambarkan karakter Nick kejam dalam memerintah. Ia lebih mementingkan mencari Tesseract dari pada melakukan evakuasi para anak buah nya yang menjadi korban runtuhnya markas S.H.I.E.L.D.
Hal ini memperkuat stereotipe orang kulit hitam digambarkan sebagai orang tidak beradab (Guerrero, 1993, p. 123). Camera angle ya yang dipakai adalah medium shot, betujuan untuk memfokuskan penonton terhadap ekspresi Nick yang nampak geram akibat dicurinya Tesseract (Naratama, 2004). Hal ini menunjukan jiwa kepemimpinan dan heroik Nick yang tinggi.
Hal sebaliknya terjadi dalam penggambaran tokoh-tokoh berkulit putih dalam film The Avengers .
Pada screen shot diatas nampak Phill Coulson sedang memerintahkan anak buahnya untuk menyelamatkan diri daripada merapikan box-box yang berserakan.
Adegan ini terjadi saat markas S.H.I.E.L.D akan hancur karena ledakan energi sisa lubang cacing. Karakter orang kulit putih digambarkan sebagai orang baik yang peduli sesama. Selain menggambarkan karakter orang kulit putih dalam diri Coulson, peneliti juga melihat penggambaran sosok kulit putih pada anak buah Coulson. Orang kulit putih digambarkan memiliki dedikasi tinggi, hal itu nampak dari perilaku mereka yang tetap berusaha menyelamatkan box-box milik S.H.I.E.L.D pada saat kondisi markas S.H.I.E.L.D hampir hancur. Adegan ini diambil dengan teknik kamera long shot low angle, hal ini bertujuan memberikan tampak situasi yang sedang terjadi (Naratama, 2004). Camera low angle
Gambar 4. 40 Coulson menolong anak buahnya Sumber: Film The Avengers
72
Universitas Kristen Petra
memberikan kesan kuat dan berwibawa kepada Coulson yang berusaha menyelamatkan anak buahnya (Pratista, 2008). Melalui penggambilan gambar ini, orang kulit putih digambarkan sebagai sosok yang berhati mulia dengan menolong orang.
Pada screen shot berikutnya nampak Barton sedang membuka pintu bus yang macet. Di dalam bus tersebut banyak terdapat korban yang dalam bahaya karena terjebak ditengah peperangan antara The Avengers melawan pasukan Chitauri. Orang kulit putih digambarkan memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi dengan berusaha menolong warga yang dalam bahaya.
Lalu pada screen shot selanjutnya nampak Bruce Banner sedang mencuci tangan sesudah memberikan pengobatan kepada warga miskin di India. Lagi-lagi tokoh kulit putih digambarkan sebagai sosok yang berperikemanusiaan tinggi. Ia berusaha membantu mengobati wabah penyakit yang sedang menyebar di India.
Pada dua shot ini( 4.33-4.34), digunakan teknik kamera medium long shot, hal ini Gambar 4. 41 Barton menolong korban serangan Chitauri
Sumber: Film The Avengers
Gambar 4. 42 Bruce menjadi dokter di India Sumber: Film The Avengers
73
Universitas Kristen Petra
bertujuan menunjukan kepada penonton situasi yang sedang berlangsung (Naratama, 2004). Melalui kode-kode diatas dapat disimpulkan bahwa seorang kulit putih digambarkan punya tanggung jawab untuk membantu orang lain, menyebarkan kebaikan dan membebaskan dunia dari kehancuran (Kaveney, 2008). Hal itu terwujud dari perbuatan menolong sesama.
Dalam adegan ini, Captain America berusaha mencegah Iron Man untuk bertindak gegabah. Iron Man marah karena Loki diambil paksa oleh Thor.
Captain pun berkata kepada Iron Man:
Capt “Stark, we need a plan of attack!”
(Stark, kita butuh rencana untuk menyerang) Stark “I have a plan. Attack.”
(Saya punya rencana. Serang!)
Setelah dialog di atas Iron Man pun langsung terbang mengejar Thor dan Loki.
Dalam adegan ini orang kulit putih digambarkan sebagai sosok yang kompetitif dan agresif. Ia tidak mau diperlakukan seenak nya sendiri oleh orang lain. Ia akan melawan jika diperlakukan tidak adil. Adegan ini merepresentasikan sikap kompetitif dan agresif orang kulit putih. Kedua scene ini menggunakan low angle dengan tujuan memberikan kesan dominan, percaya diri, serta kuat (Pratistas, 2008).
Gambar 4. 43 Capt dan Iron Man Sumber: Film The Avengers
74
Universitas Kristen Petra
Tony dan Captain America mengalami konflik. Mereka saling beradu argumen tentang kehebatan diri sendiri. Capt mengejek Tony bahwa ia bukan siapa siapa tanpa baju besi nya. namun Tony langsung membantah hal itu dengan menyebutkan tanpa baju besinya ia tetap seorang jenius, kaya, playboy dan dermawan.
Capt: “take that off, what are you?”
(lepaskan kostum besimu, siapa kah kamu?) Tony: “genius, billionaire, playboy, philanthropist”
(jenius, miliuner, playboy, dermawan)
Dalam dialog tersebut terdengar nada suara dari Capt sangat sinis terhadap Tony.
Begitu juga nada suara Tony, terdengar sangat menyombongkan diri. Melalui adegan ini sosok kulit putih digambarkan agresif saat menghadapi konflik. Ia juga digambarkan sangat kompetitif untuk membuktikan siapa dirinya.
4.2.3 Status Sosial dan Politik Tokoh Kulit Hitam dan Tokoh Kulit Putih